THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 50:Mata Emas



Mendapat guncangan dari Qariya, Titi mengenggam tangan Qariya dengan wajah serius. “Aku akan menceritakannya. Namun, Apa kamu sanggup mendengar semua yang ku sampaikan?”


Pertanyaan yang diberikan Titi, membuat wajah Qariya bingung. Hal apa yang akan membuatnya tidak sanggup mendengarkan cerita Titi.


“Katakan saja Titi, Apapun yang terjadi nanti. Akan ku tanggung semuanya.” Dengan teguh Qariya berucap didepan Titi.


Titi mengangguk. “Baiklah, Akan ku ceritakan semuanya.”


Qariya menatap dengan pandangan seriusnya. Ia bahkan memfokuskan pendengarnya hanya kepada Titi, agar tidak ada yang terlewat olehnya.


“Aku sudah mengatakan kepadamu tentang seorang anak laki-laki yang terlahir dengan mata emas dan darah Vampir. Dan keturunan dengan kekuatan itu, tidak selalu lahir dirahim para leluhur kita. Bisa dibilang ratusan tahun tidak ada lagi yang lahir dengan kemampuan itu.”


“Ibuku bercerita, bahwa Tuan Besar dan Nyonya Besar sangat menanti akan hal ini. Karena Vampir dan Serigala sudah kelewatan batas. Mereka mengunjungi Ras Manusia dan mengisap darah. bahkan mempermainkan Manusia yang dilakukan oleh Ras Serigala....”


“Hal ini lah yang membuat Tuan Besar dan Nyonya Besar menjadi geram, dan berharap bahwa kelahiranmu membawa mata Emas. Namun, takdir berkata sebaliknya. Mata emas tidak menurun kepadamu Qariya.”


Wajah Titi yang menjelaskan tentang Mata Emas membuat Qariya menjadi bingung. Ia memikirkan Mata Emas yang dilihatnya pada wajah Guar Luh.


“Mata Emas, apa itu?”benak Qariya.


“Qariya, kekuatan dari Mata Emas ini sangat luar biasa. Kamu bisa mengendalikan Ras Serigala dan Darahmu bisa memusnahkan Ras Vampir yang ada. bahkan dengan kedua hal itu, dunia tiga Ras ini akan hidup damai.” Jelas Titi dengan bernafas lega.


“Jadi begitulah Qariya, makanya Kamu sangat dijaga karena takutnya kamu memiliki dua hal itu.” lanjut Titi dengan menatap Qariya yang bengong ditempat.


“Qariya!, Ada apa denganmu?” tanya Titi dengan menepuk wajah Qariya.


Qariya bengong merasakan rasa panas ditubuhnya. Ada sesuatu yang akan membuat tubuhnya meledak. Bukan hanya merasa panas, ia juga merasa didalam hatinya bergetar dengan hebat.


“Qariya!!!” ucap Titi dengan nada yang begitu kuat hingga mengembalikan kesadaran Qariya.


“Uh-, ada apa?” Qariya bertanya sambil menatap kearah Titi yang memandang dirinya.


“Lebih baik kita kembali Qariya, Ayo!” ajak Titi dengan menarik tangan Qariya. Qariya terkejut mendapati Titi menariknya dengan begitu serius.


“Ah Titi, tunggu-,” ucapan Qariya terhenti ketika tubuh yang terasa panas itu mulai menguap dengan cepat ia berhenti melangkah dan menatap kearah Titi yang terkejut didepannya.


Bahkan suara Titi tidak lagi terdengar oleh Qariya. karena, rasa panas ditubuhnya sangat luar biasa.


“Kamu sadar!”


Qariya menutup matanya, ia menajamkan pendengarannya. Suara seseorang berbicara seakan-akan berada disekitar dirinya.


“Kamu tahu!”


Lagi, Suara yang sama berbisik ditelinga Qariya. ia mundur dari tempat ia berdiri.


“Dengar! Wahai keturunanku, penerusku. Ku berikan kepadamu apa yang memang sudah seharusnya kamu dapatkan.”


“Gunakan hal ini dengan sebaiknya. Layaknya manusia yang menghargai dunia.”


“Jangan kamu mengunakan ini sebagai sesuatu untuk dirimu sendiri. jangan serakah dan jangan egosi.”


Mendengar suara yang berbisik namun sangat kuat ditelinga, Qariya menutup kedua telinganya dan memejamkan mata untuk menghindari semua suara yang didengar olehnya.


