
Di dalam sebuah ruangan luas, Felix duduk di kursi di balik meja, sedangkan Atlas, Irene, dan Kaysen duduk di kursi tepat di seberang meja. Mereka bertiga terlihat memerhatikan ke arah yang sama, yakni Felix yang menjadi pusat perhatian.
Felix menyatukan kedua tangan kemudian meletakkan sikunya ke meja dan meluruskan tangan ke atas. Dari sini dia seperti mencoba untuk menunjukkan wibawanya, tetapi semua itu tampak sia-sia karena dari tiga orang di hadapannya, hanya Irene yang benar-benar memerhatikan.
“Hei …,” kata Felix, pelan. “Kalian pikir kita di sini untuk bermain!” Dia mendadak menaikkan suaranya sembari memukul meja sekuat tenaga.
Atlas dan Kaysen pun melirik ke arah pemuda tersebut selama beberapa saat. Mengangkat sebelah alis, Atlas berkata, “Aku masih tidak mengerti mengapa kau membawaku kemari, makanya aku bertanya pada Kaysen.”
“Itu benar.” Kaysen memberikan klarifikasi. “Aku hanya mengatakan padanya tentang alasanmu membawa kami di sini.”
“Tidak mungkin kalian berbicara selama lebih dari sepuluh menit tanpa mendengarkanku hanya untuk membahas hal itu!” Felix tidak terima akan jawaban Atlas dan Kaysen yang tampak acuh tak acuh.
Irene mengembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepala. Tentu saja kejadian ini tidak pernah terbayangkan olehnya, terlebih ketika Atlas beberapa saat lalu tampak begitu keren di matanya … mungkin.
“Haah ….” Atlas mengembuskan napas panjang seperti seorang tidak bersalah. “Jadi apa alasanmu membawa kami ke sini, Felix?”
“KAU SUNGGUH-SUNGGUH!” Akhirnya Felix memutuskan untuk menggelengkan kepala dan kembali duduk. Dia menyerah menghadapi Atlas dan Kaysen yang memang selalu bertindak sesuka hati. “Pada intinya aku ingin kalian ikut bersamaku dalam peperangan dengan Kerajaan Api.”
Sebelum Atlas menanggapi, Irene sudah terlebih dahulu berdiri dan berkata, “Itu tidak ada hubungannya denganku, jadi aku akan pergi.”
“Baiklah ….” Meskipun Felix adalah orang yang akan menjadi Moirai dari Aither Vonturnus di masa depan, tetap saja dia tak memiliki kekuatan wewenang apa pun untuk menghentikan Irene.
“Kalau begitu sampai jumpa lagi.” Irene segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
“Kalau begitu aku juga!” Atlas dengan semangat berdiri dan hendak pergi. Akan tetapi ….
“Kau dan Kaysen tetap di sini, Atlas!” kata Felix.
Kendati Atlas bisa saja mengabaikan Felix, tetapi karena kasihan pada pemuda itu, ia pun menurut. Atlas kembali duduk di kursinya. “Aku akan menegaskan ini sebelum kau memaksa. Aku tidak memiliki keinginan untuk ikut dalam perang itu. Pada dasarnya aku tak mau terlibat. Namun ….”
“Kau pasti khawatir jika ada Anak Bintang lain dari Kerajaan Api yang ikut dalam pertempuran, kan?”
“Kau sepertinya paham dengan cepat.”
Felix lantas mengalihkan perhatian kepada Kaysen yang sedari tadi diam. “Kaysen …, sebagai seorang Nomos kau sudah diwajibkan untuk ikut dalam peperangan ini. Tidak ada pengecualian lain untukmu, kau mengerti?”
“Padahal aku tidak ingin melakukannya ….” Kaysen tampak sedikit kecewa sembari mengembuskan napas panjang.
“Statusmu sebagai seorang Nomos tidak dapat semudah itu untuk dilepas. Terlebih bakatmu itu, Kaysen.” Felix memasang wajah datar tanpa ekspresi. Apa yang dia katakan adalah sebuah kenyataan, sehingga Kaysen tak dapat menyangkalnya.
“Baiklah, aku akan ikut.” Kaysen setuju meski tak bersemangat sedikit pun. “Tapi pastikan bahwa kau melaporkan keikutsertaanku pada Raja.”
