THE VAMPIRE IS MINE

THE VAMPIRE IS MINE
BAB 33: Saling Berpikir



Disebuah vila yang tampak mewahnya. Berbaris mobil untuk mengeluarkan penumpang yang akan menghadiri sebuah pesta megah ini.


Qariya yang melihatnya menatap dengan wajah serius. Tanpa ia duga bahwa pesta ini sedikit memberinya rasa kagum. Meski ia kagum, tetap saja ada penolakkan dihatinya.


Krek!


“Selamat malam Nona Muda”sapa pelayan yang membukakan pintu mobil.


Qariya menganggukkan kepala dan melangkah keluar bersama Titi. Hukuman Qariya tidaklah berat,ia akan bebas bergerak jika bersama Titi. Hanya Qariya tidak ingin mengunjungi semua ini, dan Titi mengatakan bahwa ini juga termasuk hukuman. Qariya diam-diam menghela nafas untuk menenangkan pikirannya.


“Titi, apa kita harus masuk?”bisik Qariya tepat disamping Titi. Ia mengarahkan kepalanya agar Titi bisa membalas pertanyaannya.


“Tentu saja, Tuan besar dan Nyonya sudah ada didalam”bisik Titi dengan cepat.


Qariya dengan pasrah mengangguk dan melangkah masuk. Ia melihat banyak anak muda yang mengenakan gaun mewah berhias berlian di seluruh tangannya. Cantik dan juga manis.


Namun Qariya tidak merasa kalah dengan mereka. karena bagaimana pun Ia lah sang pemimpin yang akan mengantikan Ayahnya.


“Heh, aku merasa bangga dengan diriku sendiri. tidak perlu tampil mewah, cukup sederhana dengan rakyatmu yang hidup bahagia”benak Qariya dengan senyum tipis yang tidak disadari.


“Malam Nona Qariya?,benar bukan?”


Seorang wanita dengan kipas yang menutupi wajahnya, berbicara dengan nada anggun yang membuat orang tenang mendengarnya. Namun Qariya yang diajak berbicara hanya memandang dengan wajah tenang.


“Benar”Qariya membalas ucapan dari wanita yang sudah menyapa dirinya. Ia tidak ingin tahu siapa nama orang didepannya ini, karena bagaimanapun, ia cukup tahu wajah seseorang. Karena daya ingat akan wajah orang lebih baik dari pada nama seseorang. Karena ia bisa melupakan nama mereka dari pada wajahnya.


“Sangat cantik, apa yang membuat Nona Muda bisa menghadiri acara seperti ini, biasanya Nona Muda tidak akan bisa hadir”


Entah niatnya menyindir atau apa. Qariya tetap tenang menanggapi orang-orang yang seperti ini. Qariya sudah belajar juga bagaimana menanggapi mereka.


“Sungguh tidak sopan jika menolak undangan dari semua orang. Dan ketidak hadiranku saat itu karena terlalu banyak jadwal yang harus dikerjakan. Sekarang aku memiliki waktu luang untuk menghadiri pesta ini”


Wanita yang ada didepan Qariya hanya tersenyum mendengar jawabannya. Lalu melengang pergi meningalkan dirinya dan Titi.


“Seseorang yang menarik”ucap Titi yang memberikan Qariya segelas minuman dingin.


Qariya menyambut gelas cantik itu dan tersenyum mendengar ucapan dari Titi, “Mungkin”


Qariya melangkah menuju kedalam aula yang sesungguhnya. Dimana banyak Pria-pria yang menjadi penerus keluarga mereka. ada yang sudah berpasangan dan ada yang masih singel.


Acara pesta ini dibagi dua ruangan, dilantai atas khusus para orang tua yang masih memimpin atau yang sudah melepaskan jabatannya untuk penerus mereka. lalu dilantai bahwa khusus untuk para penerus dan anak-anak yang sudah menginjak masa remaja mereka.


Sangat menguntungkan dengan pesta seperti ini. Selain mendapatkan memperluas bisnis, mereka juga bisa menjodohkan Putra-Putri mereka untuk memperdalam hubungan keluarga.


Dan hal itulah yang tidak disukai Qariya, ia menatap para Pria yang berbicara basa basi kepadanya. Dan yang menanggapi ucapan dari mereka hanyalah Titi seorang. Qariya hanya tersenyum dan mengangguk.


Pikirannya tidak berada disini, melainkan mengingat seseorang yang dikhawatirkan olehnya sendiri.


“Apa Shya Vir, baik-baik saja?”benak Qariya.


