The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: Korea Selatan



Buku kamus, kertas, laptop, tergeletak dimana-mana di lantai kamar milik Marissa. Sedangkan para pemiliknya sibuk tidur-tiduran di lantai dengan kesibukan masing-masing. Ada yang bermain handphone, menonton televisi, mendengarkan lagu, dan ada juga yang sibuk membolak-balikan kamus bahasa Korea-Indonesia.


"A whole new world!!!" Suara nyanyian yang mirip dengan teriakan pun terdengar menggelegar di setiap sudut kamar bernuansa putih tersebut.


Siapa lagi jika bukan gadis bernama Salsa yang bernyanyi?. Tentu saja yang lain keganggu dengan suara gadis itu yang tengah menyumpal telinganya menggunakan handset.


"Aduh Salsa!. Lo berisik banget sih?!. Gue lagi nonton!" Geram Aulia yang kesal kegiatan menontonnya jadi terganggu karna ulah Salsa. Namun karna Salsa sedang menggunakan handset, jadi ia tidak mendengar apa yang Aulia ucapkan. Gadis itu melanjutkan konsernya.


"Percuma lo ngomong, lia. Orang Salsa lagi pakek handset" Kata Putri memberitahu Aulia. Putri pun tak kalah sibuk, gadis itu tengah asik bermain dengan ponselnya dan ikut terganggu mendengar suara Salsa.


Aulia yang mendengar itu, segera datang menghampiri Salsa dan menarik handset yang menyumpal telinga gadis itu dengan paksa.


Salsa pun menatap Aulia tajam.


"Lia! Lo apaan sih?!" Kesal Salsa tak terima.


"Lo berisik sal, gue lagi nonton" Kata Aulia tak kalah kesalnya.


"Ya bodo amat. Bukan urusan gue, nonton tinggal nonton" Ujar Salsa masa bodoh. Aulia berdecak sebal.


"Ya tapi lo nyanyi kayak suara ko bagus aja" Ledek Aulia membuat Salsa menatapnya tak Terima.


"Enak aja, suara gue baguslah. Emang nya suara lo apa? Kayak kucing kejepit!" Balas Salsa ketus. Marissa yang mendengar keributan dari kedua sahabatnya pun akhirnya menyahut.


"Emang lo pernah denger gue nyanyi?"


"Pernah lah!. Sering malah"


"Dimana coba?"


"Di-"


"Kalau lo terus berisik dan gak fokus ke tujuan kita. Gue bakal telpon kepala sekolah dan bilang, kalau kita gak jadi Terima beasiswa itu!" Ancam Marissa membuat Aulia dan Salsa terdiam. Seketika mereka menatap Marissa dan menghampiri gadis itu yang tengah duduk membaca kamus.


"Hehehe jangan dong, ris. Kita cuma becanda kok!. Yakan, sal?" Tanya Aulia meminta pembelaan kepada Salsa.


"Iya bener. Kita cuma becanda kok, kita juga serius belajarnya" Jawab Salsa berlagak semuanya baik-baik saja. Padahal tadi jelas-jelas mereka ribut hanya karna masalah sepele, sekarang bersikap semuanya fine fine saja. Dasar mereka...


"Yaudah sekarang kita harus fokus belajar bahasa ini. Waktu kita cuma 3 hari buat ngusain semua nya. Jangan main main!" Titah Marissa yang di setujui oleh yang lain. Mereka pun fokus belajar bahasa Korea menggunakan kamus dan beberapa alat bantu lain seperti handphone untuk melihat google dan youtube serta beberapa artikel lainnya.


Mulai dari dasar mereka mempelajari bahasa tersebut 3 hari berturut-turut secara rutin di selingi dengan waktu makan, mandi, dan beberapa hal lainnya yang perlu mereka kerjakan, selebihnya adalah waktu belajar bahasa Korea. Do'akan saja agar mereka mampu memahami dan menguasai bahasa Korea.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


2 hari sudah berlalu, besok mereka sudah harus berangkat ke Korea. Dengan perbelakalan latihan secara rutin, mereka sudah mampu menguasai beberapa bahasa walaupun masih ada yang salah dan sulit untuk lidah mereka mengucapkannya, sejauh ini masih lumayan bagi seorang pemula.


Malam ini, mereka semua di selimuti rasa tak tenang untuk keberangkatan besok. Mungkin karna nervous, namun mereka semua enggan menunjukkannya, kecuali Putri.


