The Most Wanted (BTS)

The Most Wanted (BTS)
TMW: reasons



"Hei tunggu sebentar!" Teriak Taehyung memanggil Marissa yang terus berjalan keluar dari kantin. Taehyung mengikuti gadis itu. Marissa berhenti dan membalikkan badan dan menatap Taehyung dengan kening yang mengkerut.


"Kau mau kemana?" Tanya Taehyung. Kini ia sudah berada di hadapan Marissa. Untung saja di sini sepi jadi tidak ada yang menyaksikan interaksi mereka berdua dan tidak membuat keributan.


"Bukan urusan mu" Ketus Marissa menatap Taehyung datar. Taehyung sempat terkejut dengan nada ketus dari Marissa, namun ia segera berusaha memahami karakter gadis di depannya ini.


"Kau terganggu dengan kehadiran kami?" Tanya Taehyung kepada Marissa dengan penuh waspada.


"Ya, aku terganggu" Ucap Marissa jujur dan tidak menutupi apapun. Ia merasa bahwa jujur di awal lebih baik dari pada jujur dari akhir dan mengakibatkan kesalahan serta penyesalan, karna itulah ia langsung to the point.


"Kalau begitu maaf karna menganggu mu" Kata Taehyung pelan. Marissa mengalihkan pandangannya kearah lain beberapa saat dan kembali menatap Taehyung.


"Sudah selesai?. Kalau begitu aku pergi dulu, maaf jika ucapan ku menyinggung" Kata Marissa lalu pergi begitu saja meninggalkan Taehyung yang hanya bisa menatap kepergian Marissa dengan beribu perasaan yang campur aduk. Ia tidak tahu kenapa perasaannya tak menentu sekarang.


Aku merasa ada yang janggal. Tapi apa?


Ucap Taehyung dalam hati dengan penuh kegelisahan. Ia memilih untuk kembali berjalan menuju kantin dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Mereka semua menatap Taehyung dengan berbagai tatapan, sebab ekspresi Taehyung tampak kacau saat ini, entah mereka tidak tahu kenapa.


"Tae, Dimana Marissa?" Tanya Suga kepada Taehyung yang kini sudah duduk di samping Jimin, tempatnya semula.


"Dia pergi" Jawab Taehyung singkat dan langsung diam. Ketiga gadis mengerutkan alisnya heran.


"Kami tahu dia pergi, tapi kemana?" Tanya Jimin gemas dengan jawabab Taehyung.


"Entah, dia bilang hanya mau pergi" Jawab Taehyung.


Ketiga gadis mulai berpikir keras akan hal itu, sebenarnya ada apa dengan sikap Marissa. Karna tak tahan dan gelisah, Aulia memilih untuk bangkit dari duduknya.


"Gue mau nyusul Marissa dulu, kalian berdua disini aja" Kata Aulia berbicara kepada Salsa dan Putri.


"Gue ikut" Ucap Salsa berniat bangkit dari duduknya, tapi melihat gelengan dari Aulia membuatnya mengurungkan niatnya.


"Gak usah, biar gue aja yang nyusul. Lo temenin mereka, gue bakal ajak Marissa kesini" Kata Aulia menjelaskan. Mau tak mau Salsa dan Putri pasrah dan memilih untuk tetap berada di kantin, sedangkan Aulia pergi menyusul Marissa keluar kantin.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Jungkook kepada Taehyung pelan. Taehyung masih tak menjawab, dia masih membayangkan ekspresi wajah Marissa yang sangat dingin dan terkesan sangat terganggu dengan kehadirannya. Ia merasa sangat aneh akan hal itu, padahal sebelumnya tidak seperti itu. Taehyung tahu bahwa memang Marissa orang yang dingin, namun kali ini sikapnya lebih dari dingin.


"Tidak, tidak ada apa-apa" Jawab Taehyung berbohong. Jungkook memilih untuk tidak banyak bertanya mengenai lain hal kepada Taehyung.


"Makanan datang!!!" Suara Hoseok mencairkan suasana yang kembali canggung tersebut. Ia datang bersama Jin dan Namjoon dengan nampan yang berisi banyak makanan. Segera mereka menaruh nya diatas meja dan saat itulah makanan tersebut di serbu.


"Santai saja, jika habis aku akan memesannya lagi" Kata Namjoon lalu duduk.


"Kau yang bayar" Kata Seokjin sambil memakan Hamburger di tangannya.


"Dasar kau ini, mau nya gratisan. Tapi karna hari ini aku sedang baik, maka aku yang akan bayar!" Anak bangtan dan Salsa serta Putri bersorak senang saat mendengar ucapan Namjoon.


"Jadi selama ini kau jahat?" Kata Suga membuat Namjoon menatapnya tak terima. Sedangkan yang lain sudah terkekeh.


