The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: bully?



"Siapa mereka? Apakah mereka murid baru itu?" Tanya seorang siswi kepada 3 orang temannya menggunakan bahasa Korea. Mereka terlihat angkuh, terlihat dari cara berjalan mereka yang mendongak dan tatapan yang meremehkan saat Aulia baru saja keluar dari salah satu kamar mandi setelah buang air kecil. Mereka mencegah Aulia dan Putri untuk berjalan keluar. Waktu istirahat telah berakhir, sekarang sudah saatnya kembali ke kelas. Namun Aulia memilih untuk kekamar mandi sebentar dengan di temani Putri yang menunggu di dalam kamar mandi perempuan. Sedangkan Marissa dan Salsa masih menunggu di Koridor dekat dengan kamar mandi. Mereka sibuk mengobrol sambil melihat ke sekeliling bangunan sekolah. Jadi mereka tidak tau apa yang terjadi di dalam kamar mandi.


"Sepertinya begitu" Jawab temannya menganggapi.


"Bagaimana mereka bisa bersekolah disini? Apakah dengan bantuan beasiswa?" Tanya gadis lain yang mengenakan pita berwarna merah muda di atas kepalanya. Mereka tersenyum remeh.


"Kepala sekolah bilang seperti itu" Saut teman satunya lagi dengan rambut yang di kuncir kuda.


Aulia dan Putri mengerti apa yang mereka bicarakan, namun mereka tak punya keberanian untuk melawan. Terlebih Aulia dan Putri yakin bahwa keempat gadis ini berpengaruh disekolah, jadi mereka takut terjadi masalah.


"Hei, kau jelek sekali" Kata salah satu gadis yang mengenakan pita berwarna merah muda sambil memainkan rambut Putri dengan jari mereka.


"Bagaimana perempuan seperti kalian bisa mendapatkan beasiswa untuk bersekolah disini?. Oh, dimana kedua teman mu yang lain?" Entah pertanyaan itu ditujukan kepada siapa, yang jelas Aulia dan Putri hanya diam tak berniat menjawab.


"Hei jawab!" Teriak gadis itu dengan terus mencegah Aulia dan Putri agar tidak pergi.


"Kalian siapa?" Tanya Aulia memberanikan diri untuk membuka suara. Oh ayolah, Aulia dan Putri tak punya masalah dengan keempat gadis di hadapannya ini. Ia ingin segera membuka pintu kamar mandi dan pergi dari sini.


Keempat gadis itu tertawa sinis sebelum menjawab.


"Siapa kau beraninya menanyakan aku siapa?. Kau sungguh tidak tau aku?" Tanya gadis itu terus memojokkan. Aulia dan Putri hanya saling pandang lalu menggeleng.


"Cih, kau saja tidak tau aku siapa. Berani-beraninya kalian sekolah disini. Baiklah, kuberi kau peringatan agar tidak macam-macam di sekolah ini, terutama berusaha mendekati para most wanted. Jika itu terjadi, kau akan berurusan dengan ku!" Ancam gadis itu membuat Aulia dan Putri bungkam.


Salsa.... Marissa... Tolongin dong!.


Batin Aulia juga Putri yang meminta pertolongan.


Tidak hanya mengancam, Aulia dan Salsa juga terus saja di pojokkan serta dihina dan di caci maki oleh keempat gadis asing itu. Bodohnya lagi, Aulia dan Putri hanya diam tak berniat untuk melawan.


Disisi lain...


"Aulia sama Putri lama banget sih?!" Kesal Salsa karna kedua sahabatnya belum keluar juga dari kamar mandi.


"Kita samper aja" Usul Marissa berjalan duluan masuk kedalam toilet yang pintunya tertutup. Marissa membuka nya.


Matanya langsung menemukan pemandangan yang tidak pantas terjadi di sekolah. Aulia dan Putri di pojokkan ke sisi kamar mandi dengan keempat gadis yang sedang asik menertawakan mereka sambil terus melontarkan caci maki. Salsa yang melihat itu, segera ingin menyusul Aulia dan Putri. Namun di cekal oleh Marissa.


Kini Marissa melangkah perlahan kearah gadis itu dan menepuk bahu salah satu gadis yang menggunakan pita berwarna merah muda diatas kepalanya dengan tatapan yang sangat dingin.


Sontak gadis itu membalikkan badan dan matanya bertemu dengan mata dingin Marissa.


"Sudah puas bersenang-senang?" Tanya Marissa menggunakan bahasa Korea dengan nada dingin. Aulia dan Putri yang melihat keberadaan Marissa dan Salsa yang datang, kini berhamburan menghampiri Salsa.


"Kalian gapapa kan?" Tanya Salsa khawatir. Aulia dan Putri menggeleng.


"Ayo ikut gue keluar" Salsa mengajak Aulia dan Putri keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat Salsa dan Marissa berada tadi, di Koridor.