"Deg-degan nih gue buat besok" Kata Putri dengan wajah yang tegang. Marissa, Aulia, dan Salsa menoleh ke samping untuk melihat Putri dengan wajah yang heran.


"Deg-degan kenapa?. Emang lo mau di kejar setan besok?" Tanya Aulia kepada Putri.


"Enggak sih, tapi rasanya kayak gimana gitu..." Kata Putri yang merasa takut takut menuju Korea. Aulia merangkul Putri mencoba menenangkan gadis itu.


"Udah lo tenang aja. Semuanya bakal baik-baik aja kok" Kata Aulia menenangkan. Putri mengangguk kaku.


"Ayo lanjut lagi siap-siapnya" Mereka mengangguk paham mendengar ucapan Marissa. Keempat gadis itu pun kembali membereskan barang barang mereka untuk persiapan besok.


Aulia kemarin malam sudah pulang ke rumah nya sendiri untuk mengambil beberapa barang yang di butuhkan sekaligus memberitahu orang tuanya bahwa ia dan sahabatnya mendapat beasiswa ke Korea. Respon orang tua Aulia tak jauh berbeda dengan respon orang tua dari Salsa dan Putri, mereka sangat senang dan bangga pada anaknya.


Setelah mengambil semua barang-barang kebutuhan, mereka kembali lagi ke rumah Marissa pada pagi hari untuk menginap disana. Jika kalian bertanya dimana orang tua Marissa? Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sebab itulah, kemarin pagi ia menyempatkan diri untuk pergi ke pemakaman kedua orang tuanya meminta doa kepada mereka. Ia berharap semuanya berjalan lancar dan semestinya, tidak ada hambatan.


"Coba kalian cek lagi, nanti takut ada yang ketinggalan atau semacam nya lah" Kata Marissa mengingatkan. Mereka kembali lagi memeriksa barang barang yang akan mereka bawa. Sekiranya tak ada yang terluka.


"Gak ada, gue udah cek. komplit semua!"


Kata Aulia setelah memeriksa.


"Sama" Saut Salsa dan Putri bersama. Marissa mengangguk.


"Yaudah kalau gitu kita tidur, Udah malem. Besok jam 7 pagi harus udah sampe di bandara!" Titah Marissa kepada ketiga sahabatnya.


"Iya bu haji, bawel amat" Ledek Aulia yang mendapat tatapan tajam dari Marissa. Sedangkan yang di tatap nya hanya menyengir tanpa dosa.


"Yaudah yuk tidur!" Ajak Salsa. Mereka pun tidur di ranjang masing-masing yang terdapat di satu kamar milik Marissa yang bernuansa putih itu.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


07:05


Mereka sedang duduk menunggu kedatangan pesawat yang sebentar lagi akan sampai. Sambil menungu, mereka kembali belajar bahasa Korea menggunakan Kamus atau Aplikasi di handphone yang mengajarkan bahasa Korea-Indonesia. Well itu cukup membantu.


"Eh tuh pesawatnya udah dateng. Kuy naik!" Kata Salsa yang melihat pesawat telah sampai dan beberapa saat kemudian ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi take off.


Mereka bergegas memasuki pesawat dan membiarkan barang-barang yang mereka bawa untuk di masuki kedalam cargo pesawat.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat dengan posisi duduk dimana Salsa-Marissa di belakang dan Aulia-Putri didepan mereka.


Marissa bersender pada kursi yang empuk sambil memejamkan mata. Salsa yang melihat itu pun ikut-ikutan melakukan hal yang sama namun bedanya ia tak bisa nyaman dengan posisi seperti itu. Alhasil setelah beberapa saat mencoba posisi nyaman, Salsa kembali membuka matanya dan duduk dengan santai. Ia menoleh kearah Marissa yang nampaknya sudah tertidur pulas.


Salsa memang sudah hapal dengan kebiasaan unik sahabatnya satu ini. Yaitu, sangat mudah tertidur di manapun ia bersandar. Jadi tak heran, dalam posisi seperti ini Marissa mampu tidur dalam hitungan detik. Untungnya gadis itu tak pernah tidur di dalam kelas, untung saja...


Heran....


Batin Salsa lalu ia memilih untuk membaca sebuah buku yang tersedia di sana.


Kita beralih ke tempat Aulia dan Putri berada. Kini Aulia di sibukkan dengan pikirannya yang masih melayang kemana-mana.


