
“Ugh!”
Shya Vir menahan rasa sakit akibat dari anak panah yang menusuk tepat dijantungnya. Tindakkan yang dilakukan olehnya berhasil membuat sang Ayah berhenti bergerak.
“Sh-Shya Vir!” Ayah Shya Vir berucap dengan nada yang lemah, merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.
“Ayah...Aku merasa telah gagal memahami segalanya. Bahkan, terlalu lambat mengerti apa yang orang lain katakan kepadaku.” Shya Vir berucap sambil merangkul Qariya yang ada didalam dekapannya.
Matanya tidak menatap sang Ayah yang terkejut, ia memfokuskan pandangannya pada Gadis yang tidak lagi bisa melihat dirinya.
“APA YANG KAMU LAKUKAN!” teriak Pemimpin Vampir dengan menatap tajam kearah Shya Vir.
Shya Vir makin mendekatkan Qariya, hingga kepala gadis itu bersandar didadanya. Dengan mata tertutup Shya Vir mengusap kepala Qariya dan memberi ciuman lembut tepat diatas kepala Qariya.
Semua menatap apa yang dilakukan oleh Shya Vir. Guar Luh yang berdiri tidak jauh, hanya bisa menatap kearah lain.
“Pemimpin Serigala mengatakan kepadaku. Akan ada saatnya, dimana aku yang akan menderita ketika melihat Gadis manja ini terluka...maka, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuktikan apa yang diucapkan oleh Pemimpin itu.”
Shya Vir mengakui, ia telah jatuh cinta tepat saat ia mengendong Qariya, melihat senyumnya, serta memeluk Qariya. ia sudah jatuh cinta lebih dalam dari apa yang ia sadari. Rasa kesal dan tidak nyaman ternyata bukan karena ia membenci Qariya. tetapi, itu semua karena ia tidak bisa berlama-lama bersama Gadis Manja didalam dekapannya sekarang.
Mengingat apa yang dilakukan Qariya, datang berkunjung hanya untuk membantunya mendapat pengakuan. Lalu rela dipenjara karena ingin berjumpa dengannya. Apa lagi yang diperlukan Shya Vir sebagai bukti cinta Qariya.
“Ayah, Izinkan Aku untuk memilikinya. Jika Ayah tidak mengizinkannya. Maka maafkan Aku, Aku memihak pada dirinya, karena Aku mencintainya.” Ucap Shya Vir dengan menatap kearah sang Ayah yang kini terteguh mendengar apa yang diucapkan olehnya.
“Oke...sudah cukup dramanya. Sekarang, Shya Vir Aku tidak setuju dengan apa yang kamu ucapkan. Ingin memilikinya? Maka kita harus bertarung siapa yang pantas. Karena, Aku juga ingin memilikinya.” Ucap Guar Luh yang mendekat kearah mereka.
“Apa yang kamu inginkan? Aku tahu kamu mencintainya, tetapi yang kamu inginkan hanya matanya.” Shya Vir makin mendekap Qariya yang diam tidak memberontak.
“Kamu benar...Tapi, akan sangat luar biasa jika ia menjadi selirku bukan?” pandangan Guar Luh mengejek pada Shya Vir.
Meski mendapat pandangan mengejek, Shya Vir tidak terpancing untuk meluapkan emosinya.
“Sudahlah, Aku tidak ingin berdebat apapun padamu. Guar Luh, Aku mencintainya dan Aku akan melindunginya.”
“TIDAK AKAN KU IZINKAN!” teriak Pemimpin Vampir. Entah bagaimana kekuatannya bisa kembali. Dan yang lebih mengejutkan, Ayah Shya Vir mengunakan batu aneh yang penuh akan kegelapan.
“Ayah! Apa itu?” Shya Vir tidak tahu apa yang digenggam oleh sang Ayah.
“Itu adalah batu yang digunakan leluhur terdahulu. Batu yang membuat semua ras terpecah belah.” Jelas Ayah Qariya.
“Hahaha...Benar! inilah yang membuat kita terpecah belah. Karena kekuasaan. Batu yang menjadi elemen kuat dalam 3 Ras.” Pemimpin Vampir tampak senang dengan batu yang ada ditangannya.
