THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 49:Mengambil Kekuasaan...



BOOM!!!!


Pijakkan Qariya bergemetar dengan sangat hebat, ia bahkan mencari tumpuan untuk menjaga keseimbangannya.


“Astaga, Apa yang telah terjadi diatas sana?” Guman Qariya dengan melangkah mendekati jeriji besi.


Seumur hidupnya, baru kali ini ia berada didalam penjara yang sesungguhnya. Dan lagi penjara yang sangat unik, karena ada tempat tidur dan tempat cuci muka, seperti tempat tinggal untuknya.


Qariya menatap kearah pengawal yang bergegas pergi dengan wajah serius. Mereka terburu-buru menaiki tangga, bahkan sampai lupa dengan kekuatan mereka sendiri.


“Sepertinya telah terjadi sesuatu. Tetapi, kenapa harus semuanya yang bergegas naik?”


Qariya menajamkan pendengarannya. Didalam kesunyian bawah tanah, suara bergemuruh dengan tembakkan terdengar ditelinga.


“Perang?, Apa Ayah telah tiba?”


Bruk!!!


Pandangan Qariya menatap kearah seseorang yang terjatuh entah dari mana. Ia memperhatikan pergerakkan dari bebatuan yang mengubur tubuh seseorang itu.


Suara batu yang berjatuhan terdengar ditelinga, Qariya menatap kepala seseorang yang keluar dari reruntuhan.


“TITI?” Pekik Qariya, ia tidak mempercayai akan melihat Titi disini. Bahkan membayangkannya saja tidak.


Uhuk!. “Astaga debu ini.” Ucap Titi dengan membersihkan pakaiannya dari debu-debu reruntuhan.


“TITI!. Kamu bagaimana bisa ada disini?” tanya Qariya dengan menatap girang kepada Titi yang mendekatinya.


“Astaga, Qariya apa yang terjadi?, bagaimana bisa kamu seperti ini?, mereka mengurungmu. Beraninya mereka!” wajah Titi mulai memerah karena amarahnya yang memuncak.


Qariya yang melihatnya langsung mengenggam tangan Titi. “Tidak Titi, jangan salah sangka dulu. Mereka tidak membunuhku, mereka masih memberiku kehidupan. Namun, mereka sepertinya tidak menyukai manusia, entah kare-...”


“Mereka tidak menyukai manusia, karena Manusia mengambil kekuasaan mereka.” ucap Titi memotong kalimat Qariya.


Qariya mengerutkan alisnya. “Apa yang kamu maksud dengan mengambil kekuasaan?, selama ini bukankah mereka mengambil darah manusia tanpa izin?” rasa kesal didalam hati Qariya memuncak, ia tidak ingin Rasnya dianggap salah.


Namun rasa kesal didalam hati menghilang melihat Titi mengeleng. “Aku tidak tahu jelasnya seperti apa, namun Ibu mengatakan kepadaku. Tiga Ras yang ada dibumi saling membuat perjanjian.., dan janji yang paling umum adalah tidak ada cinta diras lain kecuali ras sendiri. kamu tahu itu bukan?”


Qariya mengangguk, benar apa yang dikatakan Titi. Ia sudah mendengar hal seperti ini bahkan dari Shya Vir.


“Alasan itu semua, karena pemimpin dulu. Lebih tempatnya orang yang memimpin 3 Ras sekaligus, merupakan seorang manusia yang memiliki tiga Istri. Dari Ras Vampir, Ras Serigala dan Ras Manusia...,”


Qariya diam mendengarkan penjelasan Titi, ia tentu tidak akan menghentikan ucapan yang akan memberikannya sebuah jawaban.


“Lahir seorang Putra yang memiliki mata emas dengan darah vampir yang mengalir ditubuhnya, Ia lahir dari rahim Ras Manusia. Saat itulah, seorang pemimpin akan dijatuhkan pada keturunan mereka. namun keturunan ini tidak akan selalu ada pada penerus kerajaan. Mereka hanya hadir disebuah keberuntungan. Qariya...,”


BOOM!!


Titi yang ingin melanjutkan ucapannya menjadi terhentikan. Mendengar suara ledakkan barusan membuat Titi bergegas membebaskan Qariya dari sel besi.


“Ada apa Titi, Apa yang terjadi?” Qariya memandang wajah panik Titi yang membebaskan dirinya.


“Tuan Besar dan Nyonya Besar, keduanya mengamuk di atas sana.” Ucap Titi dengan satu kali bernafas.


“Eh!, tunggu Aku.” Titi menyusul Qariya yang terlebih dahulu lari dari dirinya.


