THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 46:Indah Namun...



Mata Qariya berbinar melihat apa yang ada didepannya. Sebuah kota yang diisi oleh keindahan yang luar biasa.


Banyak orang-orang yang berlalu lalang, seperti manusia umumnya. Qariya menoleh kekanan dan kekiri, ia tiba di antara ramainya orang-orang.


“Indahnya”benak Qariya. ia berjalan dan terus berjalan, tidak memperhatikan kemana ia berada.


Bruk!


“Hati-hati”


Seorang Wanita menegur Qariya. dengan anggukkan kepala Qariya berikan sebagai permintaan maafnya tanpa berucap. ia memandang wanita yang sangat anggun dengan gigi yang tampak disela bibir.


“Dia sangat cantik”benak Qariya.Wanita yang ada didepan Qariya menatap dirinya dengan pandanga yang begitu serius, ia mengangkat tangannya dengan jari telunjuk mengarah tepat di depan wajahnya.


“Ehem, Apa kamu bukan dari....


Swuush!


Kabut hitam datang tepat didepan Qariya. ia menghentikan langkahnya dengan perasaan terkejut.


“Kamu, Manusia!”


Dua orang didepan Qariya mengenakan pakaian kuno, tampak sekali mereka seorang penjaga dari sebuah kerajaan.


Mendengar ucapan salah satu dari mereka, keramaian itu berubah menjadi tatapan sinis dan rasa lapar yang menghantui Qariya. Qariya memperhatikan sekelilingnya, “Ada apa ini?”


Penjaga yang ada didepan Qariya bergegas mengayunkan tangan mereka. dan tanpa diduga kedua tangan Qariya sudah terkunci dengan borgol yang berwarna hitam.


“I-Ini?”Qariya mengerakkan kedua tangannya untuk bisa melepaskan diri, namun borgol yang terpasang itu tampak tersihir hingga tidak bisa dilepaskan olehnya.


“Bawa Ia, dan Lapor kepada Yang Mulia”mereka melangkah dengan perlahan, meninggalkan tempat yang ramai penuh akan rasa kelaparan, mata merah orang-orang menyala dengan begitu menakutkan.


“Indah namun,.....mengerikan”benak Qariya. ia jalan mengikuti dua penjaga. Ingin menolak namun tubuhnya tetap mengikuti dua pengawal yang ada. mungkin dirinya sudah terkena sihir hingga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kekuatan apa yang mereka punya?”pikir Qariya. dua pengawal tadi terkekeh setelah ia berpikir.


“Kamu bertanya?, bukankah ras manusia itu punya akal yang melebihi kita. Mereka mampu menyudutkan kita hingga kita tidak bisa mendekati mereka”ucap salah seorang penjaga.


Qariya mengerutkan alisnya, ia merasa ucapan penjaga bertolak belakang dengan yang ia dengar. Bukankah, ras Vampir bisa mendekati mereka?.


“Dia mungkin hanya Manusia biasa yang tidak tahu apa-apa”ucap Penjaga yang lain.


Qariya memasang wajah datar mendengarnya. Ia seorang penerus kerajaan dan keturunan bangsawan dianggap sebagai manusia biasa. Yeah dia memang manusia biasa, namun statusnya bisa dibilang bagus bukan?.


Asik membanggakan diri, Qariya berhenti disebuah mansion tunggal. Halaman yang menyedihkan dan cahaya lampu kecil yang tampak suram. Lalu gerbang masuk yang membuat Qariya merasa merinding.


“Aku tidak tahu, ini tempat tinggal siapa?”benak Qariya. ia melanjutkan langkahnya ketika dua penjaga sudah masuk terlebih dahulu.


Entah bagaimana, Qariya melupakan tujuan awalnya menuju ke tempat Ras Vampir. Ia bahkan semakin lupa jika tidak melihat didalam mansion yang penuh akan hawa kesedihan dan kesunyian.


“Apa Shya Vir disini?”benak Qariya. ia mengingat tujuannya melihat dua tangga yang ada didekat aula tengah. Ia ingin menghentikan langkah kakinya, namun tubuhnya benar-benar tidak mau mengikuti keinginan yang telah ia buat.


“Jangan berpikir untuk kabur, kamu tidak akan bisa kemana-mana”Ucap Penjaga sambil menatap dirinya. Qariya hanya bisa meneguk silva secara perlahan.


Didalam aula pengakuan..


