
Titi diam tidak bisa bergerak sedikit pun, ia merasa menoleh saja bisa membunuhnya. Jadi, Titi berdiam diri disamping sang Ayah dan Ibunya.
“Titi, Apa yang disampaikan Putriku, hingga kamu tidak bisa menolaknya?” Tanya Tuan Qafiysa Hidkha.
Titi menarik nafasnya dengan susah payah, ia bahkan tidak bisa menghembuskan nafasnya dengan tenang. “Tuan Besar, Nona Muda tidak menyampaikan sesuatu hingga Titi tidak bisa menolaknya. Namun, Nona Muda memang berniat untuk pergi demi, demi...”
“Titi, Aku tidak akan marah kepadamu. Katakan saja, dimana Qariya dan apa tujuan dari kepergiannya ini?”
Titi mengingat saat perginya Qariya, pengawal datang dengan membawakan buah Redberry yang diminta. Setengah jam adalah waktu yang bisa Titi tahan untuk para pengawal agar tidak mencurigai kepergian Qariya. dan diwaktu itu juga ia harus siap menerima apa yang akan terjadi nanti. Tetapi, Ia tidak berani menyembunyikan sesuatu dari Tuan Besar didepannya.
“Nona Muda, Ia pergi mengunjungi Seorang Pria yang dicintainya. Pria itu bernama Shya Vir.” Titi menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat hal yang lebih mengerikan lagi.
Bam!!!
“Suamiku, Apa Qariya pergi kesana?” Tanya Nyonya Besar yang membuat Titi kaget mendengarnya.
“Tidak salah lagi, Qariya jatuh cinta kepada Ras Vampir.” Ucap Tuan Qafiysa Hidkha.
Titi terkejut melihat reaksi dari dua orang didepannya. Kedudukkan mereka yang tinggi tidak bisa diganggu gugat. Ia tidak menyangka semudah itu Kedua orang tua Qariya mengambil keputusan.
“Apa yang harus kita lakukan?, mereka akan membunuh Qariya. tidak, Aku tidak bisa membiarkannya. Jika Sedikit saja putriku tersentuh oleh mereka, Aku akan menghabisi seluruh keturunan Vampir bahkan penerusnya.”
Titi makin tidak bisa menutup matanya, melihat Nyonya Besar yang mengambil benda tajam dengan pandangan penuh akan kebencian. “Sebenarnya, Apa yang terjadi?”benak Titi.
“Indra, bawakan semua drone yang telah siap.” Perintah Tuan Qafiysa Hidkha dengan wajah serius.
Indra yang merupakah Ayah dari Titi, bergegas mendekat. “Tuan Besar, Drone itu sangatlah kuat. Ia bisa saja membunuh kita juga.”
Tuan Besar menatap kepada Ayah Titi yang tampak cemas. “Tidak perlu ragu, siapkan Drone itu, Aku akan mengisi semua Drone dengan air suci. Hingga tidak ada Ras Vampir yang tersisa dijaman ini.”
Keseriusan dari Tuan Besar membuat Ayah Titi mengangguk dan mengerjakan tugasnya. Titi menjadi penasaran dengan apa yang didengar olehnya.
“Ibu, Air Suci..., apa maksudnya itu?” Titi berbisik disamping sang Ibu yang memandangnya.
“Putriku dengar, kamu harus menjaga dirimu. Kita akan menolong Nona Muda, bagaimanapun penerus mata emas ada pada Nona Muda. Jika dirinya tidak ada, maka seluruh dunia akan ditelan oleh kegelapan.”
Titi mengerutkan alisnya, ia tercenga mendengar apa yang Ibunya katakan. “Mata emas, Qariya?” guman Titi.
-
Shya Vir memandang kearah pintu kamarnya. Ia melihat bayangan seseorang berhenti tepat didepan pintu.
“Sepupuku, Apa kamu akan terus bersembunyi?”
Mendengar pertanyaan dari Sepupu 1 yang sangat dikenali olehnya, Shya Vir memilih diam tidak menjawab.
“Kekeke..., Aku tidak masalah jika kamu mencueki diriku. Namun, ada yang ingin ku katakan. Jika kamu masih tidak perduli ya tidak masalah, Aku tidak perlu mengatakan kepadamu yang dilarang keluar. Sedangkan, seseorang sedang mencarimu.”
Dibalik pintu, ada suara terkekeh yang membuat wajah serius Shya Vir menjadi datar.
