Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 30: Prajurit Berbulu



Suasana tampak lebih tenang, di mana angin tetap berembus pelan menerpa kain penutup jendela. Ruangan terlihat kosong, hanya ada seorang pemuda berbadan kekar yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Pemuda itu tak lain adalah Draco.



Selang beberapa saat, perlahan Draco membuka mata, menemukan dirinya sedang berbaring di sebuah ruangan. Sejenak ia mengamati sekitar, kemudian bangun. Ia lantas mengatur tarikan napas sembari bertanya-tanya dalam kepala.



“Di mana … ini?” gumam Draco, masih bingung sembari memerhatikan kedua telapak tangan. “Apakah aku kembali ke tempat ini?”



Seketika Draco memalingkan pandangan ke arah pintu kala mendengar seseorang mengetuk. Tanpa menunggu jawaban dari Draco, seorang pemuda masuk ke dalam ruangan dan berdiri di sisi kiri ranjang Draco. Pemuda ini adalah Menes Djer Ra-Mida.



“Akhirnya kau sadar juga, Draco,” kata Menes. “Ini sudah tidak hari semenjak kau dikalahkan. Apa kau tahu?”



Detak jantung Draco terhenti sejenak kala mendengar dirinya berhasil dikalahkan, tetapi kemudian berkata, “Aku … dikalahkan?”



“Itulah faktanya. Aku tak berniat untuk menutupinya darimu.”



Draco menundukkan kepala. “Ah, aku mengerti.” Meski terlihat tenang, kedua tangan pemuda ini mengepal erat. Ia tak ingin menerimanya, tetapi ini adalah sebuah fakta tak terbantahkan. “Jadi, kenapa kau menyelamatkanku?”



Menes kemudian berbalik sembari berjalan menuju pintu keluar. “Aku hanya ingin melihat wajah depresimu. Dan sekarang tujuanku itu tercapai. Hahaha.”



Kendati sekarang Menes tidak ada di dalam kamar ini, Draco masih tetap mengepalkan kedua tangan. “Sialan!” Ia memukul ranjang dengan tangan kanan. “Atlas … kau takkan menjadi orang paling kuat di dunia ini. Aku yang akan menjadi yang terkuat!”



Draco dipenuhi oleh amarah serta ambisi, hal ini membuatnya kembali mengingat kehidupan masa lalu. Itu adalah sebuah masa yang sulit dan tak bisa dilupakan oleh pemuda ini. Bahkan setelah terlahir kembali.


...*** ...


Satu tahun lalu, di atas pegunungan rindang, terlihat seorang pemuda berbadan kekar berdiri tegak sembari menatap ke depan. Pemuda ini mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit harimau, membuatnya terlihat lebih mengerikan. Raut wajahnya datar, tetapi pandangan matanya tajam seperti seekor harimau yang mengincar mangsa.



“Draco!” kata seorang pemuda dari belakang pemuda tadi. “Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini.”



“Ada apa mencariku, Leon?” kata Draco sembari melirik ke samping, pada pemuda kurus yang mengenakan dari kulit serigala.



Pemuda kurus—Leon—mengembuskan napas panjang. “Sebentar lagi pertempuran dimulai, para tetua itu mencarimu.”



“Oh.” Draco kembali melirik ke depan. “Kalau begitu, katakan pada mereka kalau aku akan mengurus para penjajah itu seorang diri.”



“Ayolah, Draco. Kau bahkan tidak menggunakan senjata. Dan lebih parah lagi, kau tidak akan menang melawan mereka hanya dengan bermodalkan tekad. Aku yakin kau paham akan hal itu.”



Meski Leon berkata demikian, Draco tetap tidak peduli dan tetap berpegang pada kata-katanya. “Kau pikir siapa orang paling kuat di Suku Arteca? Apakah dirimu? Apakah para tetua itu? Tidak! Itu adalah aku.”



“Aku sudah menebak kau mengatakan itu.” Leon kemudian menyodorkan sebuah senjata berbentuk pemukul bola kasti, tetapi di sisi-sisinya terdapat besi tajam yang disatukan mirip seperti gigi gergaji. “Setidaknya bawa Macuahuitl ini bersamamu.”



