
Setelah insiden dimana Aulia terkena bola basket, Marissa, Putri, dan Salsa memilih untuk makan bersama di sebuah tempat pilihan Marissa setelah pulang sekolah.
Sepakat dengan itu, segera mereka menuju keluar kelas saat bell sekolah yang menandakan bahwa pelajaran telah usai. Para murid berhamburan kesana kemari dari kelas masing-masing.
"Kita langsung kesana?, Gak ganti baju dulu?" Tanya Putri kepada ketiga sahabatnya yang tengah berjalan menuruni tangga.
"Gak usah lah, udah laper nih gue" Jawan Salsa. Aulia hanya mengangguk setuju dengan ucapan Salsa. Memang selama pelajaran mereka tidak fokus tadi karna perut mereka keroncongan.
"Kita emang mau makan di mana sih?" Tanya Aulia penasaran sambil menatap Marissa yang terus berjalan di samping Salsa.
"Di tempat makan" Jawab Marissa acuh. Salsa dan Putri terkekeh melihat Aulia yang memutar bola mata malas.
"Gue juga tau mau makan di tempat makan. Tapi dimana?" Tanya Aulia gemas dengan jawaban Marissa.
"Tinggal ngikut aja rewel" Ketus Marissa membuat Aulia terdiam memajukan bibir.
"Tau lo, lia. Rewel!" Tambah Salsa meledek Aulia dengan kekehan. Aulia menatap Salsa kesal.
"Bacot lo, ikut ikutan aje" Kata Aulia bersungut-sungut. Aulia pun berjalan menghampiri Marissa yang sudah berada duluan di lantai paling bawah sekolah. Salsa dan putri pun ikut menyusul Marissa juga Aulia.
Saat mereka sampai di parkiran mobil, mereka kembali terhadang oleh anak laki-laki tadi pagi yang juga menghambat mereka saat hendak berjalan memasuki sekolah.
"Waduh, ada mereka lagi" Bisik Aulia kepada Salsa yang berada di sampingnya. Mereka sama-sama terkejut karna hal tersebut. Namun Salsa memilih untuk tidak menggubris ucapan Aulia dan terus menatap kearah segerombolan laki-laki tersebut.
"Akhirnya kalian tiba juga, kami sudah menantikan kalian sedaritadi" Kata salah satu diantara mereka. Keempat gadis saling tatap dengan dahi yang mengkerut.
Bukannya bell belum lama bunyi ya? Sejak kapan mereka disini?.
batin Putri heran.
Mereka semua bingung sejak kapan para laki-laki ini berada disini? Apakah mereka membolos?. Entahlah, keempat gadis itu tak mau ambil pusing.
"Permisi kami mau masuk ke mobil kami" Kata Marissa sopan kepada para kaum adam tersebut. Bukannya menyingkir, mereka malah semakin gencar untuk lebih dekat dengan ke empat gadis.
"Sopan sekali, kau sangat cocok menjadi menantu ibuku" Kata pria itu tersenyum manis kearah Marissa. Sedangkan Marissa terkejut mendengar ucapan pria di depannya, namun masih dengan wajah datar.
"Asik mantep, dah mau jadi menantu aja lo, ris" Bisik Salsa jail kepada Marissa. Marissa memutar bola mata malas.
"Terimakasih, tapi kami mau pulang. Bisakah kalian menyingkir? Atau kau mau aku masuk ke mobil lalu ku tabrak kalian semua?" Tanya Marissa tajam namun dengan nada santai. Para pria itu menyengir tanpa dosa lalu menyingkir, membiarkan para gadis lewat dan memasuki mobil.
"Hati-hati di jalan ya sayang" Kata mereka meneriaki Marissa dan ke empat temannya yang sudah berada di dalam mobil.
"Kita kawal saja, biar aman"
"Benar, kami akan ikut untuk menjaga kalian"
"Tapi jangan kebut-kebutan ya"
Kira-kira seperti itulah ucapan dari mereka semua. Tapi seolah tak menggubris, Marissa melajukan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah.
Didalam mobil, Salsa, Aulia, Marissa dan Putri tertawa karna membayangkan hal yang barusan terjadi. Hell, mereka merasa bahwa itu lucu karna melihat para pria yang bertingkah konyol, bahkan sampai memberikan mereka hadiah. Luar biasa...