“Apa kamu sangat penasaran hingga begitu serius membahasnya. Ah sudahlah, Aku akan mengatakannya kepada Sepupu yang sudah menjadi sampah dalam keluarga kita.”
Shya Vir mengepalkan tangannya, ia tidak menduga mendapatkan panggilan baru yang memang fakta dalam dirinya. Seorang penerus Raja merupakan seorang sampah yang gagal mendapatkan pengakuan, bahkan diusia yang tidak bisa dibilang muda lagi.
“Jangan meratapi nasibmu, bagaimana kalau kamu berpikir untuk keluar dari kamarmu sendiri. sihir didalam dirimu itu lemah, tidak akan bisa menghancurkan segel Ayahmu sendiri. oke kita keintinya, Aku ingin menyampaikan bahwa Kekasihmu telah tiba... ”
“Aku yakin kamu pasti berpikir sekarang, siapa dia?, kenapa bisa disini?, hm Aku akan membantumu mendapatkan jawabannya. Pertama, nama gadis itu adalah Qariya. iya, kalau tidak salah namanya Qariya. lalu, Dia memiliki paras cantik dengan mata hitam yang melirik manis, ah- ditambah keindahan dari senyumnya.”
Shya Vir diam mendengarkan ucapan dari Sepupunya, wajahnya yang datar kembali gelisah ketika mendengar nama gadis yang ia kenali. “Kenapa kamu datang ke sini.”benak Shya Vir.
“Gadis itu beruntung Shya Vir, ia tidak dibunuh oleh Ayahku bahkan Ayahmu. Namun, dirinya harus dikurung dalam penjara bawah tanah. Dan tidak akan bisa dibebaskan...,”
Alis Shya Vir berkedut, ia menatap pintu yang menjadi penghalang untuknya. “Apa tujuanmu?, Aku tahu kamulah yang membuat dirinya datang kemari. Kamu sendiri tahu, tidak ada izin bagai Manusia untuk menginjakkan kaki mereka. Apa rencanamu?” Tanya Shya Vir, sudah tidak tahan dirinya mendengar omong kosong yang diucapkan oleh Sepupu 1.
“Hahaha, Benar Shya Vir. Ucapanmu tepat sekali, Akulah yang membuat Gadis itu datang. Lagipula, Aku penasaran denganmu. Saat festival lampion malam itu.”
Shya Vir terkejut dengan apa yang didengar olehnya. “Apa kamu menguntit diriku?” Tanya Shya Vir.
“Tidak Sepupu, lebih tepatnya Aku memang berniat untuk datang mengikutimu. Dari awal aku ikut bersamamu hingga kamu meninggalkan Gadis manja itu. benar bukan, panggilannya Gadis Manja?”
Shya Vir menyentuh pintunya dengan wajah yang sudah memanas. Ia tidak menduga dalang dari datangnya Qariya karena Sepupunya sendiri.
“Apa yang kamu lakukan?, Kamu tahu akan terjadi peperangan jika seperti ini. Apa kamu ingin Ras Vampir musnah?” Shya Vir menaikkan suaranya untuk bertanya kepada Pria yang ada diseberang pintu kamarnya.
“Keke, Shya Vir. Aku melakukan ini bukan untuk memusnahkan Ras Vampir. Tapi, memusnahkan dirimu!. Keluarlah dan cari gadis itu, selamatkan ia sebelum peperangan dimulai. Karena bagaimanapun, perang adalah solusi dari setiap Ras yang ada.”
Tap..Tap..
Shya Vir mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarnya. Ia menatap kekanan dan kekiri, seakan-akan mencari jawaban untuk dirinya sendiri.
“Bagaimana ini, Kenapa malah seperti ini.” Shya Vir berguman dengan perasaan khawatir. Ia membayangkan wajah Qariya yang senyumnya memudar bersamaan dengan perang yang tidak bisa ia hindari.
Dengan cepat Shya Vir menutup matanya. “Ayah, Apa yang Ayah lakukan?” batin Shya Vir berucap untuk berbicara kepada Ayahnya.
“Tidurlah Shya Vir, ingat pesanku. Jangan keluar jika kamu mendengar sesuatu yang mengejutkanmu!” Batin sang Ayah bagai sebuah perintah, entah bagaimana tubuh Shya Vir membeku ditempat.
“Ini, Bagaimana bisa begini.” Benak Shya Vir.
BOOM!!!!
“Gadis manja!”