-


Kepulan uap memudar setelah beberapa detik dihembuskan. Mata menatap kearah jendela. Ia menatap dengan pandangan datar.


Bekas cambuk terlukis indah dipungung yang putih dan pucat itu. meski bekas cambuk itu akan menghilang dari tubuhnya, tetap saja ada kenangan dibalik cambukan ini.


Mata Shya Vir yang berwarna merah menatap indahnya langit dibalik jendela kamarnya. Setelah mendapatkan hukuman, ia tidak ingin berlama-lama di ruang hukuman, jadi ia bergegas kembali kekamar.


“Putraku, apakah kamu sudah tertidur?”


Shya Vir mengubah posisi telungkupnya, ia mendudukkan diri. “Masuklah Ayah, aku belum mengantuk”


Krek!


Dilihatnya sang Ayah datang membawakan mapan entah berisi apa. Ayahnya mendekat dan duduk tidak jauh dari Shya Vir duduk.


“Ini, gunakan untuk mengurangi rasa sakitnya”


Aroma obat-obatan sangat menyengat dihidung Shya Vir. Ia mengambil mangkuk kecil yang diberikan Ayahnya.


“Ayah, aku tidak memperlukan ini. Biarkan aku merasakan rasa sakitnya”Ucap Shya Vir yang menaruh kembali mangkuk disampingnya.


Sang Ayah yang mendengar jawabannya hanya menghela nafas. “Putraku, Apa yang kamu dapatkan dari wanita yang mencintaimu itu”


Lirikkan mata Shya Vir menatap kearah Ayahnya. Ia merasa Ayahnya bisa mengetahui apa yang disembunyikan olehnya.


“Putraku, darah yang mengalir ditubuhmu terdapat darah Ayah juga, tidak heran apa yang kamu rasakan bisa Ayah rasakan juga. Hanya ada beberapa yang tidak Ayah ketahui. Perasaanmu”


Shya Vir diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Ia bahkan membiarkan Ayahnya mengoleskan obat-obatan pada punggungnya.


“Putraku, apa kamu menyukai dirinya?”


“Hah?”Ia terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Ayahnya. Bagaimana bisa ia menyukai seorang gadis manja yang sangat menyebalkan baginya.


Ia dengan cepat bangun dari duduknya dan menghadap kearah sang Ayah yang menatap dirinya.


“Ayah!, Aku? Menyukai gadis manja itu?..itu tidak akan mungkin terjadi, dan lagi Ayah, tidak ada niat didalam diriku untuk bisa menyukai seorang gadis seperti dirinya”


Shya Vir membantah apa yang di katakan oleh Ayahnya. Ia tidak akan mungkin jatuh cinta kepada gadis manja yang menyebalkan bahkan merepotkan hidupnya. Dirinya pun berniat untuk tidak lagi bertemu dengan gadis yang sangat-sangat menyebalkan itu.


“Baiklah, sebaiknya kamu istirahat sekarang, hukumanmu sudah dijalankan, dan hm Putraku..kenapa kamu mandi darah lagi?”


Shya Vir mengingat apa yang terjadi kepadanya, setelah ia mendengar pertanyaan dari sang Ayah.


“Tidak ada yang terjadi Ayah, aku hanya ingin mandi dikolam darah”


“hm, baiklah..kalau begitu Ayah akan pergi, tidurlah”


Bam!!


Setelah Ayahnya pergi, Shya Vir menatap kearah jendela yang masih menunjukkan keindahannya.


Dengan pandangan tenang, pikirannya mengingat tentang wanita yang mengoda dan tersenyum setiap bertemu dirinya.


“Aku tidak tahu apa yang ada didalam pikiran gadis itu”Shya Vir mengayunkan jari telunjukkan. Dan dalam sekali Ayunan, jendela kamarnya tertutup dengan rapat.


“Lupakan dirinya Shya Vir, gadis itu tidak pantas untuk dipikirkan. Aku yakin ia telah melupakanku dan tidak akan mengingat diriku lagi”


Meski berucap demikian, ada rasa dihati yang berbeda dari ucapannya. Seperti rasa tidak ingin di lupakan muncul didalam hati Shya Vir.


Namun karena rasa kesal sudah memenuhi hati, Shya Vir melupakan rasa tidak enaknya. ia dengan cepat menidurkan diri untuk mengobati luka cambuk yang diterima. Meski Ras Vampir tidak memperlukan tidur, karena disiang hari, mereka juga akan tidur. Namun untuk penyembuhan, mereka harus menidurkan diri, agar penyembuhannya berjalan lancar.