
Hoaam!!!
“Ugh! Kepalaku, kenapa rasanya sakit ya?”
Qariya bangun dari kasurnya, ia melangkah membuka tirai gorden yang ada didekat jendela. Matahari belum sepenuhnya terbit. namun sinarnya sudah menerangi hingga Qariya tersenyum melihat indahnya Matahari.
Tuk..Tuk..
“Nona Muda, Apa anda telah bangun?”
Qariya membalikkan tubuhnya, ia mengusap kepalanya sesaat. “Aku rasa Titi belum bisa memaafkan diriku”guman Qariya.
“Iya, aku sudah bangun”
Krek!
Qariya melihat Titi masuk dengan perlahan, lalu membungkuk didepannya. Hal yang jarang dilakukan Titi, kini dilakukan seperti sudah menjadi kebiasannya.
“Titi akan menyiapkan air hangat untuk anda mandi”
Qariya mengenggam tangan Titi yang ingin meranjak pergi. dengan helaan nafas pelan, Qariya menatap pungung Titi.
“Titi, aku tahu dirimu masih marah kepadaku. Aku tahu yang ku lakukan sangat berbahaya dan telah membuatmu dalam masalah. Namun jangan seperti ini, aku tidak menyukainya”ucap Qariya.
Ia menatap Titi yang tampak menghela nafas, lalu membalikkan tubuhnya, genggaman Qariya pun lepas dari tangan Titi.
“Kenapa dirimu melakukan itu Qariya, kamu bisa mengatakannya kepadaku, dan aku akan mencoba untuk membantu”
Wajah Titi tampak begitu khawatir, Qariya tahu bahwa Titi sudah menganggap dirinya sebagai seorang adik. Dan wajar jika Titi begitu marah kepadanya.
“Aku minta maaf, aku salah..jadi jangan marah ya”Qariya menatap Titi dengan pandangan memelas. Qariya tahu Titi tidak akan bisa menahan pandangannya ini.
Dan apa yang diduga olehnya, Titi menghela nafas dan memeluk dirinya. Qariya dengan cepat membalas pelukkan hangat itu.
“Lain kali jangan seperti ini, semua khawatir tentangmu..sebenarnya apa yang kamu cari Qariya?”
Qariya ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Titi,namun seseorang menghentikan pembicaraannya.
“Putriku, apa terjadi sesuatu kepadamu tadi malam?”tanya sang Ibu yang datang dengan wajah gelisah.
Qariya mengerutkan alisnya, ia menatap sang Ibu yang menangkup pipinya.
“Ibu, apa yang terjadi?”tanya Qariya. melihat sang Ibu gelisah, membuat Qariya merasakan hal yang aneh. Ia mengingat bahwa malam yang dilaluinya tidak terjadi apapun.
“Sepertinya tidak terjadi apa-apa, Istriku tenanglah..tidak mungkin Qariya mendapatkannya”
Qariya menatap kearah sang Ayah yang berbicara sambil melangkah masuk kedalam kamarnya. Ayahnya langsung menangkup wajah Qariya dengan begitu cepat.
“Tidak ada leluhur kita yang mendapatkan mata itu, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh”ucap Ayah Qariya.
Mendengar ucapan Ayahnya, Ibu Qariya mengeleng. “Tidak..aku bisa merasakannya, aku bisa merasakannya..mata itu sangat dekat”
Qariya menatap bingung dengan pembicaraan orang tuanya. Ia menatap kearah Titi untuk mencari jawaban, namun Titi mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu.
“Apa yang telah terjadi?”
-
Bruk!!!
Shya Vir mendudukkan dirinya dengan bersandar pada batu besar. Ia bersembunyi dibalik bayang-bayang,karena cahaya matahari sangat begitu terang menyinari.
“Ugh!, aku..aku tidak tahu..cahaya apa itu”guman Shya Vir. Ia memejamkan matanya dan mengatur nafas yang terhenga-henga.
Swuushhh!!!
Tap!
Krek!!
Jendela kamar terbuka perlahan. Sebuah bayangan melesat masuk dengan cepat dan tidak lama pintu pun tertutup kembali.
Mata merah yang menyala menatap kearah seorang gadis yang tertidur begitu sangat pulas. Saking pulasnya selimut yang membalut ditubuh gadis itu sudah terjatuh dari kasurnya.
“Sangat berantakkan”
Suaranya tenang seperti berbisik, ia melangkah pun serasa hembusan angin yang menerpa permukaan lantai.
“Aku harus menyelesaikan ini”guman Shya Vir. Pria yang memiliki mata merah itu melesatkan tangan kanannya.
