Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 12: Menuju Erato Frike



Saat matahari sudah terlihat berada di tengah, seperempat perjalanan sudah ditempuh. Masih perlu setengah hari perjalanan lagi baru mereka akan tiba di Erato Pusat Frike, baru kemudian mereka dapat melanjutkan perjalanan ke Musai Pusat Vonturnus. Jika ingin lebih disederhanakan lagi, perjalanan mereka bukan hanya sebatas antar Erato, melainkan antar Musai.


Di samping kereta kuda, terlihat Atlas masih dapat berjalan santai sembari melirik ke sekitar. Perjalanan melalui jalan di pemukiman, sampai akhirnya mereka tiba di daerah perbatasan dengan Erato Pusat Frike, masih belum membuat pemuda itu kelelahan. Mungkin ini terjadi karena ia sudah merasakan perjalanan panjang melalui gurun pasir di siang bolong.


“Ternyata daerah perbatasan ini lebih subur dari dugaanku,” gumam Atlas ketika melihat pepohonan mulai tumbuh di antara Erato Stix dengan Erato Pusat Frike. “Ini bisa menjadi pelajaran baru untukku.”


Kaysen melirik Atlas sejenak sembari memiringkan sebelah alis, berkata, “Apa yang sedari tadi kau gumamkan, Atlas?”


“Tidak ada apa-apa,” jawab Atlas, langsung tanpa jeda. “Lupakan saja dan jangan sampai kau kelelahan dalam perjalanan ini.”


Beberapa saat kemudian, ketika rombongan pengawal Tuan Muda Vonturnus ini melalui jalan setapak yang menjorok ke bawah, Felix memerintahkan untuk berhenti. Pada siang hari ini Felix memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, tidak memaksakan rombongan ini terus berjalan sepanjang hari.


Kereta kuda berhenti, kemudian Atlas meregangkan otot-ototnya sembari berjalan dan duduk di bawah sebatang pohon. Dari sini ia bisa melihat pemandangan dari padang rumput di bawah sana, kala angin berembus pelan menerpa tubuhnya.


“Jangan banyak membuang waktu,” kata Felix. “Lakukan apa yang perlu kalian lakukan sebelum kita kembali memulai perjalanan.”


“Baik, Tuan Muda!” sahut pengawal pribadi pemuda tersebut sembari membubarkan diri.


Di sisi lain, Kaysen berjalan mendekat ke arah Atlas, kemudian duduk tepat di sebelah pemuda itu, bergumam, “Untung sekali kita dapat beristirahat.”


Belum juga Atlas sempat menjawab, mendadak Felix berkata pada mereka, “Kalian berdua persiapkan api! Jangan bermalas-malasan.”


“Itu katanya,” kata Atlas sembari memalingkan pandangan pada Kaysen.


Mau tidak mau, Kaysen berdiri, pergi untuk menyalakan api. Meski begitu, Atlas sedikit pun tak tampak hendak bergerak menyusul Kaysen. Tentunya hal tersebut langsung disadari oleh Felix.


“Tidakkah kau mau mencoba untuk membuat dirimu lebih berguna, Atlas?” Felix menatap diam pada Atlas yang kini duduk sembari memandangi langit biru yang dihiasi oleh awan cerah.


“Hari ini sangat cerah, ya?” Atlas jelas tidak berniat memerhatikan perintah Felix. “Apakah akan turun hujan secara tiba-tiba? Hm ….”


“Atlas Hiromasa ….” Felix menarik napas panjang. “TIDAKKAH KAU PIKIR KAU PERLU MEMBANTU MEREKA BAHKAN UNTUK SEKEDAR MENGELUARKAN PERSEDIAAN?!”


Atlas menutup kedua telinga, menjawab, “Bukankah kau sendiri juga tidak melakukannya?”


“Kau pikir siapa dirimu dapat disamakan denganku?!”


“Kita sama-sama manusia …, kurasa.”


“Kalau dipikir lagi … itu tidak salah juga kupikir.” Sejenak Felix diam, kemudian menunjuk Atlas sambil memasang raut wajah konyol, “Tapi derajat kita tak sama!”


Bukannya mendengarkan, Atlas masih menutup kedua telinga sembari melirik ke padang rumput. Ia sungguh menikmati embusan angin yang menyejukkan tubuhnya di tengah teriknya sinar matahari.


...***...


