The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: meet him again



Marissa terus mencari keberadaan sosok sahabatnya, Salsa. setelah ia selesai mengantri dan mendapatkan pesanannya, Marissa kembali untuk menghampiri Salsa tapi manusia itu tidak ada di tempat dimana ia menunggu.


Dengan membawa nampan makanan, Marissa berjalan melewati lorong kantin. Ia terus melihat kesana kemari mencari Salsa.


Kemana sih tuh anak?!.


sungut Marissa karna tak kunjung menemukan Salsa.


Saat di tengah lorong, Marissa melihat segerombolan anak laki-laki yang bersender di dinding lorong sambil tertawa dan bercengkrama.


Tak peduli, Marissa kembali melanjutkan jalannya dengan santai dan tak berpikir macam-macam.


Namun sepertinya anak laki-laki itu menyadari kehadiran Marissa, jadilah mereka mencegah Marissa yang hendak lewat. Otomatis Marissa berhenti melangkah sambil menatap anak laki-laki yang berjumlah 3 orang tersebut dengan datar.


"Ini anak baru itu kan, Xel?" Ucap anak laki-laki berambut agak coklat dengan tubuh yang lumayan tinggi, ia berbicara dengan temannya yang disamping.


"Ya, dia anak baru yang secara mendadak menjadi famous itu" Jawab temannya yang memakai bandana berwarna merah.


"Tak heran dia langsung famous. Lihatlah dia, bahkan cantiknya melebihi standar di Korea" Kata teman satunya lagi.


Marissa jengah melihat ketiga anak laki-laki didepannya ini. Ia memilih untuk menyudahi basa basi mereka.


"Permisi, saya mau lewat" Kata Marissa dingin dan hendak pergi. Namun ia kembali di cegah oleh anak laki-laki itu.


Marissa jadi bingung, apakah para murid di sekolah ini selalu bersikap aneh seperti ini?. Sungguh tidak berguna. Pikir Marissa menilai.


"Saya bilang permisi, saya mau lewat" Kata Marissa mengulang ucapannya.


"Kau boleh lewat, asalkan berikan dulu nomer ponsel mu kepada kami" Kata pria berbandana tersebut.


"Kalau tidak, kau tidak boleh lewat"


"Ayo, cepat berikan" Kata temannya satu lagi. Marissa memutar bola mata malas dan tersenyum miring sambil menatap ketiga pria itu.


"Mimpi!" Kata Marissa ketus lalu berbalik arah untuk memilih jalan lain. Tak ada pilihan, ia harus melewati belakang kantin dimana terdapat anak bangtan tengah berada di sana.


Dasar banci!. Beraninya keroyokan. Lo pikir nih sekolah punya lo apa? Sampe gue gak boleh lewat!.


Batin Marissa mengumpat dan tak fokus kearah jalanan karna sedang asik berdebat oleh hatinya.


Brugh!.


Prang!.


Marissa menabrak seseorang saat tengah berjalan. Ia terjatuh ke lantai cukup keras dan nampan nya ikut jatuh. Alhasil makanannya berserakan dan tak bisa lagi dimakan.


Ia mendongak menatap orang yang sudah menabraknya dengan kesal.


Sedangkan yang di tabrak hanya menatap datar Marissa tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Kalau jalan tuh pakek mata, jangan meleng. Dasar bodoh!" Kata orang itu dengan ketus. Marissa bangun dan berdiri menatap orang tersebut. Kini mereka di jadikan objek perhatian dari murid-murid tak terkecuali anak bangtan yang kini menatap Marissa dan pria tersebut.


"Lo yang waktu itu hampir nabrak gue kan?" Tanya Marissa memastikan. Kalian tahu, pria ini adalah orang yang sempat membahayakan nyawanya bersama ketiga sahabatnya saat sedang menuju sekolah semasa masih di SMP Nusa bangsa. Ingat kan kalian kejadian itu? Ingat pastinya.


Marissa tak menyangka bahwa pria ini juga murid di SOPA, dilihat dari seragamnya.


"Oh, lo masih inget gue rupanya. Mending gak usah di bahas lagi soal itu, kan gue udah minta maaf. Jadi gak perlu di permasalahin lagi" Kata pria itu mengoceh membuat Marissa jengah sendiri mendengarnya.


"Banyak bacot, ganti makanan gue!" Kata Marissa menuntut sambil menunjuk nampan yang makanannya sudah berserakan ke lantai.


Pria ith menaikkan satu alisnya menatap Marissa.


"Lo yang meleng, kenapa gue yang harus ganti tuh makanan?. Mangkannya jalan tuh pakek mata, jangan pakek siku!. Dasar cewek bodoh!" Marissa menatap geram pria di depannya ini.