Cahaya kegelapan itu menarik sisa umur dari Ras Vampir. Dan tentu saja Ras lain ikut terkena. Karena batu itulah yang menjadikan leluhur Qariya menyimpang.
-
“Qariya, bisakah kamu memusnahkannya. Ini salahku yang telah membuat batu itu. maafkan Kakekmu ini.”
Qariya yang berada didekapan Shya Vir mengangguk. ia melepaskan dekapan Shya Vir. “Ada apa Qariya?” tanya Shya Vir.
Suara ricuh yang tidak bisa dibendung oleh pendengaran Qariya. karena mereka semua sedang merasakan kesakitan dari batu yang menyerap kekuatan mereka.
Agggghhhhh!
Teriakkan yang memuncak membuat Qariya meraba-raba wajah Shya Vir. “Shya Vir.” Serunya kembali.
Shya Vir menuntun tangan Qariya untuk berada dikedua pipinya. “Hm, Apa yang kamu inginka-,”
Belum selesai Shya Vir bertanya, Qariya melesatkan diri untuk mencium Shya Vir. Tentu, hal ini membuat rasa terkejut yang memuncak beserta kenyamanan dari apa yang didapat oleh Shya Vir.
Ada sedikit lum*tan yang membuat Shya Vir menjadi candu sendiri. ini pertama kali baginya dan sudah berhasil mengetarkan seluruh isi hati yang ia miliki.
Namun, Shya Vir terkejut dengan apa yang didapat olehnya. Ia menelan darah segar yang sangat banyak. “Hmph!...Qariya!” pekik Shya Vir setelah melepaskan aksi mereka.
Qariya tersenyum, ia menyentuh bibirnya dengan rona merah yang sudah tersembur diwajah. “Hehe, Shya Vir. Apakah kekuatanmu sudah kembali?” tanya Qariya.
Shya Vir menyadari bahwa tubuhnya sudah segar kembali. Bahkan kekuatannya bertambah dan hal yang mengejutkan lagi, matanya melihat para leluhur yang menatap dirinya. Dari semua leluhur itu, mereka adalah Pemimpin terdahulu.
“Kami mengakui dirimu wahai keturunanku.”
“Kalahkanlah dirinya. Meski Ia ayahmu, tetap saja apa yang telah diperbuat olehnya, tidak akan bisa dimaafkan.”
“Kekuatan kami akan menyertaimu. Dan tentu, anak-anakmu nanti akan mendapatkan kekuatan yang sama pula.”
“Shya Vir, Pengakuan kami kepadamu memang terlambat. Tetapi, kami semua disini mengakui dirimu.”
Setelah apa yang didengar olehnya, Shya Vir merasa seluruh tubuhnya penuh akan kekuatan leluhur. Ia bahkan memiliki sayap yang lebih indah dari sebelumnya. Sayap berwarna merah kehitaman.
“Shya Vir.” Qariya menyentuh wajah Shya Vir. Ia merasa balasan dari genggaman Shya Vir. “Ada apa Qariya?” tanya Shya Vir.
Sekali lagi Qariya tersenyum. “Apa kamu mencintaiku?”
“Tentu, Aku mencintaimu Qariya.” jawab Shya Vir dengan cepat. Qariya tersenyum puas. “Maka, bunuhlah dirinya.”
Shya Vir mencium singkat bibir Qariya sebelum pergi. merasakan cintanya terbalas, Qariya tersenyum. Ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Tetapi, ia yakin Shya Vir bisa mengalahkan Ayahnya.
“Qariya.”
Qariya menolehkan wajahnya, ia tahu siapa yang tengah memanggilnya. “Ada apa Titi?” tanya Qariya.
Dengan kerutan alis, Qariya memfokuskan pendengarannya. “Apa kamu yakin?” tanyanya kembali.
“Hm, Aku yakin.”
Qariya mengangguk mendengar jawaban Titi yang begitu serius. “Pergilah, sekarang saatnya aku membalas jasamu Titi.” Ucap Qariya yang merasa hembusan angin melewatinya. Ia tahu, sudah sangat mengetahuinya,Bahwa Titi diam-diam mencintai Guar Luh.
“Berbahagialah.” Benak Qariya.