"Hei lihatlah! Siapa gadis ini?. Berani-beraninya menyentuh bahu ku!. Sungguh menjijikan" Ketus gadis itu. Marissa melirik nametag yang berada di baju gadis itu dan tersenyum sinis.


"Kim Hara, jadi nama mu itu?. Di negara ku, nama mu sungguh kampungan" Kata Marissa membahas soal nama.


"Beraninya kau menjelekkan Hara, kau tidak tau siapa dia!" Kata salah satu temannya yang bernama Liu Xan dengan tatapan kesal.


"Aku memang tidak tau siapa teman mu ini, karna itu tidak penting. Yang penting disini adalah, kenapa kalian melakukan hal itu kepada sahabat ku?" Tanya Marissa masih dengan tatapan sinis.


"Jadi kau sahabat kedua gadis culun itu?. Tak kusangka, kupikir kau sama-sama idiot seperti mereka" Kata gadis dengan kuncir kuda menjelekkan. Marissa kemabli tertawa sinis.


"Aku bersama sahabat ku bersekolah disini karna mendapatkan beasiswa, dimana hanya orang cerdas dan ber-IQ tinggi yang bisa mendapatkan nya. Lalu bagaimana dengan kalian? Yang hanya memanfaatkan  kekayaan orang tua kalian untuk bisa masuk kesekolah ini. Padahal tingkat kecerdasan kalian dibawah rata-rata. Di tambah dengan tingkah konyol kalian yang suka membully murid baru hanya untuk mencari popularitas. So, siapa yang Idiot?" Sinis Marissa panjang dengan penekanan di kata 'idiot'. Mereka seketika bungkam mendengar ucapan Marissa yang sangat menohok perasaan mereka.


"Sialan! Kau berani-beraninya menghina kami!" Keempat gadis itu mulai mengurung Marissa sama hal nya dengan kejadian Aulia dan Putri.


Oh jadi gini mainnya anak sekolah sini... beraninya keroyokan.


Batin Marissa.


Kim Hara mencengkam bahu Marissa dengan kencang. Sedangkan temannya yang lain memegang kedua tangan Marissa agar gadis itu tak memberontak.


Marissa yang merasa bahunya di cengkram, hanya tersenyum sinis.


Udah main kasar rupanya.


Batin Marissa.


"Lepas" Kata Marissa datar.


"Enak saja, kau sudah menghina kami. Tidak semudah itu melepaskan gadis sialan seperti mu!" Kata Hyo Nara, gadis dengan kunci kuda.


"Aku peringatkan kalian untuk melepas ku" Bukannya melepaskan, mereka malah semakin menjadi, dengan mencengkram tangan  Marissa kuat membuat nya memerah dan Hara terus mencengkram bahu Marissa kuat.


"Tunduk dan minta maaflah pada kami!" Tuntut Hara kepada Marissa.


Bugh!


Bugh!


"Akhh! Sialan!"


Marissa menendang tulang kering Hara yang berada di hadapannya dengan sangat keras membuat cengkraman di bahu Marissa terlepas. Hara merasa kesakitan sampai terjatuh ke lantai.


Najis! Letoy banget.


Batin Marissa.


"Sudah kubilang, lepaskan!"


Sreg!


Sreg!


"Akhhh!" Rintih ketiga gadis yang memegang tangan Marissa karna kakinya di injak. Terlepas lah Marissa dari keempat gadis asing tersebut.


"Kalau kalian masih macam-macam dengan sahabat ku, pastikan kalian akan menderita setelahnya" Ancam marissa dengan suara datar. Setelah beberapa langkah, ia menghentikannya lalu menoleh sedikit ke belakang.


"Kim Hara, Liu Xan, Bella Reis dan Hyo Nara, aku mengingat nama kalian" Setelah mengucapkan nama tersebut, Marissa keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri ketiga sahabatnya.


Salsa segera menghampiri Marissa dengan wajah khawatir.


"Gimana? Lo gapapa kan?" Tanya Salsa. Marissa hanya mengangguk lalu melihat kebelakang Salsa. Lebih tepatnya Aulia dan Putri yang duduk di kursi panjang.


Marissa menghampiri Aulia dan Putri.


"Lain kali lawan aja, jangan takut" Kata Marissa memberitahu. Salsa berdiri di samping Marissa.


"Tau, ****!. Bukannya ngelawan, ini malah diem" Geram Salsa dengan kedua sahabatnya yang polos dan penakut ini.


"Sorry, abis gue gak mau cari masalah sama mereka. Gue yakin mereka pasti bakal ngelakuin hal lebih dari ini kalau gue ngelawan" Jelas Aulia yang di setujui oleh Putri.


"Tau... Tapi seenggaknya lo jangan mau di tindas!. Mereka tuh cuma cari perhatian aja dan gak mau dapet saingan. Mangkannya, mereka ngebully lo berdua. Lain kali lawan aja, jangan takut. Awas aja kalau sampe lo berdua kena bully lagi, gue bakar rumah lu berdua!" Oceh Salsa panjang kali lebar. Aulia dan Putri hanya diam mendengarkan. Mereka mengakui kesalahan mereka yang malah tidak berani melawan dan justru menunjukkan sisi lemah.


