
Pelukkan hangat didapat oleh Qariya, ia dipeluk oleh sang Ayah dan Sang Ibu yang memberangkatkan dirinya. Seperti rencana yang telah disusun, Ia akan berkunjung kerumah Titi dengan mengunakan mobil.
“Hati-hati disana, dan jangan nakal”ucap sang Ibu dengan mencolek hidung mancung Qariya.
“Benar Putriku, ingat! jangan berpikir yang aneh-aneh”tambah sang Ayah dengan mengecup kening Qariya.
Mendapati kehangatan yang ada, Qariya tersenyum bahagia. namun didalam benaknya, ada rasa bersalah.
Mobil melaju keluar dari mansion, meninggalkan kediaman Qariya menuju kedesa tempat tinggal Titi.
Mengingat desa, Qariya menepuk telapat tangannya. “Astaga, Aku baru tahu”
“Apa yang baru kamu tahu Qariya?”tanya Titi dengan wajah penasaran.
“Ada desa kecil disekitar sini, aku sempat bertamu disana. Titi bisakah kamu atur beberapa orang untuk memberi bantuan disana”Qariya mengingat Bibi Ray dan Paman Ju yang ia jumpai.
“Desa kecil?, desa apa itu?”
“Desa Sun, disana semua orang sangat suka berkebun. Lakukan lah sesuatu untuk menolong mereka”
Titi mengangguk mendengar ucapannya. “Baiklah, Akan ku sampaikan hal ini kepada Tuan Besar, dan kita akan melihat langsung kondisi mereka”
Mendengar jawaban Titi, Qariya mengangguk puas. Ia merasa sangat berterimakasih kepada Bibi Ray dan Paman Ju yang sudah menolong mereka tanpa imbalan apa-apa.
Perjalanan yang panjang membuat Qariya mengistirahatkan diri sebentar hingga tiba dikediaman Titi.
Kunjungan kali ini hanya Qariya dan Titi, orang tua Titi berada di Mansion. Jadi kesempatan inilah yang Qariya tunggu untuk bertemu dengan Shya Vir.
“Masuklah dulu Qariya, Aku akan berbicara dengan mereka”ucap Titi menatap kearah Pengawal yang menemani mereka.
“Oke”
Bam!!!
“Dimana Nona Muda?”tanya salah seorang pengawal yang membawa barang-barang Qariya dan Titi.
“Ia sedang mandi, tenang saja..hm Kalian bisa membantuku sebentar?”Titi menatap kearah dua pengawal yang mengerutkan alisnya.
“Apa yang kamu perlukan?”tanya pengawal yang lain.
Titi menyentuh keningnya, “Ada yang Qariya inginkan, namun aku harus menjaganya. Jadi bisa kalian ambilkan buah yang ada didepan jalan itu?, buah redberry”
Dua pengawal pun pergi setelah mendengar permintaannya. Dan Qariya yang bersembunyi dibalik pintu keluar dengan perlahan.
“Aman!”ucap Titi.
Helaan Nafas Qariya berhembus dengan cepat. “Baguslah, Titi dimana sepedanya?”
Qariya menatap Titi yang mengeluarkan sepeda tua yang biasa digunakan oleh orang tua Titi sebagai kendaraan menuju ke kebun.
“Aku tidak tahu kapan Pengawal akan kembali. Qariya pesanku satu, jangan sampai kamu tertangkap, entah kenapa Aku merasa ada yang aneh dalam buku sejarah tiga Ras. Aku tidak bisa membaca semuanya. Jadi, berhati-hatilah”
Qariya mengangguk mendengar pesan Titi kepadanya. Ia bergegas mengayun sepeda meninggalkan kediaman Titi.
Setelah setengah jam ia mengayunkan sepedanya, Qariya tiba dibelakang halaman Titi. Hutan yang sangat lebat hingga tampak begitu menakutkan, ditambah angin malam yang menerpa dirinya.
Memandang hutan yang lebat dan begitu tinggi menjulang, tanpa sadar Qariya meneguk slivanya.
“Huh~, apa yang perlu ditakuti..mereka semua hanya tanaman”guman Qariya, dilanjutkan ayunannya sebelum pengawal tiba.
Didalam hutan yang Qariya lalui, hanya cahaya malam yang menjadi penerangnya. Meski senter yang digunakan pada tangan kanan, akan kalah dengan cahaya bulan yang menyinari.
“Aku mengingat, denah itu tepat disini. Namun dimana pertengahannya?”
Qariya berhenti, ia menyandarkan sepedanya di dekat pohon yang begitu besar.
Dikeluarkannya kertas yang menjadi denah sebagai petunjuk, mata Qariya meneliti dan memperhatikan dimana ia berada.
