
Pusat dari Kerajaan Api—Wilayah Penghakiman Mida, sebuah wilayah yang dikuasai oleh pangeran pertama, terdapat sebuah istana megah. Istana ini didirikan oleh Raja Neo Khufu Ra-Mida sesaat setelah menjadi raja. Ia membongkar bangunan lama dan membuat sebuah bangunan baru yang jauh lebih besar.
Di atas sebuah singgasana, terlihat seorang pria dengan mahkota berbentuk seperti ular melingkar yang terbuat dari emas, duduk tanpa menampilkan ekspresi apa pun. Pria tersebut dengan tenang melihat ke depan, di mana tampak beberapa orang sedang bersujud menyembahnya.
“Bawakan aku seorang pemuda dengan tubuh sehat tanpa cacat,” kata pria di atas singgasana yang tak lain adalah Raja Neo Khufu Ra-Mida.
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” jawab lima orang di depan sang raja. Kelima orang itu kemudian berdiri dan segera keluar dari ruang tahta.
Neo Khufu kemudian turun dari singgasana, berjalan ke arah jendela. Angin pun berembus dari jendela yang terbuka ketika pria tersebut melirik ke bawah, di mana terdapat sebuah lapangan luas yang terdapat pagar tinggi di ujungnya.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dan suara seorang pemuda, “Dewaku, hamba adalah Menes Djer Ra-Mida, memohon ampun.”
Neo Khufu masih memasang wajah datar, menjawab, “Masuklah putraku.”
“Terima kasih, Dewaku.” Menes segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruang tahta. Tanpa diminta atau apa pun, pangeran pertama dari Kerajaan Api ini bersujud menyembah Sang Raja yang tengah memandang keluar jendela. “Hamba mengharapkan kemurahan hati Dewa Agung untuk memberikan pencerahan.”
Seperti mengabaikan Menes begitu saja, Neo Khufu berjalan kembali ke singgasana dan duduk. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menunda selama beberapa waktu, membiarkan ruangan menjadi sunyi.
Di sisi lain, Menes masih bersujud sebelum Neo Khufu menyuruhnya bergerak. Pemuda itu dengan taat mempercayakan dirinya pada Sang Raja.
“Menes Djer Ra-Mida,” kata Neo Khufu.
“Hamba tak pantas mendapat sanjunganmu, Dewaku,” jawab Menes. “Tunjukkan saja jalan kepada hamba, maka hamba akan mempersembahkan segalanya.”
“Siapkan kurban besar untuk malam ini.”
“Sesuai perintahmu, Dewaku.” Menes pun segera bangkit dan berjalan meninggalkan ruang tahta.
Sekali lagi, Neo Khufu menjadi satu-satunya orang di dalam ruang thata. Sejenak ia menutup mata, kembali mengingat mimpi yang didapatkannya malam tadi. Bagi Neo Khufu, mimpi tersebut melupakan sebuah penglihatan masa depan, di mana tepat pada malam ini, akan muncul Sang Aries di kubah Gunung Tefnut.
Hanya berselang beberapa saat, pintu kembali diketuk. Si pengetuk pintu tak lain adalah salah satu dari lima orang yang mendapat perintah untuk menyiapkan kurban. Kemudian, setelah mendapat kabar bahwa permintaannya sudah terpenuhi, Neo Khufu turun dari singgasana, berjalan keluar dari ruang tahta.
“Bawa kurban itu ke Gunung Tefnut,” ucap Neo Khufu. “Malam ini, kalian akan melihat kebesaranku!”
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” jawab si pembawa kabar, berjalan di belakang Neo Khufu.
Tanpa perlu waktu lama, Neo Khufu sudah berada di sebuah kereta pasir mewah yang ditarik oleh dua ekor harimau menuju ke Gunung Tefnut di Wilayah Penghakiman Tefnut. Kereta pasir ini pada dasarnya sama seperti kereta kuda, perbedaannya hanya terletak pada penariknya yang bukan kuda melainkan harimau.
Kereta pasir berjalan di jalanan padat dengan dikawal oleh beberapa prajurit yang menunggangi harimau. Orang-orang yang melihat kereta pasir tersebut pun segera bersujud hingga akhirnya kendaraan tersebut sudah melintas sepenuhnya.
