
Matahari mulai menyinari bumi dan orang-orang menjalani aktivitas seperti biasanya. Tak terkecuali dengan 4 gadis yang tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah di SMPN Nusa bangsa.
Mereka tengah duduk berhadapan di meja makan sambil menyantap sarapan pagi bersama. Keributan di mulai saat kedua orang gadis saling berebutan roti di atas meja. Kedua gadis lainnya hanya diam seolah sudah terbiasa dengan tingkah kedua sahabatnya ini.
"Salsa! Lo mah ngambil roti gue mulu!. Lo kan udah punya sendiri" Kesal salah satu gadis yang sedang bertengkar itu dengan wajah yang cemberut.
"Ya elah, pelit banget sih lo?. Awas aja lo di sekolah!. Liat lo Aulia, gak bakalan gue kasih contekan!" Ancam gadis bernama Salsa itu sambil terus memakan rotinya.
"Bodo amat!. Gue bisa nanya ke Rissa. Yakan ris?" Kata Aulia mengaduh mencari perlindungan sambil menatap satu gadis lagi di hadapannya. Gadis itu melirik sebentar Aulia saat Aulia menyebut namanya.
"Gak" Ketus gadis itu membuat Aulia cemberut sedangkan Salsa sudah tertawa terbahak-bahak.
"Mampus!. Emang enak?" Ledek Salsa membuat mood Aulia tambah hancur di pagi hari.
"Issh! Lo mah jahat, ris. Yaudah, kalau gitu Putri aja!" Kini ia beralih kepada sahabatnya satu lagi yang berada di samping Marissa. Aulia menatap Putri penuh harap.
"Iya, lia. Nanti aku kasih contekan" Jawab putri tak keberatan sambil tersenyum lalu kembali melanjutkan sarapannya. Aulia tersenyum penuh kemenangan sambi menjulurkan lidahnya kepada Salsa.
"Wleee... Gue dapet contekan" Norak Aulia. Salsa memutar bola mata malas.
"Putri, lo mau aja ngasih contekan sama nih anak kutu!. Jangan mau!" Balas Salsa menatap Putri seolah berkata jangan mau!.
"Elah... Bilang aja lo iri!"
Sindir Aulia mendapat tatapan tak Terima dari Salsa.
"Enak aja! Enggak tuh!" Bantah Salsa.
"Iya pasti"
"Enggak"
"Iya"
"Enggak"
"I-"
"Lo berdua berisik banget sih!!. Tinggal makan aja rusuh!" Ucapan Aulia terpotong karna mendengar bentakan dari Marissa yang menatap mereka tajam. Seketika mereka memasang wajah tanpa dosa sambil menyengir.
"Hehehe, maaf ris" Kata Salsa menyengir.
"Udah buru abisin, abis ini kita berangkat. Gue tunggu di mobil" Titah Marissa lalu bangkit dari duduknya sambil membawa tas di bahu dan berjalan keluar rumah. Segera ia masuk kedalam mobil Audi putih.
Ketiga sahabatnya hanya saling pandang.
"Kenapa tuh anak?" Tanya Putri heran melihat tingkah Marissa sensi.
"Pms kali, udah biasa itu mah" Acuh Salsa lalu menggantungkan tasnya di bahu. Diikuti yang lain.
"Iya kali. Udah yuk!" Kata Aulia.
Keempat sahabat itu pun berangkat menuju sekolah menaiki mobil Audi putih dengan Marissa yang menyetir mobil tersebut. Sedangkan ketiga sahabatnya tengah asik bernyanyi ria di dalam mobil. Ingin rasanya Marissa menendang merek dari dalam mobil. Tapi untung ia masih ingat bahwa mereka sahabatnya, jadi agak berat hati melakukannya.
"Oh ya ris, kapan lo mau ke makam ortu lo?. Udah lama kan lo gak kesono?" Tanya Salsa di sela-sela nyanyiannya. Salsa yang duduk di samping nya, membuat suara gadis itu lebih terdengar jelas di telinga Marissa. Tanpa mengalihkan pandangan, Marissa menjawab.
"Mungkin besok"
"Gue ikut dong!" Saut yang lainnya bersemangat. Salsa melirik Marissa sekilas. Gadis itu hanya diam lalu kemudian mengedikkan bahu acuh. Tak ada masalah jika mereka ingin ikut.
"Terserah" Acuh Marissa.
