Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 16: Keputusan



Atlas dan Anthony berdiri di depan pintu bangunan tua. Kedua orang itu berdiri tegak melihat ke arah yang sama, yaitu pada para anggota Eximo. Atlas sendiri sedikit pun tak gentar kala melihat anggota Eximo menatap tajam dan waspada pada dirinya.



“Apa maksudnya ini, Wakil Ketua—Anthony Blade?!” ucap pria bertubuh kekar, tegas.



Anthony tampak tenang, menarik napas panjang, menjawab, “Aku tahu ini menentang keinginan kita semua, Eric.” Dia diam selama beberapa saat. “Namun kita takkan bisa mengalahkan Sang Libra.”



“Kau adalah Sang Libra?” Pria bertubuh kekar, Dominic Will—Ketua Eximo, menatap tajam Atlas. “Elemen A—”



Atlas tanpa ragu melesat cepat dan mendang Dominic hingga terhempas jauh sebelum pria tersebut menyelesaikan kalimatnya. Terlihat jelas anggota Eximo lain langsung menyerbu pemuda itu bersama-sama.



“Serang!” seru salah seorang anggota Eximo.


Tanpa ragu mereka semua melesat ke depan, hendak menebas Atlas menggunakan pedang di tangan mereka. Mereka semua langsung terpancing kala Atlas menyerang Dominic secara mendadak.



Perlahan Atlas mengalirkan Erabus ke sekujur tubuh, kemudian membuat timbangan manual dengan Erabus di tangan kanan. Ia lantas menarik napas panjang sembari mengumpulkan Erabus ke dalam mulut.



“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!” Atlas meniup sisi kiri timbangan manual dengan embusan angin yang bercampur dengan Erabus.



Bunyi bel terdengar, membuat tiupan angin yang segera menghempaskan musuh ke segala arah. Semua orang yang menyerangnya seketika melayang jauh ke belakang, bahkan lebih jauh dibandingkan Dominic.



“Aku tidak cukup baik dan sabar untuk menghadapi lawan,” kata Atlas sembari berjalan mendekati Dominic yang mencoba untuk bangkit. “Jangan berani bergerak dari sana.” Ia langsung menginjak Dominic dengan kaki kanan. Atlas melakukan hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuat lawan keras kepala seperti mereka agar tunduk adalah dengan cara menunjukkan perbedaan kekuatan.



Dominic sedikit gemetar melihat tatapan Atlas yang seperti tak memiliki empati. Tatapan mata itu sangat mengintimidasi, bahkan hingga membuat Dominic mengangkat kedua tangan. “Aku … kalah ….”



“Baiklah,” ucap Atlas, pergi menjauh lalu mendekat pada Felix dan Kaysen. Atlas kemudian menyerahkan adik Felix kepada Felix. “Dia tidak apa-apa. Hanya pingsan.”



“Ya ….” Felix pun menggendong adiknya, merasa lega. “Terima kasih, Atlas.”



Tepat sebelum Atlas menjawab, mendadak Anthony memotong pembicaraan, “Jadi bagaimana, Sang Libra?” Perlahan dia mendekat. “Kau tidak akan melupakan janjimu, kan?”



Sejenak, Atlas mengembuskan napas panjang, berkata pada Felix, “Mereka semua bukanlah penjahat. Mereka sama seperti bawahanmu, hanya para Nomos yang sudah lelah dalam pertarungan. Apa kau akan menghukum mereka semua?”



“Apa?!” Orang yang terkejut pertama kali ketika mendengar hal tersebut bukanlah Felix, melainkan Kaysen yang berada tepat di sebelah pemuda tersebut. “Kenapa para Nomos akan melakukan hal seperti ini?!”



“Aku setuju dengan Kaysen!” sahut Felix. “Mereka pasti ingin menipumu, Atlas?! Sebaiknya kau tidak percaya.”



“Aku percaya pada mereka.” Atlas lantas berdiri di sebelah kanan Anthony, masih menghadap ke arah Felix dan Kaysen. “Aku bukan orang yang begitu bodoh untuk ditipu.”



“Itu ….” Kaysen kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Selain itu, karena ia sudah memutuskan ke mana akan berpihak, dia lantas melangkah ke depan, kemudian berdiri di sebelah Atlas. Ini bukan karena dia mengkhianati Felix, melainkan karena sejak awal Kaysen sudah memutuskan untuk mengikuti Atlas.



