
Pov: Titi*
“Tesha Ikha Tushti Indria, maukah dirimu menjaga Putriku Qaila Rihya Yamni, dirimu bisa memanggil dirinya Qariya”ucap Tuan Qafiysa Hidkha kepada seorang wanita yang berusia 10 tahun.
Titi yang mendengar ucapan dari orang yang berkedudukkan besar, langsung memberikan hormatnya. “Tentu saja Titi bisa menjaga Nona Muda, Tuan Besar”ucapnya dengan begitu percaya diri.
Ayah dan Ibunya merupakan orang yang bekerja begitu dekat dengan Tuan Qafiysa Hidkha, jadi untuk mengikuti jejak Ayahnya. Titi siap menerima kesempatan apapun yang diberikan kepadanya.
“Baiklah Titi, temuilah putriku, ia berada dihalaman saat ini. Karena bosan ia selalu disana untuk bermain”ucap Tuan Qafiysa yang langsung dianggukkan oleh Titi.
Titi memberikan hormatnya, lalu melangkah menghampiri orang yang akan dijaga olehnya. Seorang anak gadis yang berusia 10 tahun akan menjaga seorang gadis yang umurnya baru 9 tahun.
Titi menghentikan langkahnya ketika tiba dihalaman Mansion. Halaman yang begitu luas, sangat mudah baginya mencari keberadaan dari Nona muda.
Dimata Titi, ia melihat seorang gadis duduk dengan wajah menatap kearah langit-langit. Rambut hitam panjang itu menyapu rumput-rumput kecil yang ada dibelakang tubuhnya.
Pakaian yang dikenakan oleh Gadis itu sangat santai, ia tidak seperti seorang anak kaya umumnya. Titi sudah pernah bertemu dengan anak-anak penjabat, dimana anak gadis mereka akan diberi hiasan yang begitu menyilaukan mata.
Hal itu tidaklah disukai oleh Titi, ia merasa sekali bahwa ada tembok besar menjadi pembatas antara dirinya dengan orang-orang seperti itu. Titi tidak merasa iri, ia hanya merasa tidak suka saja, karena terlihat jelas bahwa orang-orang itu memberitahukan bahwa mereka berada dilevel yang berbeda.
Namun melihat gadis didepannya, Titi merasa keakraban. Dengan hanya melihat pungung dari gadis itu, Titi merasa akan mudah bergaul dengan Nona Muda yang akan dijaga olehnya.
Langkah kaki perlahan berjalan mendekat, Titi tiba disamping Gadis yang kini menolehkan wajahnya menatap kearah Titi.
“Hm, Ada apa?”tanya Gadis muda itu kepada Titi. Titi mendengar suaranya saja sudah merasa kagum. Suara itu tidak kasar dan tidak juga lembut. Tetapi setiap nadanya sangat indah untuk didengar.
“Tesha Ikha Tushti Indria, panggilan ku adalah Titi”Titi memperkenalkan dirinya kepada Gadis yang akan dijaga olehnya.
“Qaila Rihya Yamni, panggil saja Qariya”ucap Gadis yang Titi sudah tahu namanya. Gadis bernama Qariya itu tersenyum dengan begitu manis. Mata Titi berbinar melihatnya.
“Titi, ada sesuatu yang ingin disampaikan?”
Titi terteguh mendengarnya, ia pun mengeleng. Dengan perlahan Titi duduk disamping Qariya.
“Tidak, aku datang kesini karena aku ingin bertemu denganmu”mendengar ucapan darinya, Titi melihat Qariya terteguh hingga mengubah posisi duduknya menjadi berdiri dan menghadap kepada dirinya.
“Bertemu denganku?”
Wajah dan mata itu tampak sekali keterkejutannya. Titi mengangguk, “Iya, Aku datang dari desa. Ibu dan Ayahku membawa diriku kesini untuk bertemu denganmu”
Titi yang tadi bahagia merasa ragu, ia baru pertama bertemu dengan Qariya, bisa saja Qariya malah tidak menyukainya.
“Benarkah!!!, apa Ayahku mengatakan sesuatu kepadamu?”
Tanpa terduga, Titi melihat wajah bahagia dari gadis didepannya. Ia bahkan ditarik untuk berlari bersama entah menuju kemana.
“Aku mendengar Ayahku mengatakan bahwa ia akan mencarikan ku seorang penjaga. Aku tidak menduga kalau penjaga itu seorang perempuan. Tahukan dirimu, aku mengira bahwa yang akan menjagaku adalah seorang pria. Tetapi ternyata dugaanku salah”
Titi diam mendengarkan Qariya berbicara sambil berlari pelan. Mereka menuju kehalaman belakang Mansion. Banyak sekali pohon yang berbuah. Mereka berhenti disalah satu buah mangga yang buahnya terlihat menguning.
