
Ketika sudah tidak ada lagi jalan keluar yang bisa diambil. maka keputusan yang tiba-tiba muncul menjadi sebuah pilihan. Dengan benda tajam ditangan kanan, diangkat tepat pada mata emas miliknya dengan kilauan yang indah.
Qariya menatap benda tajam yang didapat olehnya. Sebuah anak panah berada didepan mata. Pandangan datar Qariya membuatnya tidak perduli dengan teriakkan orang-orang. Ia dengan cepat menancapkan benda tajam tepat dimata kanannya, dan mencabut bola mata itu hingga kekuatan yang ada pada Ras Serigala dan Ras Vampir berkurang.
Darah mengalir dengan cepat membasahi pipi Qariya. rasa sakit menjalar hingga keotaknya dan melemahkan saraf didalam tubuh yang membuatnya sulit bergerak.
“TIDAK!”
Mendengar teriakkan dari orang yang dikenali. Pandangan Qariya menatap kearah Pria yang bergegas mendekatinya. Tetapi, belum beberapa langkah Ayah Qariya sudah menghadang Shya Vir.
“Apa yang kamu inginkan? Jika ingin menghancurkan perasaan Putriku. Lebih baik jauhi dirinya.” Tegur Ayah Qariya.
Qariya menatap dengan mata sebelah kirinya. Ia memandang wajah Shya Vir yang tampak ragu dengan apa yang diucapkan oleh Ayahnya. “Dia tidak mencintaku.” Ucap Qariya.
Perlahan Qariya bangun dengan kekuatan yang tersisa. Ia melangkah mendekati Ayahnya dan Shya Vir. Peperangan terhentikan karena separuh kekuatan mereka sudah lenyap bak ditelan bulan. Bahkan indahnya malam berubah menjadi gelap gulita.
“Ayah, jangan menyakitinya. Meski ia tidak mencintaiku, Vampir ini adalah milikku. Aku tidak ingin ia terluka sedikitpun.” Qariya berucap dengan memandang Shya Vir yang ada didepannya.
Sebuah penghalang menjadi batasan untuk keduanya. Ayah Shya Vir membangun dinding penghalang dari kabut hitam yang transparan.
“Putraku, jika kamu tidak mencintai gadis itu. Maka bunuhlah ia dan minum darah yang mengalir ditubuhnya.” Tintah sang Pemimpin Vampir kepada Putranya.
Semua terteguh mendengar apa yang dikatakan oleh Pemimpin Vampir. Pemimpin Serigala menghempaskan kekuatan hingga sayap Pemimpin Vampir terbentang dengan cepat.
“Apa katamu? Jangan berpikir aku akan menyetujuinya. Gadis ini akan menjadi milikku, akan ku bawa ia dan akan ku jadikan ia sebagai selirku.” Ucap Guar Luh dengan begitu serius.
Qariya hanya memandang datar mendengar apa yang diucapkan oleh para Ras lain. ia merasa cintanya hancur berkeping-keping. Karena, ia tidak mendapatkan cinta yang diharapkan olehnya. Lalu ia harus membuang anggota tubuh yang sudah sempurna untuknya, demi mendamaikan 3 Ras yang saling terpecah belah.
“Putraku! Cepat lakukan apa yang Ayah perintahkan kepadamu. Jangan sampai Pemimpin Serigala mengambil gadis itu.” Pemimpin Vampir memberi perintah kembali pada Putranya.
Tentu, Pemimpin Serigala tidak menerima apa yang ia dengar. Peperangan yang tertunda kembali berulah. Dan kali ini yang paling dirugikan dalam perang, jatuh pada Ras Vampir. Jumlah mereka hanya dalam hitungan jari.
“Putraku! Cepat lakukan!” Teriak Pemimpin Vampir yang menghalau Pemimpin Serigala.
Ayah Qariya masih bertahan tepat didepan Sang Putri, lalu sang Ibu yang juga ikut menghalangi Shya Vir yang masih diam ditepat.
Mata kiri Qariya menatap dengan jelas, ia melihat Shya Vir yang memandang rendah padanya. “Shya Vir, bunuhlah Aku jika itu memang keinginanmu.” Ucap Qariya.
