
Shya Vir menatap kearah cermin, dimana pungungnya terekspos dengan sangat jelas.
24 jam cukup untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari cambuk yang ada dipunggung Shya Vir. Meski ada beberapa bekas cambuk yang belum dihilangkan.
“Masih ada beberapa bekas cambuk yang belum hilang, apa aku harus mandi dikolam darah untuk menghilangkannya?”
Shya Vir diam sejenak, “Untuk apa Aku mandi dikolam darah?..hanya tiga bekas cambuk itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan”
Shya Vir mengenakan kaos santainya, ia melangkah keluar dari kamar. “Oke, mari kita jalan-jalan”
Malam hari yang cocok untuk mengisi perut, Shya Vir melangkah menuruni tangga dengan wajah bahagianya.
“Oh Sepupu, mau kemanakah dirimu?...apa luka cambukmu telah sembuh?”
Shya Vir menatap kearah Seorang Pria yang merupakan Sepupu Kedua. Orang yang sudah menghajarnya dan hampir membunuhnya. Saat itu Shya Vir belum memulihkan kekuatannya, jadi ia merasa jijik jika mengingat kekalahannya dulu.
“Hei!, Aku sedang berbicara kepadamu..apa cambukkan itu juga berpengaruh pada pendengaran hingga kamu tidak mendengar ucapanku?”
Sepupu 2 naik dengan perlahan mendekatnya. Dan saat tiba, sebuah tangan dengan kuku runcing mengarah tepat di leher Shya Vir.
Greb!
“Aku sedang tidak berniat untuk meladeni orang sepertimu, jadi jangan ganggu diriku”
Shya Vir melepaskan genggaman yang ia lakukan kepada Sepupu 2. Ia dengan cepat merubah diri hingga menjadi asap hitam, dan pergi meninggalkan Sepupu 2.
“Apa yang ia lakukan?”
-
Tap!
“Waah...ada Festival Lampion?”
Shya Vir menatap kesegala arah dari atas pohon. Rasa haus dan lapar mulai hadir pada dirinya. Ia dengan mata tajam dan senyum tipis mengubah diri dengan sempurna dan melangkah menuju ke festival untuk mencari makanan lezat.
“Tiket?”Penjaga pintu masuk mengulurkan tangan, dan Shya Vir dengan sekali menarik jari, Sebuah Tiket muncul ditangannya.
“Ini”
“Ah, Anda Tiket Gold. Ini”
Tanpa basa basi, Shya Vir mengunakan Masqueradenya dengan cepat dan melangkah masuk.
“Apa aku akan kenyang malam ini?”benak Shya Vir, melihat banyaknya manusia yang berlalu lalang didepannya. Aroma darah mereka sangat menyegarkan dihidungnya. Namun ada satu darah yang sangat familiar baginya.
“Aromanya disana”
Shya Vir melangkah mendekati kerumunan yang entah sedang menanti apa. Ia hanya mendekat dan memastikan siapa pemilik darah yang familiar baginya.
Greb!
“Oke, Anda berpasangan kan?..ini Lampionnya, dan Lilinya ada disana. Cepat bergegas masuk dan menyalakan bersama, semakin cepat semakin baik untuk kalian”
Dengan pandangan bingung,Shya Vir menatap pergelangan tangannya yang di ikat oleh benang merah dengan seorang wanita yang ia sendiri tidak tahu siapakah orangnya, namun aroma darah familiar itu adalah milik wanita yang kini melangkah bersamanya.
“Apa aku harus memakannya?”benak Shya Vir. Ia diam memperhatikan tingkah wanita yang ada didepannya. Wanita itu tampak sekali menghindari tatapan mata bahkan sentuhan tangan dari Shya Vir sangat diperhatikan.
Bukan hanya itu, Wanita didepannya juga berguman sendiri seakan-akan malu untuk berbicara kepadanya. Jadi Shya Vir hanya dengan inisiatif memberikan bantuannya.
Tiba saat Lampion diterbangkan, Shya Vir mengangkat lampion putih yang ada pada wanita didepannya. Matanya mengarah kepada mata wanita yang menatap lampion ditangan mereka.
“Aku seperti pernah melihat mata itu”benak Shya Vir.
