
Didalam mobil, Qariya menatap kearah indahnya kota. Malam yang indah ini sangat cantik dimatanya. Ia melihat semua itu tanpa berkedip.
“Berkediplah Qariya, matamu bisa sakit”ujar Titi yang fokus menatap ponsel pintarnya.
Qariya yang mendengar ucapan Titi barusan, langsung mengedipkan mata. Dan perlahan pandangannya mengarah pada orang disampingnya.
“Apa yang Kamu lakukan Titi?”tanya Qariya dengan mengintip apa yang dikerjakan oleh Titi.
“Jadwalmu untuk esok hari”
Jawaban Titi sangat singkat, bahkan ia menjawab tidak dengan memandang Qariya. membuat Qariya berwajah cemberut dan menatap kearah lainnya.
Ia memandang kawasan taman yang tidak lama lagi akan tiba di Mansionnya. “Sangat melelahkan”benak Qariya dengan memikirkan pesta yang dijalaninya.
Tiba di Mansion, Qariya bergegas menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Namun....
“Tunggu Qariya”
Qariya menghentikan langkahnya setelah mendengar panggilan dari Titi. Ia menatap Titi yang berdiri didepannya.
“Aku ingin bertanya sesuatu”
Qariya menatap Titi yang tampak ragu akan ucapannya sendiri. “Katakan saja Titi, apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Aku mengingat ucapanmu tentang masalah Ras, apa kamu tidak penasaran apa janji para ras itu?”
Titi yang bertanya kepadanya tentang hal yang hampir ia lupakan. Tangan Qariya dengan cepat menyeret Titi menuju keruang perpustakaan.
Bam!!!
“Jadi, apa yang kamu tahu tentang janji para 3 Ras itu?”Qariya antusias bertanya. Karena bagaimana pun ia sangat penasaran kenapa Shya Vir menolak cintanya.
“Sebenarnya asalan pasti aku tidak tahu, hanya yang ku ingat. Para Ras memang tidak diijinkan jatuh hati kepada Ras selain Ras mereka. lalu ada alasan utama yang aku tidak tahu apa, hanya Tuan Besar yang tahu”
Qariya diam mendengarkan penjelasan Titi. Ia menatap Titi yang menatap dirinya juga. Ada rasa curgia yang muncul di perasaan Qariya.
“Aku ingin bertanya Titi”Qariya menatap Titi yang mengangguk setelah mendengar ucapannya. ia pun bertanya, “Apa yang membuatmu menjelaskan semuanya kepadaku disaat ini?..ah maksudku, bukankah masih ada waktu untuk menjelaskannya, seperti esok hari?”
Qariya menatap Titi yang tampak resah. Ia bahkan melihat tangan yang terkepal itu tidak tenang sama sekali. Seakan-akan Ia sedang ragu akan sesuatu.
“Titi, Katakan....”
“Ah, Qariya..ini sudah jam tidur..aku akan kembali kekamar, dan kamu juga. Esok ada jadwal yang harus kamu hadapi”
Tap..Tap..Tap
Qariya menatap Titi yang melangkah pergi darinya. Ia mengerutkan alis dengan ucapan yang belum selesai ia lontarkan.
“Apa yang sebenarnya terjadi kepada Titi?”benak Qariya.
-
Pagi hari menyambut,
Kegiatan diawali seperti biasa. Bangun pagi, mandi dan bersiap. Lalu sarapan bersama. Namun ada yang berbeda dengan hari ini.
Titi yang jarang ceroboh dengan tugasnya, kini melakukan semua tugas dengan begitu berantakkan. Air mandi yang disiapkan terasa dingin. Lalu pakaian Qariya tidak ia siapkan. Dan terakhir, Titi melamun di meja makan.
“Titi”
“Titi”
“Titi!!!”
Qariya harus menguncang tubuh Titi hingga sang pemilik nama Titi itu merespon dirinya.
“Ah, Iya..Ada apa?”
Wajah Titi tampak sekali kebingungan, membuat Qariya jadi khawatir.
“Titi, apa kamu sakit?”tanya Qariya. dan jawaban dari orang disampingnya hanya sebuah gelengan.
“Benar Titi, kamu pasti kecapean karena kemarin kamu juga menemani Qariya kepesta. Jadi istirahatlah”Nyonya Raiya Hidkha ikut memberikan rasa khawatirnya.
Qariya pun mengangguk dengan keputusan dari Orang tuanya. “Benar Titi, Istirahatlah”
Dari pagi hingga menjelang sore hari, Qariya melewati semua jadwalnya bersama dengan Kepala Pelayan.