“Kaysen …?” Felix tidak percaya bahwa Kaysen kini berada di pihak Atlas, bukan membantunya. Paham bahwa dirinya tidak akan menang, Felix berkata, “Kau tadi bertanya padaku akan menghukum mereka atau tidak, kan, Atlas?”




“Itu sama saja kau tak memberikan pilihan padaku.”



“Itu hanya interpertasimu saja,” Atlas sengaja mengatakan hal tersebut dengan nada datar.



Felix menatap tajam mata Atlas, tak terlihat gentar sedikit pun. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada Anthony. “Kau adalah Anthony Blade, kan? Aku banyak mendengar tentang dirimu. Sungguh tak kusangka kau akan ada di tempat seperti ini.”



“Sebuah kehormatan bagiku dapat diperhatikan oleh Tuan Muda,” balas Anthony, merendahkan diri di hadapan Felix.



“Namun …,” Felix tetap tidak mengubah pendiriannya semudah itu, “aku akan menegaskan bahwa memang sudah tugas setiap orang untuk berkorban demi Kerajaan Udara! Kalian … tidak … kita semua termasuk aku memang diharuskan untuk melayani Kerajaan Udara dan Yang Mulia Raja!”



“Memangnya kau tahu apa yang kami rasakan?!” Untuk pertama kalinya Atlas mendengar Anthony menaikkan nada suaranya. “Kami dipaksa untuk bertarung ke medan perang meskipun kami tidak menginginkannya! Dan itu dilakukan bukan untuk melindungi Kerajaan Udara, tetapi demi keinginan gila sang raja!”



“Kau berani tidak sopan pada Yang Mulia Raja?!” Felix membalas.



“Apanya yang tidak sopan?!” Anthony benar-benar kehilangan kendali. “Teman, saudara, dan … adikku. Telah mati demi menginvansi Kerajaan Api! Tapi dia masih ingin menyerang Kerajaan Api lagi!”



“Keinginan raja adalah keinginan Kerajaan Udara!”



“Kau tidak mengerti!”



Atlas hanya diam, membiarkan Felix dan Anthony saling beradu pendapat. Di sini Atlas bisa memahami kedua sisi dengan baik, di mana satu sisi adalah Nomos yang telah kehilangan keluarga dan tak ingin untuk mengabdi pada raja lagi, sedangkan yang satu adalah orang yang sangat taat pada raja.



Akan tetapi, beberapa saat kemudian Anthony semakin terpancing dan hendak menyerang Felix. Beruntungnya Atlas menghentikan tindakan tersebut sebelum dapat terjadi. Atlas sudah tak mau ada pertumpahan darah, jadi sekarang ia harus mengambil inisiatif untuk menjadi penengah.



“Aku tak berada di pihak mana pun,” kata Atlas.



Anthony pun kembali tenang setelah merasakan aura yang dikeluarkan oleh Atlas. Jelas bahwa pria ini tidak berani untuk berhadapan dengan Atlas yang kekuatannya tidak dia ketahui sampai mana batasannya.



“Bagaimana jika kita ambil jalan tengah saja,” lanjut Atlas, mulai memberikan saran. “Pada dasarnya Eximo ingin dibebastugaskan dari Nomos, sedangkan Felix tidak bisa mengambulkan permintaan tersebut karena terikat dengan aturan. Namun, bagaimana jika Eximo dibebastugaskan selama satu tahun dengan syarat merahasiakan kejadian ini.”



“Kurasa itu bukan hal yang cukup buruk ….” Tentu saja Anthony dan juga anggota Eximo lain tidak menginginkan hasil seperti ini. Akan tetapi, mereka jelas paham bahwa ini merupakan hasil terbaik.



Di sisi lain, Felix memang dapat menggunakan kekuasaannya untuk menumpas Eximo, meskipun hari ini dia dapat mati atau bahkan ditahan. Namun, fakta bahwa sekarang yang dalam bahaya bukan hanya dirinya, melainkan juga adiknya, jelas dia tak bisa mengambil risiko besar tersebut.



Felix kemudian mengembuskan napas panjang, membulatkan keputusan. “Kurasa itu merupakan titik tengah yang tak buruk.”



Akhirnya keputusan sudah didapatkan. Ini adalah akhirnya yang lebih baik dibandingkan dengan pertumpahan darah lainnya. Selain itu, dari pertarungan tadi juga tak ada satu orang pun yang mati, melainkan hanya terluka dan kehilangan kesadaran sementara saja.