Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 27: Sudut Pandang



Jauh dari medan perang di mana seth Kerajaan Api bertarung dengan nomos Kerajaan Udara, terlihat dua orang pemuda sedang berhadapan satu sama lain. Salah satu dari pemuda tersebut—Draco terlihat berada di atas lava panas yang menyebar sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri. Draco tampak tenang menatap lawan.



Di depan Draco, terlihat Atlas tengah memerhatikan dengan tenang situasi. Pemuda itu memegang erat timbangan manual di tangan kanannya, sembari memikirkan cara untuk bisa keluar dari situasi ini. Sekarang Atlas merasakan terdesak, berusaha mencari jalan keluar.



“Kau takkan bisa mengalahkan aku, Libra,” kata Draco, begitu tenang di tengah teriknya matahari di Padang Gurun Thanatos.



“Itu hanya dalam pikiranmu saja.” Atlas mengembuskan napas panjang, lalu menampilkan senyum tipis. “Namun, kenyataan mungkin tak seindah dengan sesuatu yang ada dalam kepalamu, Aries.”



Draco tertawa. “Hahaha! Menarik, sangat menarik!” Ia terus tertawa, menganggap bahwa ucapan Atlas tidak lebih dari lelucon belaka. “Atlas Hiromasa, ya? Aku akan mengingat namamu meski hari ini kau akan mati.”



“Lihatlah siapa yang berbicara.” Atlas meniup sisi kiri timbangan manual. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”



Bunyi bel segera terdengar dari Timbangan Libra yang mengeluarkan cahaya biru. Di saat bersamaan, embusan angin kencang segera melesat kea rah Draco, bagaikan badai.



“Jubah Aries ….” Draco tersenyum tipis, tidak bergerak dari tempatnya berdiri. “Penakluk Api!”



Kobaran api segera keluar di telapak kaki Draco, menerbangkan pemuda itu ke udara. Masih tidak cukup, ia lantas menarik napas panjang, lalu mengembuskannya sembari berkata, “Jubah Aries: Penakluk Api!”



Tembakan lava panas segera melesat dari mulut pemuda tersebut, semuanya terarah tepat pada Atlas. Atlas pun bergerak zig-zag ke belakang, menghindari setiap serangan yang datang cepat ke arahnya. Kendati demikian, masih cukup sulit bagi pemuda ini untuk menghindari semua serangan hanya mengandalkan fisiknya saja. Dia perlu sesuatu yang lebih dari ini.



Atlas mengatur tarikan napas, bergerak lebih pelan dibanding sebelumnya. Dia kemudian melompat ke belakang kala sebuah serangan terarah tepat pada wajahnya. Tanpa ada keraguan sedikit pun, dia menangkan serangan tersebut menggunakan sisi kiri timbangan manual.



“Ini dia …,” gumam Atlas. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”



Diiringi oleh bunyi bel, sebuah bola api besar tercipta, mengurung Atlas di dalamnya. Akan tetapi, Draco tidak paham mengapa Atlas menciptakan bola api tersebut pada pertarungan ini.



“Bodoh ….” Draco memasang wajah datar. “Jubah Aries: Penakluk Api!”



Seketika api menyebar dari tubuh Draco, merambat hingga lima belas meter di sekelilingnya. Dari jarak serang ini, jelas bahwa Atlas masuk ke dalam serangan. Selain itu, Draco menahan agar kobaran apinya tetap bertahan selama beberapa saat, kendati tidak ada apa pun yang dapat dibakar di sini.



“Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Ingin bertarung menggunakan kekuatan api saat menghadapi penakluk api?” kata Draco, terdengar kecewa pada lawannya. “Bodoh itu juga ada batasnya ….”


...*** ...


Felix bergegas ke medan perang setelah mendangar kabar tentang kematian Anthony dari salah satu nomos. Menggunakan kecepatan penuh, pemuda itu melesat ke depan sembari menghabisi setiap seth yang mencoba menghalangi jalannya. Tentunya ia dijaga oleh para pengawal pribadinya juga.



Meski memiliki pengawal-pengawal kuat, tetap saja para seth berhasil membuat Felix berpisah dengan para pengawalnya. Akan tetapi, Felix tetap tidak peduli dan segera melesat ke depan dengan berbagai gerakan untuk menghindari dan menyerang balik.



