
“Nak Qariya, makan malam sudah siap, apa kamu ingin makanan sesuatu?”tanya Bi Ray.
Qariya datang karena mendapatkan panggilan untuknya. Ia menatap tata makanan yang sangat-sangat sederhana. Telur dadar, nasi, tempe dan tahu. Lalu kacang panjang yang digoreng dengan bumbu seadanya. Benar-benar mengharukan untuk Qariya.
“Maaf ya Nak, makan malamnya sangat sederhana..oh ya apa suamimu sudah bangun?”tanya Bi Ray yang menyiapkan piring untuk Qariya.
“Jangan meminta maaf Bi, ini sudah sangat enak...ehm...”Qariya diam sejenak.
“Apa aku panggil ia suamiku saja?...ah itu lebih dari apa yang ku pikirkan..tapi kalau aku berbohong akan sulit dimasa depan nanti”benak Qariya.
“Apa suamimu masih tertidur?”tanya Paman Ju yang datang dengan wajah kelelahannya. Tanpa disadari Qariya mengangguk mendengar ucapan dari paman Ju.
“Menurutku wajar jika ia masih tertidur, karena tidak ada yang sanggup menahan tubuh orang lain saat mereka terjatuh. Ia pasti sangat mencintaimu hingga mengorbankan dirinya”Paman Ju berbicara sambil mengemil kacang panjang yang dimasak oleh istrinya.
“ah...”Qariya tidak bisa berkata-kata. Didalam pikirannya banyak pertanyaan yang perlu jawabannya. Pertama perjanjian ras yang tak diketahui olehnya. Lalu kenapa Vampir memiliki darah dan detakkan jantung. Dan lagi ia memikirkan cintanya, apakah akan baik-baik saja atau akan berakhir begitu saja.
“Makanlah Nak..lalu aku akan menyimpan sebagian untuk Suamimu, siapa tahu ia akan bangun ditengah malam nanti”ucap Bi Ray.
Qariya tidak menjawab apa-apa. Ia hanya diam menyuap makanan untuk mengisi perutnya.
Setelah makan malam, Qariya memutuskan kembali keteras. Rumah sederhana ini membuatnya nyaman karena susana yang tenang.
Matanya menatap kearah langit malam, banyak bintang yang menghiasi langit, dan cahaya bulan menerangi dengan baik. Ia menduga bahwa bulan ini juga menyukai desa Sun. Karena dilihat-lihat cahaya bulan terang di sini. Jadi jalan-jalan tidak perlu menyalakan pelita sebagai penerang.
“Nak. Apa yang kamu lakukan disini?”tanya Paman Ju yang datang membawakan obor ditangannya.
“Aku hanya ingin bersantai Paman”jawab Qariya.ia menatap obor yang ada ditangan Paman Ju.
“Apa yang ingin Paman lakukan dengan obor itu?”Qariya bangun dari duduknya. Ia mendekat kearah Paman yang duduk di tangga rumah.
“Oh ini, biasanya dijam-jam 1 malam, bulan akan berhenti bersinar. Jadi obor ini menjadi penerangnya”
Qariya menatap obor yang dipasang dengan begitu hati-hati. Ia ingin membantu, namun Paman Ju menyuruhnya untuk kembali kedalam rumah dan beristiahat.
Qariya yang tidak ingin memaksa orang, memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah.
“Oh Kamu akhirnya kembali Nak...kemarilah”Qariya mendekati Bi Ray yang membawa selimut tebal ditangannya.
“Selimut ini, pakailah. malam ini sepertinya dingin. Jangan merasa tidak enakkan, tinggalah disini sampai Suamimu sadar. Baru setelah itu kalian pergi. aku tahu bahwa dirimu merasa tidak nyaman berada disini kan?”
Qariya mengeleng mendengar ucapan dari Bi Ray, “Bi jangan gitu, Qariya senang berada disini. Terimakasih untuk selimutnya”ucap Qariya mengambil selimut yang diberikan.
