
Sekumpulan Nomos segera menyerang dua lawan mereka, tetapi sepuluh Nomos yang dibawa oleh Felix itu tidak sanggup untuk langsung menumbangkan lawan. Felix pun ikut menyerang, tahu bahwa kedua lawan mereka bukan orang biasa.
Di sisi lain, Atlas melirik sekitar selama beberapa saat, hingga akhirnya muncul sekitar empat puluh orang mengepung mereka. Orang-orang itu menutupi wajah mereka menggunakan kain hitam, tetapi Atlas yakin bahwa beberapa dari sosok berpakaian serba hitam tersebut adalah wanita.
“Sekarang bagaimana?!” tanya salah satu pria bertubuh kekar yang diserang oleh Felix dan para Nomos.
Felix pun menghentikan serangan, melangkah mundur sembari memerhatikan sekitar. Para Nomos juga tak langsung menyerang, melainkan menunggu dengan sabar perintah selanjutnya dari Felix. Sekarang ini bisa dibilang sebagai sebuah situasi genting.
“Kami adalah Eximo!” tegas pria bertubuh kekar tadi sambil mengangkat kedua tangan, memperlihatkan kekuasaannya. “Kalian memiliki pilihan, mati atau bergabung dengan kami Eximo dengan syarat menyerahkan Felix Vonturnus!”
Jelas bahwa kalimat tersebut diperuntukkan bagi semua orang di sini kecuali Felix. Meski mendengar hal itu dengan telinganya sendiri, Felix sedikit pun tak terlihat panik. Dia tampak yakin dengan para bawahannya, sehingga tak sedikit pun waspada pada para Nomos tersebut.
“Itu katanya,” kata Felix pada para Nomos.
“Kami tidak akan menghianatimu!” balas salah satu Nomos.
“Jika memang harus mati, kami akan mati bersamamu, Tuan Muda!” sahut Nomos lain dengan yakin.
Pria bertubuh kekar yang mengaku sebagai anggota Eximo berkata, “Sayang sekali, padahal ini adalah kesempatan bagus, tetapi kalian malah memilih mati bersama bangsawan yang memperbudak kalian!”
Sementara itu, Atlas melirik Kaysen sejenak, berbisik, “Kuserahkan yang di sini padamu.”
Kaysen tanpa banyak bertanya, langsung menjawab, “Kau bisa mempercayakannya padaku!” Dia pun segera berdiri di sebelah Felix. “Aku adalah Kaysen Lex! Kurasa beberapa dari kalian sudah mengetahuinya.”
Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Kaysen menunjuk pria yang sedari tadi terus berbicara dengan penuh percaya diri.
“Kalian tidak akan cukup untuk mengalahkanku!” kata Kaysen, tegas. “Segeralah menyerah.”
“Kau terlalu sombong, Nak!” Pria bertubuh kekar mengayunkan tangan ke depan. “Serang!”
Serentak para sosok dengan wajah tertutup kain melesat ke depan, menyerang Felix, Kaysen, berserta para Nomos lain. Pertarungan dengan pedang serta serangan angin pun terjadi. Di antara Nomos lain, Kaysen dapat menghadapi sepuluh orang anggota Eximo seorang diri, sedangkan Felix dapat menghadapi lima di antara mereka.
Berbeda dengan Kaysen yang berkontribusi dalam pertarungan, Atlas malah mencari celah untuk pergi, lalu menyelinap masuk ke dalam bangunan tua seperti sebuah gereja di depannya. Beberapa saat sebelumnya, sesaat ia bisa melihat siluet seseorang berada di dalam sana, sehingga mengambil inisiatif untuk memeriksa.
Masuk perlahan agar tidak disadari, Atlas melihat di atas altar terdapat seorang gadis dengan rambut panjang sedang terikat. Di atas gadis tersebut, terlihat sebuah Theia’s Stone malayang, menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam ruangan yang berisikan deretan kursi panjang ini.
“Ternyata benar!” Atlas segera melesat ke depan, menyerang seorang pria yang mengenakan topeng hitam.
Pria dengan rambut pendek tersebut segera melarikan diri. Akan tetapi, Atlas bergerak jauh lebih cepat darinya, sehingga sanggup meluncurkan satu terjangan keras, menghantam pria bertopeng hingga terbanting ke dinding.