Rasa cemas Qariya bagai diujung tanduk. Ia melihat prajurit yang merupakan kebanggaan dari Mansion, kerajaannya sendiri, sudah beberapa dari mereka yang tumbang. Bahkan yang lebih mengerikan adalah melihat cahaya dari Drone yang dilihatnya.


“Titi, katakan kepadaku, bagaimana bisa Ayah sampai semarah ini?” Qariya memandang Titi yang menatap dirinya.


Titi menaiki kuda untuk menyusul Ayah dan Ibunya. Ia tidak diizinkan ikut oleh Tuan Besar. Namun, karena rasa khawatir kepada Qariya lebih besar, Titi memutuskan untuk mengikuti dari belakang.


Ia sebenarnya hanya menganggap apa yang diceritakan Ayahnya tentang wilayah yang dimantrai, atau bisa dibilang tidak ada yang bisa melihatnya, hanya sebuah cerita tanpa kenyataan. Namun melihat dengan mata kepada sendiri, Akhirnya Qariya mengerti, bahwa apa yang diceritakan Ayahnya, memang benar adanya.


Saat ini, Ia masuk kedalam wilayah yang penuh akan kegelapan. Dan lebih mengerikannya lagi, mereka disambut oleh orang-orang bersayap hitam dengan pandangan mereka yang penuh akan kehausan.


“Qafiysa Hidkha!, Bukankah dalam perjanjian. Tidak ada izin dari kalian menginjakkan kaki diwilayah kami.” Ucap Pemimpin Ras Vampir.


Titi yang melihatnya tahu bahwa yang berbicara adalah pemimpin dari Ras Vampir. Apa lagi melihat aura yang ada disekitar Pria itu, sangat-sangat kuat.


“Raja Vampir, Memang itu adalah perjanjian yang tidak bisa dilangar oleh kami. Namun, bagaimana jika Putriku yang kalian sentuh berada disini. Aku ingin menjemput Putriku.” Ucap Qafiysa Hidkha dengan nada seriusnya.


HAHAHA


“Dengar!, Putrimu menyukai Putraku. Aku tidak mengijinkannya pergi dari sini. Karena ia telah membuat Putraku gagal mendapatkan pengakuannya.”


“Pengakuan tidak ada hubungannya dengan Putriku, Putramu sendiri yang tidak memiliki kemampuan itu.”


“Kamu benar, maka tidak masalah bagiku untuk membunuhnya. Aku ingin menghukumnya dengan menjadi santapan untuk Putraku.”


Titi melihat amarah Tuan Besar memuncak, ia dengan cepat menjauhkan diri dan mencari cara untuk menyelamatkan Qariya.


“Begitulah, Aku mencarimu dengan melihat pengawal yang berlarian keluar.” Jelas Titi dengan wajah sedihnya.


Tentu saja sedih, melihat banyaknya korban yang sudah berjatuhan. Bahkan Qariya pun tidak bisa lagi menahan rasa sakit didadanya.


“Bagaimana bisa begini, kita harus menghentikan peperangan ini.” Qariya melangkah maju untuk menghentikan peperangan yang luar biasa mengerikan.


Ia melihat Drone yang digunakan sebagai senjata untuk membunuh para musuh, dan yang membuat Qariya merasa sedih adalah tidak ada rasa kasihan dari apa yang mereka buat.


Dengan berdiri ditengah-tengah peperangan, Qariya menarik nafasnya dan menghembuskannya.


“DENGAR!, HENTIKAN PEPERANGAN INI, LEBIH BAIK KITA BERTUKAR PENDAPAT!”


Percuma, tidak ada yang mau mendengar teriakkan Qariya. malah sang Ayah yang ada ditengah-tengah henjatan senjata, membalas teriakkannya.


“QARIYA, IKUT TITI. DAN JANGAN MEMBANTAH!” teriakkan sang Ayah membuat Qariya menjadi bingung.


Ia menatap kearah Titi yang menarik kuda disampingnya. “Qariya, kita harus kembali.” Ajak Titi.


Qariya mengeleng, tentu ia tidak mungkin mau pergi begitu saja. Apa lagi melihat apa yang terjadi didepannya ini. Dengan cepat Qariya bergegas mendekati Titi.


“Titi, katakan semua yang kamu ketahui. Apa yang membuat para Ras ini seperti ini. Aku ingin membuat sesuatu yang tidak berakhir menjadi peperangan.” Qariya menatap Titi dengan pandangan serius, ia bahkan menguncang tubuh Titi untuk mendengarkan ucapannya.