THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 28: Aku Pulang



Buk!


“Anda sudah kembali Tuan Muda”


Shya Vir menatap kearah pengawal yang memberikan hormat kepadanya. Ia melangkah memasuki Vila yang terletak begitu jauh dari pemukiman manusia.


“Apa yang telah kamu lakukan Shya Vir?”


Shya Vir berhenti di tengah-tengah aula vila. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan diri. Lalu dengan perlahan membuka matanya.


“Aku tidak melakukan apapun Ayah”ucap Shya Vir menatap Pria yang ada didepannya. Pria itu memandang Shya Vir dengan pandangan tenang.


“Aroma ditubuhmu mengatakan segalanya Shya Vir, Kamu telah bersama Manusia, dan Manusia itu bukankah Ayah sudah melarangmu untuk tidak bertemu dengannya. Ia adalah Anak dari Qafiysa Hidkha. Pemimpin Ras Manusia, Ayah tidak ingin terjadi sesuatu yang akan menghancurkan kita”


“Aku tidak melakukan Apa-apa Ayah, dan lagi pula Gadis manja itulah yang mendekat kepadaku. Bukan aku yang mendekatinya”jelas Shya Vir.


Pria yang dipanggil Ayah menyentuh pundak Shya Vir. Dan mengeluarkan kekuatannya hingga memusat dijidat Shya Vir.


Swussh!!


“Anakku, kamu telah melakukan sesuatu sampai sejauh itu, Ayah akan menghukummu”


“Hah?...Ayah apa maksudnya itu, aku tidak melakukan apa pun, dan lagi Gadis manja itulah yang mendekati diriku, bukan AKU!”


Greb!


“Shya Vir, Gadis itu telah jatuh cinta kepadamu, dan tahukah kamu. Bahwa kita tidak boleh jatuh cinta kepada Ras Manusia. Karena kita berhutang budi kepada mereka. jika mereka tidak melindungi kita, Kita mungkin sudah musnah dari dunia ini”


Shya Vir diam mendengar ucapan dari Ayahnya. Ia menghela nafas dengan perlahan, “Jadi apa yang harus ku lakukan Ayah?”tanya Shya Vir.


“Pergi, buat dirinya melupakan dirimu. Dan terima hukumanmu karena telah berbuat kesalahan seperti itu”


Ayah Shya Vir menghilang tepat didepan matanya. Shya Vir menatap datar kearah alua vilanya. Ia melesat menaiki lantai dua dalam hitungan detik.


Bam!!


Pintu kamar ditutup dengan cepat, dan Shya Vir melangkah untuk duduk di jendela. Melihat bulan yang begitu indah menghiasi langit malam.


Shya Vir menyentuh bibir yang masih meninggalkan rasa manis dari sepotong Apel. Bukan rasa manis dari Apel yang dimakan olehnya, tetapi rasa manis dari tetesan darah yang mengalir.


Ingatannya seketika muncul saat ia membalutkan luka dari tangan Gadis manja malam itu. mata merah Shya Vir menyala dengan tiba-tiba.


“Apa darah itu miliknya?”benak Shya Vir. “Aku merasa darahnya seperti sesuatu. Agh sudahlah..lagian aku tidak sengaja memakan apel itu, tapi..”


Swuush!!


Sayap berwarna hitam pekat tampak jelas dipungung Shya Vir. “Setelah memakan Apel itu, aku merasa luka ditubuhku sembuh dengan begitu cepat. Siapa sebenarnya gadis itu”


Shya Vir memandang kearah bulan yang masih berada ditempatnya. Ia menatap dengan pandangan tenang bersama dengan degupan jantung yang dihentikan olehnya.


-


Qariya duduk diam didalam mobil, ia menundukkan kepalanya. Tidak berani ia mengangkat kepalanya, karena disampingnya seseorang tengah memandang dengan wajah yang tampak serius.


Ciitt!


