Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 13: Penculikan



Akhirnya perjalanan panjang berakhir ketika Atlas tiba di sebuah mansion megah. Namun, sebelum Atlas dan Kaysen masuk ke dalam halaman mansion besar tersebut, Felix langsung menghentikan langkah mereka. Pemuda tersebut membawa sebuah kantong berisikan koin yang disebut Plutos.


“Di dalam sini terdapat cukup Plutos sebagai gaji kalian karena sudah mengawalku,” kata Felix, melemparkan sekantong Plutos pada Atlas. “Katakan pada Zelos Nicon kalau kalian sudah menjalankan tugas dengan baik.”


“Kau memang orang yang sombong,” sahut Atlas, menerima sekantong Plutos yang mungkin cukup untuk ia gunakan selama beberapa bulan ke depan.


Gerbang mansion segera dibuka, lalu Felix kembali masuk ke dalam kereta kuda, masuk ke halaman mansion besar tersebut. Dia tidak mengatakan apa pun lagi pada Atlas dan Kaysen, pergi begitu saja seperti tak ada yang terjadi.


Walau begitu, Atlas dan Kaysen terlihat tidak begitu peduli. Kedua orang itu segera pergi ke tempat lain, tak menghiraukan perlakuan Felix.


“Kita sudah tiba di Musai Pusat Vonturnus, tetapi apa yang dapat kita lakukan di sini?” tanya Kaysen sembari melirik ke arah Atlas.


Masih terus berjalan perlahan, Atlas menjawab, “Satu hal pasti adalah aku ingin pergi ke sebuah penginapan, lalu tidur.” Ia diam sejenak sembari meregangkan otot-ototnya. “Sepertinya tubuhku lebih lelah daripada yang kubayangkan.”


“Aku rasa aku juga akan tidur sepuasnya hari ini,” jawab Kaysen.


“Malam ini kuharap kau bisa tidur nyenyak di depan pintu.”


“Hah?”


“Seperti ucapanku tadi.”


...***...


Malam hari pun tiba, bulan bersinar terang, seperti menghapus kegelapan. Di dalam sebuah ruangan luas, terlihat Atlas tengah duduk di kursi di sebelah jendela. Tepat di depan pemuda tersebut terdapat meja yang di atasnya ada secangkir teh.


“Ah, kurasa malam ini akan menjadi istirahat terbaikku semenjak bereinkarnasi,” gumam pemuda itu, menyeruput teh, lalu melihat bintang-bintang di angkasa. Ia kemudian memalingkan pandangan ke arah rumah-rumah di sekitar. “Tapi, aku tetap saja masih salut dengan penerangan di dunia ini. Daripada menggunakan lentera, di sini mereka menggunakan Theia’s Stone yang bisa melayang.”


Angin berembus pelan, masuk ke ruangan Atlas melalui jendela yang terbuka. Rambut panjang pemuda itu pun sedikit terurai. Akan tetapi, suasana menyejukkan itu langsung berubah kala telinganya mendengar suara langkah kaki di jalanan.


Atlas langsung melihat ke jalan. Ia sedikit terkejut melihat Felix menunggangi kuda sambil membawa beberapa Nomos berjalan di belakangnya. Tentu saja Atlas tak tahu ke mana rombongan itu akan pergi, tetapi ia juga tak ingin tahu dan malah kembali menyeruput teh selagi belum dingin.


Tidak lama kemudian, Kaysen masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu, membuat Atlas refleks memalingkan pandangan ke arah pintu masuk. “Setidaknya kau bisa mengetuk pintu sebelum masuk, kan? Kurasa kau masih memiliki tangan untuk melakukan itu.”


“Baik, baik, maaf.” Kaysen tampak acuh tak acuh. “Omong-omong, sepertinya kemarin baru saja terjadi sebuah penculikan. Dan baru sore tadi Moirai dari Aither Vonturnus ini menerima sebuah surat terkait syarat penebusan korban.”


“Oh?” Atlas menjadi sedikit tertarik. “Lalu siapa yang diculik?”


“Kau pasti akan terkejut.” Kaysen mendekat pada Atlas, lalu melirik ke luar jendela. “Anak kedua atau putri pertama dari Moirai dari Aither Vonturnus—Agatha Vonturnus.”