Gimana kalau disana orangnya jahat-jahat? Terus suka ngebully? Orang lain?. Aduh, apalah dayaku tak sekuat Salsa sama Marisa.


Batin Aulia.


Sedangan Putri sendiri tengah asik menutup mata karna tak mau melihat keluar jendela. Putri takut ketinggian.


"Mau turunn" Gumam Putri yang masih bisa di dengar Aulia. Dahi gadis itu mengkerut saat melihat tingkah Putri yang di anggap nya konyol.


"Kenape lo tutup muka?" Tanya Aulia menarik tangan yang menutupi Putri. Gadis itu menatap Aulia dengan ekspres takut.


Aulia semakin bingung.


"Lia... Turun yuk!. Gue takut jatoh pesawat nya, apalagi gue takut ketinggian. Turun yuk!" Ajak Putri yang membuat Aulia merotasi kan matanya malas.


Yaelah... Terlalu polos atau kelewat **** sih nih anak?!.


Batin Aulia.


"Putri... Kita tuh lagi di pesawat, di langit. Lo minta kita turun?, itu sama aja lo ngajak gue bunuh diri" Kata Aulia pelan. Ia tahu bahwa Putri takut ketinggian tapi setidaknya jangan mengajaknya untuk turun dari pesawat. Dikiranya ini angkot? Yang kalau mau turun tinggal bilang "bang kiri bang!".


Tentu saja pesawat berbeda dengan angkutan umum di darat.


"Tapi gue takut liat keluar kaca pesawat" Aulia segera menutup penutup kaca yang berada di samping Putri.


"Gak usah di liat pinter... " Kata Aulia lalu kembali lagi ke posisi semula. Putri hanya menyengir tanpa dosa dengan sesekali menggaruk tengkuknya.


"Nanti kalau gue ketiduran, bangunin ya, put?" Kata Aulia berpesan. Putri hanya mengangguk paham lalu mengambil buku yang Aulia sempat baca tadi, lalu hanyut dalam isi bacaan buku tersebut.


Aulia pun mulai menutup matanya lalu mencoba untuk tidur. Semoga saat ia terbangun, mereka sudah sampai di Banda internasional Incheon, Korea Selatan.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Apartemen dengan 12 lantai menjulang tinggi. Keempat sahabat itu memasuki apartemen tersebut sambil membawa koper mereka masing masing.


Untung saja dengan uang tabungan mereka yang di satukan, apartemen ini dapat mereka tempati sebagai tempat tinggal di Seoul Korea. Walaupun tidak terlalu besar kamar yang mereka miliki, setidaknya ini cukup untuk mereka berempat.


Setelah mendapatkan kartu, mereka bergegas menaiki elevator untuk dapat sampai di kamar.


Marissa menekan tombol di angka 9 dan elevator pun naik ke lantai yang dituju.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai dan langsung mencari kamar mereka hingga akhirnya ketemu.


Segera mereka masuk kedalam dan merebahkan tubuh di sana, terkecuali Marissa yang langsung mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper lalu di masukkannya di lemari. Salsa yang melihat itu, seketika mengikuti Marissa dan langsung menaruh bajunya di lemari yang lain. Sedangkan Aulia dan Putri sudah tepar di kasur king size dengan lelap.


"Gue mau mandi dulu" Kata Marissa sambil mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Salsa mengangguk lalu duduk di kursi dekat jendela sambil memainkan ponsel nya. Ia membuka beberapa Artikel yang bersangkutan dengan bangunan sekolah bernama SOPA. Sekolah yang sebentar lagi akan menjadi tempat mereka belajar nantinya.


Karna penasaran karnaΒ  msebuah artikel dengan judul All about SOPA school yang terpampang di layar ponsel nya, akhirnya Salsa membacanya dengan serius.


Ia semakin penasaran dan tertarik dengan sekolah tersebut. Di artikel tertulis, bahwa banyak siswa-siswi kalangan atas yang bersekolah di sana. Bahkan tak sediki para Idol k-pop bersekolah disana hingga lulus atau bahkan ada juga yang lulusan dari sekolah SOPA.


Tapi entah kenapa, perasaan Salsa mulai tak karuan saat otaknya berpikir bahwa...


Pasti, orang dari kalangan bawah. Di tindas dan di perlakukan kurang baik di sana.


Itulah yang dipikirkan Salsa saya membaca Artikel tersebut secara keseluruhan.


"Gue harus kasih tau mereka tentang ini" Gumam Salsa.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—