THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 30: Melupakan



Qariya diam didalam kamarnya, ia memikirkan apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Saat dirinya bertanya tentang apa yang terjadi, orang tuanya mengatakan tidak ada apa-apa.


Hal seperti ini membuatnya penasaran dan selalu kepikiran. Karena ia mendengar dengan jelas, ucapan Ayahnya perihal Mata. Tangan Qariya pun menyentuh kedua matanya dengan menutup pandangannya.


“Apa yang ada didalam mataku?..kenapa Ayah dan Ibu sangat begitu ingin mengetahui tentang mata ini”Qariya menjauhkan kedua tangannya.


Tuk..Tuk...


“Qariya, guru les sudah tiba”ucap Titi dengan tenang. Qariya mengangguk dan meranjak bangun, ia melihat Titi yang menunggunya di dekat pintu.


“Berapa hari hukumanku Titi?”Qariya mendekat kearah Titi dengan mengenggam alat musik biola. Ia akan mendapatkan les dirumah dan seluruh jadwal diluar rumah akan ikut dipindahkan. Ia tidak menduga Ayahnya masih marah kepadanya.


“Aku tidak tahu, Tuan Besar hanya mengatakan, dirimu tidak diijinkan keluar, tanpaku dan pengawal. Jadi bertahanlah dan terima hukumanmu”


Mendengar jawaban Titi membuat Qariya merasa kepalanya berat. Ia merasa tindakkannya saat itu benar-benar salah. “Saat itu?”benak Qariya.


“Sudah tiba, belajarlah..dan malam ini ada jadwal untukmu, kita akan menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh salah seorang pengusaha, lebih tepatnya teman dekat Tuan Besar”


Qariya terdiam mendengar ucapan Titi. Ia menatap kearah Titi yang tampak serius dengan ucapannya.


“Jam berapa Pestanya?”Qariya bertanya sambil memandang kearah Titi yang menatapnya juga. “Tepat dijam 8 malam ini”jawab Titi dengan mantap.


Qariya mengangguk, ia pun masuk kedalam ruang lesnya. Dan meninggalkan Titi yang kembali mengerjakan tugasnya.


Didalam ruang les, Qariya meletakkan biola yang dibawa olehnya. Ia memandang seorang guru les yang tersenyum manis menatap kepada dirinya.


“Maaf sebelumnya, apakah Anda guru les yang bertugas mengajari diriku?”tanya Qariya. ia menatap bingung, karena guru les biasanya tidak ada didepannya. Guru les musik Qariya sama, baik Piano dan Biola. Namun yang berdiri didepannya ini seorang wanita muda.


“Menjawab Nona Muda, perkenalkan nama Saya, Xin. Xin akan mengantikan Guru Les anda, karena guru les anda sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya”


Qariya mengangguk mendengar jawaban dari guru les barunya. Ia pun mengambil buku yang diserahkan kepada dirinya.


“Karena Xin masih baru, dan Xin baru membaca beberapa riwayat latihan Nona Muda, jadi hari ini kita akan mengulangi latihan waktu itu”


Wanita yang ada didepan Qariya tampak begitu sopan, namun Qariya merasa aneh didekatnya.


Ada hal yang sulit dikatakan oleh Qariya. karena terlalu malas memikirkan hal seperti ini, Qariya memutuskan untuk melanjutkan pembelajaran dengan tenang.


Dua jam telah dilalui, Qariya dengan perlahan keluar dari ruang lesnya.


“Terimakasih Nona Muda, maaf bila ada kesalahan yang telah Xin lakukan”


Qariya mengangguk, ia mengubah posisi biolanya ditangan yang lain, “Tidak perlu meminta maaf, Aku senang berkenalan denganmu dan cara mengajarmu, terimakasih kembali Guru Xin”


“Sama-sama Nona Muda, kalau begitu Xin izin pamit..sampai jumpa di les selanjutnya”


Qariya mengangguk dan menatap kearah perginya Guru Lesnya. Ia melangkahkan kakinya untuk kembali kekamar dan mengistirahatkan dirinya.


“Aku lelah”Qariya berguman sambil menatap kearah kamarnya yang tidak lama lagi akan dihampiri olehnya. Ia menghela nafas sesaat.