Qariya mengangguk, ia melangkah mendekati kursi yang ada didekat ruang santai.
Greb!
“Nak kenapa Kamu malah tidur diluar, Suamimu ada didalam kamar. Tenang saja, Kamar itu sudah tidak terpakai lagi..Putriku sudah meninggal saat usianya 12 tahun. Jadi jangan sungkan..tidurlah bersama suamimu Nak”ucap Bi Ray yang mendorong Qariya.
“Ah itu..Bi.anu ah..”Qariya berhenti didalam kamar. Ia membalikkan tubuhnya.
“Istirahatlah nak”ucap Bi Ray yang menutup pintu kamar. Qariya terdiam memantung ditempat. Ia tidak bisa bernafas dengan tenang sekarang.
Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, nafasnya berhembus dengan begitu tergesa-gesa. Dan getaran di balik selimut itu berhasil menyadarkan dirinya.
“Aku..tidur, disini?”guman Qariya. Selimut yang ada ditangannya digenggam dengan begitu erat. Ia tidak berani membalikkan tubuhnya untuk melihat ShyaVir yang berbaring dengan tenang.
“Agh bagaimana ini, aku tidak mungkin tidur bersama dengannya kan?”guman Qariya. Ia memejamkan matanya dan mengatur nafas. Untuk mempermudah jalan pikiran yang akan memberinya sebuah solusi.
Saat nafasnya sudah berhembus, Qariya mengambil sebuah ide yang ada diotaknya. Ia membalikkan tubuhnya, lalu menyelimuti Shya Vir dengan selimut yang diberikan oleh Bi Ray.
“Aku tidak tahu ia akan bangun atau tidak, yang pasti kalau bisa aku harus duduk disampingnya saja”Qariya mendudukkan bokongnya dilantai. Bersampingan dengan kasur kayu yang dipakai oleh Shya Vir.
Kasur itu muat untuk 2 orang, hanya Qariya bukanlah orang yang akan mengambil kesempatan seperti ini. Ia memang gila ingin dicintai oleh Pria yang berbaring itu. dan cara Qariya tidak segila yang biasa digunakan oleh para wanita-wanita aneh. Ia masih waras dan tahu aturan. Apa lagi ia adalah penerus dari seorang bangsawan. Bisa dibilang keturunan raja. Jadi etikanya harus di perhatikan.
Qariya duduk dengan mengupas apel merah, yang disediakan oleh Bi Ray didalam kamar ini. ia tidak menduga ternyata ada banyak pohon apel disekitar desa. Apa lagi Qariya merasakan bahwa Apel merah itu begitu sangat enak dimakan olehnya. Asik mengupas hingga apel terakhir dipotong dengan baik. Qariya mulai mengantuk.
Hoam!!
Qariya menatap kearah apel yang sudah dikupas olehnya, dengan perlahan ia menaruh pisau dan potongan Apel tidak jauh dari dirinya.
Posisi duduk Qariya diubah dengan perlahan, ia pun menatap kearah dinding dengan pikiran yang kemana-mana.
“Apa pengawal sudah mencariku, apakah akan ada berita tentang hilangnya diriku, ku harap itu tidak terjadi..akan memalukan jika itu terjadi kan”guman Qariya dengan tersenyum manis.
Ia membayangkan bagaimana sibuknya Titi mencari dirinya. Ia yakin pasti Titi akan mengusap kepalanya dengan acak-acakan karena rasa kesal dan stress dadakkan.
Akhirnya Mata itu tidak sanggup lagi terbuka, ia perlahan memejamkan matanya dan mulai terlelap dengan bersandar di samping kasur.
Malam yang berhawa dingin menyelimuti Qariya. Ia merasa seseorang mengendongnya, lalu membaringkan tubuhnya dengan baik dan menyelimuti dirinya dengan selimut yang hangat.
Qariya mengeliat untuk mencari posisi yang aman, dan dirinya melanjutan tidur dengan kehangatan didalam dirinya.