“Kau tak perlu memikirkan itu. Aku sudah mengatakan semua persiapanku pada Raja. Jadi semua sesuai dengan rencana.”
“Pastikan kau tak mengaikatkanku pada rencanamu itu,” potong Atlas.
“Kau berhasil membuat rencanamu berjalan lancar kalau begitu.”
Atlas sejak awal tak memiliki niat untuk terlalu banyak mengintervensi tentang dunia ini. Namun, berbeda jika Anak Bintang lainnya terlibat.
“Kalau begitu cukup untuk hari ini,” kata Felix sembari berdiri dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Namun, sebelum tangannya membuka pintu, dia berkata, “Setelah perang ini berakhir … aku akan ikut bersama dengan kalian, Atlas, Kaysen.”
“Hah?!” Sontak Atlas berdiri mendengar pernyataan itu. Akan tetapi, sebelum Atlas mengatakan apa pun lagi, Felix sudah berjalan keluar dari ruangan tanpa mau menghiraukan apa pun lagi.
“Tampaknya perjalanan kita nantinya akan menjadi lebih ramai,” timpal Kaysen yang segera pergi keluar dari ruangan, meninggalkan Atlas seorang diri.
Atlas tak dapat melakukan apa pun lagi. Pemuda itu hanya dapat mengembuskan napas panjang sembari berharap kalau masa depan akan menjadi baik-baik saja.
“Ini sangat merepotkan ….”
...*** ...
Padang pasir terhampar di bawah langit biru cerah tanpa awan. Seorang pemuda dengan jubah yang terbuat dari bulu dombang dan memiliki corak merah, duduk dengan tenang di atas sebuah batu besar sembari memakan sepotong daging berukuran besar. Pemuda itu dengan tenang menikmati makan siangnya sembari membiarkan angin berembus menerpa tubuhnya.
Awalnya semuanya tenang seperti tak ada apa pun, hingga akhirnya pemuda lain datang dan berkata, “Ternyata di sini dirimu, Sang Aries ….”
Tanpa berbalik atau pun menghentikan mulutnya mengunyah, pemuda di atas batu yang disebut Sang Aries itu menjawab, “Apa ada kau mencariku di sini, Menes Djer Ra-Mida?”
“Waktunya sudah dekat,” Menes menjawab, “beberapa bulan telah berlalu semenjak kau dibangkitkan oleh Yang Mulia Neo Khufu Ra-Mida.”
“Lalu?” Sang Aries terlihat tak peduli dan memang tak ingin peduli. “Apa yang kau inginkan? Cepat katakan dan jangan berbelit-belit.”
“Kembalilah ke istana, Sang Aries—Draco Evrard, perang sudah di depan mata. Pasukan yang akan membantumu sudah siap.”
“Aku tidak memerlukan bantuan siapa pun!” Draco berdiri. Sepotong daging yang ia pegang pun seketika berubah menjadi lava dan jatuh ke tanah.
Menes sadar bahwa kekuatan Draco sangat luar biasa, bahkan bisa membuat tubuhnya gemetar dengan hanya melihatnya. Akan tetapi, sekarang satu hal yang harus dia lakukan yaitu membawa Draco kembali ke istana sesuai dengan perintah dari ayah dan juga Raja Kerajaan Api—Neo Khufu Ra-Mida.
“Aku tidak peduli dengan itu,” jawab Menes. “Satu hal pasti dan jelas bahwa kau harus kembali ke istana sekarang!”
Kali ini Draco berbalik, melihat tatapan tajam Menes yang diarahkan tepat pada dirinya. “Hah? Kau berani memerintahku dengan begitu arogan, Menes Djer Ra-Mida?”
Menes mengepalkan kedua tangan, tetap mempertahankan tatapan tajamnya. “Aku hanya menjalankan perintah Yang Mulia Raja! Kau tidak berhak untuk protes.”
Keheningan terjadi selama beberapa saat di antara mereka. Keduanya sama-sama diam dan tak mengatakan apa pun. Angin kembali berembus menghantarkan kesejukan.
Draco mengembuskan napas pendek, melompat turun dari batu, berkata, “Baiklah, antar aku ke sana sebelum aku berubah pikiran.”
“Ya ….”
Menes pun berjalan mengantar Draco masuk ke dalam sebuah kereta pasir yang sudah disiapkan. Kereta pasir itu pun segera bergerak ketika Menes dan Draco sudah masuk.