Awalnya Neo Khufu tidak melakukan apa pun di dalam kereta pasir. Ia hanya diam membiarkan kereta pasir berjalan semestinya, sampai akhirnya kendaraannya itu berhenti bergerak.
“Beraninya kau begitu kurang ajar kepada Dewa Agung!” Seorang pengawal lantas melesat ke depan, tepat ke arah si gadis yang berteriak mengutuk Neo Khufu.
“Kalian semua sialan!” Sang gadis tidak takut sedikit pun. “Kembalikan kakakku!”
Si pengawal tanpa ragu mengayunkan pedangnya pada si gadis. Akan tetapi, mendadak seorang pria memeluk erat gadis yang melempari kereta pasir Neo Khufu dengan batu. Bukan hanya pria itu, melainkan juga ada seorang wanita bersamanya.
“Mohon ampun, Dewaku!” kata si pria dan wanita bersamaan. Mereka berdua jelas takut, tetapi demi melindungi putri tercinta mereka, apa pun akan dilakukan meski sangat berisiko.
Pengawal tadi terlihat tidak peduli, masih mengangkat pedangnya, berkata, “Kalian sangat tidak beradab!”
“Hentikan!” ucap Neo Khufu, keluar dari kereta pasir, membuat si pengawal langsung menghentikan niatnya.
“Sesuai perintahmu, Dewaku.” Pengawal itu menyarungkan kembali pedangnya, tidak sedikit pun berani mempertanyakan perintah Neo Khufu.
Sementara itu, banyak orang-orang yang sekarang sedang bersujud, menahan keinginan untuk melihat apa yang terjadi. Kepala mereka semua tertunduk menyentuh tanah, tidak memiliki nyali sekali pun untuk melihat situasi.
Neo Khufu kemudian berjalan mendekat. Ia tak mengatakan apa pun hingga berdiri beberapa langkah di depan keluarga kecil tadi.
“Mohon kemurahan hati dan ampunanmu, Dewaku …,” kata si pria yang memeluk erat putrinya yang kini tak dapat mengatakan apa pun lagi.
Sejenak Neo Khufu melirik ke sekitar sambil bergumam, “Itu semua keputusanku.” Usai mengamati selama beberapa saat, ia lantas berseru, “Tegakkan tubuh kalian dan lihat ke sini!”
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” jawab mereka semua.
Meski dengan tubuh gemetar dan hati yang gundak, semua orang yang tadinya bersujud langsung berdiri. Mereka menuruti perintah dengan melirik ke arah Neo Khufu dan keluarga kecil tadi.
“Tidak ada yang perlu kalian takuti jika tunduk padaku.” Neo Khufu memasang wajah datar sesuai dengan suara yang keluar dari mulutnya. “Tapi ada beberapa dari kalian yang menentangku.”
“Mohon ampunanmu, Dewaku,” semua orang menjawab dengan serentak, termasuk keluarga kecil di hadapan Neo Khufu.
“Jadikan ini pelajaran.” Neo Khufu menjentikkan jari, lalu api besar segera membakar keluarga besar tadi tanpa sisa sedikit pun.
“Argh!!!”
“Sesuai perintahmu, Dewaku,” semua orang sekali lagi menjawab meski sekujur tubuh mereka gemetar setelah melihat apa telah dilakukan Neo Khufu.
Saat ini Neo Khufu sungguh tak menunjukkan sedikit pun belas kasihan bagi mereka yang menentang dirinya. Ia tidak peduli siapa pun orang itu, jika mereka menentangnya, maka ia akan membinasakan mereka.
Kemudian, seolah tak ada yang terjadi, Neo Khufu kembali masuk ke dalam kereta pasir. Ia tidak mau memedulikan orang-orang di luar sana yang tengah mematung kaku tanpa bisa mengatakan apa pun.
“Jalan,” kata Neo Khufu.
“Sesuai perintahmu, Dewaku.” Pengendara kereta pasir kembali memulai perjalanan.
Setelah kejadian yang tidak terduga tadi, kereta pasir berjalan menyusuri jalanan panjang. Akan tetapi, berbeda dari sebelumnya, orang-orang sudah tak lagi bersujud, melainkan menatap kosong ke depan dengan tubuh yang gemetar. Hal itu karena Neo Khufu berhasil menanamkan ketakutan dalam hati orang-orang ini.