"Gila, parah sih" Kata Aulia dengan sesekali menoleh kebelakang.
"Gue kira mereka ngikutin" Kata Salsa. Mendengar itu, Marissa segera melihat kearah kaca spion di sisi nya.
"Masa sih? Coba liat" Kata Putri. Salsa pun menoleh ke belakang untuk memastikan apakah mereka mengikuti atau tidak.
"LAH *****!. Mereka ngikutin!" Teriak Salsa paranoid, membuat yang lain ikut terkejut mendengar suaranya.
"Aduh gimana nih?" Panik Aulia dengan wajah cemas. Marissa segera mempercepat laju mobilnya, bahkan sampai yang lain sangat ketakutan karna berada di dalam mobil yang melaju sangat cepat, seperti orang kesetanan.
"Ris, pelan-pelan dong... Takut nih gue" Kata Aulia ketakutan sambil berpegangan dengan Putri.
"Iya ris, santai aja. Tar nabrak" Tambah Putri ikut ketakutan. Marissa mendengarnya, namun ia memilih untuk tidak menjawab dan terus membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia melirik kaca spion di sampingnya untuk memastikan.
Gila! Kenapa masih ngikutin sih!.
Kata Marissa kesal. Tak tanggung-tanggung, Marissa menambah kecepatan mobilnya dan menyelip kendaraan lain seperti mobil, bus dan truk.
Dalam hati Salsa sudah melafalkan doa saja sedaritadi sambil memejamkan mata.
Saat di tengah perjalanan, Marissa kembali melihat kearah kaca spion. Namun kali ini ia terkejut saat melihat mobil anak laki-laki yang sedaritadi mengikuti, kini di hadang oleh sebuah mobil yang cukup ia kenal. Marissa mengurangi kecepatan laju mobilnya dan terus melihat kearah kaca spion.
Salsa, Aulia, dan Putri masih dalam mode tegang dan sekaligus bingung karna lama kelamaan mobil Marissa berhenti di tepi jalan.
"Put, periksa. Jantung gue masih berdetak gak?" Tanya Aulia kepada Putri. Putri memeriksa detak jantung Aulia dengan tangannya.
"Masih kok, lia" Jawab Putri polos setelah mengecek. Aulia menghela napas lega dan menyenderkan kepalanya.
"Lu **** apa gimana sih lia?. Yaiyalah masih berdetak, orang lo masih hidup. Emangnya lo udah mati?" Saut Salsa berbicara dengan nada kesal. Entah mimpi apa Salsa bisa bertemu spesies manusia seperti Aulia.
"Yaudah sih, ribet banget" Cerutu Aulia acuh.
Disisi lain...
Anak bangtan keluar dari mobil dan menghampiri pengemudi mobil lain yang mereka hadang. Ada beberapa mobil yang mereka hadang, sekitar 2 mobil berurutan.
"Keluar!!" Namjoon menggebrak salah satu mobil dengan tampang dingin. Sang empunya pun keluar dari sana dengan ketakutan. Beberapa anak laki-laki keluar secara bersamaan dengan ketakutan.
"Ada apa ya, seonbae?" Tanya salah satu anak laki-laki itu. Terlihat jelas bahwa mereka ketakutan sekarang.
"Kenapa kalian mengikuti mereka?" Tanya Suga dingin namun dengan wajah yang datar. Mereka nampak bingung ingin menjawab.
"JAWAB!" Gertak Taehyung geram. Pasalnya sedaritadi anak bangtan sudah punya firasat bahwa Salsa dan kawan-kawan akan di ganggu lagi oleh mereka. Dan benar saja, saat mereka hendak pergi dari sekolah, kebetulan mereka melihat mobil milik Marissa. Karna itulah mereka mengintai mereka, anak bangtan khawatir jika murid baru di ganggu oleh murid sekolahnya. Terlebih anak laki-laki ini adalah adik kelasnya, tentu saja mereka tidak suka melihat hal tersebut.
"Ma-maaf, ka-kami hanya mau tau di mana rumah mereka" Jawab anak laki-laki itu dengan gugup sambil menundukkan kepala.
"Jangan pernah sekali-kali kalian menganggu mereka seperti ini, kalau tidak kalian akan berurusan dengan kami!" Ancam Namjoon yang mendapat anggukan setuju dari anak bangtan lainnya.