"Bukan begitu maksud ku ta-"


"Sudah jangan banyak omong, ayo makan" Ujar Seokjin memotong ucapan Namjoon yang ingin membalas ucapan Suga


"Kau benar, aku sudah lapar" Kata Jimin menambah dan mengambil beberapa makanan dari atas meja dan melahap nya dengan nikmat.


"Tunggu, dimana Marissa dan Aulia?" Tanya Namjoon yang menyadari tidak ada kehadiran Marissa dan Aulia di sekeliling mereka.


"Mereka sedang pergi" Jawab Salsa dan meminum es jeruknya. Jangan bosan jika es jeruk sering di sebut disini, karna pada dasarnya Salsa adalah maniac es jeruk, Aulia juga tapi yang lebih parah Salsa. Sehari tak minum es jeruk rasanya ada yang kurang bagi Salsa.


"Pergi kemana?" Tanya Hoseok kepada Salsa dan Putri. Salsa berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan Hoseok, ia melirik Putri dan seolah meminta bantuan untuk menjawab lewat kode mata.


"I-itu me-"


"Tidak tau, hyung. Mungkin mereka sedang ada urusan, sudah biarkan saja" Saut Jungkook memotong ucapan Salsa yang hendak menjawab. Salsa mengangguk cepat saat mendengar ucapan Jungkook. Ia merasa terselamatkan kali ini dari pertanyaan Hoseok karna Jungkook.


"Owh begitu, ya sudah"


"Tapi mereka tidak makan?" tanya Seokjin sambil menyeruput minum milik Jimin.


"Aku akan membawakannya untuk mereka" Kata Putri memilih untuk menjawab. Seokjin mengangguk paham.


"Hyung, itu punya ku!" Ujar Jimin tak Terima minumnya di ambil alih oleh seokjin.


"Bagi dikit, jangan pelit dengan yang lebih tua" Kata Seokjin santai dan kembali meminum minuman Jimin. Yang punya hanya memutar bola mata malas sambil menatap tak rela minuman nya.


"Tua bangga" Gumam Jimin menyindir Seokjin. Ajaibnya yang di sindir dengar, jadilah Seokjin menghentikan aksi minumnya dan menatap Jimin.


"Bantet bangga" Balas Seokjin kembali membuat Jimin menekuk wajah cemberut.


Kenapa sih harus bawa-bawa tinggi?. Liat saja, aku pasti akan tinggi suatu saat nanti.


Who knows? Mungkin saja ucapan dalam hati Jimin di dengar oleh Tuhan dan di kabulkan. Kita do'akan saja agar Jimin tak kena body shiming lagi dari anak bangtan.


"Ututututu, Jiminie merajuk. Ya ampun lucunya" Goda Seokjin sambil menarik pipis Jimin beberapa kali dan ditepis oleh Jimin.


Salsa, Putri, dan anak bangtan yang lain hanya menyaksikan kejadian tersebut dan tertawa gemas karna melihat tingkah Seokjin dan Jimin yang sangat kenak-kanakan. Tapi dengan begitu suasana kembali cair.


Sebenarnya tuh anak kenapa sih?


~Salsa


Ternyata anak bangtan asik juga, apalagi Jimin lucu😊


~Putri.


~kenapa dengannya?


~Taehyung


🌺🌺🌺


Aulia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru sekolah untuk mencari keberadaan Marissa. Ia sudah mencari di kelas, kamar mandi lantai satu sampai lantai paling atas, ruang musik/Audio, dan lapangan yang ramai dengan murid-murid.


Aulia terus mencari dengan sedikit kelelahan, hingga akhirnya sampailah ia di taman yang lumayan sepi disini. Ia melangkah kan kaki untuk masuk lebih jauh kedalam taman.


Aulia menghela napas saat dilihatnya orang yang sedari tadi ia cari tengah duduk di sebuah kursi panjang berwarna hitam sambil mengayunkan kedua kakinya dan menunduk. Ia yakin itu pasti Marissa, segera ia mendekat dan duduk di samping orang itu.


"Ris" Panggil Aulia menatap orang di sampingnya. Gadis itu mendongak dan menoleh kesamping, kearah Aulia.


"Tuh kan bener itu lo" Kata Aulia. Marissa mengalihkan pandangannya kearah lain dan memilih untuk tidak melihat kearah Aulia.


Buset dah, mukanya ketus banget. Serem jirr.


Batin Aulia bergidik ngeri melihat raut wajah Marissa yang tidak seperti biasanya.


"Ngapain lo ke sini?" Tanya Marissa datar. Aulia terdiam sebentar karna memikirkan jawaban.


"Seharusnya gue yang nanya gitu ke lo. Kenapa lo kesini? Kenapa gak gabung aja di kantin?" Tanya Aulia memutar balik pertanyaan.


"Gak, gue gak mau" Jawab Marissa singkat. Aulia mengerutkan alisnya.