“Kita sudah sampai Titi”ucap sang Supir yang membuat Qariya terteguh.


“Kita keluar”


“A-Ayah!..Aku Pulang”


Qariya berbicara dengan nada yang sangat lemah, dan bisa-bisa ucapannya itu tidak akan didengar jika tidak berada didekatnya.


“Putriku!”


Greb!


Sang Ibu dengan cepat memeluk Putrinya, Qariya membalas pelukkan dari sang Ibu. “Ibu, Maafkan Qa...”


“Mulai sekarang, Kamu dilarang keluar Qariya!”


Qariya terteguh mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Ayahnya. Ia memandang dengan pandangan tidak percaya. Karena kali ini ia merasa Ayahnya tidak main-main mengatakan hal seperti itu.


“Suamiku, Putri kita baru saja tiba. Apa yang..”


“Aku sudah mengatakannya, pengawal dan Titi jangan izinkan ia keluar”


Qariya menatap Ayahnya yang melangkah pergi dengan cepat. Tidak ada sambutan dari kedatangannya. Hati Qariya merasa rasa sedih yang mendalam.


“Ah..Putriku, Ayahmu sangat mengkhawatirkan dirimu, jadi jangan membenci Ayahmu ya..sayang”


Cup!


Qariya menerima ciuman singkat dipipinya. Ia menatap sang Ibu yang tersenyum kepadanya, dengan pelan Qariya menarik bibirnya untuk membalas senyuman dari sang Ibu.


“Sudah, Kamu baru tiba sayang..jadi Istirahatlah ya”


Qariya mengangguk, Ia pun melangkah mengikuti Titi yang menunjukan jalan kepadanya.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali, bahkan Titi tidak melangkah disamping Qariya. Qariya merasa tidak nyaman di perilakukan seperti ini.


“Hm!, Titi..Aku minta maaf karena telah membuat masalah kepadamu”Qariya menatap kearah Titi yang tidak bergeming dengan ucapannya.


Ia pun melanjutkan perkataannya, “Aku pergi hanya untuk memastikan perasaanku saja..itu yang ku lakukan..dan..”


“Apa dirimu tahu Nona Muda”


Qariya terteguh mendengar panggilannya berubah, ia menatap Titi yang menatap dirinya juga.


“Seluruh Pengawal, Kepolisian dan hampir para wartawan akan mencari keberadaan Anda, Tahukah Anda..Tuan Besar dan Nyonya Besar tidak tidur semalaman karena mencari keberadaan Nona Muda, harapan Titi semoga urusan Nona Muda telah selesai, dan tidak melakukan sesuatu seperti ini lagi”


Qariya menatap kearah Titi yang membukakan pintu kamarnya. Lalu melangkah pergi setelah mengucapkan kata selamat malam kepada dirinya.


Dengan langkah berat Qariya masuk kedalam kamar. Ia menatap kearah jendela. Dimana cahaya bulan menyinari dengan begitu terang menerang. Perlahan Qariya menutup pintu kamar dan melangkah mendekati jendela.


“Aku telah melakukan kesalahan. Orang tuaku marah dan Titi juga”Benak Qariya.


“Dan sekarang aku malah merindukan Shya Vir...”Qariya menyentuh dadanya,degupan jantungnya benar-benar berdetak hebat. “Tenanglah, aku rasa tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya, dan ia juga membenciku”


Karena banyak kejadian yang dialami, Qariya melangkah mendekati kasur yang sangat empuk, ia berbaring disana sambil menatap langit-langit kamar. Di dalam pikirannya,masih membayangkan kebersamaannya bersama dengan Pria yang ia cintai.


“huh~....kenapa sangat sulit sekali sih, aku hanya ingin mengetahui perasaannya, dan tidak sengaja jatuh...”guman Qariya.


Perlahan mata Qariya terpejam, karena rasa lelah dan kantuk menyerang dirinya. Ia pun terlelap dengan cepat.


“lupakanlah diriku”