
Greb!
“Titi!!!”Qariya menyambut kedatangan Titi yang menyentuh pundaknya. Setelah kepergian Shya Vir yang sempat membuatnya bersedih, ia mengubah suasana hatinya agar Titi tidak menyadari apa yang telah ia alami.
“Apa yang kamu lakukan?..kamu benar-benar”
Ucapan kesal yang Titi berikan membuat Qariya tersenyum melihatnya. “Tenang saja, tidak terjadi apa-apa kok”
Qariya menenangkan Titi dengan membawanya keluar dari acara pelepasan Lampion, dimana masih banyak pasangan yang memandang lampion mereka.
Qariya juga sempat memperhatikan Lampionnya, dimana lampion itu sudah terbang dengan sangat tinggi hingga ia tidak bisa melihat lagi motif dari lampion itu. motip lampion yang didapatnya berukiran seperti gambar bulu merak, lalu ada ukiran kecil yang sangat cantik saat lampion itu diterbangkan.
Entah kenapa, Qariya merasa Lampion yang ia dapat merupakan sebuah takdir untuknya, apa lagi ia mengetahui bahwa yang menjadi pasangannya adalah orang yang ia cintai.
“Apa yang kamu senyumkan Qariya?”tanya Titi yang kini berada didepan Qariya.
Qariya dengan cepat tertawa untuk mengubah suasana yang membuatnya cangung, ia malu untuk mengatakan apa yang ia alami.
“Terimakasih Titi, Kamu sudah mengajakku kesini”Qariya dengan senyum manisnya membuat Titi ikut tersenyum.
“Ini semua berkat dirimu sendiri. kamu mampu melewati segala hukumanmu, jadi inilah hasilnya”
Qariya mengangguk mendengar apa yang Titi katakan padanya. Ia mengira hukumannya akan lebih sulit, namun orang tuanya tidak ada niat untuk mempersulit dirinya, bahkan orang tuanya mengajarkan ia tentang suatu kesalahan akan menerima hukuman dan hukuman itu harus dijalani dengan baik dan kamu akan merasakan hasil dari hukuman mu itu.
Qariya mengakui ia merasa takut untuk kabur dari Mansion. Bukan takut akan hukuman, tapi takut Ayahnya akan mencueki dirinya. Ia tidak ingin hal itu.
“Hallo!, apa kalian sedang liburan?”
Qariya membalikkan tubuhnya mendengar suara seseorang, ia mendapati Titi berada didepannya dengan sikap siaga. Karena bagaimana pun mereka berdua tahu bahwa yang ada didepan mereka adalah orang asing yang baru mereka temui.
“Maafkan aku yang membuat kalian menjadi waspada seperti ini, Aku hanya sangat ingin bertemu dengan orang yang menerbangkan Lampion yang terbangnya dengan sangat tinggi, itu sangat menakjubkan. Ah iya aku mendengar pepatah mengatakan, bahwa tingginya sebuah harapan akan dengan cepat dikabulkan. Aku harap apa yang kalian terbangkan itu, akan memberikan kebahagiaan yang luar biasa”
Lelaki yang berbicara didepan mereka penuh akan kesopanan dan santun yang sangat lembut. Qariya yang mendengarnya merasa sangat dihormati dan dihargai. Ia melangkah melewati Titi dan memberikan hormat kecil kepada Lelaki didepannya.
Lelaki itu membalas dengan sangat elegan, hingga Titi yang bersiaga kembali dengan sikap biasanya.
“Terimakasih atas pujian yang kamu berikan kepadaku”ucap Qariya dengan senyum yang ia tampilkan. Lelaki didepannya dengan mengeleng seakan-akan tidak pantas mendapatkan pujian darinya.
“Jangan mengucapkan terimakasih kepadaku, Aku tidak pantas menerimanya. Ah Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan, Apakah kamu kekasih dari sepupuku itu?”
Pertanyaan Lelaki didepannya membuat Qariya terdiam. Ia memikirkan Shya Vir yang menjadi pasangannya, dan ia juga melihat Lelaki yang ada didepannya ini. Lelaki itu tidak memiliki mata merah. Jika keluarga, kemungkinan orang didepannya akan memiliki hubungan yang sama, Yaitu Ras Vampir.
