
Terik matahari begitu menyengat di tengah Gurun Thanatos. Atlas dan Draco bertarung satu lawan satu di tempat yang jauh dari pasukan antara Kerajaan Udara dan Kerajaan Api. Mereka fokus pada pertarungan, sehingga tidak memedulikan apa yang terjadi pada pasukan perang.
Melihat sebuah kesempatan, Kaysen tanpa ragu mengumandangkan perintah, “Serang!”
“Hidup Kerajaan Udara!” Para Nomos segera bergerak ke depan, membentuk formasi seperti diamond pada kartu.
Di sisi lain, pemuda penunggang harimau terlihat tenang melihat musuhnya mulai menyerang. Pemuda itu menarik napas panjang, berkata, “Tunjukkan kepada mereka kekuatan Seth! Maju!”
“Hidup Kerajaan Api!” Pasukan Kerajaan Api yang disebut Seth pun segera menyerang ke depan. Berbeda dari formasi Nomos, pasukan Kerajaan Api membentuk barisan seperti segitiga terbalik.
Pasukan dari dua kerajaan pun berbenturan. Mereka mengayunkan pedang sekuat tenaga, mengambil kepala musuh dengan tangan dingin. Darah pun mengucur dari setiap luka, kemudian membasuh pasir yang menjadi pijakan.
Lantai dansa pun yang kosong kini mulai ditutupi oleh karpet merah beserta hiasan lain. Mayat-mayat berjatuhan, terluka, terinjak, tanpa ada yang mau memedulikan semua itu. Akan tetapi, di antara semua orang, terlihat seorang Nomos yang menonjol. Ia adalah Anthony Blade.
Anthony melesat ke depan, menyelinap di antara orang-orang yang menari dengan pedang di tangan mereka. Pria tersebut bergerak dengan gesit, menghindari beberapa tebasan pedang, lalu menyerang balik di saat yang tepat. Ia menunjukkan betapa dirinya sudah sangat berpengalaman.
“Kau brengsek!” Salah seorang Seth melompat ke depan, mengayunkan pedang secara vertikal, terarah tepat pada Anthony.
“Lemah …,” gumam Anthony, bergerak ke sebelah kanan, lalu mengayunkan pedang dengan tenang. Pedang itu seketika berlumuran darah kala Seth yang menyerangnya, terbaring dengan tubuh yang terpotong menjadi dua bagian. “Kamilah yang akan menang ….”
“Ha!!!” Beberapa Seth lainnya menyerang Anthony dari berbagai arah. “Elemen Api: Pedang Api!” Mereka semua melapisi senjata menggunakan kobaran api, kemudian mempercepat langkah kaki.
Anthony melirik ke sekitar, lalu menarik napas panjang. “Elemen Angin: Peluru Angin!” Ia segera meluncurkan serangan berbentuk peluru dari mulutnya. Peluru-peluru angin itu melesat cepat, hingga tak disadari oleh para musuh di depannya.
Tidak mau membuang banyak waktu, sekali lagi Anthony melesat ke depan, menghancurkan semangat bertarung lawan dengan menunjukkan perbedaan kekuatan besar di antara mereka. Akan tetapi, hal tersebut tak berlangsung lama, sebab mendadak muncul seorang prajurit yang berhasil menahan tebasan pedang Anthony.
Anthony mengambil beberapa langkah ke belakang, tetapi pria bertubuh kekar dengan pedangnya yang berlapiskan kobaran api, tidak memberikan Anthony waktu untuk berpikir. Pria itu menyerang Anthony dengan tebasan pedang yang bertubi-tubi. Meski demikian, Anthony tetap dapat menahan semua serangan tersebut menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
“Elemen Api: Bola Api!” Pria berpedang menembakkan sebuah bola api dari mulutnya, tepat ke arah Anthony.
Segera Anthony melesat ke samping, bergerak memutar, lalu memberikan serangan balasan. “Elemen Angin: Peluru Angin!”
Begitu banyak peluru angin melesat cepat dari mulut Anthony. Sayangnya, lawan kali ini tidak lemah seperti sebelumnya. Semua serangan peluru angin Anthony dapat dihindari atau pun ditangkis oleh lawan.
“Sepertinya aku terlalu meremehkanmu.” Anthony melompat tinggi sembari menarik napas panjang. “Elemen Angin: Bola Angin!”
