
Qariya duduk diruang tamu. Dimana ada Ayah dan Ibu yang memeluk dirinya.
“Apa yang terjadi kepadamu anakku?”tanya Sang Ibu kepada Qariya yang diam dengan pandangan kosongnya.
Qariya bingung untuk mengatakan semuanya. Ia ingin memberitahu Ayahnya. Bahwa ia menyukai seorang Pria dari Ras Vampir. Namun itu tidak mungkin dilakukan olehnya.
“Titi...apa kamu yakin, Qariya baik-baik saja?”tanya Tuan Qafiysa Hidkha.
Qariya melihat kearah Titi yang mengangguk dengan begitu serius. Ia merasa Titi kembali menyelamatkan dirinya.
“Huh~, jika terjadi sesuatu, katakan kepada ku”ucap Tuan Qafiysa Hidkha yang membuat Titi mengangguk lagi.
Ibu dan Ayah Qariya melangkah pergi setelah memastikan dirinya tidak apa-apa.
“Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?”tanya Titi setelah kepergian orang tuanya.
Qariya menatap Titi dengan wajah yang tenang. Ia perlahan bangun dan menarik tangan Titi menuju keruang perpustakaan umum Mansion.
Bam!!
Pintu perpustakaan ditutup. Qariya melangkah mendekati meja yang memiliki buku besar disana. Ia ingin membukanya namun ada keraguan yang membuatnya tidak jadi melakukan hal itu.
“Jadi, apa yang terjadi kepadamu?”tanya Titi.
Qariya duduk di kursi yang ada, lalu menatap Titi yang menunggu jawabannya.
“Aku tidak tahu Titi.hanya, aku merasa tiba-tiba melupakan sesuatu. Aku tidak mengingat tentang diriku yang kabur dari Mansion”
Qariya menatap Titi yang tidak merasa terkejut sama sekali dengan ucapannya. Melihat tidak ada respon dari Titi, Qariya melanjutkan perkataannya, “Saat dirimu mengatakan bahwa aku datang bersama dengan seorang Pria, dan menyapa dirimu dengan wajah bahagia, membuatku ingat dengan apa yang ku lupakan”
“Oke Stop!”Titi mengarahkan tangannya tepat diwajah Qariya. Qariya dengan cepat menghentikan ucapannya melihat tingkah Titi yang begitu tiba-tiba.
“Sebenarnya yang membuat ku penasaran adalah dirimu bahagia bersamanya. Qariya, apa Shya Vir ini adalah orang yang dirimu cintai?”
Qariya tidak menduga Titi akan menanyakan hal yang ia sendiri bingung untuk menjawabnya. Namun ia tidak bisa mengelakkan dugaan Titi.
“Katakan saja Qariya”
Qariya menghela nafas dengan begitu sulit, ia hanya bisa tersenyum cangung, “Ah..iya, Shya Vir lah orang yang aku sukai”
“APA!!!”
Suara Titi mengema didalam ruangan perpustakaan. Untungnya hanya mereka berdua, dan lebih beruntung lagi, ruangan ini kedap suara dan tidak memiliki cctv. Cctv hanya di aktifkan saat perpustakaan umum ini digunakan oleh tamu-tamu yang ada. jadi Qariya bisa bernafas dengan lega.
“Titi, jangan berteriak. Kalau ada yang dengar bagaimana?”Qariya dengan cepat menutup mulut Titi agar tidak berteriak lagi. ia tidak ingin Orang tuanya tahu.
Qariya melepaskan tangannya setelah Titi memberi isyarat kepadanya.
“Apa, apa kamu tahu Qariya. Pria itu..Pria itu”
“Ras Vampir”Qariya memotong ucapan Titi dengan cepat. Yang membuat Titi terduduk lemas, setelah mendengar ucapannya.
“Titi..apa yang terjadi”Wajah Qariya panik melihat Titi yang menjatuhkan dirinya dengan tiba-tiba.
“Aku tidak percaya, jadi Pria itu orangnya”Titi berbicara dengan menyentuh kepalanya. Seakan-akan kepalanya pusing berat hingga ia harus memijitnya.
Qariya yang melihat Titi seperti itu hanya bisa tercengir dengan deretan gigi putih. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. karena memang benar bahwa ia jatuh cinta kepada Ras Vampir.
“La-lalu, apa Kamu sudah, ah maksudku menyatakan perasaanmu?”
“Aku sudah mengatakannya, dan dia menolakku”ucap Qariya.
