
Satu …, tidak. Dua langkah …. Menes dua langkah lebih cepat dariku. Kaysen melompat tinggi sembari mengayunkan pedang secara vertikal ke depan, tetapi Menes melompat ke belakang, menghindari serangan. Sayangnya, di belakang pemuda itu ada Felix yang kini mengayunkan pedang secara horizontal, tepat terarah pada Menes.
Menes mengembuskan napas panjang. “Elemen Api: Pedang Api!”
Pedang Menes dan pedang Felix saling berbenturan satu sama lain, menciptakan suara keras dan gelombang angin kencang. Sementara itu, Kaysen menyelinap di belakang Menes, mencari celah dan menyerang lagi menggunakan ayunan pedangnya.
Kendati sudah sangat didesak dari berbagai sisi, Menes tetap tenang, menggunakan jubah api untuk menahan serangan mendadak dari Kaysen. Sekali lagi ketiganya terpencar ke berbagai arah. Namun, Kaysen segera melesat ke depan, tidak mau membuang banyak waktu.
Kaysen tanpa ragu mengayunkan pedangnya dengan cepat tepat ke arah Menes. Serangan itu memang mengejutkan, tetapi Menes masih dapat mengantisipasi. Pedang mereka pun saling beradu satu sama lain, memperlihatkan betapa sengit pertarungan di antara kedua pemuda itu.
“Aku juga takkan kalah!” Felix ikut melesat ke depan, menyinkronkan gerakan dengan Kaysen, membuat Menes terdesak dari dua sisi. “Ha!!!”
“Ini akan menjadi akhir riwayatmu, Menes!” Kaysen mengambil satu langkah ke belakang, mengayunkan pedang secara vertikal sekuat tenaga.
“Tidak akan semudah itu!” Menes tidak menyerah, menangkis ayunan pedang Kaysen hingga terlepas dari tangan Kaysen.
Kaysen terpaksa mundur, tetapi Felix masih terus melancarkan serangan seorang diri. “Elemen Angin: Gelombang Angin Penebas!” Felix mengayunkan pedang secara vertikal ke depan.
“Elemen Api: Lautan Api Pemusnah!”
Kedua serangan saling berbenturan, menciptakan gelombang angin yang begitu dahsyat. Felix terhempas ke belakang, beruntung Kaysen dengan sigap menangkap pemuda tersebut. Namun, napas Felix begitu terengah, dan tangannya kini gemetar sembari menggenggam pedangnya yang patah. Felix sudah kehabisan tenaga, tak bisa lagi melanjutkan pertarungan.
Asap tebal tampak menyelimuti tempat di mana serangan Felix dan Menes saling berbenturan. Debu berterbangan di sana sini, membuat penglihatan menjadi tidak begitu jelas.
Kaysen melirik ke depan, waspada akan serangan mendadak yang mungkin akan datang. Akan tetapi, setelah sekian lama menunggu, tidak ada tanda-tanda kemunculan serangan dadakan. Tak hanya itu, Menes juga telah menghilang dari medan pertarungan.
“Sial …,” kata Felix, mencoba untuk berdiri tegak. “Dia berhasil melarikan diri ….”
Saat Felix bisa berdiri tegak kembali, Kaysen lantas jatuh berlutut di tanah. Napas pemuda itu sudah tak beraturan, dan kakinya sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang kehilangan banyak kekuatan.
“Maaf …, Felix,” kata Kaysen, menundukkan kepala. “Aku tak bisa bertarung lagi.”
“Itu bukan salahmu,” jawab Felix. “Aku yang terlambat untuk datang.”
Menyedihkan …, pikir Kaysen, aku bahkan tidak bisa mengalahkan orang itu dengan kekuatanku sekarang.
...*** ...
Lautan api di atas padang pasir tandus mungkin sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, hal tersebut terjadi sekarang, di mana Draco berdiri di tengah kobaran api tersebut sembari mengembuskan napas panjang. Dari raut wajahnya, tampak bahwa pemuda itu sedang kecewa.
“Ada apa dengan wajahmu?”
Seketika Draco waspada kala mendengar suara familiar itu. Dia langsung tersenyum lebar, berkata, “Kukira kau sudah menyerah ….”
