
Mata Qariya menatap dengan begitu tajam, ia melihat sudah ada beberapa pengawal yang berlalu-lalang mencari dirinya.
“Titi..kamu memang luar biasa”benak Qariya.
Langkah kaki Qariya begitu berat, ia harus menampung berat dari orang yang ditolong olehnya. Meski dirinya merasa kewalahan, Ia tetap bahagia karena bisa bertemu bahkan sekarang menolong orang yang dicintainya.
Mereka melangkah menyusuri jalan, dengan begitu hati-hati dan perlahan.
“Aku tidak tahu membawa dirinya kemana?”benak Qariya, menatap kekanan dan kekiri, Qariya bingung melihat tempat yang ada didepannya.
Ia tidak terlalu hapal akan denah kota. Apa lagi ia sudah berjalan begitu jauh dari biasanya. Didepan mata Qariya hanya terlihat jalan luas dengan pepohonan.
Sepertinya mereka telah di perbatasaan kota, entah kota bagian mana yang akan dikunjungi Qariya.
Kaki terus berjalan di hujan yang semakin deras, Qariya akhirnya memutuskan untuk berhenti. Ada sebuah tempat duduk pemberhentian bus. Tempat itu begitu curam karena bagian belakang spanduk yang di pasang. Ada jurang dengan kedalaman yang tiba dibisa ditentukan oleh Qariya.
“Lebih baik kita lanjutkan saja lagi perjalanannya”usul Qariya setelah melihat tebing yang ada jurangnya. Bayangan menakutkan muncul didalam pikiran Qariya.
Qariya ingin melanjutkan langkahnya. Namun, Shya Vir yang ada di sampingnya langsung bergegas mendekati tempat duduk.
“Tunggu!...ada jurang dibelakang..”belum selesai Qariya berbicara. Ia melihat Shya Vir memuntahkan darah segar layaknya manusia.
“Darah?...ia memiliki darah?”benak Qariya.
..mungkin ada benarnya mereka tidak punya jantung, karena mereka seperti mayat hidup. tidak ada darah, bau dan juga perasaan.
Ucapan Titi terbayang didalam pikiran Qariya. Ia terdiam ditempat, menatap Shya Vir yang muntah darah begitu banyak.
“Sial!”ucap Shya Vir
Mendengar umpatan dari mulut Shya Vir, kesadaran Qariya kembali. Qariya dengan cepat mendekat dan mencoba menolong pria yang sulit mengubah posisinya.
“Menyinggirlah!”
Qariya merasa muak dengan apa yang diucapkan oleh Shya Vir. Didalam pikirannya, bagaimana bisa pria didepannya ini begitu teguh pada pendiriannya. Padahal meminta tolong bukanlah hal buruk. Apa lagi orang yang menolong juga karena keinginan orang itu, kenapa tidak menerimanya.
Qariya tidak memperdulikan ucapan dari Shya Vir. Ia menuntun posisi ternyaman agar Shya Vir bisa beristirahat.
Terasa sekali oleh Qariya, ia seperti menjaga seorang anak kecil yang cerewet. Tidak ingin disentuh, tidak ingin ditolong. Sungguh sangat-sangat cerewet. Meski begitu, Qariya tidak marah atau mengeluh.
Hujan turun begitu deras. Saking derasnya, melihat dari kejauhan tidak ada yang bisa dilihat. Hujan begitu menutupi apa yang ada didepan mata.
Qariya duduk perlahan, bahunya begitu berat dan bahkan mulai terasa sakit.
“Aku tidak percaya, Pria ini begitu berat?...ku pikir Vampir tidak memiliki berat badan?”benak Qariya. Matanya diam-diam melirik kearah Pria yang duduk dengan menutup mata.
“Apa Pria ini bertambah putih?...dia sudah pucat tapi terlihat semakin pucat”benak Qariya.
“kenapa?”
Qariya memalingkan wajahnya, ia merasa bahwa dirinya sudah terciduk karena melihat Pria tampan disampingnya.
“uh....Kenapa kamu memandangku?”
Qariya yang mendengar pertanyaan itu tersenyum, “karena kamu tampan, apa salahnya aku memandangmu”jawab Qariya dengan senyumnya.
Pria bernama Shya Vir itu hanya mendengus dan menatap kearah lain.
“Apa keinginanmu?”
Alis Qariya berkedut mendengar apa yang ditanyakan oleh Shya Vir kepadanya.