“Sungguh?!” Kali ini Atlas menjadi sangat tertarik.


Tanpa banyak bicara, Atlas meninggalkan tehnya, berjalan ke pintu keluar. “Kalau begitu aku juga akan ikut. Malam ini istirahat kita ditunda, Kaysen!”


“Aku tahu kau pasti akan tertarik dengan hal ini.” Kaysen berjalan di belakang Atlas.


“Aku hanya tak ingin kejadian ini melahirkan lebih banyak sekte sesat seperti Sekte Dewa Boreas itu!”


Atlas dan Kaysen pun memutuskan untuk ikut dengan rombongan Felix. Tentunya mereka berdua tidak serta merta datang dan bergabung begitu saja, melainkan secara sembunyi-sembunyi membuntuti dari belakang.


Beberapa saat berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan tua yang berada tepat di tengah-tengah ladang gandum yang masih kosong, tetapi sudah siap ditanam. Hal ini tentu membuat Atlas dan Kaysen tidak dapat bersembunyi dengan baik lagi, sehingga salah satu Nomos bisa menemukan mereka.


“Siapa kalian?!” Salah satu Nomos langsung melesat cepat ke depan, hendak menangkap Kaysen.


Tentu saja Kaysen bisa menghindar dengan begitu mudah. Namun, hal itu justru membuat perhatian Felix terarah pada mereka.


“Apa yang kalian lakukan di sini, Atlas, Kaysen?!” kata Felix, sedikit menaikkan nada suaranya. “Aku tak ingat membawa kalian ke sini bersama kami.”


Atlas langsung menjawab, “Aku hanya sedikit penasaran mengapa kalian berada di tempat seperti ini.”


“Pasti ada alasan yang jauh lebih kompleks dari itu, kan!” Felix langsung menghunuskan pedang ke arah Atlas, membuat Nomos di sekitarnya ikut siaga.


“Sejujurnya aku tahu apa yang kalian cari.” Atlas mengakui. “Aku hanya penasaran apakah pelakunya masih merupakan anggota Sekte Dewa Boreas atau bukan.”


Sebelum percakapan mereka berlanjut, mendadak muncul seorang sosok berjubah hitam di atas bangunan tua yang lebih mirip seperti tempat ibadah itu. Semua Nomos—termasuk Felix, Atlas, dan Kaysen, mengalihkan perhatian pada sosok berjubah yang menutupi wajahnya dengan kain hitam di atas sana.


“Apa kau membawa 1 Miliar Poltus seperti dalam surat itu?” tanya sosok berjubah hitam dengan tenang. Dia sedikit pun tak tampak gemetar.


“Bawa barang itu ke sini!” seru Felix pada para Nomos.


Di tengah para Nomos itu, terlihat dua orang Nomos dengan tubuh kekar keluar sambil membawa sebuah peti kayu berukuran satu meter. Peti itu kemudian diletakkan di depan Felix, ketika Felix turun dari kuda.


“Aku akan memeriksanya terlebih dahulu.” Sosok berjubah hitam segera turun, tetapi Felix tanpa ragu mengayunkan pedangnya ke depan, hendak menebas leher sosok tersebut.


Benturan pedang pun terdengar. Seorang pria dengan rambut pendek mendadak muncul di depan sosok berjubah hitam, menahan tebasan pedang Felix dengan pedang di tangan kanannya. Pria yang menutupi wajah dengan kain hitam itu pun menangkis serangan pedang Felix, hingga membuat Felix sedikit terdorong ke belakang. Akan tetapi, hal tersebut justru membuat sepuluh Nomos yang dibawa Felix, langsung menyerang balik.


Para Nomos itu mengepung dua lawan mereka, tidak memberikan sedikit pun celah untuk melarikan diri. Di situasi tersebut, Felix terlihat tenang, tetapi tingkat kewaspadaannya sangat tinggi.


“Kembalikan adikku, atau kalian akan mati di sini!” ancam Felix dengan nada datar.


“Kita lihat saja siapa yang akan mati!” sahut sosok berjubah sembari membuka jubahnya, memperlihatkan sosok seorang pria dengan rambut panjang dan tubuh kekar penuh otot. “Kau akan menjadi sandera lainnya, Felix Vonturnus!”