Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 20: Agatha Vonturnus



Sehari sudah berlalu semenjak penculikan Agatha Vonturnus. Dalam sebuah ruangan besar terlihat sebuah meja makan besar yang di atasnya terhampar begitu banyak makanan. Melihat itu semua, Kaysen tanpa ragu duduk di salah satu kursi. Pemuda itu tampak sangat bersemangat bahkan hampir membuat air liurnya terjatuh.



“Kau tidak hanya maniak bertarung, tetapi juga orang yang rakus, ya, Kaysen?” sindir Atlas yang segera duduk di kursi sebelah kanan Kaysen.



“Itu bukan masalah!” Kaysen menepis. “Sebagai seorang Nomos, aku tidak tahu kapan nyawaku akan mati di medan pertarungan. Setiap ada waktu untuk bersenang-senang haruslah dimaksimalkan!”



“Kau yang mengatakannya.”



Tak lama berselang, seorang pemuda dengan rambut pendek pun datang bersama seorang gadis dengan rambut panjang. Gadis itu terlihat bersembunyi di belakang si pemuda seperti sedang waspada. Atau setidaknya itulah yang dipikirkan Atlas ketika melihat Felix datang bersama adik perempuannya yang pemalu.



“Kenapa kau seperti ini?” tanya Felix pada adiknya. “Bukankah kau sendiri yang ingin bertemu dengan mereka?”



Atlas dan Kaysen saling bertukar pandang selama beberapa saat, kemudian melirik ke arah Felix. Mereka berdua tak tahu harus mengatakan apa sehingga memutuskan untuk diam saja.



“Kau tidak bilang bahwa dia sangat keren …,” gumam Agatha yang seketika memalingkan pandangan ke arah lain sesaat setelah melirik Atlas.



“Hm?” Felix jelas tidak mengerti. “Apa yang kau katakan?”



“Kakak bodoh!”



“Hei, jagalah ucapanmu.”



“Hm ….”



Akhirnya Felix dan adik perempuannya pun duduk di kursi yang bersebelahan seperti Atlas dan Kaysen. Akan tetapi, Agatha terus menundukkan kepala, tidak mau melirik ke arah Atlas sedikit pun. Gadis itu terlihat sedang menutupi sesuatu, tetapi Atlas tak mengerti apa itu.



“Maaf aku hanya bisa menjamu kalian dengan ini, Atlas, Kaysen,” kata Felix. “Sebenarnya aku juga mengundang ayah dan ibuku untuk bertemu kalian hari ini, tetapi mereka harus pergi ke Aither Perca. Aku sungguh minta maaf dan mewakili mereka berterimakasih pada kalian.”



“Lupakan itu,” sahut Atlas, tak acuh. “Aku sudah mengatakannya berulang kali dari tadi malam, aku tidak ingin mendengarnya lagi.”



“Baiklah ….” Sejenak Felix tersenyum tipis. “Mari kita makan.”



Sebelum Atlas dan Kaysen mengambil piring, tiba-tiba Agatha mengatakan sesuatu dengan nada pelan, “Itu ….”



“Hm?” Atlas langsung memalingkan pandangan ke arah gadis itu. Ia sedikit memiringkan kepala, saat Kaysen dan Felix turut memalingkan pandangan mereka pada Agatha.



“Te … te … terima kasih karena sudah menyelamatkanku!” Agatha menundukkan kepala pada Atlas, menunjukkan ketulusannya dalam berterimakasih. Akan tetapi, sebelum Atlas menjawab, gadis itu langsung berdiri. “Kalau begitu sampai jumpa ….”



Agatha langsung pergi tanpa menunggu jawaban Atlas. Tentu saja tindakan tersebut tidak dimengerti oleh Atlas, bahkan pemuda ini sampai berpikir bahwa gadis itu membencinya. Namun, jelas ia tak mengerti mengapa dirinya dapat dibenci padahal tidak melakukan apa pun.



“Kenapa dia seperti itu?” Kali ini Atlas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.



“Dia adalah gadis baik,” sahut Felix. “Semoga kau tidak membencinya.”



“Kau semakin membuatku bingung ….”



Setelah percakapan berakhir, mereka akhirnya makan hingga kenyang. Seperti biasa Kaysen mengisi perut hingga tak bisa diisi lagi. Dia sungguh makan dengan lahap tanpa memedulikan apa pun selain perutnya.