....sejarah 3 ras mengatakan. Tidak ada pernikahan, tidak ada cinta selain dari ras mu sendiri.


langkah kaki Qariya terhentikan ketika ia mengingat tentang ucapan seseorang yang membenak dihatinya. Ia memikirkan siapa yang mengucapkan perkataan itu kepadanya.


“Siapa, siapa yang mengatakan itu kepadaku, tunggu dulu..kemarin apa yang sebenarnya terjadi?”


Tanpa disadari oleh dirinya, ia telah melupakan sesuatu yang sangat penting bagi hidupnya. Dengan perlahan Qariya memundurkan tubuhnya hingga menabrak seseorang.


“Nona Muda, apa yang terjadi kepada Anda?”tanya Indra Gushta, Ayah Titi yang menatap khawatir kepada dirinya.


“Ti-tidak ada, aku hanya merasa pusing saja”Qariya menjawab sambil tersenyum untuk menyakinkan bahwa ia baik-baik saja.


Paman Indra Gushta menatap dirinya dengan mengangguk dan melangkah pergi setelah berpamitan kepadanya. Qariya menghela nafas melihat pungung itu menjauh darinya.


“Ada apa denganmu, Qariya?”


Qariya menolehkan wajahnya melihat Titi yang membawakan susu hangat ditangan. Ia dengan cepat mengambil susu hangat itu dan dalam beberapa tegukkan susu itu pun habis diminum olehnya.


“Apa yang terjadi kepadamu?..apa kamu merasa tidak enak badan?”tanya Titi.


Qariya menaruh gelas kosong pada napan yang dibawa oleh Titi, ia mengatur nafasnya sesaat lalu menjawab apa yang Titi tanyakan.


“Aku merasa melupakan sesuatu, Titi apa yang terjadi kemarin?”tanya Qariya. ia melihat wajah Titi mengerut memandang dirinya.


“Aku tidak tahu apa yang dirimu lupakan, tapi aku akan menceritakan semuanya kepadamu”


Titi menceritakan semua yang terjadi kemarin, dimana ia kabur dari mansion tanpa meninggalkan jejak.


Titi menatap kearah lembah yang dimana perbatasan kota ada disana. Ia menatap kearah langit malam yang begitu indah dengan banyaknya bintang-bintang disana.


“Pria bernama Guar Luh itu, apakah ia mengatakan yang sebenarnya?”benak Titi. Ia menerima saran dari Pria serigala yang mengatakan bahwa Nona Mudanya akan muncul disini. Meski ia tidak merasa yakin, ia tetap memenuhi saran yang diberikan. Karena ia tidak tahu apa yang didapat olehnya.


Menunggu dan terus menunggu, hingga Titi melihat bayangan bulan menghilang darinya, ia menatap kelangit yang ada diatasnya.


Matanya melebar melihat sepasang sayap yang membentang dengan begitu indah, bahkan sayap itu menutupi cahaya bulan darinya.


“SI-Siapa?”guman Titi yang melihat seorang pria mengendong seseorang digenggamannya. Saat Titi ingin menjauh, ia terkejut melihat Nona Mudanya ada didalam genggaman Pria bersayap.


“APA YANG KAMU LAKUKAN?”dengan cepat Titi melesatkan pedang panjangnya. Yeah Titi memang sudah berjaga-jaga. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Nona Mudanya. Jadi ia mempersiapkan pedang untuk menghabisi siapa yang menganggu Nonanya.


Dan saat inilah pedang itu terhunus dengan kilat tajam tampak didepan mata. Pria yang bersayap tampak tak perduli, ia malah menjauhkan diri dari Nona Mudanya dan meninggalkan mereka yang masih diam ditempat.


“Ah Titi”


“Saat itu dirimu kembali dengan wajah bahagia, seakan-akan baru pulang dari liburan musim panas”


Qariya diam mendengarkan apa yang Titi katakan. Dan seketika ingatan didalam pikirannya bergerak. Ada gambaran suram yang menjadi jelas olehnya. Dan karena mengingat hal yang begitu dadakkan, Qariya merasa rasa sakit dimatanya.


“AGGHHHHHHHHHHH!!!!!”


“QARIYA!”


Qariya menatap dengan mata menyala. Ia melihat dengan jelas apa yang terjadi. Dalam bayangan matanya, Seseorang tengah menerima hukuman yang ia sendiri merasa nyilu melihat bagaimana hukuman itu dibuat.


“Shya Virrrr!!!”