Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 34: Budak



Malam yang tenang kala bulan bersinar terang di atas langit tanpa awan di Musai Dike tepatnya pada Erato Akeso. Jalanan tampak sepi kendati cahaya masih memancar dari rumah para penduduk. Suasana damai seperti keinginan kebanyakan orang untuk beristirahat.



Walau demikian, suatu kenyataan tidak pernah selalu sama seperti ekspektasi. Dalam sebuah gang gelap terlihat sebuah penutup lorong bawah tanah terbuka, lalu seorang pria dengan jubah hitam masuk ke dalam sana. Akan tetapi, lorong bawah tanah ini tidaklah gelap karena pada dinding-dindingnya terdapat Theia’s Stone yang melayang dan menjadi penerang.



Suara langkah kaki terdengar seirama dengan aliran air serta air yang menetes. Pria berjubah terus melangkah maju sembari melirik sekitar dan memastikan bahwa semuanya aman-aman saja. Ia tidak ingin ada suatu kejadian tak diinginkan sekarang.



Langkah kaki pria ini lantas terhenti kala matanya melihat tiga orang pria dengan masing-masing sebilah pedang besar di tangan, menghadang jalannya. Akan tetapi, sedikit pun ia tidak gentar akan hal tersebut melainkan berdiri tegak penuh percaya diri.



“Apa yang kau inginkan?” tanya salah seorang pria dengan pedang besar.



“Aku dengar kalian menjual budak dengan kualitas tinggi di sini,” jawab pria berjubah hitam. “Tenang saja, aku adalah seorang pelanggan.”



Bukannya menyambut dengan ramah, tiga pria dengan pedang besar lantas menghunuskan pedang mereka ke depan.



“Tiga pedang untuk satu,” kata pria berjubah hitam.



Tiga pria dengan pedang besar lantas menurunkan pedang mereka dan berbalik. “Ikuti kami.”


...*** ...


Di dalam sebuah ruangan luas, terlihat Atlas sedang berbaring di atas tempat tidur sembari memerhatikan langit-langit ruangan. Pemuda ini merasakan suatu hal buruk, tetapi tidak dapat menjelaskan apa itu. Selain itu, ia tak dapat tidur dengan pikiran yang terus menghantuinya ini.



Atlas pun memutuskan untuk membuka jendela dan melirik ke arah jalanan. Jalan tampak sunyi tanpa ada seorang pun di sana, kendati cahaya bulan sedang bersinar terang di malam indah ini. Ia kemudian menarik napas panjang sembari menengadah.



“Ketenangan ini membuatku merasa sedikit aneh. Apakah aku tidak terbiasa dengan ketenangan dan kedamaian seperti ini?” Atlas bertanya-tanya, tetapi tidak mendapat jawaban akan pertanyaan itu. Sampai akhirnya sesuatu terjadi di luar sana.



“Keluar kau budak rendahan!” seru seorang pria gendut sembari mendorong seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh keluar dari rumahnya. “Kau seharusnya bersyukur dapat bekerja untukku, tetapi malah kurang ajar dan mencuri makanan di dapur!” Dia lantas membanting pintu sekuat mungkin hingga membuat gadis kecil tadi gemetaran.



“Tidak di duniaku atau dunia ini, semuanya sama saja,” gumam Atlas, melompat dari jendela, langsung turun ke jalanan. Tanpa ragu pemuda ini menghampiri gadis kecil lusuh tadi.



“Ha!” Gadis kecil itu terkejut dan segera menjaga jarak dari Atlas.



Atlas sedikit tersentak, lalu tersenyum ramah sembari mengulurkan tangan ke depan. “Tidak apa … aku tidak akan menyakitimu.”



Si gadis kecil menjadi kian gemetar hingga membuat tangannya melepaskan sepotong roti yang sedikit hangus. Dia tidak dapat berbicara, rasa takut menghantui benak gadis ini sampai tak sanggup bergerak kendati tubuhnya gemetar hebat.



Mendadak Atlas teringat akan sesuatu, lalu berkata, “Aku memiliki makanan hangat, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkannya untukmu.”



Tanpa membuang banyak waktu, Atlas melompat hingga ke jendela kamarnya. Ia pun mengambil sup yang sedari tadi belum ia sentuh beserta segelas air, lalu membawanya pada gadis kecil tadi.



“Makanlah …,” kata Atlas memberikan semangkuk sup pada si gadis.



