
Qariya memandang kesal kearah Sepupu Shya Vir. Ia sudah menduga bahwa dirinya dijebak oleh Orang yang sedang menatap tajam kepadanya.
“Kembalikan Darah leluhur kami!” teriak Sepupu 1 dengan begitu kuat. Hingga, beberapa penerus Vampir mengikutinya.
“Benar! Kembalikan Darah leluhur kami!”
“Kembalikan!”
“Kembalikan!”
Mendengar teriakkan yang luar biasa itu. Titi berdiri tak jauh dari Qariya. ia mengambil pedang bekas dari para pengawal yang lain. tangan yang mengenggam pedang diayunkan dengan perlahan.
“Minggir!” pekik Titi untuk menyinggirkan penerus Vampir yang berteriak-teriak didekat Qariya.
Qariya melihat Titi yang menghalangi para penerus, membuatnya tersenyum. Mau bagaimana pun, Titi selalu melindunginya bahkan menjaga dirinya.
“Aku sudah menjadi penerus untuk 3 ras yang ada. dan tugasku adalah menyatukan kalian kembali. Dengar! Kita bisa saling memaafkan dan saling mencari penyelesaian dari masalah yang ada. aku yakin, ada kesalahpahaman yang terjadi pada leluhur sebelumnya.”ucap Qariya menatap kepada Sang Ayah yang merupakan Pemimpin Manusia. Lalu menatap kearah Pemimpin Vampir yang merupakan Ayah Shya Vir.
“Putriku, kamu mendapatkan kekuatan itu. musnahkan saja mereka. merekalah yang membuat para leluhur menjadi menderita. Jika mereka bisa menjaga rasa lapar,kita tidak akan mungkin menyalahkan mereka.” ucap Sang Ayah dengan amarahnya.
Pemimpin Vampir angkat bicara. “Bukankah kalian yang mengoda kami. Leluhur yang dulu mengatakan kepadaku, empat penerus 3 ras. Ternyata, mereka yang mengoda kami hingga menghabisi kami diam-diam. Maka yang seharusnya dimusnahkan itu kalian!”
Pendapat yang saling berlawanan,menghadirkan percikkan ketidaksukaan. Qariya yang melihatnya mengerutkan alis. Ia ingin berucap kembali, tapi seseorang datang dengan pasukkannya.
“Gadis manja, kita bertemu kembali.”sapa Guar Luh yang mengenakan jubah kekuasaannya. Sudah bisa ditebak oleh Qariya, bahwa Guar Luh merupakan Raja dari Ras Serigala.
Titi dan Shya Vir mendekat kearah Qariya yang turun perlahan. Dan entah kenapa Shya Vir mengulurkan tangan untuk menuntun Qariya.
Melihat tangan yang terulur dengan dadakkan itu, disambut cepat oleh Qariya sebelum kaki jenjangnya menyentuh tanah.
“Wow, apa kalian sudah saling mencintai?” Guar Luh bertanya sambil mengeluarkan cakar tajamnya.
“Apa yang kamu inginkan Guar Luh?” tanya Qariya dengan memandang Guar Luh. Pria dengan bulu abu-abu ditubuhnya tersenyum. Cakar yang panjang itu ditujukan tepat pada mata emasnya.
“Keinginanku adalah mencabut kedua bola matamu. Dan memakannya untuk menyempurnakan kekuatanku. Tentu, bukan hanya aku yang menginginkannya, bahkan Ras Vampir juga ingin mendapat darah leluhur mereka.” Guar luh berucap dengan nada yang begitu dewasa. Tampak sekali ia begitu serius.
Sorakkan setuju begitu kuat hingga Qariya merasa gelisah. Ia menjadi tidak percaya diri ketika tidak ada yang mendukung keputusannya.
“Jangan berani menyentuh Putriku!” Sang Ibu berdiri didepan Qariya, dengan dua senjata tajam terbentang didepan Guar Luh.
Qariya terteguh melihat Ibunya berdiri dengan begitu berani. “I-Ibu?” Qariya ingin meraih pundak sang Ibu. Tetapi, sebelum tangannya meraih, sebuah anak panah mengerah tepat pada Ibunya. Seketika itu juga, tatapan Qariya mengarah pada anak Panah yang langsung hancur berkeping-keping.
“Serahkan Mata Emasmu!” Guar Luh mengencangkan tangannya untuk meraih Qariya.
