Unstoppable Antihero

Unstoppable Antihero
Chapter 19: Draco Evrard



Angin berembus pelan membuat api unggun berkobar lebih besar. Semua orang terlihat sangat bahagia dan bersenang-senang di dalam halaman istana yang luas ini. Banyak makanan di atas meja ditemani oleh bir yang dipercaya merupakan minuman para dewa termasuk Neo Khufu.



Berbanding dengan riuhnya halaman istana, di dalam sebuah ruangan terlihat Draco dan Neo Khufu duduk diam tanpa mengatakan apa pun. Kedua orang itu terlihat memasang wajah datar, tidak membiarkan orang lain mengetahui apa yang ada dalam kepala mereka.



Setelah keheningan panjang, akhirnya Draco berkata, “Kau bertanya padaku apa Kerajaan Api ini bagiku, kan?”



“Kau sudah mendengarnya dua kali,” jawab Neo Khufu.



“Bagiku … Kerajaan Api tak lebih dari sebuah tempat yang harus kutaklukan. Aku akan memenggal kepalamu dan menjadi nomor satu di dunia ini. Bagaimana? Kau puas dengan jawabanku?”



Untuk pertama kalinya, Neo Khufu tersenyum tipis. “Kau memang bukan orang pertama yang mengecamku, tetapi sepertinya kau lebih menarik dari yang kubayangkan, Draco.”



“Jika kau ingin memenggal kepalaku.” Draco tampak percaya diri dan menampilkan senyum lebar. “Lakukan jika memang kau bisa.”



“Aku itu mutlak dan taka da keraguan akan hal itu. Namun kau sungguh menentangku. Bagaimana jika kau menjadi prajuritku?”



“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tak tertarik sedikit pun untuk menjadi budakmu.”



“Kau pikir aku memerlukannya?”



“Memangnya apa lagi yang kau perlukan?”



Neo Khufu kembali memasang wajah datar, tetapi auranya jelas berbeda dari sebelumnya. Di satu sisi itu seperti aura mengerikan, tetapi di sisi lainnya itu seperti aura seorang pemimpin hebat.



“Sekarang kau pasti sudah tahu bahwa membunuhku hanya akan membuatmu dibunuh oleh para pengikut setiaku,” kata Neo Khufu. “Itu pasti merugikan baik bagiku atau pun bagimu.”



“Siapa dirimu?” Draco tampak tak acuh. “Kau tak akan mengerti bahwa aku sebenarnya orang yang tidak takut sedikit pun akan kematian. Menurutmu berapa kali aku keluar sebagai pemenang dalam pertarungan?!”



“Itu bisa jadi benar. Tapi, apa untungnya bagimu mati setelah hidup selama beberapa saat saja?”



“Katakan apa yang kau inginkan.”



“Mudah saja. Aku ingin kita menaklukan dunia bersama-sama.”



“Huh! Bagaimana jika akhirnya kau mengkhianatiku?”



“Ini adalah titah dari Dewa, bukan sesuatu hal yang dapat diingkari begitu saja.”



Draco tak langsung menerima, melainkan menimbang dengan matang keputusan yang akan diambilnya sekarang. Akan tetapi, sejak awal dia memang hanya diberikan satu pilihan oleh Neo Khufu, jadi tak ada artinya juga jika dia memang memikirkan semuanya matang-matang, karena pada akhirnya pilihannya hanya menerima tawaran Neo Khufu jika tidak mau nyawanya melayang begitu saja.



“Kau memang licik,” ucap Draco. “Apakah kau Dewa kelicikan?”



Raut wajah Neo Khufu berubah, menampilkan sebuah senyum tipis tetapi dengan aura yang berbeda. Sorot matanya tajam, mengintimidasi lawan bicara bahkan tanpa mengatakan apa pun.



“Semua keputusan ada dalam genggamanmu,” jawab Neo Khufu.




“Ingatlah selalu bahwa kau sedang membawa pedang bermata dua, Tuan.”



“Jika begitu, sepakat. Ini adalah sebuah kerjasama yang paling menguntungkan, bukan?”



Keduanya berjabat tangan, menandakan kesepakatan sudah terbentuk di antara mereka. Kedua orang ini memang tersenyum, tetapi senyum mereka memiliki arti berbeda.