Meski dengan tangan gemetar, si gadis meminum sup pemberian Atlas tanpa mengatakan apa pun. Melihat ini Atlas tersenyum tipis, merasakan suatu kepuasan tersendiri dalam dirinya.



“Terima … kasih …,” ucap si gadis.



“Jangan dipikirkan.” Atlas tersenyum tipis.


Beberapa saat kemudian, Atlas sontak menoleh ke samping kala seseorang memanggil namanya. Di sana terlihat Kaysen dan Felix tengah berjalan mendekat ke arah Atlas.




“Apa kalian berdua perlu sesuatu?” tanya Atlas, sedikit terkejut dengan tamu yang datang tanpa diundang ini.



Felix menggelengkan kepala. “Tidak ada. Kami hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan di sini. Terlebih kami memiliki tanggung jawab juga untuk mengawasimu.”



“Kau pikir aku anak kecil?”



“Tidak juga.”



Saat Atlas dan Felix sedang mengobrol, tiba-tiba Kaysen melontarkan pertanyaan, “Siapa anak ini, Atlas?”



Atlas pun segera memalingkan perhatian pada Kaysen. “Aku tidak tahu. Aku melihatnya diusir dari rumah itu.”



“Sepertinya budak,” potong Felix. “Itu sering terjadi ketika seorang budak dikeluarkan dari rumah majikannya.”



“Jadi kerajaan ini memang menormalkan perbudakan?” Atlas berniat untuk sedikit menyindir.



“Kurasa semua kerajaan memiliki sistem perbudakan tersendiri,” timpal Kaysen.



Atlas tidak menyalahkan bagaimana Felix dan Kaysen bersikap normal akan adanya perbudakan ini, karena memang hal tersebut sudah dianggap hal biasa di masyarakat. Akan tetapi, Atlas tidak ingin menganggap hal ini biasa, melainkan melihatnya sebagai sebuah masalah yang harus diselesaikan.



Diam sejenak, Atlas mendadak mempunyai pertanyaan lain dalam benaknya, “Aku ingin tahu, mengapa keluargamu tidak mempekerjakan para budak, Felix?”



“Ha?” Felix menaikkan sebelah alis. “Aku tak tahu tujuanmu bertanya untuk apa, tetapi budak itu berbeda dari pelayan. Mereka hanya pekerja kasar!”



“Aku tidak begitu paham tentang ini, sehingga bertanya padamu,” Atlas mengatakan itu dengan jujur.



“Omong-omong,” Kaysen menyela, “apa yang akan kau lakukan pada gadis kecil ini? Menjualnya?”



“Manusia bukan makhluk yang diperjualbelikan.” Segera Atlas duduk di depan gadis lusuh. “Siapa namamu, adik kecil?”



Kaysen dan Felix hanya dapat diam tanpa melakukan apa pun melihat tindakan Atlas. Mereka berdua tak mengerti mengapa Atlas memperlakukan seorang budak sama halnya seperti manusia lainnya. Namun, mereka juga tidak mau mengatakan apa pun tentang hal tersebut, apakah itu benar atau salah.



“Kalian semua berisik!” Seorang pria gendut keluar dari sebuah rumah sembari membanting pintu dan membawa sebilah pisau kecil. “Apa yang kalian lakukan di sini?!”



Atlas berdiri sebelum Kaysen dan Felix sempat mengatakan sesuatu pada pria gendut tersebut. Pemuda ini tersenyum tipis, berkata, “Maaf sudah menganggu waktu anda, kami akan segera pergi.”



“Cih!” Pria gendut lantas melirik budak perempuan yang sebelumnya dia buang. Tanpa keraguan sedikit pun, pria tersebut melemparkan pisaunya pada gadis kecil lusuh tersebut dengan begitu cepat.



Degub jantung Atlas seketika terasa berhenti kala tangannya tidak dapat bergerak untuk meraih pisau yang melayang dengan cepat itu. Tubuhnya mematung kaku, sedangkan si pria gendut masuk ke dalam rumah sembari membanting pintu. Namun, waktu seperti terhenti bagi Atlas.



“Brengsek!” Atlas mengepal erat tangan kanan, bersiap meluncurkan pukulan keras pada pintu.



“Atlas!” Kaysen dan Felix langsung menahan pemuda itu hingga tak dapat bergerak. “Apa yang kau lakukan?!”



“Lepaskan aku!!!” Atlas memberontak.