Qariya bergegas menjauhkan tubuhnya dan menatap dengan terkejut,melihat Shya Vir menghalangi Guar Luh.
“Jangan menyakitinya!” ucap Shya Vir yang melesatkan mata merahnya hingga menerbangkan Guar Luh.
Peperangan kembali terjadi, Qariya memundurkan tubuhnya dengan perlahan dan menatap bingung. Sulit untuknya mengendalikan 3 ras sekaligus.
Bruk!
“Titi...bagaimana ini, Aku tidak bisa mengendalikan mereka. bagaimana caranya?” tanya Qariya dengan ucapan yang begitu cepat.
Titi ingin menjawab pertanyaan Qariya. Namun sayang, ada Ras Vampir yang melesatkan kekuatannya. “Awas Qariya!”
Qariya merasa tubuhnya dipindahkan untuk menjauh, dan saat tubuhnya sudah stabil berdiri. Ia menatap Titi yang berbaring lemas karena terkena kekuatan Vampir.
“Titi!” Qariya bergegas mendekat dan memangku Titi. Air mata yang jarang ia keluarkan, kini mengalir mengenai luka dipipinya.
“Titi! Dengar aku...Apa kamu mendengarku?...Titi!” melihat tidak ada respon dari orang yang ada dipangkuannya. Qariya semakin menangis hingga menghadirkan rasa sakit dihati Shya Vir yang tengah bertarung.
-
Shya Vir menyentuh dadanya, ia menekan dengan kuat berharap rasa sakit yang didapat bisa berkurang. Namun sayang tidak ada yang berkurang sama sekali. Semakin ia mendengar suara tangis dari Gadis Manja. Semakin sakit pula hatinya.
“Hah, apa kamu masih belum menyadarinya Shya Vir. Bahkan setelah pengakuanmu yang gagal itu. kamu masih belum menyadarinya?” tanya Guar luh dengan nada mengejek.
Shya Vir bungkam. Engan untuk menjawab pertanyaan dari Guar Luh. Ia lebih memilih untuk melesatkan kekuatannya, dan menghajar Pria serigala didepannya.
“Sudah ku duga, kamu belum menyadarinya. Baiklah, mari kita lihat, sampai kapan kamu akan bertahan.”
Perkelahian mereka terus berlanjut dengan sangat cepat. Kecepatan keduanya bukan lagi hal biasa. Karena Shya Vir dan Guar luh, mereka adalah penerus dari Ras mereka sendiri.
Saat pertarungan sudah begitu memanas. Semua yang ada merasakan sesuatu yang salah. Mereka perlahan menghentikan peperangan yang terjadi.
Terutama Guar Luh dan Shya Vir. Keduanya saling menatap telapak tangan mereka. tampak jelas bahwa tidak ada kekuatan yang cukup untuk mereka kerahkan.
“APA YANG KAMU LAKUKAN!”
Seseorang dengan teriakkannya berhasil menarik perhatian dari Shya Vir dan Guar Luh.
Mata mereka saling membelak melihat apa yang terjadi. Hal yang sangat tidak diduga oleh keduanya.
“Apa yang gadis itu lakukan.” Ucap Guar Luh dengan nada kesalnya.
Shya Vir yang terkejut, perlahan melangkahkan kakinya. “Gadis Manja.” Guman Shya Vir.
“Shya Vir!” Ayah Shya Vir berucap dalam batin. Ucapan itu berhasil mengunci pergerakkan Shya Vir.
Shya Vir berusaha untuk lepas dari sang Ayah, ia bahkan mengeluarkan segala kekuatan agar bisa lepas. Namun, semua kekuatan itu tidak berguna.
“Ayah, Apa yang Ayah lakukan?” Shya Vir bertanya lewat batinnnya. Ia ingin tahu kepada sang Ayah melarangnya seperti ini.
“Apa kamu lupa Shya Vir, jangan jatuh cinta kepada Manusia!” jawab Sang Ayah lewat batin. Mendengar jawabab sang Ayah, Shya Vir diam dengan memandang kearah pijakkannya.
Ia merasa tindakkannya memang aneh. Kenapa ia disini?, apa yang ia lakukan?, dan kenapa harus ia yang menolong Gadis Manja?, Dia tidak jatuh cinta kepada Qariya.
Pikiran yang saling bertabrakkan membuat Shya Vir menjadi pusing. Ia menatap kearah Qariya yang berhasil mengejutkannya.
“TIDAK!!!”