THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 41:Keinginan Ayah



Kegiatan yang dijalani Qariya tidak berjalan lancar. Ia tidak memperhatikan bahkan diajak berbicara pun harus dipanggil oleh Titi. Dan karena hal ini,Titi bertanya-tanya kepadanya.


“Apa yang terjadi kepadamu?, tidak biasanya Kamu melamun disaat sedang bekerja?”


Pertanyaan Titi tidak dijawab oleh Qariya. ia hanya mengayunkan kakinya sesuai dengan gerakkan dari Titi yang kini mengemudi didepan.


Pikiran Qariya membungkam pendengaran dan mulutnya, hanya benak yang saling berbicara dibalik diamnya.


“Pengakuan?..kapan akan dilakukannya pengakuan itu?...aku sangat penasaran dengan hal ini”Benak Qariya. ia mengubah mimik wajahnya menjadi kesal pada Guar luh yang menganggu dirinya.


“Pria itu benar-benar”benak Qariya.


“Qariya!”


“Hm?”Qariya menatap kearah depannya, dimana Titi menatap tajam dirinya.


“Apa yang membuatmu bengong seperti ini Qariya, dan kamu mau sampai kapan mengayun sepeda?, kamu tahu ini putaran kedua yang telah kita lakukan”


Ucapan Titi membuat pandangan Qariya mengarah sekelilingnya. Ia melihat mereka sudah berada di halaman Mansion, dan sepeda mereka berada dihalaman.


“Astaga, Maafkan aku”ucap Qariya menghentikan ayunan kakinya. Dan setelah tindakkannya itu, akhirnya mereka berhenti dengan aman.


Qariya turun dengan perlahan dibantu oleh pelayan yang datang kepadanya. Setelah ia turun, Titi pun memberikan sepeda yang mereka pakai kepada Pelayan untuk disimpan.


“Ada apa denganmu?..setelah kepergian ‘Dia’, kamu malah seperti ini, bengong dan tidak berkonsentrasi”Titi menatap Qariya dengan pandangan khawatir. “Jika terjadi sesuatu, ceritalah”


Mata Qariya memandang wajah Titi yang benar-benar khawatir kepadanya, “Aku ingin mengatakannya, namun ragu dengan jawaban darimu Titi, maafkan aku”benak Qariya.


Qariya melebarkan senyuman hingga gigi putihnya tampak didepan Titi. “Hehehe, Tidak ada Titi. Aku hanya sedang memikirkan sikapku kepada ‘dia’, amarahku memuncak padanya”


Dia yang keduanya maksud hanya kepada Pria berambut abu-abu, Guar Luh. Titi mengangguk setelah mendengarkan ucapannya.


“Yasudah, mandilah!. Hari sudah sore”


Qariya mengangguk dan melangkah meninggalkan Titi yang mengerjakan hal lainnya.


Selama berjalan kekamarnya, Qariya masih tidak bisa melupakan ucapan dari Pria asing yang ia temui.


“Qariya!”


Rasa kesal didada membuat raut wajah Qariya berubah, ia bahkan tidak mendengar seseorang tengah memanggilnya. Hingga sesuatu dipundaknya, membuat kesadaran kembali.


“Siapa?”Qariya membalikkan tubuhnya dan memandang kebelakang dimana sang Ayah sedang menatap dengan wajah serius.


“Ada apa denganmu,Putriku?”tanya Tuan Qafiysa Hidkha.


Mendengar pertanyaan sang Ayah, Qariya mengubah mimik wajahnya dan menampilkan senyum lebar, “Ayah!”


Qariya membentangkan tangan dan mendekap sang Ayah, memeluknya begitu erat hingga usapan lembut terasa olehnya.


“Apa yang terjadi kepadamu, Putriku?”Sang Ayah bertanya kembali padanya.


“Tidak ada Ayah, Aku hanya merasa lelah sekarang”Qariya menjawab ucapan dari sang Ayah dengan pelukkan yang masih begitu erat.


Usapan lembut dikepala membuat Qariya menejamkan matanya untuk menikmati kasih sayang yang ia terima setelah dihukum oleh sang Ayah. Inilah yang membuat Qariya takut jika sang Ayah marah kepadanya, kasih sayang ini selalu membuat pikirannya tenang.


“Baiklah, jika dirimu kelelahan beristirahatlah. Dan malam ini, mari penuhi keinginan Ayah, apakah dirimu mau Qariya?”


Qariya melepaskan pelukannya, dan menatap sang Ayah yang menampilkan senyum manis di bibirnya.


“Ada apa Ayah?, Apa yang Ayah inginkan?”tanya Qariya. perasaan tidak enak muncul dibenaknya.