Tap!
“Seharusnya Aku sudah ada dipertengahan hutan, namun disini..”Qariya menatap kedepan dan belakangnya. Tidak ada tanda-tanda ia berada ditengah hutan.
Pandangannya kembali pada denah yang ada ditangan, “Aneh, digambar ini..ada empat pohon yang bentuknya luar biasa, namun kenapa aku tidak menemukannya?”guman Qariya.
Bruk!
Ouch!
“Bokongku”
Perlahan Qariya bangun dengan menepuk-nepuk bokongnya untuk membersihkan beberapa tanah dan dedaunan. Setelah merasa bersih, pandangan Qariya menuju pada pohon yang memantulkan sedikit cahaya didalamnya.
“Pohon ini bercahaya?”Qariya meringit melihat hal yang sulit dipercayai. Jika ia tidak diberitahu tentang Ras yang ada didunia. Maka hal seperti ini tidak akan ia percayai.
“Apa pohon ini yang dimaksud dalam denah?, jika iya dimana yang lainnya?”pandangan Qariya meneliti sekitarnya, hingga ia melihat cahaya yang lain.
“Ada empat?, lalu kenapa Cahayanya sangat redup?”Qariya menjauhkan diri dari empat pohon yang jaraknya saling berjauhan. Ia mundur dan memperhatikan dengan apa yang didapat.
Seperti teka teki, Qariya memandang bulan yang berada tepat di tengah empat pohon. Pikirannya berjalan dengan cepat, ia mendekat dimana tidak ada bayangan Bulan. Hanya ada cahaya disana.
Pijakkan Qariya menyentuh cahaya bulan dan empat pohon yang lain, angin malam yang berhembus lembut seketika berubah. Hembusannya sangat kuat hingga rambut Qariya terangkat dengan berantakkan. Lalu disekitarnya ikut berterbangan.
“Ugh!, apa ini?”Qariya menghalangi pandangannya dengan kedua tangan, di antara pergelangan tangan ia melihat tempat yang tidak pernah dilihat olehnya.
Swussshhh!!!
“Ini?”
-
Tuk..Tuk..Tuk...
“Tuan Muda, sudah saatnya anda mendapatkan pengakuan dari para penguasa”
Shya Vir membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan mengangguk untuk menjawab ucapan dari Pelayan. Ia melangkah mengikuti kemana Pelayan membawanya.
“Aku dengar ada penyusup yang masuk”
“Iya, cepat sebelum Yang mulia marah dengan kita”
“Siapa yang bisa masuk kedalam sini dengan begitu terang-terangan”
“Kamu tidak merasa, ia membuka segel para Vampir tanpa terluka?”
“Kamu tahu dari mana ia tidak terluka?”
“Segel Vampir akan memberikan dampak kepada orang yang menganggu, namun setelah segel dibuka tidak ada satupun dampak yang terjadi. Biasanya cahaya ungu akan menandakan seseorang sudah terperangkap”
“Kamu benar”
Shya Vir diam mendengarkan pembicaraan para pengawal yang melewatinya. “Apa yang terjadi?”tanya Shya Vir.
Pelayan yang ada didepannya tidak berhenti melangkah, “Tuan Muda, Yang Mulia mengatakan jangan sampai Anda menunda lagi. untuk masalah yang ada diluar sana, akan diurus oleh Para Tuan Muda Sepupu”
Mendengar jawaban Pelayan, Shya Vir hanya bisa berdiam diri. Ia mengikuti langkah pelayan menuju keaula khusus pengakuan.
Krek!!!!
Wajah Shya Vir datar menatap seluruh penerus ras Vampir ada disana. Tampak wajah mengejek dan wajah keangkuhan menatap dirinya.
“Para penjilat akan memulai aksinya”benak Shya Vir. Ia melangkah menaiki alua dimana ada sang Ayah dan Pendeta.
“Shya Vir, apapun hasilnya nanti. Jangan berpikir bahwa dirimu tidak berguna, mengerti”sang Ayah menyemangati dirinya. Namun niat yang seperti ini tidak berpengaruh kepada perasaan Shya Vir yang sudah mati rasa. Ya, Shya Vir tidak bisa merasakan cinta karena rasa yang ada dibenaknya sudah mati sejak pengakuan yang tidak pernah mendapatkan hasil.
“Mulailah Pendeta”ucap Sang Ayah.
Pendeta mendekati Shya Vir dan mengangkat tangannya dengan ucapan kata bagai doa.
Bam!!
“Yang Mulia, Seorang Gadis dari Ras Manusia telah memasuki Wilayah Vampir!!!!!”
“Gadis Manja?”