“Cih!” Atlas melompat ke samping, menghindari serangan kendati harus menabrak deretan kursi panjang. Ia pun dengan sigap mengalirkan Erebus ke tangan kanan yang langsung berubah menjadi timbangan manual.
“Elemen Angin: Tembakan Bola Angin!” Pria bertopeng kembali menyerang Atlas dengan serangan beruntun yang keluar dari mulutnya. Serangan-serangan tersebut jauh lebih cepat dari serangan sebelumnya.
Atlas masih dapat tenang, menyentuh salah satu kursi panjang di dekatnya, lalu mengalirkan Erebus pada kursi panjang tersebut. “Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Bunyi lonceng terdengar bersamaan dengan munculnya sebuah kursi panjang terbentuk dari angin, melayang di depan Atlas, menahan semua serangan yang terarah pada dirinya. Tidak cukup sampai di sana, Atlas kembali melakukan hal sama pada kursi panjang lain di sebelahnya.
“Timbangan Libra: Pertukaran Setara!”
Saat bunyi lonceng menggema, serangan berbentuk kursi panjang terbuat dari angin, langsung terlempar tepat ke arah pria bertopeng. Susah payah pria tersebut melompat ke depan, menghindari serangan. Akan tetapi, ketika serangan sudah berhasil dihindari, Atlas berhasil menahan kedua tangan pria tersebut agar tidak dapat bergerak.
“Lepaskan aku!” Pria bertopeng memberontak dengan menggerakkan tubuh sekuat tenaga dan berteriak.
“Dengan Timbangan Libra ini aku dapat menjadikan nyawamu sebagai bayaran atas nyawa salah seorang anggota Eximo lain di luar sana,” bisik Atlas, membuat pria bertopeng seketika diam. “Baguslah kau tahu risikonya.”
“Sial …,” rintih si pria. “Kami hanya anggota Nomos yang menginginkan kebebasan! Kami tidak ingin dibuang ke medan perang!”
“Tunggu?” Atlas sedikit tersentak. “Kau bilang kalian adalah Nomos?”
“Memangnya apa yang salah dengan itu?! Kami sudah lelah dijadikan bidak catur di medan perang. Kami memiliki keluarga yang harus dijaga, tetapi para bangsawan itu bertindak sesuka hati, mengambil hidup kami hanya untuk pertarungan tak berguna!”
Atlas diam selama beberapa saat, lalu melepaskan tangan pria yang ia tahan. Ia ingat bahwasannya dulu dirinya juga menjadi anggota dari Pasukan Revolusi demi melengserkan seorang kaisar tirani. Jika Eximo dibuat atas dasar hal yang sama dengan Pasukan Revolusi, Atlas merasa tak memiliki hak untuk membubarkannya kendati ia mempunyai kekuatan.
“Baiklah, aku paham pada situasi kalian.” Atlas mengembalikan Timbangan Libra menjadi Erebus yang meresap masuk ke dalam tubuhnya. “Sebagai Sang Libra, aku berjanji tidak akan mempersulit kalian untuk bernegosiasi dengan Felix.”
“Kau sungguh mengatakan dirimu Sang Libra, ya?” Pria bertopeng perlahan berdiri. “Dari legenda yang ada, Sang Libra adalah seorang kandidat raja terbaik yang akan membawa kemakmuran di Kerajaan Udara. Tapi ….”
Pria bertopeng mengambil pisau kecil dari balik pakaian, menyerang Atlas dengan kecepatan tinggi. Atlas refleks menghindar dengan melompat ke belakang, tetapi si pria bertopeng kembali menyerang.
“Elemen Angin: Tembakan Bola Angin!”
Bola-bola angin melesat keluar dari mulut pria bertopeng, melesat cepat ke depan di mana Atlas berada. Namun, Atlas tak terlihat gentar sedikit pun. Ia melapisi sekujur tubuh menggunakan Erebus, menahan serangan bola angin beruntun dengan menyilangkan kedua tangan.
Tidak cukup hanya menahan serangan, Atlas langsung melesat cepat ke depan, memukul perut si pria bertopeng sekuat tenaga. Mulut pria tersebut langsung terbuka lebar, lalu tubuhnya menjadi lemas. Dia kehilangan tenaga, pingsan ketika pukulan tangan kanan Atlas masih menempel di perut pria itu.
“Aku bukan orang yang cukup baik untuk tak menyerang balik.”