“Katakan apa yang kamu inginkan, dan setelah itu menjauhlah dari hidupku”
Qariya tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Shya Vir. Wajah bingungnya tampak terlihat dengan jelas.
Ugh!!
Cengkraman tangan mengerat dileher Qariya. Ia terkejut karena orang disampingnya begitu mendadak melakukan hal seperti ini kepadanya.
“Aku mengatakan kepadamu, apa tujuanmu..jika ada sesuatu yang ingin dikatakan, katakan saja secepatnya”
Mata merah menyala menatap Qariya dengan penuh akan kemarahan. Qariya merasa bahwa Pria didepannnya ini sedang menjaga diri agar tidak ada yang menyakitinya.
Awal mereka bertemu,Pria didepannya sedang terluka. Besar kemungkinan Pria ini merasakan kekalahannya hingga meluapkan emosi kepada Qariya.
Cengkraman itu mengendur dengan perlahan dan Qariya bisa kembali bernafas.
“Sial, Aku harus pergi”
Sulit bagi Qariya mengatur kembali pernafasannya. Ia bahkan sulit untuk bangun karena Shya Vir mencekik dirinya.
Melihat bahwa orang yang baru saja membuatnya susah bernafas memilih untuk melangkah pergi. Qariya mengenggam kaki Shya Vir.
“Uhuk!!..tu-tunggu!”
Qariya mengatur nafasnya berkal-kali. Merasa bahwa orang yang di genggamnya tidak pergi, Qariya menatap kearah Shya Vir yang tidak memandangnya.
“Aku memang ada keperluan denganmu...”Qariya berdiri dengan perlahan, melepaskan genggamannya dari kaki. Menatap kearah Pria tampan yang kini membalikkan tubuh dengan pandangan tajam kearahnya.
“Katakan!”
Helaan nafas Qariya berhembus dengan lembut, ia menenangkan dirinya.
“Aku menyukaimu”
Hening...
Hujan deras dengan suara yang begitu kuat, kini tidak terdengar lagi ditelinga. Hanya keheningan yang menjadi suasana diantara mereka.
Prttttt
“HAHAHAHA”
Qariya terteguh melihat Shya Vir yang tertawa didepannya. Wajah bahagianya berubah menjadi wajah kebingungan.
“Apa yang terjadi kepadamu?”
“Kamu!...kamu menyukaiku...hahahahaha”
Qariya mengerutkan alisnya. Ia mendekat perlahan dan mencengkram baju Shya Vir.
“Kamu!..kenapa Kamu tertawa, apa itu lucu?”Qariya tidak menduga hatinya sakit. Tidak, ini seperti sebuah perasaan yang tidak dimengerti oleh Qariya. Ia tidak senang jika cintanya dianggap mainan.
“Itu tidak lucu”
Qariya diam, tangannya masih mencengkram baju Shya Vir.
“Kamu tahu..diriku adalah ras vampir..jadi singgirkan perasaanmu kepadaku”
“Kenapa?...bukannya cinta itu harus diperjuangkan. Aku yakin aku bisa menghadapi segalanya”lupa, Qariya melupakan tujuannya. Didalam kolam cinta yang begitu indah, Qariya sudah menyelam terlalu jauh hingga ia tidak mau menerima kata penolakkan.
“Kamu ras Manusia, sejarah 3 ras mengatakan. Tidak ada pernikahan, tidak ada cinta selain dari ras mu sendiri. yang berarti Kamu tidak bisa menyukaiku karena Aku bukan dari ras manusia. Aku dari Ras Vampir”
Mendengar jelasan dari Shya Vir, cengkraman Qariya mengendur. Ia memundurkan langkahnya.
“Ba-bagaimana bisa?, bagaimana bisa..apa yang?, tidak mungkin”Benak Qariya. Pikirannya mengingat buku tebal yang dijelaskan oleh Ayahnya.
Langkah menundur tidak beraturan dilakukan oleh Qariya. Ia masih tidak menduga ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ras ini.
“Bagaimana ini!”Qariya menundur dengan perlahan,ia menatap kearah Shya Vir yang mendekat kepadanya. Wajah panik yang pucat itu tampak didepan mata.
“Kenapa denganmu?”benak Qariya.
Tak lama, bayangan melayang muncul dimatanya. Ia melihat awan yang begitu putih dengan hujan yang menerpa wajahnya. Apa lagi melihat Pria pucat mengejarnya.
“Apa yang terjadi?”