"Guys! Kan beberapa hari lagi kita lulus. Kita mau masuk SMA mana?" Tanya Aulia membuka topik pembicaraan. Salsa mengecilkan radio yang sedaritadi berbunyi dan mengeluarkan suara yang keras.
"Hmmm kalau gue sih mau nya SMA di luar negeri" Kata Salsa setelah beberapa saat berpikir. Aulia dan Putri penasaran kemana gadis ini akan bersekolah.
"Kemana?" Tanya Putri kepada Salsa.
"So pasti gue maunya ke Jepang, karna gue dari dulu pengen kesana dan Disana cara belajarnya juga bagus" Kata Salsa memberi alasan. Aulia yang mendengar itu tersenyum sumringah dan memeluk Salsa secara tiba-tiba membuat gadis itu kaget dan ingin meninju Aulia.
"Salsa!, Kita sama Gue juga mau ke Jepang, mau ketemu Mikaela sama Kaneki!" Heboh Aulia sumringah. Salsa yang mendengar itu hanya memutar bola mata malas.
"Yaelah lia, Mikaela sama Kaneki tuh cuma Anime. Bukan manusia nyata yang bisa lo temuin. Jadi stop nge-halunya!" Ujar Salsa membuat Aulia memajukan bibirnya, cemberut.
"Tau seenggaknya kan, mereka tinggal di sana" Salsa menghela napas pasrah. Tak tau lagi dengan sikap sahabatnya ini.
Dosa apa gue sampe ketemu temen modelnya kek die gini?.
Batin Salsa mengelus dada.
"Iya lia. Sejaya lo aja deh" Pasrah Salsa. Kini Salsa beralih ke arah Putri yang sedaritadi hanya menyimak percakapan.
"Kalau lo mau kemana put?" Tanya Salsa. Putri tampan berpikir sejenak dengan jati telunjuk di dagunya.
"Hmm gak tau deh. Bingung" Jawab Putri menyengir. Salsa pun beralih kearah Marissa yang masih fokus menyetir.
"Kalau lo gimana, ris?. mau sekolah di mana?" Tanya Aulia.
Marissa berpikir sejenak namun mereka semua tak tau bahwa gadis itu tengah berpikir. Karna tidak ada ekspresi yang di tunjukkan gadis itu saat ia berpikir.
"Di Indonesia" Jawab Marissa singkat. Ia memang tak mempunyai tujuan tertentu saat Jujur ia tak terlalu memikirkan masalah sekolah, dimana pun ia sekolah, selagi dia nyaman itu sudah cukup.
"Kenapa?" Tanya Marissa.
"Ris, Emangnya lo gak mau punya pengalaman baru gitu?" Tanya Salsa geregetan.
"Iya, kan kali aja lo mau sekolah di luar negeri. Diliat dari nilai, gue rasa lo pasti bisa keterima di sekolah luar" Saut Aulia. Marissa mencerna baik baik ucapan sahabatnya. Jujur ia tak terlalu berkeinginan bersekolah di luar negeri.
"Kalau dipikir-pikir, sekolah di luar negeri enak juga sih" Sambung Putri menimbang-nimbang. Yang lain mengangguk setuju.
Karna bingung harus menjawab apa, Marissa pun mengedikkan bahunya acuh.
"Ah gak asik lo" Kata Salsa namun seolah tuli, Marissa tak menggubris nya.
"Iya tau nih..." Ledek Aulia.
Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas nya, yaitu karaoke. Sedangkan Marissa tetap fokus menyetir agar cepat sampai di sekolah. Jika ia bergabung dengan teman-temannya, lalu bagaimana ia bisa fokus menyetir?.
Jadilah ia mengorbankan telinganya karna mendengar suara demi suara bermunculan di dalam mobil.
Namun di tengah perjalanan...
CHITTT!.
"Akhhh!" Teriak Aulia, Putri, dan Salsa bersamaan karna terkejut.
Marissa memberhentikan mobilnya dengan Tiba-tiba, membuat seisi mobil hampir terhuyung ke depan. Salsa memegang dahinya, untung saa dahinya tidak terbentur ke dashboard.
"Lo kenapa ngerem mendadak sih?!" Geram Salsa menatap Marissa horror.
"Ya Tuhan, jantung gue hampir mau copot" Kata Aulia memegang dadanya.
"Kalau copot, ya pasang lagi lah" Saut Putri polos. Sedangkan Marissa hanya memandang ke depan jalanan, lebih tepatnya ke sebuah mobil sedan berwarna hitam yang dengan tiba-tiba nya menyelip mobil miliknya.
