
Ruangan yang berukuran cukup luas dengan berbagai senjata ini memang sangat memukau bagi Atlas. Terlebih Agatha menyuruhnya untuk mengambil salah satu dari senjata tersebut untuk kemudian dijadikan sebagai hadiah. Akan tetapi Atlas tidak begitu yakin bisa menggunakan senjata-senjata itu dengan maksimal. Setidaknya dengan kemampuannya sekarang.
Awalnya Atlas hendak menolak, tetapi ia merasa tidak enak untuk menolak hadiah yang mau Agatha berikan padanya. Untuk itu, satu hal yang bisa ia pikirkan untuk dilakukan sekarang.
“Itu ….” Atlas terlihat melirik ke sekitar.
“Apa ada senjata yang menarik perhatianmu, Tuan Atlas?” tanya Agatha, jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Mungkin dia perlahan bisa membiasakan diri bersama dengan Atlas.
“Semua senjata yang ada di sini terlihat sangat hebat.” Perlahan Atlas mengambil salah satu pedang yang ada di rak paling bawah. “Namun, aku tidak yakin dengan kemampuanku sekarang bisa menggunakan mereka dengan efektif dan maksimal.”
“Aku pikir Tuan Atlas pasti bisa melakukannya ….” Agatha menunjukkan senyumnya lagi pada Atlas.
Atlas tahu atau setidaknya menganggap bahwa Agatha mengatakan itu bukan hanya sekadar menyemangati, melainkan gadis itu benar-benar yakin. Sejujurnya Atlas tak paham mengapa Agatha sangat yakin atau berekspektasi tinggi kepadanya.
Sekali lagi Atlas memikirkan jalan keluar setelah cara pertamanya berhasil ditangkal. Namun, satu hal yang terpikir olehnya adalah bahwa senjatanya ‘Timbangan Libra’ bisa membuatnya menukar apa pun dengan sesuatu hal yang sepadan. Termasuk nyawa manusia itu sendiri.
“Kalau begitu, aku akan mengambil pedang ini,” kata Atlas, tidak mau terlalu banyak memilih.
“Tuan Atlas yakin?” Agatha memiringkan kepala.
Atlas melirik pedang di tangannya lalu tersenyum tipis. “Kurasa ini akan menjadi penyelamatku di kemudian hari.”
Seketika Agatha menutup wajah dan berbalik. Tingkah laku gadis itu sekali lagi berhasil membuat Atlas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selain itu, Atlas juga merasa kalau sekarang bukan saat yang tepat untuknya bertanya dengan terus terang tanpa memikirkan dampak dari ucapannya.
...*** ...
Atlas hendak berjalan ke ruang makan di mana Kaysen dan Felix berada sekarang. Akan tetapi, tepat sebelum pemuda itu membuka pintu, Kaysen dan Felix terlebih dahulu keluar.
“Ah, Atlas,” kata Felix, sedikit terkejut. “Kukira kau sudah pergi.”
“Itu benar,” tambah Kaysen.
“Maaf, maaf,” jawab Atlas. “Tadi aku kebetulan bertemu dengan adikmu. Jadi ya maaf.”
Felix melirik pedang yang digantung di pinggang Atlas. Pemuda dengan rambut pendek itu sepertinya langsung mengerti dengan apa yang terjadi. Dia pun segera tidak memperpanjang topik pembicaraan.
“Baiklah,” ucap Felix sambil berjalan. “Ikut aku.”
“Kupikir kau mengundang kami hanya untuk makan siang hari ini?” Tampak jelas Atlas tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengikuti permintaan Felix itu.
“Itu ‘salah satunya’. Jadi sekarang lebih baik kau ikut saja.”
Mengembuskan napas panjang, Atlas pun mulai berjalan di belakang Felix. “Ya ….”
Kaysen melirik Atlas sejenak sembari berjalan di sebelah pemuda itu. “Sangat jarang melihatmu tidak keras kepala. Apa kepalamu terbentur?”
Mendengar Kaysen mengatakan itu dengan nada yang polos membuat Atlas sedikit kesal. Akan tetapi, ia tidak sedang berada dalam suasana hati yang bagus saat ini.
“Terserah kau saja,” jawab Atlas acuh tak acuh.
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah ruangan lain. Akan tetapi, sebelum masuk ke dalam ruangan, mereka bertemu dengan seorang pelayan yang mengantar seorang gadis untuk masuk ke ruangan yang sama dengan mereka.
