Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 24: Siang Itu



Terik matahari sangatlah menyengat di tempat tanpa adanya pepohonan. Pasir gersang begitu panas bahkan tampak seperti mengeluarkan asap. Debu berterbangan kala angin berembus, sebagai satu-satunya hal yang bisa mengurangi suhu panas.



Di tengah padang pasir ini, terlihat barisan orang dengan pedang tersarung rapi. Pasukan Kerajaan Udara berdiri tegak sembari mengusungkan dada ke depan. Moral pasukan ini sangatlah kuat sekarang, karena kepercayaan diri yang berdasar, yaitu fakta bahwa Kerajaan Udara dulu sanggup merebut daerah dari Kerajaan Api.



Seorang pemuda berambut pendek tampak naik di sebuah papan kayu yang dibentuk persegi panjang dengan tinggi sekitar 7 centimeter. Pemuda tersebut memerhatikan pasukannya terlebih dahulu, kemudian berkata, “Nomos Kerajaan Udara adalah yang terkuat di dunia.”



“Ya!!!”



“Hidup Kerajaan Udara!”



“Jayalah Kerajaan Udara!”



Sebuah kalimat dari pemuda berambut pendek yang tak lain adalah Felix, sanggup membuat pasukan Kerajaan Udara menggebu-gebu. Ucapannya itu bukan sebuah ucapan kosong, melainkan ucapan dengan dasar yang jelas. Namun, karena itulah semangat langsung membara di tengah padang pasir ini.



Felix pun turun, berjalan masuk ke dalam sebuah tenda besar. Di sini terdapat meja berbentuk kotak, satu kursi di belakang meja, dan dua kursi di depan. Di salah satu kursi di depan meja, terlihat Atlas duduk dengan santai, bertindak seolah taka da apa pun. Akan tetapi, dibalik sikap santainya itu, ia memiliki sebuah kekhawatiran besar.



Mengabaikan Atlas sepenuhnya, Felix duduk pada kursi di belakang meja. Di saat bersamaan, Kaysen dan Anthony masuk. Tujuan mereka jelas, menunggu arahan dari sang komandan.



“Semuanya sudah siap, Komandan,” kata Anthony. “Kita dapat menyerang kapan pun.”



“Lakukan dengan mendobrak pintu masuk,” jawab Felix.



“Baik!” Anthony dan Kaysen menjawab bersamaan.



Sebelum kedua orang itu pergi, mendadak Atlas berkata, “Aku ikut.”



“Hah?” Orang yang pertama kali bereaksi adalah Kaysen. “Atlas … apa kau sedang demam? Bagaimana keadaanmu? Kau tidak sedang berada dalam masa kritis, kan?”



“Diam!” Atlas memalingkan pandangan ke arah lain ketika Kaysen mengitarinya. “Aku hanya ingin memastikan tak ada pengganggu.”



Di belakang mereka, Felix tersenyum tipis. “Baiklah. Sebelum kau berubah pikiran, lakukan saja.”



“Ya ….” Tampak jelas bahwa Atlas tidak dalam suasana hati yang bagus.



Atlas, Kaysen, dan Anthony pun menapakkan kaki ke luar tenda. Tak jauh di depan, terlihat pasukan Kerajaan Udara sudah siap bertarung dengan barisan rapi mereka bagaikan koloni semut.



Tidak membuang banyak waktu, kini Atlas, Kaysen, dan Anthony sudah berada di barisan paling depan. Mereka bertiga terpisah dari barisan, karena bertindak sebagai seorang komando di sini, sementara Felix mengatur strategi di belakang.



“Nomos Kerajaan Udara!” seru Kaysen, nadanya sungguh berbeda dari biasanya. Dia melihat di depan sudah muncul pasukan dari Kerajaan Api yang dipimpin oleh seorang pemuda penunggang harimau. “Se—”



Belum sempat Kaysen mengumandangkan perintah, seseorang mendadak muncul dari atas. Itu adalah seorang pemuda dengan jubah yang terbuat dari bulu domba. Jubah tersebut memiliki corak berwarna bagai darah, tetapi membentuk pola seperti api yang menyala-nyala.



Kaysen tentu hendak menyerang langsung, tetapi Atlas menahan pemuda itu dengan merentangkan tangan kiri ke samping. Atlas tahu orang ini. Dia adalah sosok berjubah yang menyerangnya malam kemarin.