Segera Marissa turun dari mobilnya dan menghampiri mobil tersebut.
Para sahabat nya hanya saling menatap bingung, mereka pun mengikuti Marissa turun dari mobil.
Marissa mengetuk kaca mobil milik orang tersebut dengan keras
"Woi! Keluar lo!" Emosi Marissa terus mengetuk kaca tersebut. Tak lama, pintu mobil pun terbuka dan keluar lah seorang pria yang berseragam sama dengan seragam Marissa dan kawan-kawan.
Pria itu dengan santainya keluar dari mobil dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Aulia, Salsa, dan Putri berdiri di samping Marissa dengan raut wajah bingung.
"Kenapa?" Tanya pria itu kearah Marissa. Ia melirik sekilas ketiga sahabat Marissa lalu kembali memandang kearah Marissa.
"Oh kalian pasti mau minta foto atau tanda tangan gue kan?. Sorry, gue lagi sibuk" Kata pria itu dengan sangat percaya dirinya. Membuat Marissa, Aulia, Putri, dan Salsa mengumpat dalam hati dan menatapnya jijik.
"GR banget lo!. Najis banget gue minta foto atau tanda tangan lo. Emangnya lo siapa?! Artis?!" Ketus Salsa tak Terima.
"Terus maksud lo nyuruh gue keluar tuh apa?" Tanya pria itu pada Marissa dengan menunjuknya.
"Lo gak punya otak ya?! Dengan seenaknya nyelip mobil gue. Kalau mobil gue sampe nabrak gara gara lo, lo mau tanggung jawab?!" Bentak Marissa kesal.
Geli banget sama gaya nih cowok.
Batin Marissa.
"Pertama, gue punya otak. Kedua, gue gak sengaja nyelip mobil lo. dan ketiga, gue gak harus tanggung jawab, karna lo gak nabrak ini kan?" Kata pria itu dengan gampangnya.
"Lo gak punya malu ya?!. Jelas jelas lo yang salah. Seharusnya lo minta maaf!. Lo laki apa bukan?" Balas Salsa tak kalah tajam.
"Banci kali dia" Saut Putri spontan. Aulia menyenggol Putri menyuruhnya untuk diam dulu.
"Yaelah, Ribet banget nih cewek" Kata pria itu membuat Salsa melotot mendengarnya.
Saat Salsa ingin membalasnya, Marissa segera menyuruh Salsa diam dan menahannya aga retak tersulut emosi.
"Kita emang cewek, tapi kita berani labrak lo. Lah lo cowok, tapi gak berani minta maaf. Sorry sorry nih ya, lo gak pantes di bilang cowok kalau buat minta maaf aja gak bisa. Asal lo tau, ulah lo tadi bisa bikin nyawa orang terancam. Seharusnya lo sadar dan minta maaf. Bukannya berlagak gak terjadi apa-apa. Gue yakin lo orang terpelajar, jadi pasti lo tau mana yang salah dan mana yang bener" Putri, Salsa dan Aulia terkejut saat mendengar perkataan Marissa yang panjang kali lebar.
Pasalnya ini baru pertama kali mereka mendengar Marissa bicara sepanjang itu. Pria itu hanya diam, dia merasa malu sekarang. Apa yang di ucapkan Marissa memang benar. Ia yang salah.
"Oke... Gue minta maaf. Kalau mobil lo ada yang lecet, gue akan ganti rugi" Final pria itu.
"Yaiyalah, harus!" Kata Aulia mengalihkan pandangan kearah lain dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada.
Salsa melirik arloji di tangannya. Seketika ia terkejut saat tahu bahwa mereka bisa telat jika terus berada di sini. Ia pun menepuk bahu Marissa dan memberitahu nya.
"Mampus, bisa telat nih" Kata Salsa.
"Kenapa sal?" Tanya Putri.
"Jangan bilang kalau kita bisa telat" Tebak Aulia yang sudah dapat menebak raut ekspresi Salsa yang sangat mudah terbaca.
Dengan segera, Marissa dan teman-temannya pergi tanpa berkata apapun lagi, meninggalkan pria itu sendirian dengan kebingungan nya.
"Dasar, kumpulan cewek aneh" Kata pria itu sambil melihat mobil berwarna Audi milik Marissa melaju. Tak lama, pria itu pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.
💗💗💗