Setelah mencapai kesepakatan dengan Neo Khufu, Draco segera keluar dari ruangan. Dia tampaknya tak ingin terlalu lama berada satu ruangan dengan orang yang dia anggap narsis. Lalu, sebagai hadiah untuk dirinya sendiri, Draco memutuskan untuk pergi ke halaman istana di mana pesta besar sedang dilakukan.



Beberapa saat setelah Draco meninggalkan ruangan, Neo Khufu juga ikut meninggalkan ruangan. Ia kemudian masuk ke ruangan lain di mana dirinya dapat melihat pesta besar di halaman istana. Pria ini sedikit pun tidak memiliki niat untuk ikut serta dalam pesta di bawah sana, tetapi matanya tetap melihat ke sana.



Terlihat Draco bergabung dalam pesta, langsung menuju meja makan besar yang berisikan banyak makanan. Tanpa ada keraguan sedikit pun, pemuda tersebut mengambil makanan di sana sebanyak mungkin dan memakannya dengan lahap. Memang banyak orang menjadi memperhatikannya karena hal itu, tetapi sedikit pun dia tak memedulikan hal tersebut.



“Pesta besar akan segera tiba dan harus dipersiapkan dengan matang,” gumam Neo Khufu, pelan. “Kau akan menari di pesta besar itu untukku, Draco Evrard.”



Tak lama beselang, terdengar ketukan dari pintu masuk. Neo Khufu sudah tahu akan kedatangan orang itu, jadi ia tak ingin membuang banyak waktu dan berkata, “Masuklah, Menes.”



“Sesuai perintahmu, Dewaku,” jawab Menes yang kemudian masuk ke dalam ruangan dan langsung bersujud pada Neo Khufu.



“Siapkan pasukan besar untuk menyambut pesta besar.”



“Terima kasih, Dewaku. Sesuai dengan perintahmu.” Tidak menunggu apa pun lagi, Menes segera keluar dari ruangan setelah mendapatkan perintah. Dia langsung mengerti maksud Neo Khufu, sehingga tak perlu baginya untuk menanyakan satu atau dua hal lagi.



“Aku akan membuatkan pesta terbaik untukmu, Alexander.” Neo Khufu pun berjalan keluar dari ruangan, menuju ruang takhta. “Kau pasti akan menyukainya.”


...*** ...


Menes keluar dari ruangan dan langsung menuju ke halaman istana. Tempat ini ramai karena pesta sedang berlangsung. Akan tetapi, itu bukan tujuan mengapa ia berada di sini sekarang.



Tanpa banyak melakukan hal lain, Menes berjalan mendekat pada seorang pemuda bertubuh kekar. Ia tahu bahwa orang ini adalah orang yang dibawa oleh ayahnya ke sini. Menurut infomasi yang Menes dapatkan, orang ini merupakan seorang pemuda yang dibangkitkan oleh Neo Khufu di kawah Gunung Tefnut.



“Apa aku bisa duduk di sini?” tanya Menes pada pria bertubuh kekar yang tak lain adalah Draco Evrard.



Tanpa mau berhenti makan sejenak, Draco menjawab, “Lakukan sesuka hatimu.”



Dari tanggapan itu saja, Menes sudah tahu bahwa Draco tak peduli sedikit pun akan kehadirannya. Namun, Draco merupakan orang penting dalam ‘pesta besar’ yang diinginkan oleh Neo Khufu. Jadi, pertama-tama Menes harus dapat mendekati pemuda ini sebagai persiapan pertama dan paling penting.



“Aku adalah Menes Djer Ra-Mida, pangeran pertama di Kerajaan Api,” kata Menes, masih berdiri di depan Draco.



“Oh?” Draco menanggapi. “Bisakah kau menyingkir dari sana? Kau mengurangi nafsu makanku.”



*Sepertinya dia adalah orang yang sulit untuk dikendalikan*, pikir Menes. “Bisakah kau berhenti mengabaikanku?” Menes tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi oleh rasa ketidaksukaan.



Draco untuk pertama kalinya melirik wajah Menes. “Kau benar-benar merusak nafsu makanku.” Dia melapisi sekujur tubuh dengan kobaran api.



Semua orang serentak mengalihkan perhatian pada Draco dan Menes. Mereka mulai menjauh, tidak berani untuk berada lebih dekat dengan kedua orang itu.