Felix mengayunkan pedangnya ke depan secara horizontal, langsung menebas tiga lawan menjadi dua bagian. Sekarang tubuh pemuda itu dipenuhi oleh darah, tetapi tatapan matanya tetap tajam ke depan, menunjukkan tekad kuat dalam diri pemuda itu.




Hanya dalam satu tebasan pedang, jalan sekita terbuka lebar di hadapan Felix. Begitu banyak seth berjatuhan hanya dalam satu serangan itu.



Berlari sekuat tenaga di jalan yang telah dibuatnya, akhirnya Felix tiba di tempat tujuan. Kakinya berhenti melangkah, napasnya terengah-engah, sedangkan matanya melihat Anthony terbaring di atas pasir kala Kaysen bertarung dengan seorang pengguna elemen api.



“Kaysen!” Felix segera melesat ke depan, dalam sekejap dapat menyinkronkan gerakan dengan Kaysen.



Kaysen melirik Felix sejenak, tetapi segera menyerang Menes dengan tebasan cepat. Kaysen melompat ke kiri, sedangkan Felix ke arah kanan. Meski demikian, Menes tetap berada di tempatnya, bergeming.



“Sekarang, Felix!” Kaysen melesat ke depan, mengayunkan pedangnya secara horizontal.



“Ha!!!” Felix melesat, mengayunkan pedang secara vertikal.


“Elemen Angin: Gelombang Angin Penebas!” Kaysen dan Felix menggunakan jurus yang sama di saat bersamaan untuk menyerang Menes.


Dalam keadaan terdesak, Menes mengembuskan napas panjang, melompat ke belakang. “Elemen Api: Kobaran Api!”



Sekujur tubuh Menes dilapisi oleh kobaran api. Pemuda itu bergerak cepat sehingga dapat menghindari serangan lawannya.



Ayunan pedang Kaysen dan Felix saling berbenturan, hal tersebut mengakibatkan suara benturan serta gelombang angin yang cukup dahsyat. Menes yang tadinya merasa berada di atas angin, segera terhempas ke belakang, menghantam harimau yang tadi menjadi tunggangannya.



Tidak hanya Menes, benturan pedang tadi juga membuat Kaysen dan Felix terhempas ke belakang. Akan tetapi, kedua pemuda itu tidak jatuh seperti Menes, melainkan masih dapat berdiri tegak kendati tarikan napas terengah-engah karena serangan tadi.



Menes bangkit kembali, menatap tajam ke depan. Harimau yang seharusnya menjadi tunggangannya pun, berubah menjadi harimau panggang dalam waktu singkat. Dia lantas mengatur tarikan napas sembari melirik dua musuhnya. Dari ekspresi wajahnya, jelas terlihat dia tak menyukai kondisi ini.



Di sisi lain, Kaysen lega karena akhirnya datang seseorang yang bisa membantunya dalam situasi ini. Dia kembali melihat harapan untuk menang dalam pertarungan melawan Menes Djer Ra-Mida.



“Kaysen …,” kata Felix.



Tanpa perlu Felix berkata lebih banyak lagi, Kaysen sudah tahu apa yang hendak dikatakan oleh pemuda itu. Kaysen kemudian melirik mayat Anthony sejenak, menjawab, “Aku akan menjelaskannya nanti. Pertama-tama kita harus mengalahkan orang ini. Dia adalah Menes Djer Ra-Mida! Putra sulung Neo Khufu Ra-Mida!”



Felix pun tidak langsung memaksa Kaysen menjelaskan, melainkan memalingkan pandangan ke arah Menes. Tatapan pemuda ini tajam, ditambah oleh raut wajahnya membuat aura intimidasinya meningkat. “Ya … kita akan menghabisinya sekarang juga.”



“Menghabisiku?” kata Menes, tersenyum lebar. “Elemen Api: Bola Api.”



Dalam sekejap, bola api melayang di sekitar tubuh pemuda tersebut. Dia menunjukkan betapa besar kekuatannya pada Felix dan Kaysen, juga menunjukkan kekuasaannya sebagai putra sulung Raja dari Kerajaan Api.



Tidak mau kalah, Kaysen segera menjentikkan jari, membuat beberapa kepalan tangan yang terbentuk dari angin, melayang di sekitar pemuda tersebut. Begitu juga dengan Felix yang langsung melapisi diri menggunakan jirah angin.