Kendati Draco tak ingin menerima senjata ini, tetapi agar dapat membuat Leon segera pergi dari sini, Draco pun menerima senjata tersebut. “Baiklah, tapi sampaikan pada mereka kalau aku akan menangani semua ini seorang diri.”



“Aku tidak menjamin mereka takkan turut campur.” Segera Leon berbalik, berjalan pergi sembari melambaikan tangan kanan. “Terutama Tiger. Kau seharusnya tahu itu.”




“Aku hanya akan menyampaikan pesanmu.”



Draco mengembuskan napas panjang sembari memerhatikan Macuahuitl di tangan kanannya. “Aku bukan tipe petarung dengan sejata. Ini sangat tidak cocok dengan gaya bertarungku … kurasa.”



Beberapa saat kemudian, angin yang tadinya berembus pelan, kini menjadi kencang, membuat rambut panjang Draco terurai. Seketika itu pula pemuda ini mendengar suara-suara tembakan aneh yang tidak pernah terdengar olehnya sebelumnya. Ia kemudian melirik ke bawah, melihat prajurit berpencar di balik pepohonan sembari membawa senjata yang belum pernah dilihat Draco sebelumnya.



“Aku akan menghancurkan kalian semua!” Draco melesat ke depan, bergerak cepat di antara pepohonan.



“Fire!” seru komandan musuh, membuat para prajuritnya menarik pelatuk senapan.



Diiringi oleh suara ledakan yang tidak biasa, Draco berlindung di balik sebuah batu besar. Tangan kiri pemuda ini berhasil tertembak, tetapi ia tidak menjerit kesakitan atau apa pun. Namun, senjata musuh kali ini jauh berbeda dari yang biasanya Draco hadapi.



“Senjata apa itu?” gumam Draco sembari menggenggam erat Macuahuitl di tangan kanannya.



“Serang!”



Kali ini Draco memalingkan pandangan ke atas pegunungan, di mana terlihat prajurit Suku Arteca menyerang secara bersamaan. Dari antara mereka, terlihat berbagai senjata berbeda yang digunakan, bahkan ada juga kaum pemanah yang dianggap terhormat.



“Fire!” Komandan musuh kembali mengeluarkan perintah.



Suara-suara tembakan dari senapan pun terdengar lantang di telinga. Dari sana, begitu banyak prajurit Suku Arteca tewas karena senjata jenis baru yang mereka tidak ketahui.



“Ha!!!” Draco tidak mau tinggal diam, bergerak cepat ke depan memenggal salah satu kepala musuh. Akan tetapi, sekali lagi ia mendapat luka akibat serangan musuh. Meski demikian, ia tetap bertahan dan bergerak maju.



“Draco!” Seorang pemuda dengan pakaian dari kulit harimau berseru. “Aku akan mengalahkan lebih banyak musuh darimu hari ini!”



“Tiger …,” gumam Draco. “Aku tidak akan kalah darimu!”



Akan tetapi, kenyataan tidak selalu indah seperti hayalan setiap orang. Semua kebanggaan dan harga diri itu, direnggut hanya dalam satu hari oleh musuh. Semuanya telah hancur, mayat bertaburan di mana-mana, dan Draco adalah satu-satunya orang yang masih berdiri sebagai prajurit dari suku yang ia banggakan.



Pemuda dengan pakaian yang terbuat dari kulit harimau itu, berdiri atas mayat-mayat semua teman seperjuangannya. Tubuhnya penuh luka, tarikan napasnya terengah dan dirinya tak bisa bergerak lagi.



“Fire!”



Itu adalah perintah terakhir dari komandan musuh pada hari ini. Draco mendengar suara tembakan menggema, lalu peluru menembus jantung pemuda itu. Kendati demikian, ia tetap menolak untuk mati, dan sampai detik terakhir napasnya berembus, ia tewas dalam keadaan berdiri.



Sorak gembira langsung pecah di antara musuh. Mereka tampak riang di atas kematian orang-orang yang mereka lawan. Namun, tetap ada di antara mereka yang merasa bersalah karena tindakan ini, bahkan mempertanyakan apakah memang sepantasnya ini terjadi? Walau begitu, ini adalah apa yang disebut sebagai sebuah realita perang. Pihak pemenang akan menari-nari di atas pihak yang kalah. Menginjak-injak dan merampas harta kekayaan mereka.