
“Elemen Angin: Sangkar Angin!” Tanpa ragu Kaysen mengurung dirinya beserta Atlas, Black, juga wanita tanpa busana di dalam sangkar. Tentu pria berjubah putih serta bawahan-bawahannya langsung menjaga jarak.
Pria berjubah putih menyilangkan kedua lengan di depan wajah, tersenyum tipis. “Elemen Angin: Embusan Napas Dingin!” Dia segera menyerang menggunakan semburan angin kencang dari mulut.
“Jangan meremehkanku!” Kaysen langsung mengalirkan Fanes ke tangan kanan, lalu meluncurkan pukulan keras ke depan. “Elemen Angin: Pukulan Angin!”
Sebuah kepalan tangan besar keluar dari tangan kanan Kaysen, bergerak cepat ke depan, menahan serangan lawan. Terbukti pertahanan Kaysen solid, bisa seimbang dengan musuhnya.
“Apa rencanamu kali ini, Atlas?” tanya Kaysen pada Atlas yang kini mengembuskan napas panjang. Kaysen memerhatikan Atlas sejenak, tetapi kemudian memalingkan pandangan kembali ke arah pria berjubah putih.
Atlas berdiri di samping altar, sudah sepenuhnya menyelimuti diri menggunakan Erebus. “Kita akan memusnahkan mereka dan menyelamatkan semua korban yang ada!”
Kaysen tersenyum tipis. “Tidak peduli bagaimana pun caranya, kan?”
“Aku tahu bagaimana pikiran maniak bertarung seperti dirimu itu bekerja.” Atlas tidak mau memberi Kaysen batasan, sebab ia sendiri juga tak ingin membatasi diri. Ia kemudian bergumam pelan pada dirinya sendiri, “Kedua tangan ini ada untuk mereka yang lemah dan tidak berdaya.”
“Aku akan maju lebih dulu!” Kaysen menjentikkan jari, membuat sebuah sangkar angin solid melapisi sangkar besi di mana para wanita tanpa busana ditahan. Dia kemudian melesat ke depan, melemparkan beberapa pisau kecil ke arah pria berjubah hitam.
Serangan Kaysen digagalkan oleh seorang pria berjubah hitam. Pria tersebut membuat rantai dari angin, menyerang Kaysen berulang kali menggunakan senjata itu. Namun, Kaysen tidak dapat dikalahkan dengan mudah. Pemuda itu bergerak ke kiri dan ke kanan menghindari serangan.
“Aku akan membunuh kalian semua!” kata Kaysen.
Di sisi lain, Atlas telah dikepung oleh beberapa pria berjubah hitam. Mereka tanpa ragu menyerang Atlas secara bersamaan menggunakan peluru angin yang keluar dari mulut. Akan tetapi, Atlas tidak membiarkan dirinya kalah begitu saja.
Atlas percaya pada sangkar angin Kaysen, sehingga ia melompat tinggi untuk menghindari semua serangan. Telapak tangan pemuda itu kemudian mengeluarkan cahaya berwarna biru, lalu dari sana muncul sebuah timbangan manual menyerupai lambang konstelasi libra.
Berhasil menghindari serangan, kembali Atlas mendarat, lalu memegang altar di mana ia dibaringkan tadi, menggunakan tangan kiri. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Diiringi oleh suara dentingan bel, altar yang disentuh Atlas segera berubah menjadi cahaya dan masuk ke sisi kiri timbangannya. Di saat itu pula, sebuah bola angin sebesar altar tadi melesat cepat, menghantam beberapa orang berjubah hingga terpental jauh ke belakang.
Sebelum pertarungan berlanjut, mendadak terdengar tepuk tangan dari pria berjubah putih sambil berkata, “Luar biasa, luar biasa. Aku tidak menyangka menemukan Sang Libra yang terhormat di sini.” Pria tersebut memberikan tanda pada orang-orang berjubah hitam menggunankan lirikan mata, sehingga mereka semua segera menyingkir dari Atlas.
Atlas tentunya tidak segera lengah oleh pujian tersebut, melainkan mengamati gerakan pria berjubah putih dengan saksama. Ia tentu tak mau diserang tiba-tiba oleh musuh.
“Jangan terlalu tegang,” kata pria berjubah putih, “aku Rinius Cactus, mendirikan Sekte Dewa Boreas ini untuk menanti kedatangan Sang Libra yang agung ke dunia ini.” Perlahan dia merendahkan tubuh, lalu kembali berdiri tegak.
