Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 31: Kebanggaan



Setiap orang setidaknya menginginkan satu kekuatan untuk bertahan hidup, entah itu kekuatan berupa kemampuan berpikir yang baik atau pun kekuatan otot. Dari dua hal tersebut, Draco memilih untuk mengasah kemampuan otot-otot tubuhnya dan membanggakan hal tersebut. Bahkan, dengan melatih semua itu, ia menjadi kuat dan hampir tak terkalahkan di Suku Arteca.



Kendati demikian, apa yang akan terjadi ketika semua itu direbut, dihancurkan, dan diinjak-injak? Draco tidak tahu, perasaannya bercampur aduk, kebanggaannya terguncang hingga akhirnya ia benar-benar mati di tangan orang-orang yang jauh lebih kuat darinya, dari mereka yang memiliki kecerdasan tinggi. Sebuah kecerdasan yang mampu membuat mereka unggul dibandingkan Draco.



Kekuatan, kebanggaan, harga diri. Apa yang sebenarnya dimaksud semua itu? Kenapa selalu ada orang yang berada di atas? Lalu, siapakah orang yang berada di atas semua itu? Mungkinkah dia memiliki semua kekuatan yang dimiliki oleh semua orang? Berdiri di puncak rantai makanan tanpa dapat diganggu gugat.



Draco memikirkan semua itu kala dadanya tertembak, lalu perlahan matanya tertutup. Satu hal yang pasti adalah, Draco kini hanya dapat melihat kegelapan, tanpa ada cahaya. Ia merasakan dirinya jatuh semakin jauh dalam jurang yang tidak ia ketahui dasarnya. Semuanya telah berakhir, tidak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Draco ketika kesadarannya mulai memudar.



Walau tidak ada yang mau mengakui, walau dunia menolak untuk melihat, aku adalah yang terkuat! Draco tidak menerima kekalahannya, ia masih menjerit dalam hati kendati sekarang tubuhnya perlahan jatuh terbaring di tanah. Ia tidak peduli bagaimana pendapat orang lain, yang terkuat tetaplah dirinya, karena ia sadar akan realita yang ada dalam kepalanya.


...*** ...


Di sebuah kamar, Draco mengatur tarikan napas sembari menapa tajam ke depan. Tatapan itu terlihat tajam dengan aura yang menyelimuti sekujur tubuhnya. “Ini tidak akan berakhir hanya sampai di sini, Atlas. Aku akan mencari dan merebut kembali kebanggaan dan harga diriku yang telah kau rampas!” Tekadnya telah bulat sekarang, menetapkan tujuan baru.



Tidak lama berselang, pintu kamar Draco kembali diketuk. Berbeda dari sebelumnya, Draco berkata, “Jika tidak ada urusan apa pun, lebih baik kau pergi saja.”



“Jangan arogan seperti itu,” jawab orang di balik pintu, segera masuk dengan tenang. Dia tak lain adalah Neo Khufu Ra-Mida, Raja dari Kerajaan Api. “Tidakkah kau merasa harus menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi, Sang Aries—Draco Evrard?”



“Aku akan membalasnya!”



“Membalas apa?” Neo Khufu mendekat ke arah ranjang lalu berdiri di samping ranjang tersebut. “Kau bilang kau yang terkuat, tetapi sekarang kau di sini, terbaring dengan tubuh penuh luka. Bahkan hampir saja mati.”



“Kalau tujuanmu datang ke sini hanya untuk mengatakan itu ….” Draco tanpa ragu meraih kerah pakaian pria di depannya. “Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu di sini, tepat menggunakan kedua tanganku sendiri, Neo Khufu.”



Draco sedang tak bermain-main, tetapi Neo Khufu malah membalas tatapan ganas Draco dengan tatapan tajam tanpa mengenal rasa takut. Neo Khufu masih sangat percaya diri, percaya penuh akan kekuatan yang ada dalam dirinya, sehingga bukan hal aneh bila sekarang dia berdiri tenang di sini sembari memancarkan aura intimidasi terhadap Sang Aries.



