THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 44: Tenanglah



Dibawah sinar matahari yang memancarkan cahayanya. Qariya duduk dengan tenang ditanah, menatap langit yang menyilaukan mata.


Helaan nafas tidak bisa ia hindari lagi, perasaan menunggu selalu menganggu pikirannya.


“Aku tidak tahu, Apa Titi akan menyetujuinya?”Qariya membaringkan tubuhnya.


Langit dengan beberapa awan yang berada didekatnya sangat cantik dimata Qariya. “Apa Pengakuan itu dimulai pada siang hari?, atau pagi hari? Atau malah dimalam hari?, Huh~ akuu benar-benar tidak tahu keadaannya. Apa Shya Vir bisa melewatinya?”


Pertanyaan yang berucap dimulut tidak akan sama dengan dipikiran Qariya. ia memikirkan bagaimana taktiknya pergi dari mansion, sedangkan keamanan sudah diperketat oleh Sang Ayah. Lalu memikirkan Ia pergi dengan apa?, tidak mungkin mengunakan mobil, Ia tidak tahu menyetir. Lalu membawa motor, Sama saja seperti mobil. Dan jika berjalan kaki, akan lama untuk ketempat yang ia tuju, bisa-bisa malam hari baru tiba disana.


“Apa aku harus mengunakan Sepeda untuk kesana?, mengingat denah yang ku dapat, itu bisa memakan waktu sekitar 2 jam. Apakah aku sanggup?”benak Qariya.


Sinar matahari yang menerpa wajah Qariya seketika menghilang. Mata Qariya menatap keatas, dimana Titi menghalangi sinar matahari dengan napan ditangannya.


“Apa kamu ingin penyegar mulut?”tanya Titi yang duduk disamping Qariya.


Perlahan tubuh Qariya bangun dan menatap Titi yang menaruh napan diantara mereka.


Tidak ada pembicaraan sama sekali, Qariya merasa ia belum siap mendengar jawaban Titi. Dengan pengalihan untuk menghindari Titi, Qariya menghabiskan susu yang dibawa dengan buah-buah untuk dimakan.


“Ehem!, Qariya”panggil Titi.


Jantung Qariya berdetak hebat mendengar panggilan Titi kepadanya, ia menolehkan wajahnya dengan perlahan tak lupa senyum tipis untuk menenangkan dirinya.


“Iya, Ada Apa Titi?”tanya Qariya. suaranya tenang dan nada nya pun lembut seperti biasanya.


“Qariya, Aku...hmph?”


Qariya menutup mulut Titi dengan tangannya. Ia menghela nafas untuk menenangkan suasana yang ada.


“Maaf Titi, Aku belum siap mendengar jawabanmu tentang malam itu, rencana dan keinginanku”sambil berucap Qariya melepaskan bungkaman tangan dari Titi, ia menatap kearah lain agar perhatiannya bisa mengubah rasa cemas yang ada didada.


Greb!


Sebuah kehangatan dari genggaman yang diberikan Titi pada kedua tangannya, membuat perhatian yang teralihkan kini memandang kearah Titi.


“Dengar Qariya, Aku tahu ini juga berat untuk ku. memahami masalah cinta rasanya sulit. Sangat sulit hingga aku pusing dan tidak bisa tidur semalam. Namun, aku tidak bisa menolak apa yang kamu inginkan, maksudku...Aku akan membantumu”


Ekspresi Qariya penuh akan keterkejutan, ia bahkan tercenga hingga diam sesaat untuk mencerna segala yang disampaikan oleh Titi kepadanya.


“A-A-Apa?”Qariya terbata-bata memberikan respon kepada Titi yang tersenyum dengan sangat manis.


“Shhh!, kapan kamu akan memulainya?”bisik Titi.


Qariya merasa bom kebahagiaan meledak didalam diri, ia bergegas bangun dan menarik Titi untuk pergi kekamarnya. Dan menyusun semua rencana kepergian untuk menemui Shya Vir.


-


“Jadi, Kamu ingin bersepeda menuju kesana?, Aku tidak bisa mengijinkanmu kesana jika harus bersepeda, akan sangat berbahaya untukmu”wajah khawatir Titi sangat tampak didepan Qariya.