“Ah maafkan aku, jika memang hubunganmu dengan Sepupuku Shya Vir sangat rahasia, aku tidak akan menanyakan serinci itu, maafkan aku, kalau begitu nikmati liburan kalian permisi”
Qariya diam memperhatikan Lelaki yang melewatinya, pergi dengan mata yang sangat aneh bagi Qariya. entah kenapa ia merasa Lelaki itu sedang menyimpan suatu rahasia yang membuatnya jadi ragu untuk mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Shya Vir?..Qariya, apa pasanganmu tadi Shya Vir?”
Qariya mengangguk mendengar pertanyaan dari apa yang ditanyakan oleh Titi. “Iya, Pasanganku tadi adalah Shya Vir”
Qariya tidak memperhatikan Titi yang bengong ditempat setelah ucapannya, Ia masih memfokuskan diri menatap kearah Perginya lelaki tadi.
“Siapa dirinya, ia berbicara seakan-akan mengenal Shya Vir, apa lagi memanggilnya dengan sebutan Sepupu?”benak Qariya.
“WAAAh!!!”
Qariya memajukan tubuhnya dengan cepat hingga membuat kakinya tersandung. Untungnya seseorang menahan ia agar tidak jatuh ketanah.
“Hati-hati”
Qariya beranjak bangun dan melihat siapa yang menolongnya. Ia menatap dengan mata hitam yang ia miliki, dan seketika mata mereka saling bertemu. Mata Pria yang ada didepannya ini sangat bahagia menatap dirinya.
“Kamu lagi!!!”Titi yang ada disamping Qariya dengan cepat berdiri didepan, lalu menatap Guar Luh, orang yang mereka kenali dan masing-masing sudah saling berjumpa bahkan berbicara.
“Oh, Hai Titi”sapa Guar Luh seperti biasanya, senyum dan nada bicara yang sopan.
Qariya yang mendengarnya hanya bisa berbenak, “Pria ini sangat ramah, tetapi aku tidak menyukai pria yang seperti ini, bisa saja ia ramah kesemua wanita..heh jangan sampai aku tertipu dengannya”
“Kalian menikmati Fetival Lampion?..apa ingin main bersama?”tanya Guar Luh.
Titi yang masih berdiri didepan Qariya menjawab, “Kami sudah bermain, dan ini sudah saatnya kembali. Permisi”
Qariya menatap Titi yang tampak tidak suka pada Guar Luh, apa lagi Titi membawanya pergi meninggalkan Guar Luh yang kaget dengan ucapannya.
“HEI...SETIDAKNYA TEMANI AKU MENGOBROL!!”
Teriakkan Guar Luh tidak Titi hiraukan, bahkan langkahnya semakin dipercepat hingga Qariya lelah mengikuti langkah kakinya.
“Titi, jangan berlari”Qariya menahan langkah Titi dengan menarik tubuhnya, hingga Titi berhenti dengan nafas yang terhenga-henga.
“Apa yang terjadi kepadamu?..kamu membenci Guar Luh?”tanya Qariya. ia sangat penasaran dengan tingkah Titi ini.
“Aku tidak tahu Qariya, Aku merasa Pria itu sangat berbahaya. Dan aku ingin kamu menjauhinya, lalu Lelaki yang kita temui tadi”
Mendengar jawaban Titi, membuat Qariya menjadi bingung harus bagaimana. Ia paham bahwa perasaan Titi ini bisa jadi nyata. Apa lagi mereka menemui orang-orang yang penuh akan kerahasiaan.
“Nona Muda, masuklah”ucap Supir.
Kedatangan Pak Supir membuat keduanya sadar dari alam pikir mereka. Qariya bergegas masuk dan Titi pun ikut masuk. Mereka pun pulang dengan perasaan yang berbeda-beda. Qariya merasa perasaan bercampur, dari bahagia hingga kebinggungan. Lalu Titi yang tampak sekali gelisah akan sesuatu.
“Qariya?”
Qariya menatap kearah Titi yang memanggil namanya, “Ada Apa?”
“Apa kamu yakin dengan perasaan cintamu kepada Pria itu?”
Kening Qariya sedikit berkedut. Ia menatap Titi yang tampak sekali gelisah karena genggaman tangannya yang terus bergerak.
“Aku yakin, karena semakin hari aku semakin mencintainya”jawab Qariya untuk menyakinkan Titi yang menghela nafas dengan perlahan.
“Maafkan Aku yang menanyakan hal seperti ini, entah kenapa Aku sepertinya merasakan apa yang kamu rasakan sekarang Qariya”
Qariya yang duduk dengan tenang, seketika mengubah posisi duduknya dan menatap kearah Titi yang memancarkan wajah merahnya.
“APA!!!!!”