Saat seorang penjaga memberikan perintah untuk melepasakan lampion, maka saat itulah tangan Shya vir dan Wanita didepannya melepaskan lampion mereka. lampion itu terbang dengan perlahan namun kecepatan terbangnya sangat cepat hingga mendahului lampion orang-orang.
Shya Vir tidak memperdulikan makna dari lampion, benang merah yang dikatakan orang-orang sebagai hubungan takdir dalam hidup. ia sangat tidak mempercayai takdir.
Mata Shya Vir cepat beralih untuk melihat wanita yang ada didepannya. Wanita itu masih fokus dengan terbangnya Lampion. “Sebaiknya, Aku memakanmu saja”benak Shya Vir yang berniat untuk menangkap Wanita didepannya. Namun...
“Shya Vir!!!!”
Swuuush!
“Shya Vir?..Benar-benar Shya Vir kan?”
Shya Vir membelakkan matanya, ia melihat dengan teliti dan mendengarkan dengan sangat tenang. Ia ingin memastikan siapa orang yang ada didepannya ini.
Dengan perasaan kesal dan amarah yang membuat mata merahnya semakin tampak, membuat orang didepannya dengan cepat menganggam tangannya. “Sial, Gadis manja?”benak Shya Vir.
“Shya Vir!..apakah ini dirimu?”
“Bagaimana ia bisa mengingatku?”Guman Shya Vir. Ia berpikir akan sangat sulit memecahkan mantra pelupannya. Namun orang didepannya tidak menunjukkan bukti-bukti lupa tentangnya.
“Mengingatmu?...tentu saja aku ingat semuanya. Bahkan aku masih mengingat bahwa Aku sudah menyatakan cintaku. Astaga aku tidak percaya, kita akan bertemu disini. Shya Vir apakah ini takdir?”
Ucapan Gadis manja didepannya membuat Shya Vir meringitkan kening. Ia dengan cepat menyentuh pergelangan tangannya dan melepaskan benang merah yang terikat.
“Apa yang kamu lakukan?..Shya Vir..tanganmu akan terluka”
Shya Vir tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Qariya. Yeah gadis didepannya adalah Qariya, si gadis manja yang sangat memuakkan untuknya.
Karena tindakkannya yang hampir membuat benang merah melukai pergelangan tangan, Gadis manja didepannya dengan pelan menyentuh tangannya.
“Tenang, aku akan melepaskannya”
Shya Vir menatap kearah lain dan membiarkan Gadis manja melakukan apa yang diinginkannya.
“Oke sudah, Shya Vir..apa kamu sangat membenciku hingga tidak ingin menjadi pasangan sebagai penerbang lampion?”
“Menjauhlah dari hidupku, dan aku katakan kepadamu bahwa aku tidak mencintaimu, ingat itu!”
Dengan cepat Shya Vir melangkah pergi meninggalkan Qariya. ucapan yang ia berikan sangat jelas bahwa ia memberi jawaban dari apa yang ditanyakan Qariya. dan setelah langkahnya cukup jauh, ada rasa tidak enak dihatinya setelah mengatakan itu semua.
Shya Vir benar-benar merasa gila ketika berada didekat Qariya. ia tidak tahu kenapa, menatap mata Qariya selalu membuatnya takjub meski ia tidak ingin mengakuinya. Lalu tingkah Qariya yang entah bagaimana membekas didalam ingatannya. Dan terakhir senyum yang selalu tampil didepannya.
Plak!
Shya Vir menampar dirinya didepan umum. Orang-orang yang melihatnya dibuat kaget.
Bahkan ada yang mengira ia sedang mabuk hingga menampar wajah sendiri. namun Shya Vir tetap tidak memperdulikannya.
“Shya Vir, lupakan ia dan jangan pernah berpikir tentang dirinya”Guman Shya Vir. Ia melangkah dengan cepat menuju kearah pintu keluar.
Bruk!
“Hei! Hati-hati”Shya Vir melanjutkan langkahnya setelah memarahi Seorang Pria yang menabrak dirinya. Ia tidak tahu bahwa orang yang ia marahi sedang tersenyum dengan pandangan yang penuh akan kelicikkan.