Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 32: Kegundahan



Ruangan tampak diterangi oleh Theia’s Stone yang melayang. Atlas yang terbaring pun perlahan membuka mata dan melirik sekitar. Tempat ini sepi, tidak ada siapa pun di sini selain dirinya sendiri.



Perlahan pemuda itu melirik kedua telapak tangan, lalu mengepalkan tangannya tersebut. Ia masih ingat benar, pertarungan terakhir ketika melawan Draco. Kala itu ia tak dapat menahan diri sehingga bertarung tanpa memedulikan sekitar, tetapi sekarang ia harus menanggung rasa bersalah akibat dari perbuatannya. Ini memang tidak mudah, tetapi harus tetap Atlas lalui.



Atlas mengembuskan napas panjang, dan di saat bersamaan seseorang masuk ke dalam ruangannya. Kaysen membuka pintu, masuk ke ruangan di mana Atlas dirawat. Sesaat setelah melihat Atlas sadar, pemuda tersebut langsung mengembuskan napas lega.



Kaysen berjalan perlahan lalu duduk pada kursi di sebelah ranjang. Dia meletakkan buah-buahan pada meja yang ada di sampingnya. “Akhirnya kau sadar juga, Atlas.”



“Sudah berapa lama …?” tanya Atlas. “Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”



Pertanyaan ini tampak sedikit mengganggu Kaysen, tetapi dia mau tak mau harus menjawab jujur. “Sudah tiga hari semenjak saat itu.”



“Jadi begitu ….”



“Hm.” Kaysen mengangguk pelan. Tidak mau terlihat murung, dia kemudian mengambil buah di atas meja, memberikannya pada Atlas. “Pencuci mulut?”



“Terima kasih,” jawab Atlas, mengambil buah yang diberikan oleh Kaysen.



Angin perlahan berembus menerpa tirai jendela ketika Atlas memakan buah pemberian Kaysen. Meski sudah tiga hari tak sadarkan diri, Atlas masih tampak bertenaga seperti orang yang tidak pingsan. Namun, Atlas adalah orang yang paling mengerti kondisi tubuhnya saat ini.



“Aku akan memanggil tabib terlebih dahulu.” Kaysen beranjak pergi dari tempat duduknya.



“Ya.” Atlas terlihat acuh tak acuh.



Setelah menghabiskan buah di tangannya, Atlas pun melirik ke luar jendela. Di luar sana terlihat jalanan diterangi oleh deretan Theia’s Stone yang melayang di udara. Selain itu, tampak banyak orang berjalan di bawah terangnya cahaya rembulan di antara ribuan bintang.



“Malam … ya?” gumam Atlas.



Pintu ruangan kembali dibuka, kemudian seorang pria paruh baya dengan rambut pendek masuk. Pria itu mengenakan pakaian berwarna putih dan tanpa banyak bicara segera memeriksa keadaan Atlas dengan ditemani oleh Kaysen.



Selang beberapa saat kemudian, pria tersebut berkata, “Sejauh ini tubuhmu baik-baik saja. Aku tidak menemukan adanya sesuatu yang janggal, tetapi untuk keamanan, kau harus berada di sini selama satu malam lagi.”



“Baik,” kata Atlas, tidak ingin memperpanjang masalah.



“Kalau begitu, saya undur diri terlebih dahulu, Tuan Atlas, dan Tuan Kaysen,” kata si pria sembari keluar dari ruangan.



“Aku tidak percaya kau benar-benar seperti orang yang bangun tidur, bukan seperti orang dalam keadaan kritis setelah pertarungan sengit,” ucap Kaysen sembari duduk. “Apa kau memerlukan sesuatu yang lain? Aku akan mengambilkannya untukmu sembari menunggu makan malammu tiba.”



“Tidak perlu.” Atlas segera berbaring dan menutup tubuhnya hingga ujung kepala menggunakan selimut. “Aku ingin sendiri dulu, Kaysen.”



Kaysen menaikkan sebelah alis, tidak memahami apa yang dipikirkan Atlas. Namun, karena menghormati pemuda itu, Kaysen pun menyanggupi, “Baiklah. Tapi kalau kau perlu sesuatu, ingatlah aku menunggu di depan pintu.”



“Itu sangat membantu.” Terdengar jelas bahwa Atlas sangat tidak ingin diganggu sekarang. Pikirannya tengah gundah, karena banyak hal terjadi yang mau tak mau membuat hatinya tidak tenang.



