THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 27: Aku akan mengantarmu



Krek!!


“Ini, makanannya sangat enak, Bi Ray yang memasaknya”


Qariya duduk di samping Shya Vir yang masih bersandar di sandaran kasur kayu. Wajah Shya Vir pun tidak menoleh kearahnya. Namun Qariya dengan tenang mengatur makanan yang akan ia berikan kepada Shya Vir.


“Kapan kita disini?”tanya Shya Vir.


Qariya yang mendengarnya langsung menjawab. “Kemarin, disaat sore hari..ehm maaf karena diriku, kita terjatuh kedalam jurang dari tebing itu”Qariya menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah, karena apa yang telah diperbuat olehnya.


“Kamu tahu itu salah, kenapa kamu malah...”


Qariya menatap Shya Vir yang membuka matanya. Mata merah itu masih menyala. Bahkan membuat Qariya terpana. Hal inilah yang membuat Pria didepannya menjadi diam dan tidak menatap dirinya.


“Kenapa dengan matamu?”tanya Qariya dengan mengarahkan piring berisi makanan kepada Shya Vir.


“Tidak perlu bertanya”Shya Vir mengambil piring yang dibawa oleh Qariya. dan mulai menyantap makanan dari piring itu.


Qariya menatap kearah lain, ia merasa tidak nyaman. Karena pikirannya masih mengingat kejadian tadi pagi. Dengan gelengan Qariya berharap bisa melupakan hal seperti itu. jika ia mendapatkan cinta dari orang disampingnya ini, mungkin ia akan bahagia menerima hal seperti pagi tadi.


“Jam berapa sekarang?”tanya Shya Vir membuyarkan lamunan Qariya.


Qariya mengingat bahwa ia melihat sebuah jam di ruang tengah. Jam itu menunjukkan pukul satu siang.


“Ku rasa sudah jam dua siang”jawab Qariya tanpa memandang Shya Vir.


“Siapa mereka, yang dirimu panggil Bi Ray?”


Qariya kembali menjawab pertanyaan Shya Vir, “Bi Ray dan Paman Ju adalah orang yang menolong kita. Saat dirimu pingsan, aku mengendongmu dan berjalan hingga bertemu dengan mereka”


Qariya mengangkat kepalanya, dan menatap kearah Shya Vir yang meletakkan piring di dekat Qariya. Qariya mengambil piring itu, lalu berdiri dengan perlahan.


“Ehm...ada yang ingin ku tanyakan?”tanya Qariya, ia dengan hati-hati berbicara.


“Katakanlah”


Qariya merasa ragu untuk bertanya, namun jika dirinya tidak menanyakan apa yang diinginkan olehnya, bisa saja nanti malah membuatnya kepikiran.


“Itu, apa Ras Vampir mempunyai darah dan Jantung?”tanya Qariya dengan rasa was-was. Ia menjauhkan dirinya, siapa tahu Shya Vir tiba-tiba melesatkan tangan yang akan mencengkram lehernya.


“Kurasa dirimu sudah melihatku muntah, dan untuk jantung..aku tidak bisa menjawabnya, carilah jawabannya sendiri anak manja”


Jawaban jutek itu membuat kelegaan dalam nafas Qariya. ia mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Shya Vir.


Malam harinya...


“Aku ingin pergi dari sini”


Qariya menatap kearah Pria yang ada didepannya ini. Ia membalutkan perban untuk mengobati luka bakar yang ada diwajah Shya Vir. Meski luka bakar itu hanya berada dilingkaran mata kanan, tetap saja Qariya ingin mengobatinya hingga sembuh.


Untungnya luka bakar itu tidak sampai di seluruh wajah, jadi masih bisa di sembuhkan meski nanti memiliki bekas luka.


“Kenapa?..lukamu belum sembuh?”tanya Qariya yang telah selesai membalutkan perban. Ia menatap Shya Vir yang mengubah posisi duduknya menjadi berdiri.


Qariya menatap tangan yang terulur didepannya. Dengan jari telunjuk yang tepat didepan mata.


“Kamu tidak seharusnya berada disini, Aku yakin pengawalmu akan mencarimu sampai keseluruh dunia. Yeah aku yakin mungkin sampai para tentara dan polisi mencari dirimu bahkan televisi sekali pun”


Qariya diam, ia mengerti apa yang dikatakan oleh Pria didepannya ini. Dan bisa dibayangkan itu akan terjadi kepadanya.