“Apa dirimu yang akan menjagaku?”tanya Qariya.
Titi terteguh setelah mendengarkan pertanyaan gadis didepannya. Ia pun mengangguk, “Benar, Akulah yang akan menjagamu, Nona muda”ucap Titi menjawab pertanyaan Qariya.
Titi melihat bahwa perkataannya menghadirkan kerutan diwajah Qariya.
Titi menghela nafas, ia tahu bahwa Qariya baru saja berusia 9 tahun dan pikirannya mungkin belum sepenuhnya dewasa. Jadi ia pun memutuskan untuk menjelaskan dengan ucapan yang mudah dipahami oleh anak gadis.
“Panggilan Nona muda itu untuk memberitahukan bahwa dirimu adalah seseorang yang kami jaga. Jadi wajar jika panggilan itu sering didengar oleh mu”jelas Titi.
Wajah Qariya dimata Titi kembali tenang, “Baiklah, tetapi aku ingin dirimu memanggilku dengan namaku saja, tidak dengan panggilan Nona Muda”jelas Qariya.
Titi terdiam, ia menatap wajah Qariya yang begitu serius, ini pasti sulit untuk ditolak olehnya.
“Kalau dirimu tidak bisa, akan ku katakan kepada Ayahku untuk menyuruhmu memanggilku dengan nama panggilanku”
Titi mengerjabkan matanya, tidak terduga ia ternyata diancam oleh orang yang kedudukkannya saja seorang anak bangsawan. Bagaimana mungkin hanya karena panggilan, ia diberi ancaman seperti ini.
“Ehm!”Titi bingung untuk menjawab apa yang diucapkan oleh Qariya.
“Putriku!!!”
Wajah bingung Titi berubah menjadi tegang, ia tidak menduga ternyata Ayah Qariya dan Ayahnya sedang melangkah bersama. Terlihat sekali keakraban dari Ayah mereka.
“Bagaimana Putriku, dirimu sudah bertemu dengan Titi ini?, apa pendapatmu tentangnya?”tanya Tuan Qafiysa kepada Putrinya.
Titi berdiri disamping Ayahnya. Ia mengenggam erat kedua tangannya, karena saat ini entah kenapa ia merasa gugup.
“Titi baik Ayah, ia ramah dan mudah tersenyum. Lalu dirinyalah yang langsung menghampiriku, aku kira dirinya seorang pemarah, ternyata tidak. Ayah, aku menyukai Titi”
Titi terkejut mendengar jawaban dari Qariya, bagimana bisa pujian itu dilimpahkan kepadanya. Ia saja baru pertama kali bertemu.
“Baguslah jika seperti itu, berteman baiklah bersamanya dan belajar juga dengan dirinya”ucap Tuan Qafiysa dengan nada yang ramah.
Titi melihat bahwa Qariya mengangguk, rasa lega dihatinya mulai terasa. Ia pun ingin tersenyum dengan rasa bahagia, namun..
“Tetapi Ayah, Titi tidak mau memanggil namaku. Ia malah memanggilku dengan sebutan Nona muda, aku tidak menyukainya”
Keringat Titi mulai bercucuran, ia menjadi bingung dengan situasi sekarang. tetapi, dugaannya lagi-lagi salah.
“Titi, panggillah Qariya dengan nama panggilannya,jadilah saudara dekat dengannya”ucap Tuan Qafiysa yang langsung di jelaskan oleh Ayahnya.
“Putriku, jangan berpikir ini karena tugasmu. Hingga kamu membuatnya meminta seperti ini, panggilah ia dengan namanya, anggap ia adalah adikmu sendiri. tetapi tetap ingat akan batasan”
Titi mengangguk mendengar apa yang dijelaskan oleh dua orang tua yang ada didepannya. Ia pun menatap Qariya yang tersenyum dan mengulurkan tangan untuk saling bergandeng bersama.
Titi mengeleng meninggat masa lalunya, pertemuan pertamanya dengan Qariya. dan rasa kagum saat itu menghilang cepat saat tahu tingkah Qariya yang benar-benar membuat kepalanya pusing.
Pengawal yang memimpin pencarian datang kepadanya, untuk melaporkan hasil dari pencarian mereka.
“Titi, kami sudah mencari Nona Muda..tapi tidak ada yang kami temukan”
“Benar, bahkan seperti saranmu untuk bertanya kepada Teman Nona Muda, tidak ada yang tahu kemana perginya”
“Kami juga sudah memeriksa dengan begitu teliti dipenjuru kota”
Titi mengacak-acak rambutnya. Ia menarik nafas dengan rasa kesal didalam dirinya. Kepergian Qariya mampu membuat semua pengawal menjadi sibuk, sangat sibuk. Bahkan dirinya sekali pun.
“Qariya!...aku benar-benar tidak bisa membencimu karena kepintaranmu itu”benak Titi.