Atlas kemudian menutup mata. Isi kepalanya terus berputar, mempertanyakan tentang dirinya dan apa yang dianggap sebagai idealismenya. Apakah ia telah melanggar idealisme sendiri atau tidak? Mana yang benar mana yang salah untuk dilakukan? Lalu apa yang dimaksud dengan tirani itu sendiri?



...*** ...


Hari pun berganti, Atlas yang telah bangun kini berdiri di depan jendela sembari menikmati sinar matahari serta embusan angin. Selain itu, ia juga melihat pemandangan dari orang-orang yang mulai beraktivitas seperti biasa.



Mengalihkan pandangan setelah beberapa saat, sejenak ia melirik ke atas meja. Di sana tidak hanya terdapat buah-buahan beserta tempatnya, melainkan juga sebilah pedang lengkap dengan sarungnya. Atlas kemudian mengambil pedang tersebut, menariknya keluar.



“Tidak kusangka akan jadi seperti ini.”



Pedang itu sudah tumpul, bahkan tampak sedikit bengkok. Ini adalah pedang pemberian Agatha. Awalnya Atlas tak berniat menggunakannya, tetapi pedang ini malah menyelamatkan nyawanya dalam pertarungan dengan Draco.



Mendadak terdengar suara pintu dibuka, membuat Atlas memalingkan pandangan ke sumber suara. Di sana terlihat Felix dan Agatha datang untuk menjenguk sembari membawa buah-buahan.



“Bagaimana kondisimu, Atlas?” tanya Felix sembari memberikan buah-buahan pada pemuda tersebut. “Ini memang tidak seberapa, tetapi terimalah.”



“Terima kasih.” Atlas mengambil pemberian Felix, kemudian meletakkanya ke atas meja. “Dan kurasa aku baik-baik saja.”



“Itu ….” Agatha mencoba mengucapkan sesuatu, tetapi dia lantas bersembunyi di balik punggung kakaknya. “Syukurlah kalau kau sudah merasa lebih baik, Tuan Atlas ….”



Atlas melemparkan senyum pada gadis itu, menjawab, “Terima kasih, Agatha.” Ia kemudian melirik pedang di tangannya. “Pedang ini menyelamatkan nyawaku waktu itu. Berkatmu juga aku dapat bertahan hidup hingga saat ini, Agatha.”



Wajah Agatha seketika memerah. “Aku harus segera pergi.” Agatha langsung keluar dari ruangan sembari menutup wajah dengan kedua tangan.



Atlas memiringkan kepala. “Ada apa dengannya?”



Felix mengangkat bahu. “Entahlah. Kau coba pikirkan saja sendiri.”



“Hm?” Atlas masih tidak dapat mengerti.



Kemudian, tanpa banyak membuang waktu, Felix langsung mengubah topik pembicaraan, “Itu adalah pertarungan yang sengit. Jika kau tak di sana, aku ragu kalau kami masih dapat kembali saat itu. Terima kasih, Atlas.” Felix menundukkan kepala, merendahkan tubuh untuk memberi hormat.



“Itu sudah sewajarnya.” Perlahan Atlas berdiri kembali di depan jendela, membiarkan wajahnya menerima terpaan angin. “Itu adalah urusan antar Anak Bintang. Aku tidak bisa membiarkan beberapa dari mereka bertindak sesuka hati di dunia ini.”



Mendengar itu, Felix tampak tersenyum tipis. “Aku tidak mengerti tentang itu, tetapi kuyakin kau berada di jalan kebenaran yang kau yakini, kan?”



“Ya.”



“Baiklah kalau begitu.” Felix segera berbalik, mulai berjalan keluar dari ruangan.


“Omong-omong, kau tidak melupakan kata-kataku saat itu, kan?”


“Ha?” Segera berbalik, melihat Felix berjalan pergi sembari melambaikan tangan. “Apa maksudmu?”



“Kita akan bicarakan lagi setelah kau keluar dari sini. Aku akan membuatmu mengingatnya.”



“Hm ….” Atlas pun menggaruk kepala walau tidak gatal. Ia sungguh tak memiliki tebakan apa pun tentang apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Felix. Namun, ia merasa tak berguna juga bila terus memikirkan hal tersebut. “Baiklah, lupakan saja. Akan ada saatnya aku tahu semua itu.”