Sebuah bola angin berukuran sebuah rumah, melesat dari mulut Anthony. Pria berpedang yang menjadi lawan pun tidak mau kalah, segera mengalirkan Fanes ke sekujur tubuh, lalu melompat ke arah bola angin. Penuh percaya diri, pria itu membelah serangan Anthony menggunakan pedangnya.
“Ugh ….” Si pria memuntahkan darah, hingga akhirnya pandangannya menjadi gelap, tidak bisa melihat apa pun lagi.
“Kau masih terlalu naif.” Tanpa banyak berkata lagi, Anthony segera menarik kembali pedangnya. Tubuh lawannya yang sudah tak bernyawa pun, kini terkapar di atas padang gurun kala perang masih berlangsung.
Dalam pertempuran kali ini, tanpa adanya bantuan dari Draco, pasukan Kerajaan Api berhasil ditekan oleh pasukan Kerajaan Udara. Dari sini terlihat jelas perbedaan besar antara Nomos Kerajaan Udara dengan Seth Kerajaan Api. Tidak hanya dalam strategi, tetapi juga kemampuan bertarung.
“Demi Kerajaan Udara!” Seorang Nomos melesat ke depan, mengayunkan pedangnya yang berlapiskan udara yang bergerak cepat dan seperti memadat. “Matilah kalian, Seth!”
Nomos itu tanpa ragu membenturkan pedangnya dengan pedang seorang Seth yang berlapiskan kobaran api. Terbukti bahwa Nomos itu lebih kuat, karena bisa mematahkan pedang lawannya. Akan tetapi, para Seth lain segera menyerangnya dari berbagai arah, membuat banyak pedangnya menusuk sekujur tubuhnya.
“Ugh!” Kendati nyawanya sudah di ujung tanduk, dan mulutnya mengeluarkan darah. Nomos itu tersenyum, berkata, “Jayalah Kerajaan Udara.”
“Sial …,” kata salah satu Seth.
Belum begitu lama setelah berhasil mengalahkan musuh, mendadak salah satu dari mereka kehilangan kepala. Terpotong … darahnya mengucur keluar, kemudian tubuhnya jatuh terbaring. Di belakang seorang Seth yang jatuh itu, terlihat Anthony tengah mengayunkan pedangnya ke samping, membersihkan darah pada senjata itu.
“Serang!!!” Salah seorang Seth segera mengambil inisiatif, memberikan arahan serta bergerak cepat ke depan diikuti oleh para Seth lainnya.
...*** ...
Di barisan paling belakang pasukan Kerajaan Udara, terlihat sebuah tenda besar. Dalam tenda besar itu tentu saja ada Felix yang kini duduk sembari memerhatikan gambar pada kertas di atas meja. Sejauh ini, seharusnya semuanya baik-baik saja. Namun, ia sadar bahwa masih belum waktunya untuk santai.
Tak lama berselang, seorang pemuda masuk ke dalam tenda, memberi hormat, berkata, “Lapor, Komandan. Tuan Kaysen mengatakan bahwa penyerang berjalan lebih baik dari rencana.”
“Ya.” Felix tidak beranjak dari kursi. “Katakan padanya untuk tidak terburu-buru. Aku merasakan firasat buruk tentang ini ….”
“Baik, Komandan!”
Pria tadi pun segera pergi, melaporkan perintah Felix kepada Kaysen yang sedang bertarung di garis depan. Sedangkan Felix kembali mendapatkan seorang tamu yang tak lain adalah seorang pemuda dengan ikat kepala.
“Tuan Muda …,” kata pemuda itu sembari memberi hormat.
“Tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja,” kata Felix pada pemuda dengan ikat kepala. Pemuda itu tak lain adalah pengawal pribadi Felix, bertanggungjawab atas keselamatan Felix di mana pun itu.
“Baik …, Tuan Muda.” Pemuda berikat kepala pun segera pergi meninggalkan tenda setelah memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Ketika sudah tak ada siapa pun lagi di dalam tenda, Felix segera melemaskan tubuhnya, bersandar pada kursi. Semuanya memang berjalan baik, bahkan sangat baik, tetapi pemuda ini tetap merasakan firasat buruk yang ia tak tahu apa itu.