"Tapi seonbae, memang kalian siapa mereka?" Tanya nya kepada anak bangtan. Seolah skakmat anak bangtan terdiam dengan sejuta pikiran di kepalanya.
Benar juga, memangnya siapa aku mencegah mereka untuk menganggu gadis itu.
Batin Namjoon merasa ada yang salah pada dirinya.
Siapa aku bagi gadis itu? Bukan siapa-siapa.
Batik Taehyung menghela napas. Sedangkan anak bangtan ikut bertanya pada diri sendiri.
Para junior menunggu jawaban dari anak bangtan dan mereka menyunggingkan senyum miring dan meremehkan. Seolah puas menjebak anak bangtan.
Namun tidak sampai situ, ada hal lain yang membuat mereka semua tercengang mendengar ucapan yang di lontarkan Jungkook.
"Aku pacarnya Salsa, jadi aku berhak melarang kalian untuk mendekatinya" Ujar Jungkook tegas dengan yakin. Anak bangtan melihat kearah Jungkook terkejut.
"Kau sudah gila?" Bisik Hoseok di telinga Jungkook. Namun pria itu tak menggubris nya.
"Untunglah hanya Salsa yang mempunyai pacar, ketiga gadis belum" Kata adik kelas itu tak masalah. Namun Jungkook tersenyum sinis dan menatap Namjoon sejenak, seolah berkata tenanglah...
"Kata siapa? Mereka semua sudah punya pacar. kau mau tau?" Mereka menunggu kelanjutan ucapan Jungkook selanjutnya.
"Putri berpacaran dengan Jimin, Aulia bersama Suga, dan Marissa..." Jungkook sempat berpikir sebenar untuk memilih yang tepat.
"Lalu Marissa dengan siapa?. Kau jangan berbohong" Kata anak laki-laki itu menggebu-gebu. Sedangkan anak bangtan khususnya Suga dan Jimin sudah menatap mereka horror.
Minta dikuliti.
Batin Suga.
Gapapa juga sih, lumayan...
Batin Jimin justru kesenangan.
"Marissa mempunyai kekasih bernama Kim Taehyung dan pacar mereka semua adalah anak bangtan. Kami. Jadi jangan coba-coba menganggu mereka!" Lanjut Jungkook yakin lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengedipkan sebelah matanya pada Taehyung.
"Ba-baiklah, ma-maaf kan kami. Kami tidak akan ganggu mereka lagi, kami permisi seonbae" Dengan terburu mereka pergi dari sana dan masuk kedalam mobil dengan rusuh setelah sebelumnya membungkuk hormat. Mereka memutar balik dan pergi dari sana. Meninggalkan anak bangtan yang masih berada disana.
"Hei kau ini apa apaan?! Kenapa asal bicara?!" Kesal Suga marah. Namun Jungkook hanya menyengir kelinci.
"Maaf, hyung. Tapi cuma itu caranya" Kata Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dasar!" Umpat Suga lalu kembali masuk ke mobil duluan.
"Tidak apa-apa, asalkan mereka tidak menganggu gadis-gadis itu lagi. Mereka sudah menjadi teman kita, jadi kita harus membantu mereka agar tidak terganggu" Ujar Namjoon bijak. Memanglah Namjoon yang paling paham situasi.
"Kau yang terbaik, hyung" Kata Taehyung memberikan ibu jarinya.
"Sungguh bijak, tapi kau benar. Mereka sudah dekat dengan kita, jadi jika mereka terganggu, kita juga akan terganggu" Saut Seokjin setuju.
"Baiklah, ayo kita kembali ke basecamp" Mereka segera masuk kedalam mobil dan melaju.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka dilihat oleh Marissa lewat kaca spion. Walau tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi Marissa merasa lega saat anak laki-laki itu pergi karna adanya anak bangtan. Senyum tipis terukir di wajah Marissa, walau hanya tipis namun percayalah itu tulus dan mungkin teman-temannya juga sadar.
"Kenapa lo? Senyum-senyum sendiri. Serem jadinya" Kata Salsa yang melihat Marissa tersenyum tanpa sebab.
"Gapapa, ayo" Kata Marissa lalu menancapkan gas.
"Tapi mereka udah gak ngikutin?" Tanya Aulia khawatir. Marissa menggeleng sebagai jawaban.
"Tapi tunggu deh, kok ada mobil anak bangtan di belakang kita?"
🌺🌺🌺