
Hal yang dulu dikira hanya sebagai pengantar tidur, kini Qariya dengan mata kepala sendiri melihat sosok Vampir yang benar-benar sempurna.
Mulai dari sayap mereka, gigi yang tajam disela bibir dan mata merah yang menyala. Tentu saja kulit pucat yang menjadi ciri khas mereka.
“Ini,bukan lagi dongeng”benak Qariya. mata hitam yang melirik-lirik, kini diam disatu tempat.
Seorang Pria dengan jubah hitam melekat ditubuhnya, dan aura yang ada disampingnya sangat membuat Qariya merinding hingga tanpa sadar meneguk silvanya.
“Siapa Namamu, Manusia?”tanya Pria berjubah indah itu.
Qariya tahu siapa yang mengajaknya berbicara, ia yang di dudukkan tepat pada tengah aula. Dirinya dikelilingi oleh aura kelaparan dan haus akan darah.
Qariya memberanikan diri untuk membuka suaranya. “Perkenalkan Yang Mulia, Namaku QAILA RIHYA YAMNI. Anda bisa memanggilku Qariya.”
Kesunyian yang berada diaula, seketika berubah menjadi kebisingan. Mereka saling melontarkan pendapat dalam menilai Qariya.
“Tidak mungkin, bagaimana bisa Anak bangsawan, keturunan kerajaan bisa berada disini?, siapa yang ingin ditemui olehnya,”
“Sulit dipercaya, ternyata Ras manusia ini bisa masuk kewilayah kita. Apa dirinya tidak tahu, kenapa Tiga Ras berpisah?”
“Bagaimana Ia bisa masuk kedalam sini?, bukannya segel akan menghancurkan orang yang mendekati wilayah kita.”
“Aku tidak perduli. Karena bagiku, yang menginjakkan kakinya disini, sama saja mencari kuburannya sendiri.”
Qariya tidak menduga apa yang didengar olehnya. Ia mengingat penjelasan Ayahnya tentang Tiga Ras. Ada ucapan yang tidak sempat didengar olehnya. “Apa ini yang Titi sangat khawatirkan?”benak Qariya.
“Yang Mulia, Aku ingin memberikan pendapatku. Apakah anda mengijinkannya?”
Seorang pria dengan alis tebal yang menukik tajam, terlihat seperti Pria pemarah. Qariya yang memperhatikan dirinya merasa takut.
“Tentu, apa pendapatmu?” Tanya Yang Mulia dengan suara lantang. Qariya mendengar suaranya sedikit gemetar.
Pria beralis tebal langsung menyampaikan pendapatnya. “Yang Mulia, Aku berpendapat, Gadis muda ini dipenjarakan. Bagaimanapun, kedatangannya sangat membuat kami haus akan darah yang mengalir ditubuhnya.”
Mendengar ucapan Pria beralis tebal, seorang Pria dengan wajah penuh akan amarah melangkah kedepan. “Aku tidak setuju, Ras Manusia ini harus dibunuh oleh kita. Sudah tertulis disejarah, tidak diizinkannya manusia datang kesini. Berani menginjakkan kakinya sama saja mereka menginginkan kematian.”
Tidak hanya pria dengan wajah yang penuh amarah datang, seorang pria tua dengan wajah tampannya melangkahkan kaki kedepan. Qariya tidak bisa menilai lagi, melihat orang-orang yang umurnya sudah jauh darinya, namun ketampanan mereka sungguh luar binasa, Membinasakan pandangannya.
Pria tua dengan wajah awet muda, angkat bicara. “Yang Mulia, tanyakan dulu alasan Manusia ini datang, jika niatnya baik. Lebih baik kita mengurungnya.”
Qariya mendengar kata mengurung, merasakan kelegaan didalam hati. Ia tentu tidak ingin dibunuh dengan orang-orang yang mengerikan baginya. Namun, yang membuat perasaannya lega karena masih ada yang menanyakan kedatangannya.
“Baiklah, Gadis Muda...,” Qariya menatap Pria berjubah yang ada di altar kekuasaanya. “Apa tujuanmu datang kewilayah kami?”
Mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya, Qariya meneguk silva dengan cepat. “Yang Mulia, tujuan Qariya kesini untuk bertemu dengan seseora-...,”
“Yang Mulia, Gadis inilah yang ada didekat Sepupu Shya Vir!”
Pandangan Qariya menoleh dengan cepat, menatap Pria yang ia kenali. “Anda?, Sepupu Shya Vir?” Ujar Qariya dengan tiba-tiba.