“Lalu mengapa kau melakukan semua hal keji ini?” Atlas menatap tajam ke depan, masih menggenggam erat timbangan manual berwarna biru di tangan kanannya.
“Hal keji?” Rinius menaikkan sebelah alis. “Aku hanya memberikan persembahan berupa jantung laki-laki terbaik serta gadis-gadis perawann pada Dewa Boreas. Ini semua kami lakukan untuk meminta berkah darinya!”
“Orang sinting,” kata Atlas dengan wajah datar.
Mendadak Rinius memasang raut wajah masam. Pria tersebut seperti tidak terima dengan ucapan Atlas. “Sepertinya kau bukan Sang Libra yang asli!” tuduhnya. “Sang Libra adalah mereka yang menerima Timbangan Libra dari Dewa Boreas, dan merupakan pengikut setianya! Kau adalah seorang penipu!”
Dari nada bicara Rinius yang tidak ramah lagi, Atlas segera mengerti ke mana percakapan ini akan berakhir. Ia pun berbisik pelan pada Kaysen, “Aku serahkan evakuasi korban kepadamu, Kaysen.”
Kaysen melirik Atlas sejenak, tetapi setelah melihat raut wajah Sang Libra itu, tanpa banyak alasan Kaysen mengangguk, “Serahkan saja padaku, Atlas.”
Atlas mengambil satu langkah ke depan, aura yang terpancar pada dirinya jelas berbeda dari sebelumnya. Suhu ruangan mendadak terasa dingin meskipun angin tidak berembus. Tatapan tajam Atlas memberikan intimidasi tersendiri pada musuh-musuhnya.
Rinius sedikit pun tidak takut melihat tatapan tajam Atlas. Pria berjubah putih itu segera mengalirkan Fanes ke sekujur tubuh, lalu memberi perintah pada bawahannya, “Serang dia!”
“Baik, Tuan Rinius!” Para sosok berjubah hitam pun segera membentuk lingkaran, menggabungkan kekuatan. “Elemen Angin: Bola Angin Gabungan!” Sebuah bola angin besar pun melesat cepat ke arah Atlas.
Tanpa berekspresi apa pun, Atlas segera mengambil napas panjang, menahan angin ke dalam mulut sembari menyampurnya dengan Erebus. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!” Atlas meniup sisi sebelah kiri timbangan sekuat mungkin.
Bunyi bel terdengar, kemudian embusan angin kencang keluar dari timbangan di tangan kanan Atlas, memporak-porandakan ruangan, menahan serangan lawan. Seketika itu pula ruangan menjadi gelap ketika semua obor padam.
Tidak lengah sedikit pun, secepatnya Atlas bergerak ke belakang ketika merasakan seseorang menyerangnya dari sebelah kanan. Ia lantas melompat saat merasakan beberapa orang menyerangnya lagi dari segala arah. Menggunakan refleks yang sigap, pemuda itu mendarat di pundak salah satu musuh, lalu menendang kepala musuhnya yang lain.
Musuh yang diinjak Atlas pun meluncurkan pukulan keras ke kaki Atlas, tetapi sekali lagi Atlas melompat, menendang kepala musuhnya itu. Perlahan ia mendarat, merendahkan tubuh, lalu menyerang musuh dengan tendangan tangan kanan.
Beberapa musuh kembali tumbang, tetapi beberapa lainnya menyerang bersama menggunakan pedang. Atlas bergerak cepat menghindari semua ayunan pedang, kemudian merendahkan tubuh, menyerang ulu hati salah satu musuh, lalu mengambil pedangnya.
Atlas menendang musuhnya, bergerak cepat ke belakang sembari menggenggam pedang menggunakan tangan kiri. Tanpa ekspresi apa pun, ia melapisi pedang tersebut menggunakan Erebus. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Dua orang musuh yang mengenakan jubah hitam seketika berhenti bergerak kala serangan tak terlihat menebas leher mereka. Kedua orang itu jatuh dengan darah berceceran, menyisakan satu sosok berjubah yang masih menggenggam erat pedang menggunakan tangan kanan.
Sosok itu lantas melepas jubah hitamnya, menunjukkan tubuh seorang gadis berambut panjang tanpa busana. Gadis itu berteriak sambil bergerak cepat ke arah Atlas, “Mati kau, penipu!”