“Nona Muda, sudah saatnya anda beristirahat..ini sudah jam 5 sore, sebaiknya anda membersihkan diri”ucap Kepala Pelayan dengan menuntun Kuda ‘sa’ kekandangnya.
Qariya mengangguk dan melangkah menuju kekamarnya. Ia sangat lelah menjalani semua jadwalnya. Dan satu hal yang membuatnya bosan adalah ketidak hadiran orang yang sering muncul dibalik kegelapan.
Qariya merasa makin hari ia tidak bisa menahan rindu kepada Pria yang dicintainya. Apa lagi mengetahui bahwa Ia telah membuat Pria lain jatuh hati. Ia ingin sekali Shya Vir yang mencintainya bukan Pria lain.
“Membosankan”guman Qariya.
“Qariya!!”
Qariya membalikkan tubuhnya dan menatap Titi yang berkeringat karena berlari.
“Ada apa Titi, Kamu masih sakit, seharusnya memperbanyak Istirahat”ucap Qariya dengan menuntun Titi menuju kekamarnya.
Titi yang didorong olehnya langsung berhenti, dan membalikkan tubuh dengan cepat. “Ah..sebenarnya aku tidak sakit..aku hanya sedang pusing saja, dan aku sekarang tidak apa-apa”
Qariya mendengar perkataan Titi menatap dengan teliti. Ia tahu bahwa Titi selalu menyembunyikan hal yang menjadi kesedihannya. Bisa dibilang Titi tidak pernah berbagi keluh kesahnya.
“Jadi, apa yang membuatmu berteriak didalam Mansion?”tanya Qariya setelah memastikan Titi benar-benar sehat.
“Ayo! malam ini bersiap”
Mata Qariya kembali meneliti. Ia merasa hari ini Titi benar-benar sedikit berbeda. Seakan-akan ia telah menemukan sesuatu namun ragu mengatakannya.
“Titi, Aku bingung denganmu hari ini. Pagi hari kamu ceroboh akan semua kegiatanmu dan tugasmu. Lalu sekarang kamu membawaku bersiap?..apa maksudnya itu?”tanya Qariya.
Dilihatnya Titi memerah setelah mendengar ucapannya. dan hal ini lagi-lagi membuat Qariya terkejut dalam diam akan ekspresi Titi.
“Kamu akan tahu, Ayo bersiap malam ini dan akan ku jawab semua petanyaanmu”
Seharusnya Titilah yang didorong oleh Qariya, namun sekarang Titi yang mendorongnya menuju kekamar dan bersiap seperti apa yang ia katakan.
Qariya hanya menurut dengan tindakkan Titi, apa lagi semua ini sangat dadakkan baginya. Ia merasa Titi berbeda dari hari sebelumnya.
“Apa Titi terkena sihir?”benak Qariya.
“Oh, Qariya sudah bersiap?”
Sang Ibu masuk kedalam kamar, dan duduk ditepi kasur Qariya. Qariya memandangnya dengan tenang seperti pandangan Ibunya.
“Bagaimana Titi, Hasilnya memuaskan?”tanya Ibunya kepada Titi yang sedang merias rambut Qariya.
Qariya lagi-lagi harus merasakan rasa aneh, Sebelumnya Titi yang membuatnya seperti ini, sekarang sang Ibu yang muncul tiba-tiba dan mengatakan tentang sesuatu.
“Ibu, Ada apa ini?”rasa Penasaran Qariya sudah diambang batas. Ia tidak ingin tertinggal akan sesuatu yang begitu rahasia ini.
“Qariya, Ayah mengatakan bahwa Kamu telah dibebaskan dari hukumanmu”
Qariya memandang sang Ayah yang masuk kedalam kamarnya, ia dengan teliti mendengar apa yang baru saja Ayahnya katakan kepada dirinya.
“Benar Sayang, hari ini Ayah dan Ibu memberimu sebuah tantangan. Menghadapi jadwalmu tanpa Titi dan menjalankan semuanya tanpa mengeluh”ujar sang Ibu.
Qariya tercenga mendengarnya, ia mengingat kejadian tadi pagi yang benar-benar kacau dari apa yang diharapkan dan jadwal yang sangat padat. Semua yang terjadi itu karena menguji dirinya?.
“Hari ini ada Festival Lampion yang diadakan dua kali dalam satu tahun. Pergilah bersama Titi disana dan ingat jangan pergi lagi”
Qariya tersenyum dengan bahagia mendengar ucapan Ayahnya. Ia bebas dari hukuman, lalu ia juga mendapatkan kejutan yang sangat dadakkan ini. Rasa bahagia meledak didalam tubuhnya, dengan cepat pula ia memeluk kedua orang tuanya.
“Terimakasih Ayah..Ibu”
“Sama-sama Sayang”