“Kapan kita akan kembali?”tanya Qariya. Pria didepannya langsung menjawab “Malam ini lebih, tepatnya sekarang”


Setelah keputusan dibuat, Qariya menghampiri Bi Ray dan Paman Ju yang sedang menikmati waktu malam di teras.


Melihat kedatangan Qariya, tampak wajah Bi Ray bahagia. namun wajah bahagia itu berubah menjadi ketekejutan. Melihat Shya Vir yang melangkah mendekati Qariya.


“Bi dan Paman, terimakasih sudah mengijinkan kami tinggal disini. Maafkan kami, kami harus secepatnya kembali, karena takutnya orang tua kami menjadi khawatir”


Qariya berbicara dengan sangat tenang, ia bahkan menatap tidak percaya dengan mata Bi Ray dan Paman Ju yang tampak terpesona.


“Aku sudah mengatakan dirinya tampan, apa ia mempercayainya?”benak Qariya menahan diri untuk tidak melihat Shya Vir.


“Nak. Apa ini benar-benar suamimu?”tanya Bi Ray dengan menangkup wajah Qariya. mata Qariya membulat mendengar pertanyaan dari Bi Ray.


“Ah....”


“Nak ia sangat tampan, sungguh beruntung dirimu mendapatkannya. Kalian akan kembali malam ini?..jika kalian mencari jalan beraspal, kalian bisa lewat dari arah selatan anakku, disana kalian akan bertemu dengan mobil-mobil yang melintas”


Pelukkan didapat oleh Qariya, ia tidak berani menatap kearah Shya Vir, karena ia tahu Pria disampingnya ini pasti menatap tajam kepadanya.


“Nak...jagalah Istrimu, ia sangat khawatir melihatmu terluka dan pingsan, ia juga tidak menyadari tangannya terluka saat mengendongmu..tetapi Paman bangga kamu bisa mengorbankan dirimu demi orang yang kamu cintai.. semoga selalu bahagia dan kalian bisa saling bersama selamanya”


Serasa mendapatkan sebuah restu dan doa, Qariya menatap keaah rumah yang telah mengijinkannya tinggal disana. Langkah kaki pun dilakukan, karena sekarang ia akan kembali pulang ke Mansion.


Tidak terduga ada kenangan manis yang tidak bisa dilupakan oleh Qariya, ia berniat akan kembali kesini dan menyalurkan bantuan dari mansion ke desa Sun. Dan berharap desa ini berkembang dengan baik.


“Apa yang sudah kamu katakan kepada dua manusia tua tadi?”tanya Shya Vir yang berjalan dibelakang Qariya.


Mendengar pertanyaan itu, Qariya perlahan meneguk slivanya. “Ah..aku..aku tidak mengatakan apa-apa, mereka yang langsung menyimpulkan bahwa kamu adalah suamiku”


Tidak ada kalimat bantahan dari orang disampingnya, Qariya menatap kearah Shya Vir yang meringkuk memegang perutnya.


“Apa kamu lapar, aku membawa apel yang ku kupas malam itu, yeah untung tidak busuk, ini masih bisa dimakan”ucap Qariya menyerahkan apel yang sudah dikupas olehnya. Meski tampak tidak segar, pria didepannya itu memakan langsung dari tangan Qariya.


Qariya menatap kearah mata merah yang menyala. Ia memundurkan langkahnya ketika melihat Pria tampan didepannya bercahaya. Ada aroma lain yang membuat Qariya terteguh.


Cahaya merah yang tidak terlalu terang berada disekitar tubuh Shya Vir, lalu sepasang sayap yang terbentang begitu sangat indah. Qariya terteguh hingga kakinya lemas dan ia terduduk didepan Shya Vir.


“Ini..ini..”


Qariya tidak bisa menyelesaikan ucapannya, ia melihat Shya Vir mendekat dan mengulurkan tangannya.


“Aku akan mengantarmu”


Uluran tangan itu disambut oleh Qariya, ia merasakan sebuah tangan mengalung di pingangnya. Dan dalam hitungan detik Qariya sudah melesat terbang dengan udara dingin yang berhembus di wajahnya.