
“Apa yang terjadi?”benak Qariya.
Greb!!!
Pelukkan yang tidak memiliki kehangatan berada didekapan Qariya. Ia membelakkan mata menyadari bahwa Pria asing bernama Shya Vir, telah memeluk dirinya.
“APA KAMU INI BODOH!!”
Umpatan terdengar ditelinga Qariya. Ia melihat wajah Shya Vir yang pucat. Tangan dingin yang menyentuh pungungnya dan pingang rampingnya. Lalu ia melihat mata merah Shya Vir yang menyala seakan-akan ada kekuatan dibalik matanya.
Semakin Qariya menatapnya, semakin ia merasa terpesona dengan tatapan mata itu. tanpa disadari senyuman terukir dengan bibirnya.
“Kenapa Kamu malah tersenyum?”
Wajah keheranan tampak didepan mata Qariya. Ia makin tersenyum hingga suara tertawa ringan keluar dari mulutnya. Dan entah didengar oleh Shya Vir atau tidak, Qariya memejamkan matanya bersiap menerima hempasan dari kejatuhannya.
Seperti yang diperkirakan oleh Qariya, bahwa kedalaman dari jurang yang dilihatnya tidak bisa diketahui berapa dalam kah jurang itu, yang pasti Qariya bersiap menerima rasa sakit karena kecerobohannya.
“Kenapa Aku harus menolongmu sih!”
Suara tenang membisik ditelinga Qariya, ia merasa bahwa tubuhnya berputar, dan lagi pelukan yang didapat olehnya semakin mengerat. Menuntun kepalanya berbaring di dada orang yang memeluknya. Situasi ini membuat jantung Qariya berdegup cepat, rasa suka dan cinta bertabrakkan yang menghadirkan rasa kebahagiaan dihatinya.
BRUK!!!!
Agh!!!
Qariya bergegas bangun dari dekapan pria yang dicintai olehnya. Ia mengubah posisinya untuk tidak memberatkan Shya Vir. Hujan yang masih turun itu digunakan Qariya untuk memfokuskan penglihatannya.
Setelah pandangannya menjadi jernih, ia melihat Shya Vir pingsan dengan wajah yang makin pucat. Karena hujan yang belum reda, Qariya memutuskan untuk mencari tempat berteduh.
“Aku sudah berlebihan, bagaimana bisa aku bahagia melihat dia yang melindungiku? Sedangkan ia sedang kesakitan seperti ini”benak Qariya.
Dalam perjalanan yang memakan waktu begitu lama, Qariya menguatkan dirinya. Mengendong pria yang ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa lebih lama lagi berjalan kaki. Karena kekuatannya sudah mulai berkurang sekarang.
“Aku harus kuat, ini...benar-benar...melelahkan”, Qariya berhenti melangkah. Ia benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkan langkahnya.
“Apakah anda tersesat?”tanya seseorang yang membuat Qariya menatap dibalik hujan yang mulai mereda.
“Astaga, Anda terluka?”suara panik mengetarkan telinga Qariya. Ia menatap dan menetralkan pandangannya. Terlihat orang tua yang datang kearahnya.
“Anak muda, apakah dirimu tersesat?”tanya salah satu dari mereka. Qariya merasa pungungnya menjadi ringan karena salah satu dari orang tua itu mengantikan dirinya.
Dua payung melindungi mereka dari rintikan hujan, dan Qariya melihat bahwa mereka tidak terlalu jauh dari pedesaan. Terlihat sekali bahwa mereka sudah mendekati Desa.
“Naiklah Anak muda”ucap sang wanita yang berumur. Ia menuntun Qariya naik kedalam gerobak yang berisikan sayur-sayuran.
“Maaf, jika ini tidak membuatmu nyaman”ucapnya lagi dengan merapikan tempat yang kosong untuknya. Qariya mengeleng dengan cepat.
“Tidak, ini sudah sangat membantu..hm”Qariya bingung melanjutkan ucapannya. Dan kebingungannya itu di pahami oleh Wanita yang kini duduk dengan tenang.
“Panggil saja Bi Ray, Nak..”
Qariya yang mendengarnya mengangguk, “Terimakasih Bi Ray. Maafkan kami yang sudah merepotkan kalian”ucap Qariya.
“Tidak Nak, ini tidak merepotkan”sahut Bi Ray dengan begitu ramahnya.
“Kalian dari mana Nak?”tanya pria yang juga sudah berumur. Ia menuntun dua sapi yang menarik gerobak mereka.
“Ah ini suamiku Nak, panggil saja ia Paman Ju”ucap Bi Ray mengenalkan dengan baik.
