Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 11: Tuan Muda Vonturnus



Dalam kereta kuda, Atlas duduk bersebelahan dengan Kaysen, sedangkan Nicon duduk di kursi di seberang mereka, membuat posisi mereka saling berhadapan. Perjalanan ini dilakukan di sore hari, dan tidak ada rencana untuk berhenti di perjalanan.


Awalnya tidak ada pembicaraan di antara mereka, sampai akhirnya Nicon bertanya pada Atlas, “Namamu Atlas, kan?”


Atlas melirik Nicon sejenak, menjawab, “Ya, namaku Atlas Hiromasa.”


“Nama yang bagus.” Nicon tersenyum tipis sembari bersandar dengan tenang di kursinya. Dia tampak tidak terlalu memerhatikan sekitar, seolah percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Kau sungguh tenang,” kata Atlas. “Apakah karena tidak ada yang mengancammu di perjalanan ini?”


“Memangnya apa yang harus aku takutkan lagi? Bukankah sudah tak ada?”


“Aku cukup terkesan dengan sikap santaimu itu.”


Atlas tidak lagi melanjutkan pembicaraan, melainkan membiarkan waktu berlalu begitu saja dalam senyap. Selain itu, meski ia terlihat tenang, sesungguhnya ia menjadi semakin penasaran dengan dunia baru ini. Terlebih, kejadian sehari lalu itu membuatnya bertanya-tanya, berapa banyak sekte seperti itu ada?


Menghabiskan waktu dengan tidur di dalam kereta kuda, akhirnya Atlas, Kaysen, dan Nicon tiba di Erato Stix. Perjalanan dari Erato Satir menuju ke Erato Stix ini menghabiskan waktu sebanyak satu malam penuh. Namun, karena Atlas hanya tidur di dalam kereta kuda, ketika tiba di Erato Stix di pagi hari, ia tidak merasa lelah.


Nicon pun membawa Atlas dan Kaysen ke Kantor Zelos. Di sini mereka sarapan bersama sebelum memulai perjalanan baru.


“Jadi, apakah kau akan memanduku berkeliling Erato Stix setelah ini, Kaysen?” tanya Atlas usai makan.


“Mungkin itu bisa membuatmu lebih mengenal dunia ini?” sahut Kaysen dengan pertanyaan lain, tidak langsung mengiyakan.


Sebelum Atlas dan Kaysen melanjutkan percakapan, mendadak seorang Herakles masuk ke ruang makan. Herakles tersebut tampak terburu-buru yang terlihat dari tarikan napasnya.


“Ada apa?” tanya Nicon, tegas.


“Lapor, Tuan Nicon!” kata Herakles dengan tubuh tinggi itu. “Tuan Muda Vonturnus datang secara mendadak untuk menemui Anda.”


“Tuan Muda?” Nicon bergegas bangkit dari kursi dan langsung menuju pintu keluar. “Antar aku ke sana segera!”


“Baik, Tuan!”


Atlas hanya memerhatikan hal itu sambil diam, sampai akhirnya Nicon berbalik dan berkata, “Kalian berdua ikut denganku!”


“Memangnya apa hubungannya denganku?” jawab Atlas acuh tak acuh.


“Ikut saja!” paksa Nicon.


Meski sedikit terpaksa, Atlas dan Kaysen pun ikut bertemu dengan Tuan Muda Vonturnus bersama Nicon. Di dalam ruangan berwarna putih ini, terdapat sebuah meja bundar dengan lima kursi mengelilinginya. Satu kursi sudah dipakai seorang pemuda dengan rambut pendek untuk duduk.


“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan Muda,” kata Nicon penuh hormat.


Pemuda itu terlihat acuh tak acuh, berkata, “Aku datang ke sini untuk memastikan bagaimana persiapan Nomos dari Erato Stix untuk pertempuran di Gurun Thanatos.”


“Saat ini persiapan sudah delapan puluh persen selesai. Terdapat empat ribu dari lima ribu Nomos yang siap untuk dikerahkan.”


“Bukankah waktu itu aku mengatakan bahwa aku perlu delapan ribu?!” Pemuda yang disebut Tuan Muda Vonturnus memukul meja dengan keras.


Sebelum Nicon kembali menjawab, mendadak Atlas dan Kaysen duduk di kursi dengan santai. Mereka berdua seperti tidak peduli bahwa di ruangan ini ada sosok orang penting.


“Aku tidak menyuruh kalian duduk!” bentak Tuan Muda Vonturnus.