“Irene?” Atlas tampak sedikit ragu.
“Kalian sudah mengenal?” Felix menaikkan sebelah alis.
“Nona Irene, bagaimana kabarmu?” celetuk Kaysen secara tiba-tiba.
“Kau masih menjaga janjimu, ya, Kaysen.”
“Hehe….”
Sebelum mereka melanjutkan percakapan apa pun. Irene tiba-tiba mengubah topik pembicaraan, “Bisakah aku meminjam Atlas sebentar?”
Felix yang merasa pertanyaan itu ditunjukkan kepadanya, langsung menjawab, “Kau bisa tanyakan langsung kepadanya.”
“Apakah kau memerlukan sesuatu dariku, Irene?” tanya Atlas.
“Ikut aku.”
Atlas dan Irene pun segera pergi ke balkon di mana Atlas dan Agatha bertemu sebelumnya. Tentu saja Atlas yang menunjukkan tempat ini kepada Irene, sebab gadis itu memang tidak tahu harus ke mana.
“Kurasa di sini tidak ada orang,” kata Atlas sembari bersadar di pagar balkon.
“Kau benar.” Irene berdiri di sebelah Atlas, menghadap keluar sembari memperbaiki rambutnya yang terurai oleh embusan angin. “Bagaimana? Apa kau sudah mulai terbiasa dengan dunia ini, Sang Libra?”
“Tidak terlalu. Tapi aku sungguh tak menyangka kau akan mengajakku berbicara empat mata seperti ini. Pasti ada sesuatu, kan?”
Irene tersenyum tipis. “Kau memang hebat dalam menebak.”
“Jadi?”
“Perang antar Kerajaan di dunia ini akan segera dimulai. Dari informasi yang sudah aku kumpulkan, beberapa anak bintang mungkin akan terlibat di dalamnya.”
“Lalu? Apakah kau memintaku untuk terlibat di dalamnya juga?”
“Bukan.” Irene menggelengkan kepala. “Aku tidak suka perang, jadi aku berharap bahwa kau tidak akan masuk terlibat di dalamnya.”
Atlas menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Aku memang berniat untuk tidak terlibat, tetapi jika anak bintang lain terlibat, kemungkinan akan menimbulkan lebih banyak korban dari orang dunia ini.”
“Lalu?”
“Aku tidak tertarik untuk masuk dalam konflik antar Kerajaan atau apa pun itu. Tapi, aku akan menghentikan anak bintang yang mau ikut campur dalam konflik itu.” Atlas diam sejenak sembari memandang taman indah di bawah balkon.
“Keberadaan kita sudah merusak keseimbangan dunia ini, jadi aku tidak mau keseimbangan itu semakin rusak akibat dari perbuatan kita.”
“Jadi itu keputusanmu.” Irene kembali tersenyum tipis sembari berbalik dan berjalan pergi. “Aku tidak dapat membantumu dalam pertarungan, tetapi aku bisa membantumu dalam hal lain.”
Kali ini Atlas tidak menggaruk kepala karena tindakan seorang gadis yang tidak ia pahami. Saat ini ia mengerti dengan jelas maksud Irene meski gadis itu tidak mengatakannya secara langsung di depan matanya.
“Aku bergantung padamu, Irene,” kata Atlas ketika embusan angin sekali lagi menerpa tubuhnya.
Lantai pesta tidak pernah kosong oleh langkah kaki. Semua gerakan berpadu bercampur dengan suara-suara yang tidak satu suara. Atlas menarik napas panjang sembari menutup mata. Jantungnya berdegup cukup kencang, tetapi berusaha ia tenangkan.
“Ini bukan tentang pesta,” gumam Atlas sembari berbalik. “Namun, keriuhan yang terjadi melebihi pesta. Apa yang harus aku katakan tentang ini? Apakah jiwa seorang prajurit revolusioner masih belum padam dalam diriku?”
Atlas pun mulai berjalan menjauh dari balkon. Meski raut wajahnya terlihat datar dan tanpa ekspresi seolah tak ada yang mengusik, faktanya adalah sekarang ia sedang mempertanyakan banyak hal. Mungkin salah satu hal tersebut tidak penting, tetapi ia tak begitu memedulikannya.
---
Alur novel ini bisa dibilang lambat. XD.
#nulisdikampus🗿