Titi tidak puas mendengar penjelasannya, hingga berdiri dengan tangan bersimpuh didada. “Sulit, Jika aku menahan para bodyguard untuk tidak mengikutimu, akan sulit untukku menahannya, kamu tahu! Tugas mereka adalah menjagamu, dimanapun kamu berada. Bahkan sampai dikamarpun mereka tetap bersiaga”


Hah~


Qariya menghela nafas, ia tahu tidak ada yang bisa menghindari apa yang sudah Ayahnya perintahkan. Ia juga tahu diperbatasan pasti sudah ada yang menjaga, baik orang suruhan maupun polisi dan bahkan seorang penjaga lainnya.


“Lalu bagaimana cara kita pergi dari sini?”Qariya menatap Titi, berharap ada ide lain yang bisa menjadi alasannya keluar dari perbatasan dan bisa mendapatkan keamanan untuknya.


“Hm, Bagaimana kalau aku meminta izin kepada Ayah untuk membawamu kerumahku, siapa tahu Tuan Besar mengijinkannya?”usul Titi.


Qariya mengangguk cepat dan bangun dari duduknya, “Itu ide yang luar biasa, maka temuilah Tuan Indra!”


Titi bergegas pergi meninggalkan kamar Qariya. setelah mendengar ucapan Qariya, Titi tampak semangat untuk membantunya.


“Ku harap Titi bisa mendapatkan izin dari Tuan Indra dan Ayah akan mengijinkanku keluar”Benak Qariya dengan menatap kearah jam yang menunjukkan pukul 12 siang.


Waktu yang berjalan dengan pelan bagi Qariya, ia menunggu kehadiran Titi dan menanti jawaban apa yang akan didapat. Namun dua jam sudah ia menunggu, Titi tidak kembali dari kepergiannya.


“Aku tidak tahu kenapa Titi tidak kembali. Jika ia ada tugas pasti akan mengabariku dulu”


Karena sudah tidak sabar menanti, Qariya memutuskan keluar kamar dan menuju alua. Alua yang jarang ia kunjungi.


Setibanya di tempat yang luasnya bukan main, langkah kaki Qariya pun terhentikan tepat diambang gerbang masuk. Ia melihat sang Ayah sedang mengunakan sesuatu yang ia baru pertama kali melihatnya.


“Ayah”panggil Qariya.


Suaranya yang lembut itu mengaum didalam aula yang sepi karena semua orang fokus menatap sesuatu didepan mereka.


Qariya melangkah menatap kekanan dan kekirinya, sesuatu berbunyi dengan desiran tenang, namun tampak asing untuknya.


“Apa ini Ayah?”tanya Qariya. ia mendekati sang Ayah, dimana ada Titi yang tidak menatap dirinya.


“Kemarilah Sayang, Ini adalah Drone. Pesawat terbang tanpa awak”jelas sang Ayah dengan bahagia.


Qariya menatap kearah drone yang berterbangan disekelilingnya. Ia menatap kearah kumpulan orang yang mengendalikan pesawat terbang yang kecil itu.


“Untuk apa semua ini?, maksudku, apa ini perkembangan teknologi lagi?”tanya Qariya.


Ia menatap Ayahnya yang mengangguk, dan mendekap dirinya. “Benar Sayang, Ini adalah teknologi yang Ayah ciptakan. Tetapi jangan berpikir ini hanya sebuah permainan, ini akan menjadi senjata kuat yang Ayah persiapkan”


“Senjata?”Qariya menatap bingung kepada Ayahnya. Karena membuat senjata seperti ini, akan berguna dimana?, jumlah dari drone yang ada dialua sudah hampir ratusan, jika digunakan dalam perang, mereka tidak perlu turun tangan lain, hanya mengunakan remote kontrol untuk membunuh orang-orang.


“Kamu tidak perlu tahu Sayang, oh ya Titi mengatakan ingin membawamu kekediamannya, namun Ayah menyuruhnya membantu disini sebentar. Tidak masalah kan?, kalian bisa berangkat setelah Ayah selesai, tunggulah satu jam lagi”


Qariya hanya diam menatap apa yang ada disekelilingnya. Ia merasa perasaan tidak enak memenuhi rongga hati hingga rasa takut dan bayangan lain muncul dibenaknya.


“Tenanglah Qariya”benaknya.