Semua terteguh mendengarnya, Titi yang tak jauh dari Qariya bergegas mendekat. “Apa yang kamu ucapkan Qariya! kamu mencintainya? Kamu sendiri yang mengatakan akan memperjuangkan cintamu. Perjuangkanlah sekarang!” Titi berteriak dengan suara yang sangat jelas didengar oleh Qariya.
Semua yang sibuk berperang seketika terjatuh dari pijakkan mereka. kekuatan mereka lenyap bahkan tidak ada lagi tenaga untuk mengangkat senjata. Ras Serigala juga mendapatkan rasa sakit dimata mereka, karena mata Emas yang merupakan cahaya luar biasa, menjadi lenyap seketika.
Gemuruh berhenti, kilatan petir ikut terhenti. Tersisa awan hitam dengan rintikkan hujan yang menerpa wajah mereka. Qariya menutup kelopak matanya, dirobeknya baju yang tengah ia kenakan.
Robekkan kain digunakan untuk menutupi kedua mata Qariya. ia sudah bertekad untuk menghilangkan apa yang telah ia dapatkan. Jika memberi saran bahkan meminta kepada mereka tidak ditangapi. Maka hanya dengan menghilang, barulah ia dihargai.
Akibat dari perbuatannya. Alam semesta tampak murka hingga tidak ada cahaya yang menjadi penerang. Angin yang tenang berubah menjadi mengerikan. Dan rintikkan hujan bertambah kuat hingga membasahi semua orang.
Tidak ada lagi kekuatan yang tersisa, bahkan Ras Vampir yang harus bertahan dengan sedikit cahaya dan darah yang mengalir pada tubuh Qariya, seketika lemas hingga beberapa dari mereka tertidur untuk selamanya.
Lalu, Ras Serigala saling meringkuh karena rasa cemas. Insting mereka yang tajam akan melemah jika cahaya mereka menghilang begitu saja. Tentu hal ini membuat Guar Luh tidak tenang.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Guar Luh sambil melangkah mendekati Qariya.
Qariya yang sudah tidak bisa melihat, hanya bisa mengunakan pendengarannya. Ia tersenyum dengan darah yang susah payah ditelan olehnya.
“Mendamaikan kalian.” Jawab Qariya setelah gumpalan darah memasuki lambungnya.
Qariya tidak tahu bahwa saat ini Guar Luh menatap kesal padanya. Tetapi, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Guar Luh sekarang. kekuatannya sudah lenyap karena cahaya mereka telah lenyap. Satu-satunya yang bisa ia gunakan hanya mata emas mereka sendiri.
“Putriku! Apa yang kamu lakukan?”
Qariya menoleh sedikit untuk merespon suara yang mendekat kepadanya. Ia mendapat pelukkan hangat dari sang Ibu yang menangis membasahi bajunya.
“Hiks! Apa yang telah kamu lakukan. Bukan seperti ini caranya putriku, kamu bisa-...”
Qariya tersenyum mendengar Ibunya tidak sanggup lagi berucap. Ia merasa tindakkannya tidak salah. “Ibu, Aku sudah memutuskan. Jika dengan teguran mereka tidak bisa mendengarkanku. Maka dengan menghilangkannya, barulah mereka akan paham apa yang sedang ku lakukan...”
“Kekuatan yang luar biasa, para Ras yang saling bersama. Itu yang ku inginkan. Kita bisa saling bergandeng tangan bersama. Membantu dan saling melindungi. Bukankah itu luar biasa? Bagaimana para leluhur menyatukan mereka hingga kita berada disini sekarang. Aku hanya ingin kalian berdamai dan saling menghargai serta menghormati, itu saja.”
Semua hening mendengarkan apa yang diucapkan oleh Qariya. tentu, ucapan yang tersampaikan mengena dalam benak mereka. hal-hal yang dilalui dengan berbagai larangan, membuat mereka merasa sedih karena tidak adanya kebersamaan yang menjadi kebahagiaan mereka.
Disaat semua sibuk merenungkan segala yang ada, Seseorang melesat dengan sayapnya yang terbentang hebat. Qariya yang merasa seseorang mendekatinya, dengan cepat melindungi sang Ibu.
Jleb!
“Ugh!”