Semua yang ada dialua menyepitkan mata mereka, dan kekuatan dari pengawal mengekang borgol ditangan Qariya.
“Ugh!” Qariya meringit merasakan rasa sakit ditangannya.
“Keponakkan 1, apa maksudmu?” Tanya Yang Mulia.
Pemuda yang dipanggil Sepupu 1 itu langsung menjawab. “Yang Mulia, Gadis ini yang menjadi penghalang untuk Shya Vir mendapatkan pengakuan dari penguasa.”
“Apa maksud dari ucapanmu, wahai Tuan Muda 1?, Tuan Muda Shya Vir tidak mendapat pengakuan karena kemampuannya.”
“Keponakkanku, katakan dengan jelas, apa maksud dari ucapanmu?” Tanya Yang Mulia kembali.
Sepupu 1 kembali menjawab. “Yang Mulia, Gadis ini yang mencintai Shya Vir, dan membuat Shya Vir jatuh cinta kepadanya. Anda tahu beberapa hari yang lalu, Shya Vir ke festival lampion. Kepergiannya disana untuk bersama Gadis ini, mereka saling mencintai namun, Shya Vir tidak mengakuinya.”
“HENTIKAN UCAPANMU PUTRAKU, TIDAK ADA RAS VAMPIR YANG JATUH CINTA KEPADA RAS MANUSIA!”
Teriakkan yang mengaung di Aula membuat Qariya meringit. Ia menatap seorang Pria yang wajahnya sangat dingin, terlihat sekali penolakkan dari ucapannya.
“Gadis ini, ia harus dibunuh Yang Mulia. Karena berani jatuh cinta kepada Tuan Muda Shya Vir.”Lanjut Pria yang merupakan Ayah dari Sepupu 1.
Qariya mendengarnya merasa rasa sakit didada. Bagaimana bisa ia ditolak tanpa mendengarkan ketulusan cintanya. Dan lagi semua yang ada dialua tampak membenci dirinya. Qariya merasa sulit memperjuangkan cintanya ini, ia juga masih belum tahu apa alasan Para Ras ini saling membenci. Salah satunya, membenci Dirinya.
“Gadis, Apa kamu mencintai Putraku, Shya Vir?” Tanya Yang Mulia.
Qariya mendengar pertanyaan itu mengangguk. “Benar Yang Mulia, Aku mencintai Putramu, Shya Vir.”
Swuuush!!!
Qariya mengangkat kepalanya. Leher putih yang jejang itu dihadapkan dengan tombak hitam kecil namun tajam. Nafas yang terburu-buru semakin bertambah cepat. Qariya menatap ujung tombak kecil yang sangat dekat dengannya. Ia bisa merasakan, ketajaman dari tombak itu.
“Gadis, apa kamu tahu..., kenapa tidak ada Ras yang mencintai Ras lain, selain ras mereka?” Qariya mengeleng mendengar pertanyaan dari Yang Mulia.
“Karena, Leluhur kalianlah yang membuat semua ini menjadi seperti sekarang. tidak ada cinta dan perhatian. Bahkan tidak ada izin untuk kalian datang kesini.”
“Bunuh dia!”
“Bunuh dia!”
“Bunuh dia!”
“Bunuh dia!”
Qariya menatap dengan penuh akan kekhawatiran. Ia merasa ada hal yang akan terjadi tidak lama lagi. namun ia tidak mengerti rasa khawatir ini bukan pada dirinya. Tapi pada orang lain yang ia rindukan.
Tangan Yang Mulia terangkat, menghentikan sorakkan dari orang-orang yang ada didalam Aula.
“Hentikan!, Pengawal, bawa Gadis ini kepenjara bawah tanah. Jangan sampai ia lepas.” Tintah Yang Mulia kepada Pengawal.
Qariya langsung dibawa oleh dua pengawal dengan kekuatan mereka. tidak ada yang bisa Qariya lawan, karena bagaimana pun tubuhnya sudah terikat dengan mantra mereka.
“Shya Vir, apa kamu tidak mencintaiku?” Benak Qariya. ia merasa kedatangannya tidak disambut dengan baik.
-
Creak!
Titi menundukkan kepalanya, wajahnya menjadi takut mendengar suara benda yang dihancurkan.
“Tuan Besar, Mohon maafkan Putriku yang telah melakukan kesalahan.” Ucap Ayah Titi dengan bertekuk lutut.
Titi yang melihat sang Ayah melindunginya, merasakan matanya memanas. Ia sulit bernafas melihat amarah Tuan Besar, Ayah Qariya.
“Qariya, bagaimana ini?. Ku harap kamu baik-baik saja.”Benak Titi.