THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 25: Apa yang Kamu lakukan?



Jika Titi sedang kesulitan mencari Qariya. Maka Qariya saat ini, tengah tenang memeluk seseorang yang ia sendiri tidak menyadarinya.


Saat cahaya matahari sudah mulai masuk kedalam celah jendela. Dan seruan seseorang yang menyuruhnya untuk sarapan. Qariya pun membuka matanya dengan begitu lembut.


Bulu mata lentik itu masih menatap teduh, pandangannya saja belum terlalu jernih. Namun nafas asing yang menerpa kepalanya membuat Qariya dengan cepat menegadahkan pandanganya.


Tampak wajah pria tampan tengah terlelap dalam tidurnya. Dimana terlihat sekali hidung mancung, bulu mata, bibir tipis dan dagu yang menyentuh hidung Qariya.


Kesadarannya langsung kembali saat hidung itu tersentuh dengan kulit dingin seseorang. Qariya bergegas memundurkan tubuhnya.


“Ugh!”


Qariya terkejut mendapati tangan seseorang yang ada dipingangnya. Ia dengan cepat mendorong tubuh Pria yang tidak lain adalah Shya Vir.


Bruk!!!


“Agh!”


Qariya mendudukkan diri dengan selimut menutupi tubuhnya. Ia menatap kearah dimana Shya Vir terjatuh.


“Uh!..apa yang..”


Mata yang saling bertemu,memberikan tatapan dengan waktu yang lama, hingga Shya Vir bertanya, “Apa yang Kamu lakukan?”


Qariya sudah merah hingga keleher jenjangnya. Ia menutupi sebagian wajahnya dan menjawab, “Ke-kenapa dirimu, ti-tidur dengan, meme..”


“Pertama-tama, Aku tidak sadar dengan tindakkanku tadi malam. kedua, aku mengantuk hingga aku tertidur di kasur yang sama. lalu untuk memelukmu, maafkan dirimu karena aku juga tidak sudi memeluk dirimu”


Crek!


Shya Vir berbicara dengan cepat, dan kembali membaringkan diri dikasur, dimana Qariya masih duduk disisi yang lain dengan mata berkedip-kedip.


Qariya mencerna ucapan dari Shya Vir yang ada didepannya. Pria itu tampak tidak berbohong, namun entah kenapa rasa tidak nyaman menghantuinya.


Mungkin karena selama ini, ia tidak pernah dipeluk oleh orang lain, bahkan keluarganya pun tidak akan melakukan hal seperti itu kepadanya. Qariya tidak bisa memahaminya.


Tuk.Tuk..Tuk


“Nak Qariya, apakah dirimu sudah bangun, jika sudah sarapan ada didapur, Paman Ju dan Bibi Ray akan kesawah Nak, istirahatlah dirumah ini ya”


Langkah kaki terdengar menjauh dari ruangan mereka. Qariya diam memperhatikan Shya Vir yang menutup mata.


Dengan perlahan, Qariya turun dari kasur kayu, ia menatap dari celah jendela, terlihat matahari yang begitu terik sudah menampakkan diri.


“Hm, sebaiknya aku keluar dari sini..aku merasa tidak nyaman” Qariya bergegas keluar dari kamar meninggalkan Pria yang tidak ingin dilihat olehnya.


Krek!


Tiba di luar kamar, Qariya bernafas dengan hembusan yang sangat lega. Seakan-akan ia baru saja selamat dari pemburu yang mengejar dirinya.


“Aku tidak habis pikir, kenapa aku tidak bangun malam itu, kenapa aku tidak menyadarinya..aku, aku merasa degupan jantungku makin berdetak hebat”benak Qariya. untuk menenangkan pikirannya, Qariya melangkah menuju kedapur.


Setibanya disana, dengan cepat ia mencuci mukanya berulang kali hingga bak berisi air itu terkuras begitu banyak. Qariya berhenti saat mendapati air yang sudah tidak bisa lagi ditampung kedalam tangannya.


“Huh!...Aku tidak marah dan tidak kesal. Hanya kenapa aku merasa seperti dirugikan”guman Qariya.


Kruk!!!!