Usai makan siang itu, Atlas keluar lebih dahulu dibandingkan Kaysen dan Felix. Entah mengapa Atlas merasa ada sesuatu yang harus ia hindari sehingga tak mau ditahan agar bisa duduk lebih lama di ruang makan itu. Kendati ia tak tahu apakah ia memang perlu melakukan ini atau tidak.




Akan tetapi, tidak berselang, mendadak seorang gadis datang dan berkata, “Tuan Atlas ….”



Tentu Atlas segera berbalik dan menemukan bahwa Agatha adalah orang yang memanggilnya. Tapi, ia sedikit tidak terbiasanya disebut ‘tuan’.



“Iya …?” Atlas sedikit ragu untuk menjawab sehingga memilih kata dengan hati-hati. Kejadian di ruang makan tadi sedikit membuatnya terusik, karena tidak mengerti apa yang dipikirkan Agatha tentang dirinya.



“Itu ….” Agatha melirik ke sana kemari, terlihat tidak tenang kala wajahnya mulai memerah.



“Aku tidak akan menyakitimu, jadi …,” Atlas mencoba memenangkan Agatha dengan suara yang sangat tenang, “tenang saja ….”



“Bu … bukan itu.” Agatha melambaikan tangan dengan cepat. “Itu … maksudku, sebagai ucapan terima kasih … itu … anu … aku mau memberikan sedikit hadiah untukmu ….”



“Hadiah? Untukku?” Sesejurnya Atlas tidak menyangka hal ini. “Tidak perlu repot, aku melakukannya karena memang sudah seharusnya membantu orang yang sedang kesulitan.”



“Itu … apakah Tuan Atlas tidak mau …?”



*Ha* … *ini* *dia* *makhluk* *yang* *paling* *tidak* *bisa* *kumengerti* *di* *muka* *bumi* *ini*, pikir Atlas. “Bukan begitu. Ah … kalau begitu, terima kasih, mungkin?”



Atlas sudah kehabisan kata untuk ia katakan. Ia bingung harus bertindak seperti apa, karena sejak di pasukan revolusi pun, ia masih belum bisa memahami tindakan seorang wanita. Walaupun terkadang ia ‘bermain’ dengan mereka.



“Syukurlah ….” Untuk pertama kalinya Agatha tersenyum lebar pada Atlas.



Senyuman indah dan anggun itu membuat Atlas sedikit terpatung. Rambut panjang gadis itu terurai oleh terpaan angin, membuatnya tampak semakin cantik serta anggun.



“Ayo ikut denganku, Tuan Atlas,” kata Agatha, berbalik secepat mungkin dan segera melangkah.



“Ya ….” Atlas pun segera menggelengkan kepala beberapa kali dan mengikuti Agatha.



Selama berjalan, Atlas tidak mau hanya menatap ke arah Agatha saja. Ia dengan sengaja melirik ke segala arah bahkan langit-langit ruangan.



Akhirnya setelah berjalan selama beberapa saat, mereka tiba di depan sebuah ruangan. Pintu yang menutup ruangan tersebut terbuat dari kayu berkualitas yang kokoh.



“Tunggu sebentar, Tuan Atlas …,” kata Agatha sembari membuka pintu yang terkunci di depannya.



“Ya …,” Atlas menjawab singkat. “Omong-omong, jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Atlas.”



“Itu ….” Tangan Agatha berhenti bergerak selama beberapa saat. “A ….” Dia segera menggelengkan kepala. “Tidak, tidak, kurasa aku akan menggunakan Tuan Atlas saja.”



Tidak ingin memaksakan kehendak, akhirnya Atlas menjawab, “Baiklah, yang penting kau nyaman saja.”



“Terima kasih, Tuan Atlas,” kata Agatha sembari membuka pintu. “Hadiahnya ada di dalam sini.”



“Hm ….”


Atlas pun masuk ke dalam ruangan setelah Agatha. Seketika cahaya keluar dari beberapa Theia’s Stone yang mengambang di beberapa sudut ruangan.


Seketika Atlas terpana melihat berbagai macam senjata yang terpajang di rak di dinding ruangan. Ia langsung melirik ke segala arah dan tak berhenti takjub melihat itu semua.



“Ini adalah ruang senjata,” kata Agatha. “Aku sudah meminta izih pada ayah untuk memberikan salah satu senjata yang ada di sini padamu, Tuan Atlas. Ini adalah bentuk rasa terima kasihku ….”