Shya Vir menatap pengawal yang tampak menunggu keputusan Ayahnya, “Gadis manja?”benak Shya Vir. Ada rasa khawatir yang membuatnya ingin pergi meninggalkan ruangan pengakuan. Namun sang Ayah menahan pundaknya.


“Lanjutkan Pendeta...Pengawal bawa ia keaula utama dan tahan dirinya disana. Kita akan bertemu dengannya dan bertanya apa tujuan dari kedatangannya ini”


Pengawal yang mendengar ucapan dari Ayah Shya Vir mengangguk, “Baik Yang Mulia”


Kepergian pengawal semakin membuat Shya Vir gelisah, ia tidak bisa kemana-mana karena pengakuan ini akan berjalan cukup lama.


Pendeta yang bertugas kembali berucap dengan begitu tenang, tidak ingin diganggu bahwa jika suara kecil sekali pun. Tangan Shya Vir bersiap di sebuah mangkuk yang berisikan air hitam dengan ketenangannya.


Pendeta yang sudah berucap-ucap itu, mengambil benda tajam yang ada disamping mangkuk besar. Benda tajam dengan bilah yang berkilau, perlahan bilah tajam mengarah ketelapak tangan Shya Vir.


Mata merah Shya Vir menyala untuk mengeluarkan kekuatannya agar pengakuan berjalan lancar. Dengan sekali irisan di telapak tangan, darah Shya Vir tertetes mengenai air hitam yang ada didalam mangkuk.


Semua diam dengan kesunyian didalamnya. Menatap mangkuk yang berputar dengan perlahan. Shya Vir yang menatapnya pun merasakan kebahagiaan didalam hati. Ia menyungingkan senyumannya sebagai awal kemenangan yang akhirnya ia dapatkan.


Namun..


Putaran air yang bergerak perlahan malah berhenti. Tidak ada perubahan didalam warnanya. Wajah Shya Vir tidak menerima apa yang dilihatnya, ia tidak berucap apa-apa karena dirinya tengah berperang dengan benak dan pikiran.


“Kenapa?,kenapa tidak ada pengakuan sama sekali?, KENAPA?”benak Shya Vir.


“Yang Mulia, Maaf Tuan Muda Shya Vir tidak mendapatkan pengakuan dari para penguasa”ucap Pendeta setelah memastikan hasil yang ada didalam mangkuk pengakuan. Mangkuk itu diletakkan dekat meja khusus, dimana airnya tidak akan pernah mengering.


Swuush!!!


Shya Vir menatap semua orang yang bangun dari duduk mereka, dan bersiap melesatkan kekuatan untuk menidurkan dirinya.


Melihat kebencian dari para penerus Vampir, Shya Vi hanya diam membisu. Ia ingin melawan namun kekuatannya hanya sebatas kolam darah.


Hebusan angin membuat jubah sang Ayah menerpa wajahnya. Shya Vir menatap kedepan, melihat sang Ayah berdiri dengan memberikan perisai kepadanya.


“Aku tidak mengijinkan Putraku dibunuh oleh Kalian, Namun aku juga tidak akan membebaskannya. Untuk masalah pemimpin selanjutkan akan kita bahas di Aula utama”


Shya Vir merasa tubuhnya melayang hingga keluar dari Aula Pengakuan, ia dudukkan dengan lembut pada kasur yang empuk.


Bam!


“Putraku, jangan keluar meski diluar sana ada keributan. Ingat!, jangan keluar!”tegur sang Ayah melewati pembicaraan batin mereka.kemampun Vampir yang paling khusus adalah batin mereka. dimana mereka bisa berkomuniasi melewati batin jika diizinkan dan mendapatkan aksesnya. Dan Shya Vir hanya memberikan akses batin kepada Sang Ayah.


Shya Vir memandang pintu dan jendela yang dimantrai oleh Ayahnya. Ia menghela nafas meratapi keindahan hidup yang penuh akan rasa sial pada dirinya.


“Ha..hahahaha, luar biasa..Penguasa,penguasa, Apakah Aku ini hanya Vampir biasa yang kalian pandang rendah?, jika Iya. Maka bunuhlah Aku ketika lahir”kesal Shya Vir.


Ia membaringkan tubuhnya dan menatap kearah langit-langit kamar. Saat perasaan kesal menghantui isi hati, ada perasaan tidak tenang didalam diri yang mengalahkan perasaan kesalnya. Shya Vir duduk dan membayangkan senyum seseorang, senyum yang selalu membuatnya kesal namun membekas didalam ingatannya.


“Gadis manja, apa kamu disini?”