“Hah?” Terdengar suara dari api yang tengah berkobar. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
“Memang seharusnya seperti ini, Libra!” Draco menyelimuti sekujur tubuh dengan jirah terbuat dari api. Dia kemudian mengepal erat kedua tangan, kala matanya menatap tajam ke depan. “Jubah Aries: Penakluk Api!”
“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Atlas dan Draco melesat ke depan. Sekarang, Atlas tidak lagi takut untuk menyentuh lava panas yang tadi menjadi senjata andalan Draco. Pemuda itu tanpa ragu mengayunkan pedang ke depan secara horizontal dan vertikal dengan cepat.
“Ha!!!” Draco menangkis semua serangan Atlas menggunakan kedua tangan yang dilapisi kobaran api.
“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!” Atlas menyerang Draco dengan kobaran api yang keluar dari timbangan manual miliknya.
Lantai dansa sudah berubah, tidak lagi diselimuti karpet merah, melainkan kobaran api. Namun, dua pemuda tanpa menari di tengah kobaran api tersebut. Mereka bergerak cepat tanpa memedulikan lantunan musik sumbang yang dihasilkan oleh gerakan masing-masing.
“Jubah Aries: Penakluk Api!” Draco melompat tinggi memanfaatkan api di telapak kakinya, menghindari tebasan pedang Atlas.
Atlas menyongkel pasir menggunakan kaki kiri, hingga pasir tersebut menyentuh sisi kiri timbangan manual miliknya. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Pasir berkecepatan tinggi seketika terangkat, menyerang Draco. Pasir itu berputar cepat, mengurung Draco dalam sebuah bola angin besar.
Sementara itu, api yang tadi berkobar, kini padam. Atlas memanfaatkan waktu sebaik mungkin, mengambil banyak pasir menggunakan tangan kiri, lalu mengalirkan erabus dalam pasir tersebut. Tanpa keraguan ia meletakkan pasir tersebut ke sisi kiri timbangan manual.
“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!” Sekali lagi Atlas menyerang Draco menggunakan pasir berkecepatan tinggi. Ia yang tadinya terus menghindar, sekarang sanggup membuat Draco terdesak menggunakan kekuatan serta kecerdasan yang dimilikinya. “Anak Bintang, akulah yang akan menghentikan kalian terlibat terlalu banyak di dunia ini!”
“Kau pikir kau cukup kuat, Atlas Hiromasa?”
Seketika Atlas tersentak mendengar suara itu. Ia menengadah, memastikan apakah ia tidak salah mendengar.
“Jubah Rusak: Akulah Api!” Tubuh Draco seketika berubah menyerupai api. Dengan tubuh seperti itu, dia berhasil keluar dari bola angin yang diciptakan oleh Atlas. Jika harus diperhatikan lagi, pemuda itu sekarang adalah api itu sendiri, tidak bisa dilukai oleh pasir, dan angin hanya akan membuatnya berkobar lebih kuat.
Draco berdiri beberapa langkah di depan Atlas. Kini Atlas meningkatkan kewaspadaan, tidak membiarkan apa pun terlewat dari semua inderanya.
“Ini adalah tahap kedua,” kata Draco menjulurkan tangan kanan ke depan. “Dengan ini aku akan mengalahkanmu, Atlas!”
Atlas segera bereaksi dengan mengayunkan pedang secara vertikal kala Draco mendadak melesat ke arahnya. Akan tetapi, tebasan pedang Atlas menembus tubuh Draco, seakan dirinya sedang menebas api.
“Argh!” Atlas terhuyung jauh ke belakang kala Draco menendang perut pemuda itu sekuat tenaga. Ia berguling-guling di tanah, tetapi Draco tidak menghentikan serangan begitu saja.
“Masih belum!” Draco melesat ke depan, menendang tubuh Atlas hingga beberapa kali membuat lubang di pasir. “Kali ini kau akan mati!”
Draco melompat, menerjang perut Atlas dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, dalam keadaan terdesak, Atlas berhasil menahan serangan tersebut dengan menyilangkan pedangnya.
“Ugh!!!”