Tangan Qariya menyentuh perutnya, ia tidak tahu saat ini jam menunjukkan pukul berapa. Qariya memutuskan bangun dan melangkah menuju kedapur untuk melihat apa yang dimasak oleh Bi Ray.


“Bibi sudah memasak ini semua, dan tampak sekali kalau mereka belum sarapan”


“Apa Aku tidak perlu memakan ini, tetapi Bi Ray akan memarahiku jika tidak makannya, aku jadi bingung”


Qariya mengenggam tangannya menahan diri agar tidak bertindak diluar batasannya. Saat tangan terkepal itu, ia merasakan rasa sakit yang ada dijarinya.


“Kapan..jariku terluka?”guman Qariya. ia kembali menatap sarapan yang disajikan.


Perlu waktu yang lama bagi Qariya hingga ia memutuskan untuk mengisi perut yang berbunyi itu dengan sarapan yang sudah disajikan oleh orang tua yang menyelamatkannya.


-


Didalam kamar, Shya Vir membuka matanya. Mata merah yang menyala, seakan-akan ia diaktifkan dari mode tidurnya. Mata itu menatap kearah langit-langit dalam rumah.


“Aku benar-benar sudah gila”guman Shya Vir.


Malam hari...


Shya Vir membuka matanya ketika mencium aroma yang sangat segar. Aroma itu datang dengan sangat rendah. Seakan-akan aroma itu jauh dari Shya Vir.


Mata merahnya menyala. Ia dengan cepat duduk dan mengamati bau yang mulai menyengat di hidungnya.


Hosh! Hosh!


Nafas Shya Vir makin memuncak, ketika rasa lapar menghantuinya. Ia dengan kewarasan tersisa menatap kearah gadis yang tidur disamping kasur.


Kepala gadis itu tampak sekali memaksakan diri berbaring disana. Dan mata Shya Vir melihat luka kecil dijari gadis yang tertidur pulas itu.


Perlahan tangan Shya Vir mengenggam pergelangan tangan Gadis yang tidur didepannya. Ia mengangkat tangan itu lalu mengendusnya untuk memastikan apakah darah yang diciumnya sama dengan darah yang ada ditangan gadis yang menjengkelkan baginya.


“Ugh!”


Kewarasan hampir diambang batas. Aroma darah yang begitu enak, membasahi rongga mulut Shya Vir. Taring yang jarang digunakan olehnya, kini menampakkan diri dan siap untuk mengisap darah yang ada didepan mata.


Uh~


Shya Vir langsung memundurkan tubuhnya ketika melihat Gadis tertidur itu mengaruk pergelangan tangannya lalu kembali terlelap.


Kewarasan diambang batas terhentikan. Shya Vir menghela nafas untuk menenangkan dirinya.


“Shya Vir, ia manusia..dan anak manja ini adalah keturunan bangsawan sekaligus penerus seorang pemimpin yang kamu sendiri tidak boleh menganggunya”guman Shya Vir.


Dengan rasa bersalah Shya Vir mengendong Gadis itu untuk berbaring dikasur. Ia memberikan selimut yang dikenakan olehnya juga.


Setelah melakukan itu semua, Shya Vir bergegas menuju kejendela. Ia berencana untuk kabur, namun sayang kekuatannya belum sepenuhnya kembali. Ia masih mengalami cedera karena terjatuh dari jurang.


“Dasar gadis merepotkan”


Shya Vir berbaring dikasur yang tersisa untuknya. Dan ia pun melanjutkan tidurnya untuk memulihkan kekuatan yang sudah terkuras begitu banyak.


Memikirkan kejadian saat itu, Shya Vir memang tidak menyadari bahwa ia sudah memeluk Qariya. ia bahkan tidak menduga tidurnya sangat nyaman jika berada didekat Qariya.


Srekkk


Shya Vir mengacak-acak rambutnya, “Berpikirlah Shya Vir, ia manusia menjengkelkan..kamu harus cepat menjauh darinya”


Shya Vir bangun dari kasur yang menjadi rekaman hidup sialnya. Ia akan pergi dari sini dan tidak lagi bertemu dengan gadis manja. Karena entah kenapa ia tidak bisa membunuh Gadis manja itu.


Mata Shya Vir melirik kearah celah jendela. Dan dengan cepat rasa terbakar menembus nertanya.


AGHHHHH!!!!