“Aku sedang tidak bermain-main, Aries.” Nada suara Neo Khufu terdengar begitu tenang. Dia kemudian memasukkan kedua tangan dalam saku celana. “Kau berjanji akan membawa kemenangan setelah kembali, tetapi sekarang kau di sini, tanpa membawa hasil apa pun selain kerugian.”



“Hah?!”



“Dengar!” Neo Khufu menepis tangan Draco yang mencengkram kerah pakaiannya, “Selanjutnya tidak boleh ada kegagalan lagi.”



“Kau pikir siapa dirimu?!”




Sekali lagi Draco mengepalkan kedua tangan. Ia marah, kesal, tetapi juga tak berdaya. Sekarang ia melihat dirinya yang menyedihkan, karena ada orang lain di dunia ini yang jauh lebih kuat dan berkuasa dibandingkan dirinya.



“Kalian akan melihat kehebatanku, Neo Khufu, Atlas.” Draco benar-benar tidak dapat menerima realita yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kepalanya. Ia menyangkal bahwa sekarang dirinya menjadi orang lemah di dunia barunya ini, di kehidupan kedua.


...*** ...


Saat Draco masih belum keluar dari kamar, Neo Khufu terlihat sudah duduk di atas singgasana di dalam ruang takhta. Pria tersebut kemudian melirik ke atas, lalu mengembuskan napas panjang. Dari raut wajah yang terlihat, ia tampak kecewa akan hasil dari peperan di Gurun Thanatos, tetapi hasil ini tidak cukup buruk juga karena akhirnya Neo Khufu mengetahui bahwa ada Anak Bintang lain yang kekuatannya setara dengan Draco.



Tidak lama kemudian, terdengar pintu ruang taktha diketuk oleh seseorang. Tanpa bertanya apa pun, Neo Khufu berkata, “Masuklah, aku sudah menunggumu.”



“Baik, Yang Mulia.” Dari pintu besar yang terbuka, Menes masuk dan segera bersujud di hadapan ayahnya sendiri. Pemuda itu begitu menghormati pria yang kini duduk di atas singgasana.



“Kau telah mendapatkan informasi yang kuinginkan, Menes?” tanya Neo Khufu dengan nada datar.



“Ya, Yang Mulia,” jawab Menes. “Ada seorang Anak Bintang lain yang bersembunyi di Kerajaan Api. Akan tetapi, sekarang kami sedang melakukan banyak upaya untuk menangkap Anak Bintang itu. Kemungkinan besar dia adalah seorang mata-mata dari kerajaan lain.”



“Bagus. Tangkap Anak Bintang itu hidup-hidup untukku. Tidak peduli bagaimana kondisinya, asalkan masih bernapas, aku akan membuatnya tetap hidup.”



“Perintah diterima, Yang Mulia.” Menes perlahan berdiri. “Hamba mohon izin untuk undur diri terlebih dahulu.”



“Ya.”



Menes sudah pergi dari ruang takhta, sedangkan Neo Khufu tersenyum tipis setelah mendengar informasi tadi. Akan tetapi, seolah sedang digelitik, ia tak tahan untuk menahan diri hingga akhirnya tertawa sekeras mungkin, memenuhi ruang takhta.



“Hahaha!” Neo Khufu tertawa lepas. “Semua Anak Bintang itu akan menjadi budakku. Aku akan menggunakan mereka untuk melayani Sang Dewa Agung Neo Khufu seumur hidup mereka!”



Dengan semua kejadian ini, Neo Khufu sudah sangat yakin bahwa dirinya akan menjadi penguasa satu-satunya di dunia ini. Dirinya sebagai dewa akan dikenal hingga ke ujung lautan sekali pun. Semua orang akan menyembah dan memberikan semua yang mereka miliki hanya untuk Neo Khufu.



“Sebentar lagi empat kerajaan akan lenyap dan akan bergabung menjadi Kekaisaran Api!”



Sementara Neo Khufu tengah membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan, di balik pintu besar yang sedikit terbuka, Menes mendengarkan semua ucapan ayahnya itu. Pemuda tersebut tersenyum tipis, lalu menutup rapat pintu perlahan-lahan agar tidak diketahui oleh sang ayah. Dia kemudian melangkah pergi sembari bergumam pelan, “Hamba akan selalu setia kepadamu, Yang Mulia.”