“Apa kalian terjatuh dari jurang?”Bi Ray menyerahkan kain bersih kepada Qariya. Qariya bingung melihat apa yang diberikan oleh Bi Ray, hingga akhirnya Bi Ray menjelaskan kepadanya, “Ini untuk mengelap wajah suamimu ini Nak, lihatlah dirinya..kalau kalian terjatuh dari jurang, Bi Ray memberi saran, periksalah kondisinya. Ada bidan didesa Bi Ray”
Qariya mengambil kain yang diberikan, ia bergegas mengelap lembut diwajah Shya Vir yang masih menutup matanya. Usapan lembut itu tersekat saat Qariya mendengar kata ‘Suamimu’ yang Qariya sendiri belum pernah mendengar seseorang berbicara seperti itu kepadanya.
Dari mana pandangan orang tua didepannya ini, hingga mengira mereka adalah pasangan suami istri. Pikiran kalutnya terganti dengan menyadari bahwa Shya Vir sudah menerima benturan hebat dipunggungnya.
“Iya..kalau boleh tahu Bi Ray, apa nama Desa Bi Ray?”tanya Qariya.
Bi Ray yang mendengar ucapannya langsung menjawab, “Desa Sun nak”
Qariya mengangguk mendengar ucapan dari Bi Ray, ia melanjutkan kegiatannya mengusap lembut wajah pucat orang yang dicintainya.
Perlu waktu 2 jam hingga mereka tiba didesa, hujan deras pun berhenti, dan senja menerangi dengan keindahannya.
Qariya duduk dikursi. Ia menunggu hasil dari bidan yang dipanggil oleh Bi Ray untuk memeriksa Shya Vir.
“Nak duduklah....”ucap Bi Ray, ia membawa ubi rebus dibakul yang begitu enak dimata Qariya.
“Panggil saja Qariya, Bi Ray”Qariya lupa mengenalkan namanya kepada orang yang sudah menolong dirinya. Bahkan ia juga lupa beberapa pertanyaan yang diberikan, tidak dijawab olehnya.
Bi Ray mengangguk, ia duduk menemani Qariya. Mengupas kulit ubi yang masih hangat. Setelah kulit ubi dikupas, Ubi itu diberikan kepada Qariya.
“Ah...Bi, Qariya bisa mengupasnya”dengan pelan Qariya menolak Ubi yang diberikan Bi Ray kepadanya.
“Terimalah Nak, untuk apa bersikap seperti itu, anggaplah rumah sendiri”ucap Bi Ray yang kembali memberi Qariya ubi.
Mau tak mau Qariya menerimanya. Ia tidak ingin Bi Ray menjadi sedih karena penolakan yang terus menerus diberi oleh Qariya.
“Terimakasih Bi”ucap Qariya yang mulai memakan ubi hangat.
Bi Ray melanjutkan kegiatannya mengupas ubi yang sudah matang.
“Nak Qariya, jangan khawatir, suami mu pasti akan baik-baik saja..sebenarnya Bi Ray khawatir, melihat wajah suamimu yang pucat itu. ia seakan tidak bernyawa..Bi Ray mengira ia sudah Meninggal saat meliha..”
UHUK!!!
Qariya tersedak Ubi yang untungnya tidak berdiam ditengorokannya. Dengan lembut usapan pungung diterima oleh Qariya. Ia tersenyum dan mengambil air hangat yang diberikan oleh Bi Ray.
“Hati-hati Nak..makannya pelan-pelan, Bi Ray tahu kamu pasti kepikiran dengan keadaan suamimu kan?”wajah tulus Bi Ray membuat Qariya tidak tega mengatakan yang sebenarnya.
“Bi, seandainya dirimu tahu bahwa yang didalam sana bukan manusia, apa Kalian akan mengusirku?. Lalu jikalau dirimu tahu bahwa yang ada didalam sana sudah menolak cintaku, lebih tepatnya bukan suamiku..apa Bi Ray akan melemparku keluar dari rumahnya?”benak Qariya dengan wajah paniknya.
Bi Ray bergegas memeluk Qariya, Qariya terteguh dengan pelukkan dari Bi Ray.
“Nak,kan Bi Ray sudah mengatakan bahwa Suamimu akan baik-baik saja, jangan panik ya”
Usapan lembut berada dipunggung Qariya. Ia menenangkan hatinya, “Qariya, tenang, Bi Ray tidak tahu semuanya..apa aku harus berbohong lagi?”benak Qariya.
Krek!!!
Bidan keluar dari kamar yang dimana ada Shya Vir berbaring dengan tenang. Qariya dan Bi Ray bergegas mendekati Bidan.
“Dia tidak apa-apa, hanya memar dipunggungnya. Dan hm..apa Suami anda mengalami suatu masalah dalam jantungnya, karena saat pemeriksaan, jantungnya tidak berdetak sama sekali..namun tak lama jantungnya merespon dengan baik. Saran dariku untuk membawanya kerumah sakit, siapa tahu ia mengalami sesuatu yang mempengaruhi jantungnya”
Bidan bergegas pergi setelah menyampaikan semuanya kepada Qariya. Ia bahkan memberikan resep obat untuk dikonsumsi oleh Shya Vir.
“Jantung?..Shya Vir punya jantung?”benak Qariya.