Jalanan tampak ramai diterangi oleh cahaya yang berasal dari batu bercahaya yang melayang. Menurut Kaysen, batu ini bernama Theia’s Stone.


“Bukankah itu kereta kuda Tuan Muda Vonturnus?” bisik orang-orang yang memerhatikan kereta kuda yang ditumpangi Felix.


“Iya, tidak salah lagi …,” ucap satu orang lainnya.


“Tuan Muda! Tuan Muda!” orang-orang mulai bersorak sambil melambaikan kedua tangan mereka, menyapa Moirai masa depan mereka.


Mendengar sorakan tersebut, Felix membuka jendela kereta kuda, tersenyum ramah sembari melambaikan tangan pada rakyatnya. Dia terlihat lebih berkharisma dibandingkan ketika dia sedang bersama dengan Atlas. Selain itu, orang-orang juga terlihat sangat antusias untuk menyapa pemuda tersebut.


“Ternyata dia orang yang cukup populer,” gumam Atlas sembari melirik ke sekitar. “Aku tidak menyangka bocah tengil sepertinya cukup digemari oleh masyarakat.”


“Aku juga tidak menyangka hal ini,” sahut Kaysen, terus terang. “Sejujurnya aku menduga bahwa mereka akan melemparinya dengan sampah atau semacamnya.”


“Kalian berdua.” Felix memalingkan pandangan pada Atlas dan Kaysen sembari memasang senyum tipis. “Aku bisa mendengarnya dengan jelas.”


Atlas dan Kaysen pun segera memalingkan pandangan ke arah lain, berlagak tidak tahu dan tak mau tahu. Kedua pemuda ini sangat kompak dalam hal seperti ini.


Tidak berselang lama, akhirnya mereka tiba di sebuah jalan yang lebih sepi. Kemudian, kereta kuda berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar dan tampak megah. Di sekitar bangunan tersebut terdapat banyak Theia’s Stone melayang, menerangi hingga ke halaman dan jalan di depan bangunan itu.


Felix keluar dari kereta kuda, berjalan menuju pintu gerbang. Tanpa menanyakan identitas atau apa pun, beberapa Herakles yang berjaga lantas membungkuk dan membukakan pintu untuk Felix. Tentunya mereka sangat segan dan tak berani membuat kesalahan di depan Tuan Muda Vonturnus itu.


Agar tidak membuat situasi menjadi merepotkan, di sini Felix memutuskan untuk membawa Atlas dan Kaysen masuk bersamanya, sedangkan para pengawal lain sedang melakukan tugas lain. Mereka bertiga pun masuk ke dalam bangunan megah ini, langsung disambut oleh beberapa pria bertubuh kekar serta para maid yang anggun.


“Ruangan tuan di sebelah sini, Tuan Muda,” ucap seorang pria bertubuh tinggi dengan sopan, sembari mengantar Felix, Atlas, dan Kaysen ke sebuah ruangan luas.


Awalnya Atlas mengira bahwa ruangan itu kosong, tetapi ketika pintu dibuka, terlihat seorang wanita dengan anggun menyambut kedatangan Felix, ditemani oleh seorang pria tinggi dengan rambut pendek di sebelah kirinya. Pria tersebut tampak lebih tua daripada si wanita.


“Silakan, Tuan Muda,” kata si wanita, mempersilakan Felix masuk.


“Ya.” Felix segera masuk dan duduk di sofa panjang yang di depannya terdapat sebuah meja kecil dan sebuah sofa panjang lagi.


Atlas dan Kaysen pun berdiri di belakang Felix, tidak langsung duduk seperti biasanya. Felix sedikit heran melihat hal itu, tetapi dia memutuskan untuk tidak membahasnya.


“Duduklah, Nona Halina,” kata Felix, mempersilakan wanita yang menyambutnya tadi untuk duduk di sofa di hadapannya.


Tak lama kemudian, seorang maid datang, meletakkan beberapa cangkir teh di atas meja. Maid itu pun segera pergi setelah melakukan tugasnya.


“Saya sungguh meminta maaf karena membuat Tuan Muda yang turun langsung untuk melakukan pengawasan,” kata Halina sembari membungkukkan tubuh.


“Itu bukan urusanmu, Nona Halina,” sahut Felix, kemudian mengubah topik pembicaraan. “Lebih penting lagi, bagaimana dengan tugas yang aku berikan?”