"Yang bodoh tuh siapa?. Dimana mana jalan tuh pakek kaki, liat jalanan nya yang pakek mata. Dasar banci, males gue ngebacot sama lo!" Setelah itu Marissa membereskan makanan yang berserakan di lantai dan membuangnya ketempat sampah. Lalu setelah nya ia mengembalikan nampannya kepada penjual kantin.


Pria itu? Terus menatap Marissa dengan tatapan yang sulit diartikan, sampai gadis itu pergi dari kantin melewati anak bangtan yang masih menatap mereka dengan penuh tanya.


Saat melewati anak bangtan, Marissa memilih untuk diam dan terus berjalan begitu saja. Tidak memperdulikan Taehyung yang menatapnya.


Siapa pria itu? Apa yang mereka bicarakan?.


Batin Taehyung penasaran. Ia memang sempat mencari Marissa tadi, Ia pikir Marissa sudah keluar kantin namun nyatanya tidak gadis itu masih di dalam kantin, memesan makanan. Sampai ia kembali berkumpul dengan anak bangtan yang lain dan melihat kejadian barusan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Hoseok penasaran sekaligus bingung.


"Entah, aku tak mengerti" Kata Namjoon ikut bingung.


"Sepertinya dia ada masalah tadi" Kata Suga yang melihat hal tersebut. Ia tahu bahwa Marissa memesan makanan bukan untuk dirinya, melainkan untuk Putri dan Aulia yang berada di UKS.


"Ya, dari raut wajahnya sih seperti itu" Kata Jimin yang diangguki oleh Jin.


Saat mereka tengah berbincang-bincang, datanglah Jungkook serta Salsa berdampingan. Mereka menatap terkejut dengan kehadiran Salsa yang berada di samping Jungkook.


"Hei, kalian berdua dari mana?" Tanya Jin menatap mereka penasaran.


"Tidak dari mana-mana" Kata Jungkook tersenyum. Sedangkan Salsa hanya bingung sendiri harus bereaksi seperti apa.


"Apa kalian melihat Marissa?. Tadi dia memesan makanan di kantin" Kata Salsa bertanya kepada anak bangtan.


"Barusan dia lewat sini, sepertinya dia ke UKS untuk bertemu Putri dan Aulia" Jawab Jimin yang diangguki oleh Salsa.


"Ya, setelah sebuah insiden terjadi" Celetuk Hoseok yang membuat Salsa mengerutkan alis bingung.


"Insiden?. Insiden apa?" Tanya Salsa.


"Kami tidak tahu, karna ia tak berbicara bahasa Korea saat bertengkar dengan seorang namja" Jawab Seokjin membuat Salsa semakin penasaran.


"Kalau begitu, aku pergi dulu menyusulnya. Permisi dan Terima kasih minumnya" Kata Salsa pamit setelah sebelumnya berterima kasih kepada Jungkook.


"Sama-sama" Jawab Jungkook dengan senyum. Salsa pun pergi dari kantin dan menyusul teman-temannya di UKS lewat jalan belakang dimana jalan tersebut adalah jalan yang Marissa lewati.


"Ke siapa?" Tanya Taehyung.


"Bukannya suami bibi Yeri orang Indonesia?. Kenapa tidak padanya saja?" Ujar Jungkook yang langsung di setujui oleh lainnya.


"Maksud mu, paman Adam?" Tanya Taehyung memastikan. Jungkook mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi akan lebih sulit" Kata Hoseok mengeluh.


"Oh ayolah hyung, Aulia, Salsa, Marissa, dan Putri saja bisa belajar bahasa Korea dalam waktu tiga hari dan lihatlah mereka sekarang, mereka berhasil" Kata Jungkook membuat yang lain terperangah.


"Ti-tiga hari? Yang benar saja?" Cicit Hoseok tak percaya. Oh ayolah, kenapa bisa sejenius itu?. Jungkook hanya mengangguk. Memang saat di perjalanan kembali dari taman, Jungkook dan Salsa bercerita banyak hal. Termasuk bagaiman bisa Salsa dan teman-temannya berbahasa Korea, dengan senang hati Salsa menceritakan nya. Bohong jika Jungkook langsung percaya, nyatanya ia sempat tak percaya dengan ucapan Salsa. Namun, melihat tak ada kebohongan dari cerita tersebut, Jungkook pun percaya. Terlebih ke empat gadis itu orang yang pintar sehingga bisa mendapatkan beasiswa ke Korea.


"Sungguh luar biasa" Puji Suga. Untuk pertama kalinya anak bangtan mendengar Suga memuji orang dengan mudah, apalagi memuji wanita. Sungguh kejadian yang langka dalam sejarah pertemanan anak bangtan selama ini.


"Aku setuju, apalagi bahasa Korea dan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda, bahkan tulisan Korea pun lebih sulit. Mereka benar-benar hebat" Kata Namjoon ikut memuji.


"Karna itu, jangan mengeluh dulu, hyung. Kita pasti bisa" Kata Taehyung kepada Hoseok.