"Iya, mak. Ampun" Kata Aulia mencoba untuk mencairkan kekesalan Salsa.


"Mak, mak!. Emang gue emak lu?" Protes Salsa tak terima dengan panggilan itu.


"Abis lo ngomel mulu dari tadi!" Kata Aulia menambahkan.


"Iya nih, Salsa bawel banget" Kini Putri ikut menyahut. Salsa menatap mereka sebal.


Di kasih taunya ngeyel!. Padahal kan gue ngomong bener, dasar gak tau Terima kasih!.


Batin Salsa kesal kepada kedua sahabatnya.


"Gue bawel juga karna gue peduli sama lo. Yakan, ris?" Tanya Salsa kepada Marissa yang tadi di sampingnya. Salsa bingung karna melihat Marissa yang sudah tidak ada di sampingnya sekarang. Ia mengedarkan pandangannya, Salsa melihat Marissa yang sudah berjalan duluan pergi meninggalkan mereka.


"Kampret tuh anak, Main pergi aja" Kata Salsa mengumpat saat melihat Marissa yang sudah pergi meninggalkan mereka.


"Lo sih Sal, ngomel mulu!. Jadi ditinggalkan sama Marissa" Cerutu Aulia.


"Ini semua kan juga karna kalian!" Kata Salsa tak mau di salahkan.


"Iya deh iya" Kata Aulia pasrah.


"Udah yuk Salsa, kita ke kelas" Kata Putri yang di angguki oleh Salsa. Mereka pun kembali ke kelas bersama dan kembali memulai pelajaran hingga akhirnya masa belajar selesai untuk hari pertama mereka bersekolah.


🌺🌺🌺


"Ayolah Jungkook, cepat!. Kita harus pergi membeli hadiah dulu!" Teriak Namjoon kepada keenam soulmate nya yang lain.


"Sabar hyung" Kata Jungkook sambil berjalan memasuki mobil.


Kini mereka semua sudah berada di dalam satu Mobil. Setelah pulang sekolah, anak bangtan berniat untuk pergi menuju sebuah Mall dulu untuk membeli hadiah. Siapa lagi jika bukan untuk Bibi Yeri?.


"Hyung, memangnya perpustakaan bibi Yeri akan tetap di buka malam ini?" Tanya Jungkook kepada hyung nya.


"Tentu saja. Setiap hari bibi akan membuka perpustakaannya" Jawab Seokjin yang mendapat anggukan setuju dari Namjoon yang sedang menyetir.


"Kenapa memangnya?" Tanya Hoseok.


"Tidak apa-apa" Jawab Jungkook.


"Oh ya, bukannya Hara menitip sebuah buku padamu, tae?" Kini giliran Taehyung yang mendapat pertanyaan dari Jimin.


Taehyung nampak berpikir. Bahkan Taehyung lupa bahwa Hara sempat menitip buku padanya jika suatu hari pria itu akan pergi ke perpustakaan.


"Aku baru ingat" Kata Taehyung.


"Kau ini bagaimana, untung saja aku bertanya" Kata Hoseok. Taehyung hanya mengangkat bahunya acuh. Toh itu tidak penting.


"Tidak penting juga untukku. Dia kan punya kaki untuk pergi sendiri ke perpustakaan. Kenapa harus menitip padaku?" Jelas Taehyung yang disetujui oleh yang lain.


"Itu baru murid ku. Seorang pria Jangan mau di suruh-suruh oleh seorang wanita" Suga yang tadi hanya diam, kini mulai bersuara dan menyahut.


"Ohhh jadi kau berguru pada Suga?. Pantas saja" Kata Seokjin menyahut.


"Tentu saja" Kata Suga.


"Tidak" Sejak kapan Taehyung berguru pada manusia kulkas seperti Suga?. Oh ayolah, Ia tak mau ikut tertular sifat dingin pria itu.


"Dasar" Umpat Suga mendengar penolakan Taehyung. Apa salahnya berguru dengan Suga? Pria itu lebih tua dan pengalamannya lebih banyak dari pada Taehyung.


Suasana di dalam mobil kembali riuh karna percakapan yang mereka lakukan. Tertawa terbahak-bahak, bercanda, dan mengobrol pun menjadi satu suara di satu mobil. Hingga saatnya mereka sampai di tujuan mereka.


🌺🌺🌺


Kurang ajar sekali mereka!. Liat saja, selagi masih ada aku, kalian tidak akan pernah tenang sekolah disini.


~Kim Hara.


Salsa ngomel mulu kayak emak-emak!. 🙄


~Aulia


Baru hari pertama sekolah aja udah kena bully. Gimana 3 tahun sekolah disini? 😞


~ Putri


Sial! Wajah gadis itu terus terbayang-bayang. 😳


~unknown


🌺🌺🌺