“Ayah ingin, Kamu makan malam bersama dengan Anak Teman Ayah”jawab Ayah Qariya dengan begitu tenang.


Mendengar itu membuat Qariya merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak menduga Ayahnya akan mengambil keputusan seperti ini.


“Kamu punya kekasih?, punya orang yang dicintai?, lalu dimana Ia, kenapa ia tidak berjumpa dengan Ayah?. Ayah tidak akan melakukan hal ini, jika kamu mendatangkan Pria yang kamu cintai itu”


Penjelasan Ayahnya membuat Qariya bungkam, tidak bisa berkata-kata. Ia tahu bahwa Ayahnya pernah meminta hal seperti ini, namun Ia tidak bisa memenuhinya.


“Tenang saja Putriku,Aku tidak akan memaksanmu menyukainya. Hanya temui dia walau sebentar”


Qariya tentu tidak akan bisa menolak jika Ayahnya sudah siap dengan keputusan. Apa lagi tidak ada Sang Ibu yang membantunya.


“Baiklah Ayah, Aku akan menemuinya. Namun apakah tidak masalah jika aku menolaknya Ayah?”


Anggukkan kecil tampak didepannya, Qariya tersenyum dan memeluk kembali sang Ayah sebelum pamit undur diri untuk beristirahat.


Tiba diwaktunya..


Qariya duduk di ujung kasurnya dengan gaun yang telah di kenakan bersama hiasan tipis diwajah.


Malam ini ia akan memenuhi keinginan Ayahnya, dan akan berusaha untuk menolak dengan baik dan mencari keberadaan Sepupu Shya Vir.


Tuk..Tuk..,


“Masuklah”Qariya menatap kearah Pintu yang terbuka, dimana Titi masuk dengan membawakan segelas susu untuknya.


“Aku tidak tahu kamu akan menyetujui keinginan Tuan Besar, Bukannya Kamu mencintai Pria Vampir itu?”


Pertanyaan Titi dengan nada berbisik,terdengar ditelinga Qariya. dengan tenang Qariya menjelaskan, “Sebenarnya aku tidak ingin menemuinya, namun Ayah meminta Vampir itu datang kesini, apa yang bisa ku lakukan Titi?”


Qariya menatap Titi yang diam tidak berbicara apa-apa hingga segelas susu itu habis diminum olehnya.


“Apa Kamu akan menemaniku Titi?”tanya Qariya, Titi dengan cepat menjawab pertanyaannya.


“Tentu, hanya Aku tidak bisa menemani mu makan bersama dengan Pria itu”


Qariya menghela nafas, ia mengangguk dan bangun dari duduknya. “Oke baiklah, mari berangkat”


-


Disebuah restorant mewah, dengan lampu-lampu disekitarnya. Qariya berdiri didepan pintu masuk. Ia menatap dengan tenang namun perasaannya tidak setenang tatapan mata.


“Oke mari kita hadapan ini”benak Qariya. langkah kaki masuk kedalam restorant dan menyapa pelayan. Ia dituntun menuju kesebuah ruang VIP yang memang khusus untuk orang-orang kaya. Ya, orang yang punya uang akan mendapat tempat istimewa.


“Masukkan Nona”Pelayan membukakan pintu dan memberikannya tempat untuk masuk kedalam. Qariya mengangguk mendengar ucapannya.


“Terimakasih”


Mata Qariya menatap sekeliling, melihat ruangan yang sangat tenang, meski ada instrumen yang menemani. Ruangan itu tidak berisik dengan suara itu, malah semakin menghangatkan ruangan.


“Anda sudah datang Nona!”


Qariya menatap kearah Pria yang memberikan sapaan lembut dengan sedikit hormat layaknya pangeran kepada sang Putri. Qariya mengangguk membalas sapaan dan hormatnya.


“Duduklah, Tidak sopan seorang Putri berdiri seperti ini”pria didepan Qariya penuh akan keramahan dan tutur lembut yang keluar dari mulutnya. Qariya mengangguk mendengarnya.


Setelah duduk dikursi yang sudah disediakan, Qariya menatap hidangan ringan yang sudah tersaji didepannya. Ada steak dengan Salsa Verde Sauce yang sangat cantik dimata Qariya.


“Mari nikmati hidangannya terlebih dahulu, bagaimana?”Pria didepannya mengangkat anggur untuk mempersilahkan Qariya menyantap makannya.


Mata Qariya melirik anggur yang tersaji digelasnya. “Maafkan Aku, jika anda tidak menyukainya. Aku akan menganti dengan minuman yang lainnya”


Qariya ingin menolak tawaran yang diberikan, namun sayang Pria didepannya sudah lebih dahulu memanggil Pelayan.


“Huh~, kapan ini selesai”Benak Qariya.