"Kenapa?" Tanya Aulia lagi.


"Kan gue udah bilang, gue gak mau gabung sama mereka lagi" Jawab Marissa. Aulia tahu maksud dari kata mereka, ya mereka adalah anak bangtan. Marissa tak mau gabung lagi dengan anak bangtan.


"Ya tapi kenapa? Lo bisa jelasin kan?. Kalau lo kayak gini gak enak lah sama anak bangtan nya" Kata Aulia mulai gemas dengan Marissa.


"Apa karna masalah tadi?. Lo masih belum ngejelasin tentang status kota sebagai murid?. Maksud lo apa?" Lanjut Aulia bertanya banyak. Marissa menatap Aulia dengan satu alis terangkat.


"Lo mau tau maksud gue?" Tanya Marissa. Aulia menelan salinannya sendiri lalu mengangguk pelan.


Marissa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu mengutak-atik benda tersebut, setelahnya menunjukkan sesuatu dari ponselnya kepada Aulia.


Aulia menatap Marissa sekilas lalu melihat kearah ponsel tersebut dan membacanya dengan mata sedikit menyipit.


"School of Performing Arts Seoul atau biasa dikenal sebagai SOPA di Korea Selatan, adalah sebuah sekolah menengah atas seni yang terletak di Gung-dong, Guro-gu, Seoul. Sekolah ini memang sangat terkenal di kalangan Artis. Bahkan Kim Hara, anak dari Kim Seo Jun, pemilik sekolah Sopa, bersekolah di sekolah milik orang tuanya ini. Ta-"


"Tunggu, Kim Hara?!" Seru Aulia tak percaya dengan apa yang ia baca di artikel tersebut. Ia menatap Marissa terkejut. Marissa hanya mengangguk sebagai jawaban dan memasukkan ponselnya kedalam saku lagi.


"Ja-jadi maksud lo..."


"Maksud gue adalah, kita disini bukan siapa-siapa. Kita di negara orang lain, kita gak bisa bersaing sama mereka yang jelas-jelas lebih berpengaruh di Korea dan ini bukan masalah takut atau apanya, tapi kita kesini bawa nama baik sekolah dan negera kita. Kalau sampai kita berurusan sama mereka, semua nya bakal lebih kacau" Jelas Marissa panjang kali lebar, berharap Aulia mengerti.


"Jadi lo berpikir kalau kita berurusan sama cewek-cewek itu, mereka bakal ngadu ke orang tua mereka mengenai hal ini dan status pelajar kita disini terancam. Gitu?" Marissa mengangguk cepat. Syukurlah jika otak Aulia cepat tanggal kali ini, tidak seperti biasanya yang sangat lola.


"Tapi masa iya sih ris, kita kan kesini juga di kirim sama dinas pendidikan. Masa cuma karna ini kita jadi dalam bahasa" Kata Aulia masih ragu dan menatap Marissa aneh.


"Lo liat di sekitar, banyak murid yang bisa masuk kesini bukan karna otak mereka, tapi karna uang. Disini kalau lo punya uang, lo bakal di pandang dan semuanya bakal lancar, gak akan ada yang bisa mencegah lo buat bertindak. Jadi bagi mereka, ngeluarin kita dari sekolah ini gampang banget" Kata Marissa lagi-lagi menjelaskan panjang lebar agar Aulia lebih mengerti.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia menghela napas dan menatap Marissa.


"Gue ngerti kok apa yang lo sampein. Makasih udah ngasih tau dan ngingetin gue tentang ini, gue tau lo ngelakuin ini biar kita gak berurusan sama cewek-cewek itu dan ngebahayain sekolah kita"


"Gue paham kok" Lanjut Aulia tersenyum sambil menggenggam tangan Marissa.


"Bagus kalau lo ngerti. Gue gak ngelarang kalian buat deket sama anak bangtan, tapi gue gak Terima kalau kalian terus di bully dan di ancem sama cewek-cewek itu. Gue tau gue keliatan egois, tapi ini juga kan buat lo pada" Kata Marissa tulus.


"Iya gue ngerti kapten, yaudah kita makan yuk!. Gue tau lo laper" Marissa tersenyum mendengar panggilan Aulia kepadanya. 'Kapten', itu panggilan Aulia untuk Marissa karna Marissa menyukai salah satu karakter anime attack on Titan yang bernama Levi Ackerman, biasa di panggil kapten Levi. Sejak saat itulah Aulia menjuluki Marissa kapten. Namun sudah lama Marissa tak mendengar Aulia memanggilnya kapten lagi, baru sekarang ia dengar lagi.


"Ayo!" Aulia menarik Marissa untuk bangun dari duduknya dan merangkul gadis itu untuk pergi dari taman dan menuju kantin. Marissa hanya menurut dan ikut kemana Aulia membawanya.


🍻🍻🍻