Titi yang melihat Nona mudanya bertingkah aneh bergegas untuk mendekat. Namun entah kenapa saat mendekat, tubuhnya terpental menjauh dari Qariya.


AAHHHHHHHH!!!!!


-


Shya Vir membelakkan matanya, mendengar teriakkan yang begitu kuat. Suara kesakitan bersamaan dengan rasa kesedihan.


Dan yang paling membuatnya terkejut, rasa sakit didadanya. Rasa sakit itu bagai sebuah tombak yang langsung mengenai hati terdalamnya.


“Apa yang terjadi?” guman Shya Vir. Ia mengingat Qariya yang tersenyum bersamaan dengan perang yang menghancurkan segalanya.


Shya Vir tidak bisa hanya duduk diam, ia bangun dari tempat duduknya dan mendekati pintu kamar.


“Bagaimana caraku menghancurkan segel yang Ayah buat?, Apa yang harus ku lakukan, tidak mungkin aku hanya berdiam disini.”


Shya Vir mengangkat tangan kirinya dan mengeluarkan cahaya hitam dari kekuatan yang ia miliki. Kekuatan sebesar bola kasti mengarah kepintu. Namun, segel sang Ayah sangat kuat hingga kekuatan Shya Vir padam sebelum mengenai pintu.


“Inilah dia, Kekuatan yang benar-benar lemah. Apa yang bisa ku lakukan untuk keluar dari sini?” benak Shya Vir.


Menatap dan terus berpikir, tidak ada satu pun yang bisa menjadi jawaban untuknya. Ia bahkan harus duduk di kasur untuk memikirkan kembali cara agar bisa keluar dari kamarnya.


Kilat cahaya entah dari apa, memantul mengenai matanya. Shya Vir menatap benda tajam yang berada disamping buah Apel. Melihat buah itu, Shya Vir mengingat tentang sepotong apel yang ia makan dari suapan Qariya. ada darah Qariya disana yang membuat lukanya pulih bahkan kekuatannya.


“Qariya!” tanpa sadar mulut Shya Vir berguman. Rasa khawatir didalam dirinya memuncak hingga tanpa sadar benda tajam sudah mengiris telapak tangannya.


Darah menetes mengenai marmer yang langsung membuat cahaya merah meluas didepan mata. Shya Vir yang melihatnya terkejut, rasa sakit dari irisan tangan baru terasa oleh dirinya.


Swuush!


Cahaya merah yang meluas hingga melepaskan segel Ayahnya. Bahkan pintu yang tertutup rapat itu, terbuka lebar hingga angin menerpa wajah Shya Vir.


“Ini?” Shya Vir tidak ingin tengelam dalam pikirannya. Ia langsung mengubah dirinya menjadi gumpalan asap dan keluar dari kamar menuju ke tempat yang disuruh oleh hatinya. Kata hati yang tidak bisa ia tolak, bahkan tidak bisa membuatnya melesatkan pikiran lain, selain mengikuti keinginan hati.


Bruk!


Shya Vir mengubah wujudnya, ia menatap kearah peperangan yang benar-benar terjadi. Ini semua diluar dugaannya, sangat diluar dugaan. Tidak terpikir akan ada perang hingga banyak yang terluka. Dan lebih parahnya lagi, Drone berisi air suci.


Dengan cepat Shya Vir melesatkan kekuatannya untuk menghancurkan beberapa Drone yang ingin menyerang Rasnya.


“Mereka mengerikan.” Guman Shya Vir. Matanya menatap kearah cahaya yang sangat terang benerang. Dan semakin menatap, ia melihat dengan jelas siapa yang ada dibalik cahaya itu.


“Qariya!!!” Teriak Shya Vir. Hatinya sakit melihat gadis manja yang diselimuti cahaya putih. Ia ingin mendekat namun kekuatannya menurun seakan-akan tidak ada yang diizinkan untuk mendekati.


“Apa ini?” Shya Vir berguman ketika melihat, seorang gadis dengan Mata Emas memandang teduh tepat kearahnya.


-


“Yang Mulia, Sang Pewaris Mata Emas. Ia telah dilahirkan.”


Senyum cerah dengan mata emas pudar menatap kearah ajudan yang memberikan berita besar kepadanya.


“Baiklah, Aku akan menangkapnya.” Ucap Guar Luh yang duduk di singasananya.