Pasukan Kerajaan Angin tetap diam di belakang, karena tidak ada perintah dari Kaysen dan juga Anthony yang bertanggungjawab di sini. Selain itu, pasukan dari Kerajaan Api yang tadi bergerak cepat, sekarang malah berhenti.



“Kau datang ke sini seorang diri untuk menyerang kami?” kata Atlas.



Sejenak, pemuda berjubah melirik sekitar. “Ah, maaf. Aku kira hanya ada kau di sini.”



“Kau ….” Kaysen mulai tersulut emosi.



“Jangan gegabah, Kaysen.” Atlas memberikan peringatan. “Sepertinya ada yang salah dengan matamu.”



Pemuda berjubah menggelengkan kepala. “Tidak ada. Hanya saja, memang yang kutahu di sini hanya ada dirimu.” Dia diam sejenak. “Omong-omong, aku Draco Evrard. Orang paling kuat di dunia ini.”



Kepercayaan diri dari Draco memang tidak dapat diragukan. Itu adalah sesuatu yang berdasar, karena memang dia merupakan seorang Anak Bintang.



“Sepertinya kau harus melihat dengan matamu agar tahu realita yang ada,” sahut Atlas.



“Realitas adalah apa yang ada dalam kepalaku!” Draco melompat ke depan, langsung meluncurkan satu pukulan ke arah Atlas. “Jubah Aries: Penakluk Api!”



“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!” Atlas meniup sisi kiri timbangan, membuat timbangan mengeluarkan bunyi bel dan menghempaskan Draco ke belakang menggunakan embusan angin kencang. Tak cukup sampai di sana saja, Atlas lantas mengambil pasir dengan tangan kanan, mengalirkan Erabus ke dalam pasir, lalu meletakkannya di sisi kiri timbangan. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”



Bunyi bel kembali terdengar dari timbangan libra, lalu seketika muncul begitu banyak serangan angin berbentuk butiran pasir, menyerang Draco dari segala arah. Akan tetapi, Atlas sadar bahwa ini tidak cukup untuk menumbangkan lawan.



“Kaysen, Anthony. Serahkan Draco padaku!” Atlas langsung melesat ke depan, tidak memedulikan bagaimana pendapat Kaysen mau pun Anthony. “Dia adalah seorang Anak Bintang!”



“Kau adalah yang kedua!” Draco berseru lantang dalam lingkarang serangan bertubi yang terarah padanya. “Aku akan mengalahkanmu, Libra!”



“Kau takkan bisa melakukannya, Aries!” Atlas menghentikan langkah, kembali meletakkan pasir bercampur Erabus di sisi kiri timbangan. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”



“Itu takkan cukup!” Draco berdiri tegak. “Jubah Aries: Penakluk Api!”



Corak merah pada jubah bulu domba yang dikenakan Draco mendadak mengeluarkan cahaya. Dalam sekejap mata, pasir yang diinjak pemuda itu berubah menjadi lava. Arena yang berubah menjadi lava sekitar 10 meter.



Atlas melompat ke belakang, mengukur panjang area yang bisa diubah Draco menjadi lava. Sekarang, Atlas dapat mengatur pola serangan. Akan tetapi, Draco seketika melompat ke depan, kembali menyerang Atlas menggunakan pukulan tangan kanan berlapiskan lava cair.



“Cih!” Atlas melompat ke samping, tetapi area yang berubah menjadi lava ternyata dapat berubah-ubah sesuai di mana Draco berpijak. Ini artinya, Atlas tak bisa menyerang Draco dalam jarak 10 meter.



“Jangan jadi pengecut!” Draco mencoba memberikan provokasi. Malangnya, provokasi seperti itu, terlebih sangat murahan, tidak akan bisa membuat emosi Atlas terpancing. Sungguh sebuah tindakan sia-sia.



Tidak mau terprovokasi oleh Draco, kini Atlas terus menjaga jarak 10 meter sembari terus berpikir. Ia sadar akan kelemahannya, yaitu tidak bisa menukar apa pun yang tak menyentuh timbangan libra miliknya. Selain itu, karena tubuhnya tidak spesial, Atlas tidak bisa menyentuh lava yang dimiliki Draco, sehingga tak dapat menggunakan itu untuk pertukaran setara.



Kendati menghadapi situasi sulit dan serangan gila dari Draco, perlahan Atlas memikirkan jalan keluar. Ia harus terus berpikir untuk kemudian bisa mendapatkan jalan keluar terbaik!