“Mohon maaf atas kelancangan mereka.” Nicon mencoba menenangkan.


Walau demikian, tanpa peduli akan hal tersebut, Kaysen berkata, “Bukankah kursi itu ada untuk menjadi tempat duduk? Mengapa kami tidak boleh duduk?”


Jangankan memberi perhatian, Atlas dan Kaysen malah mengobrol satu sama lain, sungguh tidak memberi hormat pada Felix. Di sisi lain, Nicon memalingkan wajah selama beberapa saat, tidak mau melirik ke arah Atlas dan Kaysen.


“Apa kalian dengar?!”


Akhirnya Atlas melirik ke Felix setelah mendapat seruan keras itu. “Sudahlah, jangan terlalu memerhatikan hal kecil.”


“Cih!” Felix lantas duduk kembali sembari bergumam, “Seharusnya Keto dari Musai Frike yang datang ke sini. Tapi ayah keras kepala itu malah menyuruhku untuk datang ke tempat orang-orang kampungan ini!”


“Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini, Tuan Muda.” Nicon merendahkan tubuh. “Namun dia sebenarnya Sang Libra yang baru saja menumpas Sekte Dewa Boreas. Oleh karena itu, saya membawanya ke sini untuk bertemu langsung dengan Tuan Muda dalam kesempatan langka ini.”


“Oh?” Felix melirik Kaysen, menganggap bahwa Kaysen ada Sang Libra itu.


“Bukan aku,” kata Kaysen, tenang. “Tapi dia.” Dia lantas menunjuk Atlas yang duduk di sampingnya.


“Aku adalah Sang Libra itu.” Atlas terlihat acuh tak acuh.


“Aku harus akui bahwa kau mungkin kuat, tetapi kau sepertinya tidak mengerti apa arti dari bersikap sopan?”


Memangnya kenapa aku harus bersikap sopan padamu? pikir Atlas. “Maaf bila memang itu menganggumu.”


Felix kemudian memalingkan pandangan kepada Nicon. “Aku memberi perintah agar pengumpulan sebanyak delapan ribu Nomos harus selesai satu minggu lagi!”


“Mohon maaf, Tuan Muda, tetapi ….”


“Tidak ada kata tapi!” Felix bangkit dari kursi, hendak beranjak pergi.


“Baik ….” Nicon pun hanya bisa menerima permintaan itu dengan berat hati. “Sebagai permintaan maaf saya, bagaimana kalau Sang Libra mengawal Tuan Muda di perjalanan kembali ke Musai Pusat Vonturnus?”


“Tidak perlu!” tolak Felix.


“Aku juga tak sudi!” sahut Atlas.


“Aku mohon ….” Nicon kian merendahkan tubuhnya.


“Ah! Baiklah!” Felix akhirnya tidak bisa menolak. “Aku tak tahu apa tujuanmu, tapi sudahlah. Aku anggap itu sebagai niat baik.”


“Terima kasih, Tuan Muda.”


“Tapi aku tidak mau, Nicon!” Atlas bersikeras. Akan tetapi, Nicon membungkuk dan memohon pada Atlas, hingga akhirnya Atlas menyanggupi, “Baiklah, baik. Aku akan mengawalnya tapi cukup sekali ini saja!”


“Jangan banyak bicara,” kata Felix, berjalan ke pintu keluar, “ayo kita pergi!”


“Aku tak yakin apakah bisa akrab dengannya,” gumam Kaysen ketika mengikuti Atlas berjalan di belakang Felix.


Nicon lantas berbisik pada Atlas, “Ini adalah kesempatanmu untuk membuat lebih banyak prestasi, Atlas. Maafkan aku, tetapi hanya ini yang mampu aku lakukan.”


“Haah ….” Atlas mengembuskan napas panjang. “Padahal aku tidak memintamu untuk melakukan hingga sebanyak ini untukku.”


Akhirnya Atlas dan Kaysen melanjutkan perjalanan menjadi pengawal Felix. Kali ini, mereka berdua tidak bisa duduk manis di dalam kereta kuda, melainkan harus berjalan di sebelah kereta kuda, bersama dengan pengawal lain.


“Aku tak yakin kalau tenagaku akan cukup untuk melakukan perjalanan panjang ini,” gumam Atlas.


“Aku akan memaksa pemuda sombong itu agar membiarkan kita masuk!” Kaysen berinisiatif.


“Tidak perlu,” tolak Atlas.