Telapak tangan kanan berada tepat diatas jidat Qariya. dan tidak lama, hembusan angin menerpa jidat Qariya hingga anak-anak rambut bergoyang dengan perlahan.
“Lupakan Aku”
Swuush!!!
Asap hitam meluap dari telapak tangan, menerpa jidat Qariya yang tidur begitu pulas. Shya Vir menatap kearah kepulan asap yang ada didepannya. Ia melihat memori tentangnya.
Didalam memori itu, tampak Qariya begitu bahagia setelah bertemu dengannya. Lalu terlihat juga pertemuan tidak terduga dan ketidak sengajaan yang terjadi.
Shya Vir yang memandangnya merasa rasa sakit didada. Ia memperhatikan bagaimana bisa gadis ini mencintainya hingga sejauh ini. Bahkan setelah mengetahui bahwa ia adalah Ras Vampir.
“Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis ini, hingga ia mencintaiku dengan kebahagiaan seperti ini”guman Shya Vir memandang memori yang ada.
Ia mengerakkan tangan kanannya, untuk menghapus seluruh ingatan tentang dirinya.
Greb!
“Jangan...”
Shya Vir terteguh melihat Qariya yang mengenggam tangannya dengan begitu dadakkan. Ia dengan perlahan menarik tangannya dari genggaman Qariya.
“Jangan, kumohon...jangan”
Shya Vir menatap heran kearah Qariya. ia merasa aneh melihat seseorang dalam keadaan tidur masih bisa berbicara banyak hal. “Apa ia tidak lelah, ia selalu banyak bertingkah”guman Shya Vir.
Ia kembali menarik tangannnya untuk menjauh, namun tetap saja. Qariya yang tertidur nyenyak itu masih mengenggam tangannya.
“Apa ia punya kekuatan?, hingga aku tidak bisa menarik tanganku dari dirinya, gadis ini aneh”benak Shya Vir. Ia mengunakan tangan yang lain untuk membantu melepaskan genggaman Qariya.
Cukup memakan waktu agar tangannya lepas dari genggaman Qariya. Shya Vir menghela nafas melihat tangannya bisa bebas dan merasa aman karena Qariya tidak bangun dari tidurnya.
“Jangan, Jangan membenciku Shya Vir”
Mata Shya Vir melirik kearah Gadis yang sangat membuatnya kesal. Ia melihat wajah yang tertidur lelap itu tengah memanggil namanya.
“Aku mencintaimu, jadi jangan membenciku”
Wajah Shya Vir membeku mendengar kalimat yang keluar dari mulut Qariya. ia memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari Gadis yang tertidur itu.
“Aku tidak mengerti, kenapa gadis ini begitu gila mencintaiku?”guman Shya Vir.
Ia tidak ingin menunda waktu lagi, dengan perlahan jarinya digerakkan dan kabut asap yang masih mengepul musnah begitu tiba-tiba.
“Ku harap setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, dan kamu tidak akan mengingatku”
Shya Vir membalikkan tubuhnya dengan perlahan, namun saat ia ingin membalikkan tubuhnya, ia melihat cahaya yang tampak terang membakar kulitnya.
“Agh!”
Shya Vir memundurkan diri untuk menjauh, namun cahaya itu sangat menyinari tanpa memberikan celah kegelapan yang membuat Shya Vir keluar dari jendela.
Bruk!!
Tubuhnya berguling-guling setelah ia mendarat. Mata Shya Vir menatap kearah kamar Qariya. ia masih melihat cahaya terang menghiasi kamar Qariya.
Mengingat yang telah terjadi, Shya Vir mengatur nafasnya. Ia menatap luka bakar yang telah didapat olehnya. Kedua tangannya terasa sakit untuk digerakkan.
“Jika aku tidak menutupi wajahku, mungkin cahaya itu akan membakar diriku hingga menjadi abu”
Uhuk!
Segumpal darah keluar dari mulutnya, Shya Vir merasa rasa sakit yang mendalam setelah mengeluarkan gumpalan darah itu.
“Aku harus cepat kembali..dan uhuk!, menyelesaikan hukumanku..gara-gara gadis sialan itu, aku harus dihukum..”
Shya Vir membangunkan tubuhnya dan mengubah diri untuk bisa melesat melewati cahaya matahari.
“Jatuh cinta kepadaku, heh..apa-apaan itu”
Swuush!!!
Kepulan asap hitam melesat pergi meninggalkan Kota Aelius. Kota yang dicintai matahari, Cahayanya bisa menerangi hingga senja tiba dan tiba dimalam hari barulah cahaya matahari itu menghilang.