Ia melihat reaksi dari orang didepannya. Matanya menilai apa yang diucapkan oleh Titi kepadanya.
“Dia menolakmu?”
Qariya berpikir Titi akan mentertawakan dirinya karena ini pengalaman cinta pertama. Tidak ada kenangan indah didalamnya, namun kenangan manis tersimpan dibenak Qariya.
“Hm...iya, dia menolakku”Qariya menatap kembali kearah Titi yang menghela nafas mendengar ucapannya.
“Apa kamu tidak akan memperjuangkan cintamu, ah maksud ku mengejar cintamu itu, seperti yang dirimu lakukan”
“Titi, ada apa denganmu?..apa kamu tahu Ia dari Ras Vampir, dan apa yang bisa ku dapatkan darinya. Maksudku, aku tidak bisa mengejarnya jika tahu bahwa ada perjanjian dari 3 ras yang tidak memperbolehkan Ras Vampir mencintai Ras Lain selain Ras mereka”
Qariya menatap Titi yang merenung dengan tenang. Ia ingin menegur Titi, namun seseorang mengambil alih perhatian mereka.
“Maaf Nona Muda, dan Titi..Tuan Besar mengatakan bahwa Nona Muda harus bersiap. Karena Nona Muda harus menghadiri pesta bersama Tuan Besar dan Nyonya Besar”
Qariya merasa tidak ingin ikut keacara seperti itu. ia tahu bahwa acara itu pasti akan digunakan untuk menjodohkan orang-orang. Ia tidak menginginkannya.
“Baik terimakasih, biarkan diriku yang menyiapkan Nona Muda”ucap Titi yang membuat Pelayan itu pergi setelah mendengarnya.
Qariya memelas didepan Titi, berharap Titi tidak akan menandani dirinya, dan membiarkan ia tidak pergi kepesta yang diadakan itu.
“Qariya, ini juga termasuk hukuman mu. Apapun yang diperintahkan oleh Tuan Besar untukmu, itu semua harus dituruti dan Kamu harus bisa menyangupinya”
“hu~, baiklah”Qariya melangkah bersama Titi untuk kembali kekamarnya dan bersiap menghadiri pesta yang telah di jadwalkan.
-
“Titi, bisakah gaun ini tidak melilit tubuhku, ini terlalu ketat”Qariya menatap gaun silver yang dikenakan olehnya. Meski tidak melilit tubuh, tetap saja Qariya merasa sesak mengenakannya.
“Sudah diamlah, aku akan mencarikan sepatu hak tinggi untukmu”
Qariya menatap horor mendengar ucapan Titi, ia dengan cepat menghalangi Titi yang menyusuri lemari ras sepatunya.
“Berhenti, jangan mencarinya..aku tidak ingin mengenakan sepatu hak tinggi. Aku bisa saja keseleo mengenakan itu, carikan aku sepatu slop yang aman”
“Tetapi, memakai Hak tinggi akan lebih indah untukmu”
Qariya menyilangkan tangannya dengan cepat, ia benar-benar tidak menyetujui apa yang diucapkan oleh Titi, “Aku tidak ingin!!!...Titi carilah sepatu slop yang aman..kalau tidak, aku tidak akan pergi keacara pesta itu”
Qariya mengancam Titi dengan wajah seriusnya. Membuat Titi menghela nafas dan mengangguk.
Setelah acara bersiap-siap yang memakan waktu lama. Akhirnya Qariya sudah siap dengan wajah cantik yang jarang di make up oleh para pelayan.
“Putriku sudah berdandan dengan sangat cantik, masuklah..kita akan berangkat sekarang”ucap sang Ibu membukakan pintu mobil kepadanya.
Qariya dengan malas masuk kedalam mobil. meski ada Titi yang menemaninya,Ia tetap tidak ingin pergi berpesta.
“Duduk dengan tenang dan ini obat anti mualmu”
Qariya mengeleng melihat obat oles yang diberikan oleh Titi. Ia tidak menduga Titi masih memperhatikan hal kecil yang berhubungan dengannya. Padahal ia lupa kalau dirinya tidak tahan dengan ac mobil.
Mobil pun berjalan meninggalkan kawasan Mansion keluarga Qafiysa Hidkha, Menuju ke sebuah vila mewah seorang teman kerja Ayah Qariya.
“Kenapa Aku berharap ada dirinya disana”benak Qariya menatap indahnya jalan raya. Dan sesekali obat oles di gunakan olehnya untuk menghilangkan rasa mual yang mulai datang.