"Baiklah, mari kita coba!"


🌺🌺🌺


"Sorry, gue gak bawa makanan. Tadi makanan nya tumpah" Kata Marissa pelan. Ia ingin sekali membeli makanan lagi untuk mengganti yang terjatuh. Namun uangnya sudah tidak cukup. Jadilah ia tak membawa apapun untuk temannya.


"Gapapa kok, ris. Gue tadi udah minum teh" Kata Putri. Aulia? Gadis itu sudah sadar dan tengah duduk di atas bangsal.


"Lo udah gapapa?" Tanya Marissa kepada Aulia.


"Udah kok, gue udah baik-baik aja. Cuma kena basket doang!" Jawab Aulia seolah-olah tidak terjadi apa apa. Putri menatap Aulia dengan tatapan mata tidak suka.


"Cuma kena basket doang lo bilang?. Tapi pakek pingsan segala" Kata Putri sambil memutar bola mata malas.


"Elah, itukan bukan kemauan gue" Ujar Aulia mengelak.


"Iyain aja deh"


Ceklek!.


Pintu UKS perlahan terbuka dan menampilkan sosok Salsa dari balik pintu. Gadis itu masuk lalu menutup pintu.


"Udah sadar ternyata" Kata Salsa kepada Aulia lalu ia duduk di samping Marissa.


"Yaiyalah, masa mau pingsan terus" Balas Aulia malas.


"Gue kira gak bakal bangun selama-selamanya" Celetuk Salsa dan langsung menatap tatapan horror dari Aulia.


"Kampret lo, sal" Umpat Aulia yang hanya mendapat cengiran dari Salsa.


"Lo dari mana?" Tanya Marissa kepada Salsa.


"Gu-gue tadi pergi ke toilet. Iya, ke toilet" Kaga Salsa gugup. Marissa menatap Salsa dengan tatapan penuh selidik.


"Gak usah bohong" Kata Marissa menemukan kejanggalan. Sebab Salsa tak mau balik menatapnya dan terus menghindar.


"E-enggak kok, gue beneran ke toilet" Bohong Salsa kepada Marissa. Setelah beberapa detik, Marissa akhirnya menetralkan tatapan nya menjadi biasa lagi.


"Oh ya, gue dengar tadi lo sempat ribut ya sama anak cowok?. Siapa?" Tanya Salsa mengingat ucapan Seokjin tadi.


"Ribut? Lo ribut sama siapa, ris?" Tanya Aulia ikut penasaran.


"Kok gak cerita?" Ujar Putri.


Marissa menghela napas saat kembali mengingat pria itu. Makanannya hangus karna pria itu.


"Cowok yang waktu itu sempet nyerempet mobil kita, dia juga sekolah disini. Gak sengaja gue tabrakan sama dia pas lagi mau bawa makanan buat kalian. Jadilah makanannya jatuh ke lantai" Ucap Marissa menjelaskan kejadian tersebut.


Mendengar cerita Marissa, Aulia, Putri, dan Salsa terkejut. Ia tak tau bahwa pria itu ikut sekolah disini.


"Bahaya nih kalau ada tuh cowok!. Bakal sering liat mukannya dia dong, idih males banget" Kata Aulia menerawang.


"Pasti kita bakal ribut setiap ketemu tuh orang" Terka Putri yang diangguki oleh Aulia.


"Bener! Gue setuju" Marissa hanya menghela napas mendengar ucapan Salsa.


"Yaudahlah, mau gimana lagi. Toh dia kesini buat sekolah, pasti dia bakalan bosen kalau ribut sama kita terus. Jadi biarin aja" Kata Marissa final.


"Udah gak usah di pikirin lagi. Nanti pulang sekolah kita makan, gue punya tempat bagus" Usul Marissa mengalihkan pembicaraan. Salsa, Aulia, dan Putri langsung semangat dan matanya berbinar.


Giliran makanan aja...


Batin Marissa.


"Asik! Bayarin ya, ris" Ujar Aulia bersemangat.


"Gue juga dong, jangan Aulia doang" Kata Salsa menyahut.


"Marissa, aku juga dong. Nanti aku contek kan PR deh"


"Iya, tar gue kasih" Masih banyak lagi rayuan mereka agar mendapat makanan gratis atau lebih tepatnya traktiran dari Marissa. Gadis itu hanya mengusap dahinya pusing karna punya teman seperti ini.


Baiklah, nanti ia akan pergi ke ATM untuk mengambil uang tabungannya.


"Yaudah"


"YEAHHH!!!" sorakan dari para sahabat laknat yang memanfaatkan uang Marissa (dalam artian berupa makanan). Marissa sudah tau bahwa akan seperti ini, jadi tak ada yang bisa ia lakukan kecuali merelakan uangnya untuk membayar makanan para sahabat laknat nya ini.


🌺🌺🌺